Cahayaku

Cahayaku

Suara bunyi-bunyian timbul tenggelam tertimpa keriuhan orang-orang berebut gunungan. Terik matahari terasa menyengat mukaku.

“Bener cuma ingin itu?!” tanyanya lagi meyakinkan.

Aku mengangguk. Sekejap dia melepas genggamannya. Aku membayangkan sosok mungilnya tengah menyelinap di antara lautan manusia pada Sekaten tahun ini. Tak lama kemudian, kurasakan sesuatu yang kasar diletakkannya pada tanganku. “Salak ini untuk keponakanku,” katanya dengan nada ceria. Aku tersenyum. Ngidamku terpenuhi.

Matahari sore bersinar lembut ketika kami beriringan pulang. Sepanjang jalan tangannya tak pernah lepas membimbingku. Kubayangkan langit merah senja yang indah, seindah namanya. Senja, kawanku dari kecil. Senja, temanku menangkap kupu-kupu. Yang tak meninggalkanku walau keluargaku membuangku sejak durjana itu menodaiku dan merenggut penglihatanku. Senja yang lembut dan baik hati. Dialah senja, fajar, dan keseluruhan cahaya bagiku saat ini. Seorang sahabat sejati.

NB: Ternyata ga lulus verifikasi karena ga teliti baca peraturan. Hiks! Saya butuh uang 250 ribu ituuuu…. 😥

Ummi Ga Boleh Bo’ong

Dulu saat aku cerita ke ibu’ kalo’ dedek dah mulai kerasa gerakannya, ibu’ langsung berpesan, “Sering-sering diajak ngobrol!”

Tentu saja dengan polos aku balik nanya, “Ngobrolin apa, bu’?!”

“Ya kalo mau ngapa-ngapain diajak. Sholat diajak, makan diajak… Itu Nug juga kalo mau pergi-pergi pamit dulu ke anaknya, biar anaknya tahu bapaknya mau kemana…”

Sejak itu aku jadi lumayan sering ngajak omong dedek. Awal-awal sempat ragu, bicara sendiri kaya orang ga waras ini ngefek ga ya?! Tapi akhirnya semakin mantap setelah Dr. Onni juga menyarankan hal yang sama. Bahkan beliau mengajarkan triknya. “Kalau ngajak ngobrol, sambil pegang perut. Kalau ga dipegang, kan bayinya ga tahu ibunya lagi ngomong sama siapa.” Oh, begitu…

Mula-mula sih memang respon dedek agak lambat. Selisih beberapa menit baru dia mulai merespon dengan gerakannya. Lama-lama tenggang waktu antara omongan dan respon mulai memendek. Yang bikin aku takjub, adalah bagaimana dia bisa begitu mengerti apa yang kita omongkan. Jadi ceritanya, si Abi kan mulai ikut-ikutan ngajak ngobrol. Tapi dedek sama sekali ga mau merespon abinya. Akhirnya suatu malam, pas lagi sendirian, aku coba membujuk dedek. “Nak, lain kali kalo Abi ngajak ngobrol, dedek njawab ya.. Kan kasihan Abi didiemin terus. Dedek selain nurut ke Ummi, juga harus nurut ke Abi. Dedek ngerti kan?!”

Dan besok sorenya, ketika abinya nyapa, dedek benar-benar merespon dengan tendangannya. Kyaa..subhanallah!

Tapi, kadang aku kena “getah” juga dari aktifnya dedek. Misalnya kemarin. Sebagai hasil dari libur panjang, hari Senin meja di ruangan penuh dengan makanan oleh-oleh dari mereka yang pulang kampung. Salah satunya adalah tape ketan bungkus daun jambu khas Kuningan. Sebenarnya, wanita hamil dilarang makan tape. Tapi karena tergoda, aku makanlah tape itu sebungkus. Sore hari, saat mau pulang, ternyata masih banyak tape yang tersisa. Inisiatif, kubungkuslah empat buah buat mz Nug. Di kontrakan, ketika kusodorkan tape itu, mz Nug ngajakin makan. Aku berkilah, “Adek kan ga boleh makan  tape…”

Begitu selesai mengucapkan kalimat itu, tiba-tiba: Dug! Dug!

