Kami Pun Berhak Hidup Layak

Teringat pembicaraan hari Ahad lalu:

Mbak2 (Mb2): Suami kerja dimana?

Nur (N): Hmm…pajak mbak… (ragu mau njawab jujur)

Mb2: Wah, enak ya…basah donk…

N: Ehehehe… (nyengir) kebanjiran donk mbak…

Dan kemudian adegan yang sama akan selalu berulang: menjelaskan bla bla bla tentang tempat kerja suami, bahwa tidak semua orang pajak seperti Gayus, bahwa DJP masih terus berbenah, mohon agar memaafkan apa yang sudah terlanjur terjadi, dan seterusnya, dan seterusnya…

Lama-lama rasanya capek juga, harus melakukan pembelaan di depan orang yang baru dikenal.



Dipikir-pikir, menjadi istri orang pajak jaman sekarang tuh kok seolah-olah jauh lebih memalukan daripada menjadi istri narapidana. Kalau suami pernah masuk penjara, asal kasusnya kecil, cuma segelintir orang yang tahu. Yang bertanya paling cuma beberapa. Lha kalo suami orang pajak, biar belum pernah kena kasus (haduh, na’udzubillah) orang hampir dipastikan akan bertanya.

Masih terngiang sindiran pembawa acara di pesta pernikahan dulu. “Semoga mas Nug ini tidak menjadi seperti Gayus”. Jadi penasaran ingin datang ke nikahan orang pajak lainnya. Apa iya, penyebutan nama Gayus di pesta pernikahan orang pajak telah menjadi tradisi?! :p

Jauh sebelumnya, waktu bilang ke orang kantor dengan siapa aku akan menikah, tanggapannya adalah: hmm, enak donk, dapet orang pajak! Hei, selama di STAN, termakan sinisme antar spes, aku tuh paling anti sama yang namanya anak akun dan anak pajak! Anak akun menurutku arogan, dan anak pajak kutuduh mengeksklusifkan diri. Entah karma atau takdir. Seperti kata nasehat lama: janganlah terlalu membenci sesuatu, karena seringkali itulah yang akan kau dapatkan, maka inilah aku: mendapatkan suami eks anak akun yang sekarang masuk pajak.

Beberapa waktu lalu, dilakukan pemeriksaan kekayaan para pejabat DJP dan DJBC. Komentar di situs-situs berita on line umumnya pedas-pedas. Aku jadi berpikir, bila suatu saat nanti, dengan semua penghematan yang telah kami lakukan, dengan uang halal yang dapat kami kumpulkan, kami akhirnya berhasil membeli rumah, membeli mobil (amiin…), apakah orang-orang akan mencibir?! (Akh, suaminya di pajak sih..pantes…). Kok rasanya lebih enak menjadi istri yang mengingatkan suami agar tidak korupsi daripada menjadi istri suami yang dicurigai berpotensi korupsi (paling ga kan otot-ototan ma suami sendiri lebih enak daripada otot-ototan ma orang asing :p). Aku tak memungkiri kesalahan-kesalahan DJP di masa lalu, tapi bila pelacur saja boleh bertobat, apakah sebuah instansi yang sudah nyata sedang memperbaiki diri, tidak diperbolehkan bertobat?!

Omong-omong, judul tulisan ini kuambil dari judul sebuah buku yang kubaca waktu SD dulu, sebuah buku terbitan tahun 80-an. Karena sepertinya saat ini ia menggambarkan jeritan hatiku: kami pun berhak hidup layak!

NB: tulisan ini lahir setelah geregetan melihat sidang voting hak angket mafia pajak di DPR

Iklan

9 thoughts on “Kami Pun Berhak Hidup Layak

  1. Kekuatan FreeMason Yahudi bermain di balik aksi Anggodo, Gayus, dll.?
    Semua orang sepertinya berusaha untuk saling menutupi agar kedok anggota mafia FreeMason utamanya tidak sampai terbongkar.
    Jika memang benar demikian, maka tidak akan ada yang bisa menangkap dan mengadili Gembong tersebut -di dunia ini- selain Mahkamah Khilafah!
    Mari Bersatu, tegakkan Khilafah!
    Mari hancurkan Sistem Jahiliyah dan terapkan Sistem Islam, mulai dari keluarga kita sendiri!

  2. Ane pun pernah baca tu buku…tapi sekarang nyari lagi ga ada, padahal pengen buat koleksi…Ane inget nama tokoh utamanya adalah Oyo, anak kecil yang ninggalin ibu dan adik2nya yang tinggal di gubuk dipinggiran kali untuk mencari nafkah dengan menjadi kernet truck karena keluarganya yang sangat miskin dan sering kelaparan. Singkat cerita, ketika si Oyo sudah mendapatkan upah hasil kerja kerasnya, dia pulang ke gubuknya dengan membayangkan wajah ibu dan adik-adiknya yang senang dengan oleh-oleh yang dibawa Oyo. Namun apa dikata, ternyata ketika tiba di “kampung halaman”-nya tersebut, ternyata gubuknya telah kena gusur dan tidak diketahui dimana keberadaan ibu dan adik2nya tersebut. Selebihnya ane sdh lupa ceritanya gan….

    => Wahh…ada yang masih inget nama tokohnyaaa… 😀

    Kalo aku inget petualangannya. Pas ngangkut sarang burung walet, makan nasi rames (pas SD aku ga bisa mbayangin gimana rasanya nasi rames, di Malang waktu itu ga pernah denger), nglapisin kaca depan ma tembakau biar air hujan ga nempel, sampe mandi siang2 di kali ciliwung… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s