Rindu Musim

Dulu, ada yang namanya musim. Musim penghujan, musim kemarau,  juga musim pancaroba.

Kalau yang namanya musim penghujan, hampir tiap hari turun hujan. Cucian susah kering, jadi kejar-kejaran sama matahari. Matahari muncul, keluarin jemuran. Hilang dikit, cepet-cepet masukin lagi. Enaknya tanaman jadi seger dimana-mana. Kolam di depan rumah juga otomatis terisi. Ga enaknya rumput jadi tumbuh subur. Perintah mbersihin halaman seringkali turun ketika musim ini (yang selalu ditanggapi dengan “pura-pura ga dengar” oleh aku dan adikku) :mrgreen:

Kalau yang namanya musim kemarau, tidak pernah sekali pun turun hujan. Siang panas terik, tapi malam dingin menggigil. Kabut turun pagi-pagi, menyebabkan kakiku basah kuyup begitu sampai di sekolah. Saat yang tepat untuk menjemur kopi, gabah, dan jagung. Di ujung musim kemarau, biasanya sumur mulai kering. Ngungsi mandi ke mushola dan mencuci pakaian ke sungai adalah ritual yang kadang-kadang harus dilakukan.

Musim pancaroba adalah peralihan musim yang umum ditandai dengan banyaknya orang yang jatuh sakit. Pernah waktu kelas 3 SD, papan absensi di kelas tidak muat untuk menulis nama anak-anak yang absen hari itu karena yang ijin sakit sampai 21 dari 44 anak.

Memang tiap musim membawa kesengsaraannya sendiri-sendiri. Dulu mungkin aku menggerutu karena ini itu. Tapi sekarang aku benar-benar merindukan musim-musim tadi. Musim-musim yang menyenangkan. Musim-musim yang bersahabat bagi manusia.

Emang sekarang udah ga ada lagi musim nur?!

Menurut pendapatku pribadi: nggak! Musim sudah menghilang. Bagaimana bisa disebut musim kemarau jika hujan turun di bulan Agustus? Bagaimana bisa disebut musim penghujan jika Desember tetap panas terik? Beberapa hari ini tidak turun hujan tapi malam juga gerahnya bukan main (karena menurutku kalau siang panas, malam harusnya dingin). Bagaimana bisa disebut musim bila tidak ada keseimbangan alam seperti ini? Dari kampung ibu mengeluh tentang kekacauan tanam. Susah sekali pohon buah untuk berbuah bila baru saja berbunga sudah tertimpa hujan.

Kemarin aku mimisan sampai 4 kali dalam sehari. Mungkin kecapekan. Mungkin juga karena hormon kehamilan. Tapi aku diam-diam menuduh udara panas turut menyebabkan aku mimisan.

Ah, aku benar-benar merindu musim-musim itu…

Iklan

4 thoughts on “Rindu Musim

    • Kata dokter (akhirnya ke dokter klinik deket rumah) karena gabungan semua faktor: kepanasan, kecapekan, lagi hamil, lagi flu, dan….waktu kecil aku udah sering mimisan! Jadi emang udah bakat kali ya. 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s