Eh, dedek protes! Dua kali perutku ditendang keras banget. Buru-buru aku meralat. “Yaa..sebenarnya adek tadi udah makan sebungkus di kantor…” ucapku malu-malu. Melihat itu, mz Nug ketawa ngakak, terus elus-elus perutku. “Dedek pinter ya… Bagus gitu. Jangan tiru-tiru Ummi. Bo’ong itu ga baik..”

(-_-!)

Kena deh!

Ibu Belajar Berjalan, Anak Belajar Berlari

Ada satu hal yang menarik pada pembicaraanku di telpon dengan ibu’ kemarin pagi. Ibu’ mengeluh dirinya tertular flu dari murid-muridnya. Seperti mesin penjawab otomatis, dari mulutku langsung keluar nasehat-nasehat “sok tahu”: ya minum susu, banyakin buah, ma banyakin tidur. Terasa belum cukup, masih kutambahi dengan lebih “sok tahu” lagi: kalau malam jangan nonton sinetron!

Begitu mendengar hal itu, ibu’ langsung membantah, “Apanya yang nonton sinetron. Orang tiap habis maghrib sekarang ngaji!”

Ibu’ kemudian bercerita, sudah sejak beberapa waktu lalu, setiap malam (kecuali malam jumat) sekitar 28 orang ibu-ibu dan bapak-bapak di kampungku belajar mengaji ke Mas Samsuar. Mas Samsuar adalah ustadz yang biasa mengajar ngaji anak-anak kecil di mushola depan rumah. Target Mas Sam, sebelum Ramadhan nanti, ibu-ibu dan bapak-bapak ini harus sudah bisa membaca Al Quran. Itulah sebabnya kenapa pertemuannya intens sekali.

Sebagai kampung di kaki Gunung Kawi, pengetahuan agama Islam penduduknya memang masih rendah. Jaman dulu tidak ada pelajaran mengaji seperti sekarang. Jadi wajar bila banyak dari orang-orang tua itu yang buta huruf hijaiyah. Surat-surat Al Quran diajarkan secara hapalan, sehingga banyak lafal yang salah-salah. Oleh karena itu, selain mengajarkan cara membaca Quran, target Mas Sam lainnya adalah membetulkan hapalan surat.

Aku jadi kagum pada orang-orang tua itu, terlebih pada ibu’ku. Ibu’ kelahiran 1961. Sudah umum diketahui bahwa semakin tua usia kita, semakin susah mengatur lidah. Itu sangat kurasakan saat belajar tahsin dulu. Tentu butuh perjuangan keras untuk belajar lagi di usia demikian, pun semangat yang harus benar-benar terjaga agar tetap istiqomah.

Ketika aku menceritakan hal itu pada mantan Kasubbag (kebetulan kami sedang menjalani acara menginap “Semalam di Tugu Tani”), aku mendapat komentar yang tak terduga. “Itulah Nur, kenapa saya dulu sengaja ambil S2, padahal sudah mau pensiun kaya gini. Itu biar si Anca (nama anak beliau, red) semangat juga belajarnya…”

Wow! Subhanallah! Ibu-ibu ini sengaja belajar selain untuk mengejar ilmu, juga untuk mengajari anak-anaknya bahwa pendidikan itu penting. Bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar. Dan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban seumur hidup.

Ibu memang panutan anak-anaknya. Apa yang dilakukan ibu acap kali menjadi patokan/standar, juga diikuti jejaknya. Aku punya beberapa teman perempuan yang semangat menyelesaikan studinya dengan alasan malu dengan ibunya yang dulu lulus S2. Buat anak-anak seperti ini, wajib untuk paling tidak mencapai tingkatan yang sama dengan ibunya dulu. Syukur-syukur kalau bisa lebih tinggi.

