Sayonara no Uta

Suatu siang, aku sedang berjalan sendirian menaiki tangga menuju lantai dua, tempat dimana kelas ekskul bahasa Jepang berada. Tidak biasanya, sekolah terasa lebih sepi. Di ujung tangga, sebelum ruang-ruang kelas, adalah ruang serba guna yang hanya sesekali dipakai. Begitu aku sampai di depan pintunya, tiba-tiba dari dalam, terdengar denting piano.

Bukan, ini bukan kisah misteri. Di ruang itu memang ada sebuah piano tua yang jarang dipakai. Aku tahu beberapa tutsnya sudah rusak. Maka aku heran, ada orang yang bisa menggunakan piano itu. Aku tak curiga itu hantu karena siang-siang, walau sekolahku terkenal angker. Yang jelas, langkahku langsung tertahan. Aku terpaku, terhanyut oleh alunan suara piano itu.

Moonlight sonata, dari Beethoven.


Karena buta musik klasik (dan memang pada dasarnya aku buta musik) maka aku tidak tahu apakah ada nada yang salah karena sonata itu dimainkan dengan piano setengah rusak. Nama sonata itu pun tak sengaja kutahu karena pernah muncul di salah satu episode Detective Conan.

Tiba-tiba lagu berhenti (Waktu itu aku pikir emang sudah selesai. Baru akhir-akhir ini saja aku tahu kalau yang dimainkan hari itu hanya bagian depan saja dari keseluruhan sonata yang panjang) Aku sudah mau beranjak pergi, ketika sebuah lagu baru mulai mengalun. Dan langkahku tertahan lagi.

Lagu yang tak kukenal. Lagu yang tak pernah kudengar. Mengalun dengan sangat sedih. Dan dadaku terasa sesak. Aku tidak tahu kenapa aku bisa sesedih itu. Bahkan aku tak kuat menahan kesedihannya. Tanpa kusadari aku sudah berlari menuruni tangga, berlari sepanjang koridor depan ruang guru. Rasanya aneh, karena tanpa kusadari, air mataku telah mengalir.

Aku memang sudah lupa bagaimana nada lagu yang menyayat hati itu. Tapi aku masih ingat dengan jelas, air mata yang tiba-tiba keluar ketika mendengarkannya.

Selang beberapa hari kemudian, temanku bercerita tentang seorang kakak kelas. Sebutlah mbak A, yang disukai dan menyukai mas B. Tapi meski saling mencintai, cinta mereka terhalang oleh segala norma. Mereka tak mungkin pacaran, karena mas B ini adalah seorang aktivis dakwah. Dan hari itu, mereka memutuskan untuk benar-benar berpisah. Sonata yang kudengar hari itu, memang khusus dimainkan mas B buat mbak A. Dan tentu saja, lagu yang menyayat hati itu, yang telah membuatku menangis tanpa alasan, adalah lagu perpisahan yang diciptakan untuk mbak A.

Sebuah “sayonara no uta”.


NB: Setelah hari itu, aku masih sempat beberapa kali mendengar moonlight sonata mengalun dari ruang serba guna. Tapi dengan nada yang lain. Tak pernah sesyahdu hari itu. Rupanya mas B sedang mengajari salah seorang temanku untuk memainkan lagu tersebut. Namun setelah mas B lulus, tak pernah lagi aku mendengar piano itu dimainkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s