Ayah

Dalam ingatanku, lagu yang pertama kali bisa kunyanyikan adalah sebuah lagu berjudul “kucingku telu” (kucingku tiga ekor)

Kucingku telu kabeh lemu-lemu (kucingku tiga ekor, semua gemuk-gemuk)
Sing siji ireng, sing loro klawu (yang satu berwarna hitam, yang dua warnanya abu-abu)
Meang meong tak pakani lonthong (meong meong, mereka kukasih makan lontong)
Atiku seneng, adhiku ndomblong (aku gembira sedang adikku cuma bengong)

Lagu itu yang mengajarkan tentu bukan bu guru. Karena aku ingat menyanyikannya pada sekitar umur 3 atau 4 tahun. Mungkin sebelumnya aku sudah bisa menyanyikan “balonku ada lima” atau “topi saya bundar”, tapi entah kenapa, lagu ini yang paling terkenang.

Ayahku lah yang mengajariku lagu itu.

Aku ingat, ketika masih kecil, masa-masa sebelum masuk SD, ayah sering mengajari bernyanyi. Selain menulis tentu. Dan menceritakan dongeng sebelum tidur. Darinya aku tahu semua versi kisah kancil, bagaimana nyanyian Mbok Rondho merayu agar Andhe-andhe Lumut mau turun menemui para Klenthing, juga kisah Buto Ijo dan pohon Lo. Kebiasaan ini terus berlanjut hingga adikku lahir, hingga Aziz berusia sekitar 7 tahun.

Mungkin kau menganggap biasa saja. Bukankah kewajiban seorang ayah untuk melakukan semua itu?

Namun bagiku, kenangan ini sangat istimewa. Karena sesudahnya, tahun-tahun lewat kelas 3, ayah mendidikku dengan sangat keras. Hukuman fisik kuterima atas pelanggaran atau ke-tidak-sepenuh-hati-anku dalam menjalankan perintah. Wajar, karena di lingkungan sekolah pun, ayah terkenal sebagai “guru killer”, penegak disiplin, “tukang jagal” anak-anak nakal. (Dalam lingkungan pendidikan kuno, ternyata memang dibutuhkan tokoh antagonis seperti ini. Ingat Pak Mustar di Sang Pemimpi?!)

Sekarang, saat aku mengenang kembali dan mengingat-ingat runtutan peristiwa itu, aku tiba-tiba terpikir, “bukankah ketika masa aku berumur 3-8 tahun itu, ayah sudah menjadi tokoh antagonis di sekolah?” Yang bisa disimpulkan, bahwa pada waktu itu berarti ayah menjalankan dua kepribadian dalam satu waktu?! Keras di luar dan lembut di rumah?!

Ini penting sekali. Karena kau pernah begitu membenci ayah sepanjang masa remajaku (SMP-SMA). Dendam atas pendidikan keras dan hukuman fisik yang kupikir tak selayaknya seorang anak perempuan mendapatkannya. Serta sempat berpikir untuk tidak akan pernah memaafkannya.

Padahal, ayahlah yang mengajariku menyanyi.
Padahal, ayahlah yang mendongengiku sebelum tidur.
Ayah yang sama yang menggendongku ke kamar ketika aku tertidur di kursi panjang.
Ayah yang sama yang mengusap kepalaku ketika aku menderita oleh sakit gigi berkepanjangan (dan tak henti menangis karenanya).
Ayah yang bisa membuat nasi goreng terenak sedunia.
Ayah yang dengan malu-malu, membawa pulang tiga butir mangga sebagai hadiah karena aku berhasil ranking 2 di kelas SMA (pengalaman sekali seumur hidup)
Ayah yang mengejek ibu karena menangis saat melepasku pergi ke Jakarta (kota yang kami tak punya saudara atau kenalan di sini) sementara aku yakin dia berkaca-kaca pula.

Aku menyesal pernah membencinya.
Aku menyesal pernah begitu dendam padanya.

Sekarang ayah sudah tua. Tidak lagi galak di sekolah. Tidak lagi bisa memarahiku. Sekarang hanya bisa menasihati.

Aku ingin sekali mewujudkan impiannya.
Aku ingin sekali memenuhi keinginan-keinginannya…

Tapi aku masih saja jarang meneleponnya. Aku masih juga jarang bercerita padanya. Masih juga menempatkannya sebagai prioritas ketiga diantara orang-orang yang kusayangi.

Otosan, gomen ne..

Iklan

6 thoughts on “Ayah

  1. hwaaaaaaaa…….jadi pengen nangis….
    jadi inget papa…
    dan aku juga memperlakukannya sama…menjadikan dia prioritas terakhir diantara orang2 yang kusayangi…

    hikz…

    papa,,,,i love u…

    😥

    => heem, kenapa ya?! Eh, fi, katanya kalo anak cewek itu harusnya lebih deket ma papanya lho… kalo anak cowok malah deket ke ibu. Setuju ga?!

    • hehehehe…stuju siy Nur…
      papa tu paling deket ma aku dibanding ke adek2ku,,,tapi knapa aku menomorsekiankan dia ya…

      kok menurutku,,,bapak lebih deket ke anak ceweknya,,,ibu lebih deket ke anak cowoknya…
      gitu..
      tapi mugkin yo beda2 ya tiap kluarga…hehehe.. ^^v

  2. Tentang prioritas, menurutku tidak perlu menjadi haru biru berdasarkan pengalaman subyektif dan pemahaman tentatif. Namun hanya dengan bersandarkan pada ketaatan dan kecintaan kepada Allah SWT-lah, segala keinginan dharma bhakti akan menjadi anugerah yang hakiki bagi orang-orang yang kita sayangi.

    => lagi melow pengin pulang kok emang 😛

    Amin… semoga…

  3. maksudnya… bukan sisi galaknya bapak.. tpi sisi dimana beliau sok cuek ma kita padahal dibalik itu beliau perhatian luar biasa ma kita..

    => he’em as… utujes… 😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s