Hmm…tambah lagi pelajaran smart parenting hari ini: ibu belajar berjalan, anak belajar berlari. :mrgreen:

Belajar dari Pohon Akasia

Di jalan depan kantor suami, berderet tumbuh pohon akasia. Mungkin umurnya baru 10-15 tahun (aku tak pandai menaksir umur pohon), masih kecil. Suatu pagi, iseng memperhatikan salah satu dari pohon itu, tercetuslah perkataan ke suami, “Mas, kasihan ya, pohon akasia itu…”

“Emang kenapa?” tanyanya tak mengerti.

“Lihat deh, masih kecil gitu benalunya sudah banyak.”

“Oh…” komentar suami datar, tak terlalu tertarik.

Tapi buatku, aku benar-benar sedih melihatnya. Daun pohon akasia yang kecil jarang-jarang, kontras sekali dengan daun benalu yang tumbuh di batangnya: lebar dan lebat. Aku membayangkan di dalam, sel-sel kayunya bertarung mempertahankan makanan dari jarahan akar-akar benalu.

Sore harinya, ketika jalan pulang, aku melewati pohon akasia yang lain. Kali ini pohonnya besar, mungkin usianya sudah puluhan tahun. Daunnya rimbun dengan batang-batang yang kokoh. Aku kagum, “Wah, kuat sekali Akasia ini.” Sambil bergumam sendiri aku melihat ke atas, ke rimbun dedaunan. Dan terkejutlah aku karena kulihat bertengger di sana: benalu yang tumbuh dengan lebatnya.

Tiba-tiba dalam hati aku terpikir, akasia ini tentu dulunya juga melewati masa kecil. Mungkin ketika kecil nasibnya tak jauh beda dengan akasia di depan kantor suami: tumbuh kembang-kempis digerogoti benalu. Namun dia berhasil bertahan, melewati masa-masa sulit itu. Kini ia telah besar dan dewasa. Benalu itu tetap ada, tapi dibanding tubuhnya yang besar, benalu itu bukan apa-apa.

Satu yang bisa kupetik: masalah akan tetap ada dimanapun dan kapanpun. Namun dengan kebesaran jiwa dalam menghadapinya, masalah-masalah itu akan menjadi kerdil dengan sendirinya. Sebaliknya, masalah-masalah itu juga yang akan melatih kekuatan dan ketahanan kita. Kebesaran jiwa akan kita dapat ketika kita telah berhasil melewatinya. Sepertinya Tuhan memang sengaja menciptakan masalah untuk membuat kita dewasa.

NB: Sedang “sedikit” ragu. Minder lagi. Bisakah aku nanti menjadi ibu yang baik untuk anakku?! Saat ini saja aku belum bisa dekat dengan anak kecil. Tapi aku percaya, anakkulah nanti yang akan membuatku dewasa, memaksaku belajar untuk menjadi ibu yang terbaik baginya. Semangat!


Gambar bukan pohon akasia sih, dan tlah diambil dengan semena-mena dari sini. :p

Upacara Tiup Lilin

Hari ini sengaja dibela-belain minjem modem suami buat tiup lilin. Eh?! Yup, tak terasa sudah 3 tahun blog ini setia menemani setiap langkahku. Umm, maksudnya setia menerima ocehan-ocehanku. 😀

Kenapa 9 April? Karena postingan yang benar-benar bisa dibaca baru kuposting pada tanggal 9 April 2008. Padahal daftar di wordpress sejak 28 Januari :mrgreen:

