Nugroho Notosusanto

Kurasa, tak banyak yang mengenal bapak satu ini. Padahal dia merupakan satu diantara segelintir sastrawan Indonesia yang berasal dari militer dan cerita-ceritanya berlatar militer. Bahkan mungkin satu-satunya sastrawan yang pernah jadi menteri. Dialah Pak Nugroho Notosusanto, (mantan) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 1983 (aku belum lahir! :p)

Yang kusuka dari membaca cerpen-cerpen bapak ini adalah aku jadi tahu suasana jaman perang yang sebenarnya. Ternyata tak selalu heroik, ternyata tak selalu dramatis. Kehidupan manusia mengalir apa adanya. Mungkin memang susah, mungkin memang sulit. Tapi bukankah setiap jaman memiliki kesusahan dan kesulitannya sendiri?!

Dan aku tergerak untuk iseng menulis ulang cerpennya! Cerpen yang ini sih latarnya pasca perang. Tapi entah apa yang menarikku, membuatku menyukainya, aku tak bisa menjelaskannya. Makanya aku berbagi di sini. Mungkin ada di antara pembaca yang lebih paham bagaimana perasaan itu?! (atau malah ga suka? Whatever lah… :p)

Vickers Jepang

Pada suatu malam yang kuyup dengan hujan aku pulang dari sebuah pertemuan. Sepedaku merk “Philips” bikinan Surabaya, keadaannya sudah parah benar. Selain jalannya bergoyang-goyang karena rodanya tidak lurus, rantainya berbunyi pula, membikin lagu yang tidak nyaman. Air hujan merayap masuk via leher baju dan merembes ke dalam via jas hujan “Swan” kwalitet Rp 90,00 yang tidak waterproof 100%. Dengan sebal aku menyenandungkan lagu “Tik-tik-tik bunyi hujan di atas genting…” menirukan adikku dari SR kelas I.

Kota Jakarta di bilangan Bungur Besar kalau malam jam 10.00 dan hujan begini, menimbulkan bayangan-bayangan yang mengecutkan hati seorang laki-laki normal. Karena aku masuk laki-laki normal, maka aku berusaha mengatasi bayangan-bayangan seram itu dengan khayalan-khayalan yang nikmat-nikmat. Memang situasi ibu kota pada tahun 1951 belum seaman 1954, dan jam malam juga masih ada pada jam 1.00.

Di dekat empasemen Stasiun Senen, gelapnya seperti di dalam terowongan kereta api. Suara orang berlacur tidak ada dalam gerbong-gerbong yang berserakan di atas ril. Penjual sate Madura dan kue putu juga semua lenyap. Jalanan sepi seperti kuburan.

Tiba-tiba aku kaget seperti di dalam mimpi. Karena gerak reflex, setang setir goyang, roda-roda yang kendor tambah oleng dan rem depan tanpa aku rem, mengerem sendiri. Dengan kutukan jahanam aku berdiri ke dalam comberan yang dingin. Segala keributan itu hanya karena ada kucing menyeberangi jalan. Seketika itu juga aku insaf, bahwa hujan agak reda. Lain daripada itu di kejauhan ada sebuah tiang lampu kelip-kelip melegakan hati yang gelap dingin seperti suasana. Karena hal-hal yang menyenangkan itu, hatiku jadi besar. Dengan gemas sepeda kukayuh cepat-cepat, mesti ratapnya tambah tak karuan.

Tapi kegelapan seolah-olah enggan melepaskan aku. Karena lampu itu masih jauh juga. Setiap ada jalan simpang menganga, dingin dalam hatiku bertambah sejuk. Rumah-rumah di tepi jalan tertutup rapat-rapat dan hitam oleh ketiadaan cahaya. Aku mengayuh terus cepat-cepat, damba akan lampu jalan.

