Cahayaku

Cahayaku

Suara bunyi-bunyian timbul tenggelam tertimpa keriuhan orang-orang berebut gunungan. Terik matahari terasa menyengat mukaku.

“Bener cuma ingin itu?!” tanyanya lagi meyakinkan.

Aku mengangguk. Sekejap dia melepas genggamannya. Aku membayangkan sosok mungilnya tengah menyelinap di antara lautan manusia pada Sekaten tahun ini. Tak lama kemudian, kurasakan sesuatu yang kasar diletakkannya pada tanganku. “Salak ini untuk keponakanku,” katanya dengan nada ceria. Aku tersenyum. Ngidamku terpenuhi.

Matahari sore bersinar lembut ketika kami beriringan pulang. Sepanjang jalan tangannya tak pernah lepas membimbingku. Kubayangkan langit merah senja yang indah, seindah namanya. Senja, kawanku dari kecil. Senja, temanku menangkap kupu-kupu. Yang tak meninggalkanku walau keluargaku membuangku sejak durjana itu menodaiku dan merenggut penglihatanku. Senja yang lembut dan baik hati. Dialah senja, fajar, dan keseluruhan cahaya bagiku saat ini. Seorang sahabat sejati.

NB: Ternyata ga lulus verifikasi karena ga teliti baca peraturan. Hiks! Saya butuh uang 250 ribu ituuuu…. 😥

Iklan

6 thoughts on “Cahayaku

  1. Salam buat sang SENJA yang berbudi luhur dan pejuang hebat
    asyik dong dapat jata dari acara sekaten heeee 😀
    tapi sekaten itu bernuansa sirik ya mbak? gmn nih?
    ……….. heee untuk cuman fiksi.
    salam kenal

  2. Senja, temanku SMP, dalam kehidupan sebenarnya cukup penuh dengan kontroversi. Tapi mengingat kisah keluarganya yang rumit, menurutku dia memang pejuang hebat 🙂 Secara keseluruhan, Senja di sini dan Senja di kehidupan nyata benar-benar tidak ada hubungannya (maaf mencatut namamu di sini Nja…)

    Saya sebenarnya belum pernah ke Solo. Hehehe. Bahkan sampai konfirm ke suami, “Di Sekaten itu ada salaknya, kan?!” 😀

    Saya pribadi tidak suka menentang2kan agama dan budaya. Saya suka cara walisongo menyebarkan Islam melalui budaya. Mungkin dengan pengetahuan agama orang sekarang, memang perlu sedikit disesuaikan/diluruskan. Misalnya yang boleh berebutan gunungan hanya laki-laki. Juga kebo bule cukup diarak saja, tak perlu dikumpulkan kotorannya. Intinya dihapuskan kepercayaan bahwa berkah itu dari gunungan atau kotoran kebo bule. Tapi ritualnya sebagai perayaan budaya masih perlu dipertahankan. Yah, sekedar ide… :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s