Dari awal pembuatan, aku berpikir blog ini jangan hanya menjadi ajang curhat. Harus ada sesuatu yang bisa dipetik pembaca setelah membacanya. Namun apadaya iman yang lemah, hampir 80% isi blog ternyata malah berisi curhatan-curhatan ga bermutu. Harapanku sekarang, konsep awal blog ini untuk berbagi masalah kesehatan dan keluarga akan tetap terjaga, walau diselingi dengan berbagai tulisan tak bermutu itu. Jika dilihat dari posting awal berjudul “Karada ga Futotte Imasu ka?!” yang bercerita tentang cara mengukur berat badan yang ideal dan posting terakhir yaitu “Tentang Makanan dan Apa yang Kau Makan”, aku merasa blog ini masih cukup bertahan on its track. :p

 Sampai saat ini, total baru terposting 156 tulisan. Yaaa, memang sering blog ini terbengkalai selama berbulan-bulan. Statistik blog juga berkutat di angka puluhan. Tapi tak mengapa, tokh ini hanya sekedar blog pribadi. Stat tertinggi adalah saat tulisanku tentang daging tikus dimuat pada salah satu thread di Kaskus. Ah, senang rasanya bisa berbagi informasi dengan orang lain. Sedang tulisan yang selalu mendapat stat tiap minggu secara konstan adalah tulisan tentang bahasa bunga. Hm…memang yang bergunalah yang bakal dicari orang.

Untuk kedepannya, mungkin blog ini akan lebih banyak bercerita tentang kehidupan keluarga: perkembangan anak atau cerita/kejadian lucu di keluargaku. Walau nantinya tulisan-tulisan itu tak akan berguna bagi orang lain, paling tidak dia akan menjadi catatan sejarah kehidupanku. ^-^v

Tentang Makanan dan Apa yang Kau Makan

Sekitar 2 minggu lalu aku nonton Oprah. Yang dibahas waktu itu adalah sebuah film berjudul Food Inc. Food Inc adalah film dokumenter nominasi Oscar 2010 yang mengungkap “kejahatan” di balik industri makanan Amerika. Walau terjadi di Amerika, namun film ini layak dijadikan bahan pertimbangan, BARANGKALI makanan yang kita makan sama “mengenaskannya” dengan keadaaan makanan di sana.

Segmen pertama film ini meneliti produksi daging industrial di Amerika Serikat. Bagaimana ayam diternakkan secara instan dalam 49 hari (dulu perlu waktu 3 bulan) dengan antibiotik dan tanpa pernah melihat sinar matahari. Sapi diberi makan jagung sehingga dagingnya seringkali tercemar bakteri E-coli yang bermutasi (korban kebanyakan adalah anak-anak yang lambungnya masih lemah). Di segmen ketiga nanti akan digambarkan bagaimana industri mengatasi masalah E-coli ini. Alih-alih memberi makan sapi-sapi itu dengan rumput, mereka justru menyemprot daging-daging yang sudah dipotong itu dengan amoniak! :muntah

Segmen kedua mengulas tentang produksi industrial benih dan sayur-sayuran (terutama jagung dan kacang kedelai) yang ternyata telah menjadi bahan baku hampir semua produk: kecap, burger, cola, pakan ternak, hingga baterai!

Segmen terakhir adalah tentang ekonomi dan kekuatan hukum dari perusahaan-perusahaan makanan besar. Ternyata, subsidi di Amerika diberikan kepada petani jagung dan para peternak besar, agar mereka bisa menyediakan pangan yang murah bagi seluruh rakyat Amerika. Apakah pangan yang murah itu? Tak lain adalah fast food. Hamburger seharga $99 sen (ga nyampe $1). Yang mengenaskan, harga sayuran segar di sana lebih mahal daripada harga sebuah burger. Ada adegan yang membuatku mengelus dada. Ketika satu keluarga berbelanja ke supermarket, si adik ngiler ingin makan pear. Si kakak meraih sebutir pear dan memasukkan ke timbangan. Melihat harga yang tertera di sana, si kakak berkata, “Tidak, kita tidak punya uang untuk membeli ini”. Fast food membuat obesitas menjadi penyakit yang umum di Amerika, temasuk penyakit-penyakit turunannya (keluarga “miskin” tadi menghabiskan $11 untuk membeli makan sekeluarga berupa fast food, tapi membutuhkan $130 untuk membeli obat bagi diabetes ayah mereka)

Bagi yang tertarik menonton film itu secara lengkap, dapat diunduh di sini. (tidak disarankan buat yang jijikan!)