Aku tahu, masih ada satu jalan simpang lagi sebelum tikungan yang ada lampunya. Jalan itu sudah dekat. Kira-kira di tempat ada tonggak hitam di tepi jalan itu. Ya, ada tonggak hitam. Sesungguhnya terlalu besar untuk sebuah tonggak. Apa tonggak betul? Tonggak betul? Tonggak bergerak?! Orang. Tangan kanannya direntangkan ke samping. Dengan sendirinya aku melambatkan laju sepeda, pedal tak kukayuh lagi. Aku sudah dekat kepadanya. Ia bertolak pinggang besar.

“Stop!” katanya kemudian. “Turun!” Aku menurut dengan patuh. Tiba-tiba tangan kanannya menodong ke muka, suatu gerakan yang tak berguna bagiku, karena tanpa senjata itu pun aku tak sanggup melawan dia, karena tokohnya tokoh seorang Samson. Ia memakai jas hujan militer hijau tetapi pakai pet seperti pet yang kupakai, model sport Inggris. Sosok tubuhnya yang ditekankan menutup mata, persis bandit picisan.

Karena aku orang normal, jantungku mempercepat degupnya dan tenggorokanku kering seperti onderdil sepeda yang tak pernah kena minyak. Bandit picisan ini tak banyak bicara. Ia mendekat perlahan-lahan, seperti kucing mendekati tikus. Tangan kirinya maju, membuka kancing jas hujanku. Tangan kanannya dengan senjata dekat ke perutku. Ia mulai meraba-raba saku celana. Aku bergerak sedikit kegelian, karena rabaannya sembarangan.

“Awas!” desisnya marah sambil menyodokkan laras senjatanya ke dalam perutku, yang menyebabkan aku mengeluarkan bunyi yang tak dapat ditirukan. Setelah aku diam kembali, ia meneruskan pekerjaannya yang melanggar undang-undang itu. Mau tak mau aku tertarik pada senjata yang dibenamkan ke dalam perutku. Bukan revolver, tidak ada silindernya; pistol jadi. Merk apa? Aku terus mempelajari pistol itu, tak peduli dompetku berisi Rp 12,25 pindah ke sakunya. Karena kami tidak jauh benar dari lampu jalan itu, aku dapat melihat, bahwa senjata itu sebuah “Vickers Jepang”. Apa nama sesungguhnya, aku tak tahu, tetapi di Indonesia pistol itu terkenal dengan nama itu.

Setelah selesai menggeledah pakaian, ia menumpahkan perhatiannya kepada arloji tanganku. Karena melihat badanku yang tidak seberapa itu, ia tak peduli tanganku kuangkat atau tidak. Ia menggenggam tangan kiriku untuk mencopot arlojinya; sayang bannya agak sukar membukanya kalau dengan tangan satu. Karena itu tangan kanannya ikut maju. Pistolnya sekali waktu membalik, dan terlihat olehku popornya tidak ada wadah pelurunya. Kosong melompong seperti teng bensin bocor.

Serta merta mulutku sudah mengoceh lantang dengan cemooh yang tak tersembunyi, “Wah, nodong kok pakai Vickers Jepang kosong!”

Ia terkejut, sampai arlojiku yang sudah lepas, jatuh ke tanah. Sebentar ia memandangku dengan tak bergerak dan berkata. Kemudian ia mundur selangkah.

“Apa? Kosong? Mau rasa, apa?” aksennya Jawa Tengah.

“Mau diisi satu-satu dari atas, apa? Angel dong ngokangnya!” jawabku, juga pakai aksen Jawa Tengah. Dengan kepercayaan kepada diri sendiri karena sikapnya yang ragu-ragu, aku membungkuk dan memungut arlojiku. Ia membiarkannya saja.

“Kok tahu ini Vickers Jepang?” tanyanya. Dan aku seperti sudah kenal suara itu.

“Saya pernah pakai kok!”

“Di mana”

“Front MKS”

“Hlo! Front MKS!”

“Tahun 1947.”

“Tahun 1947!”

“Agustus.”

“Agustus?!”

“Pernah ke Puring apa?” tanyaku.

