Cahayaku

Cahayaku

Suara bunyi-bunyian timbul tenggelam tertimpa keriuhan orang-orang berebut gunungan. Terik matahari terasa menyengat mukaku.

“Bener cuma ingin itu?!” tanyanya lagi meyakinkan.

Aku mengangguk. Sekejap dia melepas genggamannya. Aku membayangkan sosok mungilnya tengah menyelinap di antara lautan manusia pada Sekaten tahun ini. Tak lama kemudian, kurasakan sesuatu yang kasar diletakkannya pada tanganku. “Salak ini untuk keponakanku,” katanya dengan nada ceria. Aku tersenyum. Ngidamku terpenuhi.

Matahari sore bersinar lembut ketika kami beriringan pulang. Sepanjang jalan tangannya tak pernah lepas membimbingku. Kubayangkan langit merah senja yang indah, seindah namanya. Senja, kawanku dari kecil. Senja, temanku menangkap kupu-kupu. Yang tak meninggalkanku walau keluargaku membuangku sejak durjana itu menodaiku dan merenggut penglihatanku. Senja yang lembut dan baik hati. Dialah senja, fajar, dan keseluruhan cahaya bagiku saat ini. Seorang sahabat sejati.

NB: Ternyata ga lulus verifikasi karena ga teliti baca peraturan. Hiks! Saya butuh uang 250 ribu ituuuu…. 😥