Kami Pun Berhak Hidup Layak

Teringat pembicaraan hari Ahad lalu:

Mbak2 (Mb2): Suami kerja dimana?

Nur (N): Hmm…pajak mbak… (ragu mau njawab jujur)

Mb2: Wah, enak ya…basah donk…

N: Ehehehe… (nyengir) kebanjiran donk mbak…

Dan kemudian adegan yang sama akan selalu berulang: menjelaskan bla bla bla tentang tempat kerja suami, bahwa tidak semua orang pajak seperti Gayus, bahwa DJP masih terus berbenah, mohon agar memaafkan apa yang sudah terlanjur terjadi, dan seterusnya, dan seterusnya…

Lama-lama rasanya capek juga, harus melakukan pembelaan di depan orang yang baru dikenal.


Baca lebih lanjut

Berapa yang Ideal?

Pagi tadi sedikit berdebat dengan suami.

Aku mengeluhkan waktu tidurku semalam yang cuma 5 jam. Walhasil hari ini aku sedikit merasa pusing. Aku bersikukuh, untuk umur produktif seperti sekarang, waktu tidur yang ideal adalah 6 jam. Suami menyanggah, itu  hanya akal-akalan sekelompok orang yang menggembor-gemborkan waktu tidur ideal 8 jam (tak mau kusebut siapa yang dituduh, takut blog ini menjadi SARA). Seperti biasa aku ngotot: adek kan bilang 6 jam, bukan 8 jam! (cara berdebat dengan suami yang tidak patut ditiru ya adek-adek…)

Tentu saja perdebatan seperti ini tidak berlanjut. Hehehe…

Tapi sekarang aku jadi penasaran. Sebenarnya, berapa waktu tidur yang ideal untuk manusia dewasa? Aku sebenarnya termasuk yang tidak percaya dengan dogma 8 jam. Pendapatku masih berpegang kuat pada tradisi orang jawa: semakin banyak usia, seyogyanya semakin sedikit waktu tidurnya. Semakin kita menua, harus lebih banyak waktu yang digunakan untuk ng-ibadah. Itulah sebabnya kenapa waktu tidur harus dikurangi. Kan tidak selamanya kita menjadi bayi.

Sedang untukku, aku minta sedikit tambahan waktu tidur dengan alasan lagi hamil 😀

Pernah di facebook ada seorang teman yang mengeluh di statusnya bahwa ia jatuh sakit setelah mencoba tidur hanya 2-3 jam per hari. Dia ambruk setelah seminggu. Menurutnya seharusnya manusia mampu tidur seperti Rosul yang hanya 2-3 jam sehari. Seorang kawannya mendebat bahwa kebiasaan itu tidak bisa diterapkan pada manusia modern yang hidup di lingkungan penuh polusi, makanan tidak sehat, jarang olah raga, dan sederet gaya hidup tak sehat lainnya.

Jadi, kalau menurutmu, yang ideal itu berapa?!

Lem Povinal

Siang ini aku lagi asyik memindahkan pembukuan kas ketika kusadari ternyata ruangan sudah sepi. Orang-orang keluar mencari makan siang. Yang tersisa adalah satu dua orang yang kebetulan mendapatkan makan siang konsumsi rapat. Aku tidak termasuk kedua himpunan itu, karena aku membawa makan siangku sendiri dari rumah, buah kreasi masak tadi pagi.

Sembari menempel catatan kas yang sudah kuketik rapi ke buku kas yang baru, tiba-tiba perasaanku kelu. Sebabnya sangat sederhana. Ialah lem yang kupegang.

Lem cair merk Povinal

Terus terang, lem ini membangkitkan kenangan sedihku. Kurasa tak banyak orang yang kenangan sedihnya bangkit ketika melihat sebotol lem. +rool eye+

Adalah Ayah, pada sekitar tahun 90-an, yang selalu membawa pulang lem merk povinol ini sepulang beliau dari TPS. Jaman Orde Baru, pegawai negeri diwajibkan menjadi anggota partai pemerintah. Itu tak ada urusan denganku. Yang kubenci adalah, saat PEMILU, pegawai negeri terutama guru diwajibkan juga menjadi anggota Panitia Pemungutan Suara.

Itulah sebabnya aku membenci PEMILU. Karena setiap kali PEMILU berlangsung, aku harus ditinggal ayah dan ibu yang keduanya berprofesi guru untuk menjadi panitia PEMILU. Tak tanggung-tanggung, perginya itu dari pukul 6 pagi sampai pukul 6 sore! Maka inilah yang terjadi padaku sepanjang PEMILU Orde Baru:

  • Pemilu Tahun 1987: Aku yang masih berusia 2 tahun, akibat ditinggal ibu dan begitu lama tidak mendapatkan ASI, sejak itu aku tidak mau minum ASI. Jadi tidak seperti adikku, aku tidak melewati ritual sapih-menyapih.
  • Pemilu Tahun 1992: Aku bersama adik yang masih berusia 2 tahun, dititipkan ke tetangga. Karena kurang pengawasan, atau karena aku lagi linglung, jariku terbakar korek api.
  • Pemilu Tahun 1997: Tak banyak yang kuingat selain karena aku sudah lumayan besar, juga karena sudah biasa ditinggal.

Saat ini, aku sudah bisa ikut PEMILU. Ayah dan ibu sudah tidak wajib menjadi panitia TPS. Tapi tetap saja aku membenci PEMILU. Karena saat PEMILU, sering kali pilihannya tidak ada yang sreg di hati :p