“Puring? Gombong Karanganyar?!” pistolnya sudah turun sama sekali. Dan tiba-tiba aku tahu, siapa dia.

“Seksi Bima regu 2! Siapa yang pernah menangis di belakang pohon kelapa takut ambil steling di muka waktu serbuan?”

“Mas Nug!!”

“Ya, saya ini.”

Ia terpaku di aspal tak bergerak-gerak. Kaget campur malu rupa-rupanya.

“Hla, kamu kok jadi bandit ini gimana, Dik?” tanyaku.

“Ini Mas!” dompetku dikembalikannya kepadaku. Aku masukkan kembali ke tempatnya dan kemudian arloji aku pakai. Ia diam saja tak menjawab apa-apa. Memandang gelisah kepadaku, memperhatikan aku menutup jas hujan kembali. Kemudian sepeda aku dekatkan kepadanya.

“Tidak bawa sepeda, Dik?” Ia menggelengkan kepala.

“Goncengkan saya kalau begitu,” kataku dengan lagak komandan.

Kami duduk berhadap-hadapan dalam salah satu warung di Medan Senen. Palguno waktu clash I kurus dan masih hijau. Ia anggota reguku. Waktu clash II kami berpisah. Baru sekali ini kami bertemu kembali. Apa yang baru terjadi sangat mengejutkan, karena Palguno adalah Raden Ngabehi Palguno, putra kedua seorang pensiunan bupati.

Lama ia kupandang. Ia menunduk saja. Kami makan sate kambing, enak panas pada malam yang dingin. Ia tergesa-gesa mau pulang saja. Duduknya resah seperti kursinya penuh kutu busuk.

“Nggak usah malu kepada saya, Dik. Mari kita bercakap-cakap panjang lebar seperti di front MKS. Pantasnya kalau kawan seperjuangan bertemu bualnya keluar!”

“Tapi…” ia memandang tak tetap kepadaku.

“Jangan main tetapi-tetapian, Dik Gun!”

Ia minum seteguk besar dari gelas birnya. Lalu memandang lagi dengan liar kepadaku.

“Saya…” ia memandang penuh permintaan kepadaku. “Saya ditunggu istri saya, Mas.”

Aku tegak di kursi. Gelas yang sedang kupegang aku letakkan. Heranku tak kusembunyikan.

“Istri?!” Di cermin yang tergantung di dinding sana aku lihat wajahku penuh dengan tanda tanya dan mataku melotot seolah-olah melihat Palguno menelan kodok hidup-hidup.

“Saya sudah kawin Mas.”

“Hlo-hlo-hlo-hlo!”

“Sudah hampir dua tahun.”

“Dua tahun?”
Ia mengangguk tersenyum sedikit malu.

“Siapa? Dari mana? Bagaimana?” tanyaku seperti tembakan semi otomatik.

“Namanya…” ia tertegun sebentar, “… Kayatun.”

Ia berhenti sebentar. Memandang penuh penyelidikan kepadaku.
“Ia anak carik desa yang merawat saya waktu luka-luka.”

“Hlo, Dik Gun pernah luka, toh?”

“Kesikat watermantel* Mas, di selatan Bantul.”

“O.”

“Ia waktu itu pelajar SMP hampir tamat.”

“Jadi seorang ‘war bride’ to?”
Ia jadi kemalu-maluan lagi.

“Perkawinannya dimana? Besar-besaran?”

Ia tak segera menjawab. Aku menunggu dengan sabar sambil minum beberapa teguk lagi.

“Ayah-ibu tidak setuju, Mas.”

“O, karena apa?”

“Karena ia anak desa.”

“Hlo!”

“Biarpun pelajar SMP, tapi di mata mereka tetap anak desa. Merendahkan martabat keluarga.”

“Jadi bagaimana?”

“Saya paksakan,” ia minum lagi, merenung. “Hubungan antara mereka dan saya terputus. Mereka masih bangga akan martabat mereka. Saya juga mengerti, tapi saya tak dapat mengingkari kasih dan terima kasih.”

