Balada ASI Perah

Waktu kecil, sekitar umur 5 tahun, lahirlah adik saya Aziz. Waktu itu saya sering melihat ibuk memompa ASI-nya kemudian membuangnya begitu saja ke tempat ari-ari dikubur. Alasannya: ASI ibuk terlalu berlimpah.

Beranjak dewasa saya ketir-ketir. PD saya kecil sekali. Saya ragu apakah saya bisa memberikan ASI untuk anak nanti?!

Begitu hamil, saya mencari tahu tentang manajemen ASI, perawatan payudara, dsb. Saya mulai merawat dan membersihkan PD sejak usia kandungan 7 bulan. Alhamdulillah, berkat semua usaha dan doa, ASI saya lancar keluar di hari pertama. Nindy pun insyaallah telah mendapat kolostrum yang dia perlukan. Allah Maha Adil. Ternyata memang tidak ada hubungan antara ukuran PD dengan produksi ASI. (Temen satu kantor yang PD-nya jauh lebih besar malah ga bisa ngasih ASI tuh. Ga keluar katanya)

Selanjutnya yang terjadi selama di Malang, sejarah itu kembali berulang. ASI terlalu berlimpah yang membuat saya dengan entengnya membuang-buang ASI perahan saya. Rada sedih sih melihat barang berharga dibuang-buang gitu (kuburan ari-arinya sampai jadi sarang semut, akhirnya pindah dibuang begitu saja ke tempat cuci piring). Tapi bagaimana lagi. Kalo ga diperah, PD bengkak. Kalo ga diperah, Nindy cuma dapat foremilk yang membuat pupnya berwarna hijau. Sementara percuma juga bikin stok ASIP karena posisi masih di Malang dan waktu masuk kantor juga masih lama.

Usia 2 bulan kurang seminggu, kembalilah kami ke Jakarta. Mungkin karena capek ngurus Nindy sendirian, atau karena stres banyak pikiran, atau karena Nindy tiba-tiba males mik malam-malam, produksi ASI menurun drastis. Diperah mentok cuma dapat 30 ml. Hua…padahal harus mulai nyetok. Miris mau nangis rasanya. Tambah stres. Padahal baru minggu kemarin buang-buang ASIP. Saat itulah saya mengalami yang namanya harus relaktasi. Saya tambah frekuensi merah, minum susu kedelai, minum susu ibu menyusui, makan jagung rebus, makan sayur hijau… Alhamdulillah, produksi kembali normal setelah seminggu. Tapi itu benar-benar merupakan pengalaman yang tak terlupakan.

Kembali bekerja, jadi harus merah ASIP di kantor. Alhamdulillah, ketika banyak orang bingung ASI-nya kurang, saya malah bingung kehabisan botol tempat menyimpan, bingung ga punya freezer 2 pintu sehingga ASIP saya cuma bisa tahan 2 minggu, bingung freezer kecil sehingga ga muat untuk banyak botol…

Dikit banget dibanding foto-foto ASIP yang bertebaran di internet

Kekurangan dan kelebihan sama-sama bikin bingung. Tapi saya lebih suka bingung karena kelebihan. Hehehe. Alhamdulillah. Semoga bisa terus seperti ini. Amit-amit jangan sampe harus relaktasi lagi! *trauma

Iklan

3 thoughts on “Balada ASI Perah

  1. Ping-balik: Anak Kedua « Cahaya Rembulan Usai Hari Hujan

  2. klo saya sekarang masih bingung cari botol buat asip, soale di malang aq blm menenmukan toko yg jual, klo bekas uc100 aq kurang sreg, mending cari yg baru. bisa kasih tahu dmn aq bisa beli botol asip d malang?

    • Oya, itu botolnya belum kucuci ya? Seterusnya malah enak kok pake botol UC. Begitu isinya habis, rendam di air, diemin semalam. Besok pagi labelnya tinggal digosok dengan sabut cuci yg agak keras, bersih deh. Tinggal beli tutupnya di OS, 400/pieces. Jatuhnya lebih murah kalo model gini daripada pesen langsung botol+tutup @2.500.

      Kalo aku selalu beli di OS sih. Temenku yg di Probolinggo juga belinya di OS. Kayane banyak OS yg homebasenya di Surabaya, jadi ongkir ke Malang pasti lebih murah. Coba aja cari… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s