Harga Sebuah Perjuangan

Sebenarnya kejadiannya sudah lewat 2 minggu, tapi aku masih suka senyum-senyum sendiri kalau mengingatnya. 😀

Jadi karena aku pernah memposting tentang ngidamku, kali ini aku ingin cerita tentang bagaimana caraku memperoleh keinginanku.

Pertama kali ketika ngidam mie pangsit Malang, aku bela-belain jalan sekitar 300m dari kontrakan untuk mendapatkan cwi mie (tertulis demikian di spanduknya) yang letaknya di depan Pusdiklat Bea Cukai. Ternyata, cwi mienya kaya mie ayam biasa. Sedih banget waktu itu. Ga aku habisin.

Lalu sekitar hari kamis 2 minggu lalu, sempat kepengin makan bubur sum-sum pagi-pagi. Setelah menyetorkan jari-jari ke mesin absen, aku muter kompleks kantor. Tujuan pertama, kantin di Gedung B yang konon menyediakan menu bubur sum-sum tiap pagi. Ternyata tutup. Maka lanjutlah aku jalan menyusuri jalan Wahidin 2. Tetap ga nemu. Sedih lagi. Jumatnya, pas pengin makan opor ayam di kantin basement, ternyata standnya tutup. Hiks!

Dan kesedihanku terbalas pada hari minggu.

Pagi-pagi aku jalan sendiri ke tukang sayur yang mangkal di dekat Alfamart. Rencananya cuma beli beberapa bumbu yang lupa kebeli waktu ke pasar di hari sabtu. Pas jalan, lewat gerobak penjual jajanan-jajanan kecil, aku lihat ada kue cucur. Ngilerlah aku. Tapi mbatin, “Ntar aja ah belinya, pas mau pulang”.

Sampai di tempat tukang sayur, aku lihat pisang. Ngiler lagi (parah ya!). Nanya ke bapaknya, “Pak, ini sesisir berapa?”

“10 rebu”, kata si Bapak. Aku tawar tujuh ribu, ga dikasih.

Kemudian aku berpaling ke ibunya, dan mulai membeli bumbu-bumbu yang kumaksud. Sempat lihat dompet, ternyata uang yang kubawa cuma 16 ribu. Aku takut ga cukup buat belanja kalau beli pisang 10 ribu. Mungkin karena saking kepenginnya, aku masih suka pegang-pegang itu pisang. Si bapaknya sampai ketawa, “Pingin banget to nduk?”. Aku tambah cemberut.

Setelah dijumlah, total belanjaku cuma 6 ribu (ya iyalah, cuma beli saus tiram, santan, kemangi, ma empon-empon).

“Bu, beneran pisangnya ga boleh 7 ribu? Saya mau kalau 7 ribu, uangnya mepet,” kataku jujur (tapi mungkin ga nyadar sudah menambahkan muka memelas)

“Wes to Pak, kasih aja 8 rebu buat penglaris…” kata istrinya.

Dan…yay, si bapak ngangguk aja gitu. Mungkin efek karena selama belanja tadi aku pakai bahasa Jawa. Jadilah total belanjaku 14 ribu.

Pulang dengan hati riang karena mendapat pisang, mampir dulu ke tempat jajanan. Kue cucurnya ternyata seribuan. Dengan sisa uang 2 ribu, aku berhasil membawa pulang dua buah kue cucur.

Dan si Abi sepenuhnya ngakak waktu kuceritakan kesuksesanku itu. 😦

Enak aja, udah penuh perjuangan ini! :p

Iklan

2 thoughts on “Harga Sebuah Perjuangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s