“Masakan mereka tak bisa memaafkan?”

Lama ia terdiam. Aku minum sambil terus melirik kepadanya.

“Mereka baru-baru ini berkirim surat, rupa-rupanya mau menerima saya kembali, tetapi saya belum dapat melupakan perkataan-perkataan keras yang pernah terluncur.”

“Allaa, jangan begitu keras kepala, Dik Gun! Sama Belanda bisa damai kok sama ayah-ibu mau ngotot! Kan tidak sewajarnya.”

“Akan saya pikirkan, Mas. Saya sudah terlanjur menempuh jalan sendiri. Sesungguhnya sejak umur 16 tahun saya telah menempuh jalan sendiri, akar-akar telah tercabut dari bumi kekeluargaan.”

“Lalu pindah ke Jakarta bagaimana?”

“Setelah kawin saya pergi sendirian ke Jakarta, meneruskan sekolah. Tapi setelah tamat SMA, berat Mas. Entah karena saya bukan potongan sarjana, atau karena asrama yang rame. Pendeknya hidup saya kacau, Mas. Uang KUDP ** tidak cukup untuk di Jakarta. Mas tahu sendiri.”

Aku mengangguk-angguk sangat setuju lalu minum lagi.

“Dalam pada itu sang istri minta dijemput.”

“Sudah semestinya,” aku mengangguk-angguk lagi seperti gajah.

“Ia lulus ngetik, lalu bekerja.”

“Emansipasi wanita!” aku menyela.

“Saya sendiri berusaha belajar terus di Fakultet Hukum, meskipun dua tahun belum propaedeuse. Di samping itu mencatut kain batik dari Yogya. Tetapi istri saya hamil, lalu tak dapat bekerja terus. Kesukaran keuangan timbul. Lalu ini keluar lagi,” ia menepuk-nepuk pistol di dalam sakunya.

“Saya sudah putus asa, Mas.” Ia memandang dengan liar kepada jam di dinding.

“Saya mau pulang Mas!”

“Kok kesusu benar, toh.”

Ia tak menjawab. Berdiri. Melemparkan pandangan liar lagi kepada jam, kemudian memandang penuh permintaan kepadaku.

“Tadi pamitnya kemana?” tanyaku tenang.

“Mengambil bidan, Mas. Bidannya sudah saya kirim ke rumah. Saya bermaksud mencari tambah uang untuk membiayai kelahiran bayi,” perkataan-perkataannya mengalir keluar.

Aku berdiri sekarang.

“Sudah tua hamilnya?”

“Setiap saat bisa keluar!”

“Mari!” kataku sambil mengeluarkan dompet.

Rumahnya terletak di gang sempit, becek dan bau. Di muka pintu bambu itu ia berdiri sejurus. Nyala lampu minyak menyorot keluar. Kami berpandang-pandangan. Dari dalam jelas kedengaran tangis bayi. Sesaat kemudian kami sudah ada di dalam rumah.

Jam 11.00 malam aku minta diri. Aku cuma sebentar menjenguk istrinya dari pintu karena dipaksa-paksanya. Dengan bangga ia mendukung putra sulungnya ke luar kamar tidur ke ruang satunya, yang merangkap jadi kamar tamu, kamar makan dan dapur.

“Dik Gun,” aku memulai pidatoku. “Saya ucapkan selamat kepada kamu berdua atas kelahiran putramu yang pertama. Mudah-mudahan ia tidak akan mengalami kesukaran-kesukaran angkatan kita sekarang ini.”

Palguno, Raden Ngabehi Palguno, putra seorang bangsawan pensiunan bupati, berdiri di tengah-tengah ruangan bambu itu, besar, perkasa, dan bahagia. Bayinya kecil, merah dan cengeng terbaring pada urat-urat lengan bapaknya yang kukuh.

“Sebentar Mas,” ia masuk sebentar; kembali tanpa bayi. Ia berdiri di depanku. Batuk-batuk kecil.

“Mas, maukah Mas Nug membantu saya seperti waktu di front MKS?”