Ketika aku membicarakan film itu dengan adikku, dia bilang, “Ayam di sini juga kaya gitu”. Si Kiki (temen sebelah meja) malah bilang kalau temennya yang kuliah di peternakan pernah bercerita, ada peternakan ayam di Indonesia yang mengamputasi kaki ayam-ayamnya agar ayam tersebut ga jalan kemana-mana. Karena ayam tersebut cuma bisa duduk saja, daging mereka jadi lebih cepat besar. Astaghfirullah…

Buah-buahan Indonesia sendiri juga ga luput dari rekayasa. Semangka disuntik pewarna biar merah, asinan mangga dicelup pewarna kain biar kuning. Di desa mbahku, seorang petani bercerita bahwa sawah yang sudah pernah ditanami melon, untuk tanaman berikutnya tidak perlu dipupuk karena pupuk di tanah tadi sudah sangat berlebihan.

Bingung nyari makanan yang aman?! Sepertinya kita memang harus menerapkan pola lama: makan secukupnya dan tidak berlebihan. Inget ga?! Dulu yang namanya makan daging ayam paling banter ya sebulan sekali pas ada selamatan. Selebihnya sayur, tempe tahu, ma ikan-ikan yang terjangkau: ikan asin, ikan pindang, mujaer dari Bendungan Karangkates. Sayur juga kadang ngasal aja: ada rebung ya rebung, syukur-syukur kalau ada jamur di pekarangan pas musim penghujan, bunga buah pisang, daun singkong, bayam…

Tapi kalau hidup di kota susah juga ya… :p

NB: gambar diambil dari sini

Pengorbanan Seorang Ibu

“Eh copot eh copot copot
Apa mak yang copot copot
Giginya eh gigi mak copot
Pantes mak pipinya kempot”

Tiba-tiba teringat sekelumit lirik lagu “Mak Inem Tukang Latah” yang dinyanyikan oleh Adi Bing Slamet.

Ini gara-gara sedari pagi tulang-tulang kaki kiriku sakit sekali. Kaya kram rasanya. Bahkan tadi sempat hampir terjatuh saat menaiki tanjakan di depan Gedung Djuanda I.

Trus apa hubungannya dengan lagu tadi?!

Kalau ga salah, ibu hamil akan sering mengalami pegal-pegal karena kekurangan vitamin B12. Oleh karena itu disarankan untuk banyak mengkonsumsi kacang hijau. Seperti biasa, kalau mikirin sesuatu, aku jadi mikirin yang lain. Kekurangan vitamin B12 merembet pada kekurangan kalsium. Iya, ibu hamil juga sering kekurangan kalsium. Kebutuhan kalsium ibu hamil memang lebih banyak dari rata-rata. Oleh karena itu disarankan pula untuk banyak mengkonsumsi susu. Jika tidak terpenuhi, kalsium akan diambil dari tulang dan gigi sang ibu.

Jadi, menurutku (menurutku, karena tadi belum sempat searching mencari sumber yang terpercaya) osteoporosis pada wanita bukan hanya karena kurang asupan kasium ketika muda, tapi bisa juga karena kehamilan.

Dan tiba-tiba saja lagu Mak Inem tadi jadi terasa begitu kejam. Jangan pernah mengejek seorang wanita yang bungkuk karena osteoporosis atau yang peyot karena giginya ompong. Itu adalah bukti pengorbanan ibu pada anaknya tahu!

 

 

 

OK, back to work! :p