Menghadapi Kenyataan

“The truth will be never shared to anyone”

Sekelumit lirik lagu Bravery dari Laruku itu mengingatkanku pada keadaanku saat ini. Berbulan-bulan lampau, saat aku mulai kuliah di STIE, aku memperhatikan sesuatu yang menurutku agak ganjil. Sebagian besar teman kelasku terdiri dari pegawai Pajak. Tapi ada pula yang dari DJA, Setjen, BPK, BPKP. Pegawai Pajak katanya penghasilannya jauh lebih besar daripada pegawai Kementerian Keuangan lainnya. Namun yang kulihat, malahan anak Setjen atau DJA bisa lebih mentereng. Hape-nya lebih bagus. Barang-barangnya lebih  berkelas. Aku berpikir: kenapa bisa begitu?!

Aku juga punya teman akrab. Dia menikah dengan kakak kelas. Dua-duanya kerja di DJP. Tapi sampai sekarang, hingga mereka mempunyai satu anak, mereka masih tinggal di kontrakan yang sama. Terakhir ketemu, gadget yang dipegang juga biasa saja.

Setelah menikah dengan orang Pajak, akhirnya aku bisa mengira-ngira apa yang sebenarnya terjadi.

Iya, walau penghasilan besar, tapi kalau yang ditanggung juga banyak, maka keadaannya akan sama saja dengan orang yang penghasilannya sedang-sedang saja.

shashin ni wa utsuranai tsukuri egao no shita no kimochi nante zettai ni

Maka inilah aku, menyadari akan kekuranganku, memahami akan kemampuanku. Selamat tinggal mobil impian. Aku tidak akan memaksakan diri untuk meraihmu. Mari kita mulai lagi merencanakan keuangan dengan mempertimbangkan segala kondisi yang ada. Baru satu tahun. Jalan masih terbentang. Pelan-pelan semua mimpi itu pasti terwujud. Insyaallah.

NB: Bravery- lagu yang diciptakan Tetsu untuk mengingatkan penggemar mereka agar tidak terlalu nyinyir terhadap keputusan yang telah dia ambil. Hei, kamu ga tau kan yang sebenarnya terjadi?! Jadi ga usah banyak komentar deh!

Iklan

10 thoughts on “Menghadapi Kenyataan

  1. Ah, kata siapa? Keknya orang-orang tertentu yang kerja di DJA ama Setjen deh yang “penghasilan”-nya lebih tinggi. Orang Pajak, terutama yang kerja di KPP, mungkin penghasilan pokoknya memang lebih tinggi. Tapi orang-orang tertentu tadi itu kan, penghasilan sampingannya jauh lebih banyak. Sering konser. Sering DL. Orang Pajak? Mana ada konser? Mana ada DL?

    • iya….belum lagi honor tim ini tim itu…

      kalo mbandingin penghasilanku ma suami sih tetep gedean dia ya…bahkan pas rame orderan pun gedean dia :p

      tapi untuk soal konser2 itu suami emang sering nyindir…orang pajak dikejar2 disuruh nyari duit sebanyak2nya, orang lain dengan enaknya menghambur2kan buat konser2 ga jelas. Dipikir2 emang rada ga fair juga…

      ah, entahlah… *tenggelamdalamsistem

  2. Ping-balik: PR dari Mbak Rima « Cahaya Rembulan Usai Hari Hujan

  3. Ping-balik: Black Period: Antara Pelit dan Belajar Sabar | Hujan Cahaya Bulan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s