Woman’s Island

Apa yang terlintas ketika mendengar kata “shiseido”?! Hm… produk kosmetik dari Jepang? Yak, anda benar! Tapi saat ini saya bukan mau ngomongin kosmetik. Hehehe…

Beberapa hari yang lalu, saya nonton lagi film pendek yang sudah lama saya dapet dari mbak heni. Judulnya Woman’s Island. Disponsori oleh Shiseido. Yaa, kaya filmnya ponds gitu deh. Jadi yang maen adalah para bintang iklan shiseido. Dan jadii… di sini kamu bisa liat wanita-wanit berkulit cantik berumur 25-32 tahun. Yang doyan emak-emak cakep, bolehlah nonton ni film 😀

Eh, emak-emak cakep? Hehehe, tentu saja film ini tidak seperti Air Terjun Pengantin. Malah ceritanya sangat bermutu (hm, aku menganggap femina itu majalah bermutu). Mengisahkan tentang kehidupan wanita karier di tengah belantara Tokyo, dengan satu pertanyaan dasar:

When is a woman at the peak of her career?!

Yang bertugas mencari tahu jawaban ini adalah Takase Yuki (Shinohara Ryoko), 31 tahun, editor sebuah majalah kecil di Shiodome (nama salah satu distrik di Tokyo), seorang wanita yang diam-diam tidak puas dengan kehidupannya dan merasa tidak bahagia. Dibantu oleh Fujishima Rei (Kuriyama Chiaki), pegawai lepas di kantor itu, mereka mulai mewawancarai sekitar 10 wanita dari berbagai latar belakang profesi. Penelitian akhirnya mengerucut pada 2 orang. Yang pertama: Komori Hazuki (Nakagoshi Noriko), wanita yang beralih profesi dari broker menjadi manajer café, cantik, lembut, dan punya relationship yang baik dengan kekasihnya. Tipe wanita yang sukses menyeimbangkan karier dan kehidupan cinta. Wanita karier kedua: Ishikawa Eriko (Igawa Haruka), teman SMA Yuki, cantik, dewasa, tegas, kuat, memegang proyek penting di perusahaan advertising di tempat ia bekerja, dan mengaku tidak punya waktu untuk menjalin kasih. Meski begitu, dia punya pacar juga: seorang laki-laki ‘biasa-banget’ yang bekerja di sebuah bank.

Buat Yuki dan Rei, kedua wanita ini tampak begitu sempurna. Walau pada awalnya sudah diputuskan bahwa “puncak karir seorang wanita adalah saat ia bisa menyeimbangkan antara pekerjaan dan cinta”, mereka masih belum bisa menuliskan apapun. Hingga cerita berkembang menunjukkan konflik yang dialami Hazuki dan Eriko. Kekasih Hazuki ternyata seorang pria berkeluarga. Dan ketika Hazuki menyadari dia hamil, pria ini menolak untuk bertanggungjawab karena tidak ingin pernikahannya hancur. Bahkan kekasihnya itu menyarankan agar Hazuki menggugurkan kandungannya saja.

Di tempat lain, Eriko diterpa gosip bahwa proyek yang dia tangani (dia menangani launching satu brand keluaran seorang artis terkenal) dia dapatkan karena kedekatannya dengan si artis (mereka pernah pacaran dan putus 3 tahun lalu). Meskipun Eriko menolak mentah-mentah tuduhan tersebut (yang memang sebenarnya dia profesional banget untuk masalah pekerjaan), tetap saja atasannya tidak percaya dan menjatuhkan punishment: Eriko tidak akan diserahi proyek baru lagi. Eriko pun frustasi. Padahal baru beberapa saat lalu dia putus dengan kekasihnya yang pegawai bank itu.

Lalu bagaimana para wanita ini mengatasi masalahnya masing-masing?! Hm, tonton sendirilah. Kuncinya sih tetap pada kebijakan para wanita itu dalam memilih dan menentukan jalan hidupnya.

Dan catatan yang dituliskan Yuki akhirnya sampai pada satu kesimpulan:

The peak of live is not a flash.
To those women who are making every effort, the peak of live will appear everyday

NB: Sebenarnya aku sangat setuju bahwa puncak kehidupan wanita adalah ketika dia bisa menyeimbangkan kehidupan kantor dan rumah. Meskipun konsep ini pernah ditentang oleh atasan (atasan kami ini laki-laki dan dia memaksa kami memilih antara karier dan keluarga) namun kami percaya, selalu ada cara agar keduanya tetap berjalan beriringan. Bagaimana menurut anda?!

Iklan

4 thoughts on “Woman’s Island

  1. sebenarnya sama saja, rumah = cinta.
    ujung-ujungnya cinta kan bakal berakhir di rumah.
    konteksnya ini adalah memenuhi 2 kewajiban yang bertolak-belakang.

    => hu’uh. Masalahnya banyak yang bilang, hal itu tidak mungkin berjalan bersama. Harus ada salah satu yang dikorbankan. Dan aku belum bisa membuktikan bahwa aku dapat menyeimbangkan keduanya 😦

  2. ehm …bisa kok.tapi kmrn sempet nonton film (lupa judulnya) trus disana ada seorang bapa dan gadis dewasa yg tergabung di perusahaan yg sama.suatu hari si gadis ini curhat ke si bapa, ttg kehidupan pribadinya dgn sang pacar yg lagi ga bagus gara2 kesibukan si gadis yg karir nya lagi bagus. trus si bapa ini bilang :

    “Bukankah semakin sukses karir seseorang maka keluarganya akan semakin hancur”

    mungkin ini banyak dialami oleh bule2 diluar sana (kaleee 😀 ) tapi bisakah ini berlaku untuk kita???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s