Ikigami

Hari minggu lalu, saat iseng mindah-mindah channel, ga sengaja tertambat di B-channel. Tumben-tumbenan, B-channel muter film. Film Jepang lagi! Ternyata film yang diputar adalah Ikigami. Tapi sayangnya udah nyampe part 2. 😦

Mengenai Ikigami ini, dulu aku pernah membaca versi manganya, walau cuma sampai jilid 3. Ceritanya adalah tentang adanya Undang-undang Pemeliharaan Kemakmuran Negara. Menurut undang-undang ini (kalau ga salah inget, soalnya bacanya sudah lama banget dan kemaren nonton juga ujug-ujug part 2, ga tau latar belakangnya), untuk menjaga kemakmuran negara, maka generasi muda harus dididik agar memanfaatkan masa mudanya dengan mengembangkan potensinya sebaik mungkin. Caranya? Dengan ditakut-takuti. Dan cara mengancam paling jitu adalah dengan kematian. Di “negara” ini, setiap anak yang baru masuk sekolah dasar, wajib divaksinasi. Dari 1000 suntikan, akan ada satu yang diisi dengan kapsul nano. Kapsul ini akan meledakkan jantung inangnya pada usia 18-24 tahun. Nomor suntikan yang berisi kapsul, termasuk data siapa anak yang telah mendapat suntikan tersebut, menjadi rahasia yang dijaga ketat oleh negara. Negara akan memantau terus perkembangan si anak. Sesuai dengan data dan perhitungan, ketika dekat dengan waktu kematian, negara akan mengeluarkan Surat Kematian (ikigami=death notice). 1×24 jam sebelum kematiannya tiba, seorang petugas negara akan menyampaikan surat tersebut ke pemiliknya.

Jadi, intinya, apa yang akan kau perbuat saat kau tahu kau akan mati 1×24 jam lagi?!


Si penerima ikigami selama 1×24 jam memiliki hak istimewa, boleh melakukan apa pun, kecuali perbuatan kriminal. Soalnya kalau dia melakukan perbuatan kriminal, atau mati bunuh diri, keluarganya tidak akan mendapatkan tunjangan kematiannya. Perangkai kisah-kisah para penerima ikigami ini tentunya si pengantar ikigami. Aku benar-benar kasihan padanya. Seorang  pegawai negeri berpenghasilan rendah harus menjalankan tugas yang “jelas-jelas bertentangan dengan hati nurani” (siapa sih orang normal yang senang memberitahukan “anda akan meninggal 24 jam lagi”). Belum lagi resiko kebencian dari si penerima ikigami. Yah, pastinya penerima ikigami membenci negara. Tapi pelampiasan paling dekat kan ya petugas di hadapannya itu :p

Sementara ceritanya sendiri, ditulis dengan sangat apik oleh Motoro Mase- sensei. Bagaimana ragam tindakan orang-orang yang mengetahui dirinya akan mati, bagaimana sikap keluarga dan masyarakat sekitar. Semua emosi bercampur jadi satu. Baik manga maupun live action-nya patut diacungi jempol.

Menurut beberapa review yang sempat kubaca, Ikigami hampir setipe dengan Battle Royale (cuma BR ini aku belum pernah nonton, pun baca novelnya). Intinya bagaimana caranya “membasmi bibit buruk”, mencegah generasi muda berkelakuan liar, dan mengharapkan hanya tunas-tunas terbaiklah yang akan muncul. Namun berbeda dengan Battle Royale yang brutal (satu kelas anak SMP yang bengal macam murid-murid Onizuka dikurung di satu pulau dan dipaksa saling membunuh hingga hanya tersisa satu orang), cerita Ikigami lebih bermain di psikologis manusia.
Kesimpulanku, sepertinya Jepang makin khawatir saja dengan keadaan generasi mudanya. Hm, sepertinya nasib negaraku ini sebenarnya hampir sama (atau malah lebih buruk?!) . Jadi malu. Aku sendiri yang sudah hampir jadi orang tua belum pernah berprestasi apa-apa, belum pernah ngasih sesuatu untuk negara…

Iklan

4 thoughts on “Ikigami

  1. Reviewnya mantap. Haha, saya lg tergila-gila ikigami. Bahkan sampai membyangkan kalo ada di Indo.

    Battle royale bgus loh, apalagi BR 1, tp kalo BR 2 gak seru krn trlalu militer teroris movienya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s