Yellow (part 2): Sekilas Kenangan di Ambang Perpisahan

Sudah selesai.

Apa?

Hubungan ini… sudah selesai.


“Yo… tarik!” teriak kondektur. Dan bus pun perlahan-lahan bergerak meninggalkan terminal.


Kau tidak pernah membuat suatu hubungan apapun. Atas dasar apa kau berani menyebut “hubungan ini”?!

Entahlah. Dulu aku percaya afinitas.

Kau cuma berusaha meyakinkan dirimu sendiri.

Tapi… sepertinya dia juga merasakannya.

Mimpi! Kamu tidak pernah berusaha bangun dari mimpi!

Entahlah. Meski hanya mimpi, aku merasa ini begitu nyata.


“Permisi, Mbak,” ujar seorang lelaki yang membawa gitar. Aku menyisih sedikit, memberi jalan agar pengamen itu bisa lewat.


Dan sebentar lagi, aku tidak akan bisa melihat wajahnya lagi. Bahkan Shio Xi di The Out Siders 2, masih bisa meminta Yun Hao untuk datang mengantarnya, agar dia bisa melihat wajah orang yang dicintainya itu untuk terakhir kalinya.

Kau selalu merasa dirimu yang paling merana.

Tapi itu kan kenyataannya…

Jadi seperti dulu, ya?! Di saat-saat terakhir, masih belum bisa mengatakan perasaan yang sebenarnya. Menyiksa diri sendiri dengan keinginan untuk terus bisa melihatnya.


“Karcis… karcis!”

Aku menyodorkan selembar uang seribuan. “Slorok.”

Udara panas sekali. Ditambah asap rokok, suasana semakin membuat pusing. Untunglah aku berdiri; karena jendela yang terbuka ada di bagian atas, aku bisa mendapat sedikit udara segar.

Bus melewati daerah K.


Itu rumah Hindi… Dan dia juga ada hati sama MT.

Lagi-lagi. Itu kan cuma perasaanmu saja.

Perasaan wanita, apalagi terhadap orang yang dicintai, biasanya benar.

Lalu?!

Ada atau tiadanya dia, kenyataannya akan tetap sama.


Pengamen mulai bernyanyi. Lagu milik Iwan Fals.

….

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu

Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu

Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu

Dipaksa pecahkan karang, lemah jarinya terkepal…


Lagu ini! Dulu, awal mula aku kagum pada MT adalah karena dia seperti Budi kecil dalam lagu ini. Pada usia yang hampir sama denganku (yah, bagaimanapun aku tetap lebih tua) dia sudah harus menjadi tulang punggung keluarga. Sebenarnya kalau dipikir lagi, dia tidak setragis si Budi kecil. Tapi jika aku berada di posisinya, meski kami sama-sama anak tertua, aku tidak yakin akan bisa sekuat dia.


Ciiit!

Bus tiba-tiba berhenti mendadak. Aku yang tidak siap, terlempar ke belakang, menabrak perempuan di belakangku.

“Maaf,” kataku, tapi kulihat wajahnya tetap bersungut-sungut.


Sebentar lagi SPMB dan aku belum juga memutuskan hendak masuk universitas mana.

Kenapa berpikir tentang SPMB? Bagaimana NEM-mu?

Aku yakin Dia akan menolongku.

Kenapa sih, kamu ga bisa dewasa? Selalu saja mengharap keajaiban-Nya dan bergantung pada orang tua.


Langit di luar mendung. Udara jadi lebih dingin. Bus sudah masuk daerah P.


Aku masih berharap, seseorang akan menjemputku dalam hujan.

Bukan dia?

Semakin lama aku semakin tidak percaya akan perasaanku sendiri. Benarkah aku sungguh-sungguh mengharapkan MT?

Kau aneh!

Memang. Sejak dulu aku ini orang aneh. Bahkan aku tidak mengerti perasaanku.

Ano hito no egao mo

Omoi dasenaino

Omoi dasenaino

Ya, kenapa? Kenapa aku tidak bisa mengingat wajahnya yang tersenyum?

Mungkinkah memang sekarang saatnya untuk mengucapkan sayonara?!


“Ya, yang Slorok…yang Slorok! Yang turun Slorok persiapan!”

Aku berjalan mendekat ke pintu.

“Turun sini, Mbak,” pinta sang kondektur. Maksudnya agar aku berdiri di tangga terbawah. Aku menurut. Terjepit di antara pintu dan tubuh kondektur -sedang kedua tangan kondektur itu memegangi pintu, melingkari kepalaku, menjaga agar aku tidak jatuh- aku merasa mual dengan kedekatan tubuh ini.

Ketika turun, kondektur memegang tanganku. Aku tahu dia bermaksud baik: menjaga keseimbangan tubuhku. Tapi… bahkan MT tidak pernah menyentuh tanganku.


“Ojek, Mbak?”

“Ndak, Pak.”


27 Mei 2004
N. H. Fauziah

Iklan

3 thoughts on “Yellow (part 2): Sekilas Kenangan di Ambang Perpisahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s