Aku teringat waktu seorang prajurit muda gemetar mengalami perploncoan tembakan di sampingku. Kini ia mengharapkan lagi bantuan pada saat-saat genting. Dan kesukarannya sekarang lebih besar. Sebagai orang normal aku merasa bangga, bahwa masih ada orang yang menaruh kepercayaan sebegitu besar kepadaku.

“Baik, Dik, baik!” aku mengangguk-angguk lagi dan mengulurkan tangan kananku.

Tangan kanannya cepat-cepat dimasukkan ke dalam saku celananya. Tangan kananku sudah mau kuturunkan lagi, ketika ia mengeluarkan tangannya itu dan mengacungkannya kepadaku. Di dalam tangan itu tergenggam Vickers Jepang yang sudah tua, karatan dan tak berwadah peluru. Tetapi sebaliknya dengan tadi, bukan larasnya yang bertujuan kepadaku, melainkan popornya.

14-3-1954

*watermantel= sejenis senapan mesin
**KUDP= Kantor Urusan Demobilisan Pelajar

Iklan

3 thoughts on “Nugroho Notosusanto

  1. Legaaa… Selalu merasa seperti ini tiap kali membaca cerpen yang bagus. Lega udah deg-degan dan dicampur aduk perasaannya. Lega ketika ternyata si Palguno nyadar. Ikut bangga seolah-olah benar melihat sendiri bagaimana sang bapak muda berdiri di tengah ruangan sambil menggendong bayinya. Cerpen yang sangat riil. Seorang putra bangsawan, berani menentukan sendiri jalan hidupnya. Menikah muda, menanggung segala konsekuensinya dengan gagah berani. Uuuu… cerpen yang sooo sweeettt….

    Oia, mungkin aku tertarik gara-gara settingnya deket ma kantorku. Oh, Senen tahun segitu kaya gitu, to? Oh, Bungur yang kulewatin tiap hari jaman dulu kaya gitu, to? Wah! 😀

    Tambahan lagi, selama mengetik ulang, aku baru sadar di cerpen ini banyak sekali kiasan. Rata-rata sederhana dan jadi konyol, seperti “mengangguk-angguk seperti gajah” dan “kosong melompong seperti teng bensin bocor”. Justru di situ letak keorisinilannya. Di cerpen-cerpennya yang lain, Pak Nug suka memakai kiasan-kiasan yang hanya orang yang pernah menjalani kehidupan militer lah yang tahu. Hm…ada yang punya buku “Hujan Kepagian” ga? Pengin koleksi nih! 😉

  2. Hmmm…jadi inget novel-novelnya Pak Pramoedya niy, kurang lebih setting ceritanya hampir mirip.

    => Hm..dari tetralogi rumah kaca, aku baru baca buku pertama. Pernah buka-buka dikit bukunya yang lain juga sih (lupa judulnya). Menurutku kalo Pak Nug itu realis, Pak Pramoedya lebih politis (dan romantis, dalam artian aliran lukisan lho). Bahannya berat, bikin mikirnya lama (atau faktor otakku aja yang ga nutut?!) Pak Pramoedya menurutku lebih mirip ma Romo Mangun. Coba aja bandingin “rumah kaca” ma “burung-burung manyar” 🙂

  3. Emmm…
    Aku lagi mbayangin jalan depan kosku sekitar tahun 1950an…

    Sekarang aja masih serem gitu e… Pernah malem-malem aku jalan sendiri di Bungur Besar menuju Stasiun Senen, rasanya sepiii bener. Gelap… Mana banyak pohon gede…

    Eh, Nur, itu Puring Gombong Karanganyar aku juga ga asing… Itu kan nama 3 kecamatan di Kebumen yang mengelilingi kecamatanku: Adimulyo. Hehehe… 😛

    => hehehe, iya, makanya aku minta kamu baca ini. Pasti familiar banget. Ternyata Senen dari jaman dulu emang udah jadi daerah rawan ya… :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s