Susahnya Nyari yang Halal

Gara-gara kemarin hampir termakan isu tentang kandungan babi dalam es krim magnum, tadi pagi iseng browsing nyari-nyari tentang hukum sebenarnya atas emulsifier yang disebut-sebut menyebabkan magnum jadi ga halal. Oiya, mengenai keharaman magnum tadi, seorang pejabat MUI telah memberikan bantahannya di sini.

Tapi ternyata, keisenganku mencari tahu malah menimbulkan kegundahan hatiku (lebay detected). Ya, karena berdasarkan situs ini, ragi dan emulsifier memang diragukan kehalalannya. Okelah kalau ragi instan kita bisa beli sachetan di toko retail dekat rumah yang sudah mencantumkan logo halal di bungkusnya (padahal dulu juga lebih biasa beli ragi botol kecil di pasar yang ga ada merknya :p). Tapi untuk ovalet/SP/TBM, kurasa semua orang lebih biasa belanja ke pasar dan membelinya dalam bungkus plastik tanpa logo halal bahkan tanpa merk!

Belum cukup dengan dilema ovalet dan SP,  MUI dalam situsnya ternyata pernah menerangkan keragu-raguan tentang kehalalan kue tart. Jauh lebih runyam karena tidak cuma emulsifier, tapi mulai dari tepung terigu, margarin, mentega, hingga gula pasir bisa diragukan kehalalannya. 😥

Kue dan cake yang sudah punya sertifikat halal kayane mahal-mahal. Trus gimana donk dengan penikmat kue dengan kantong tipis (seperti kami)?! Masak harus selalu bikin sendiri?! 😦