Roti Salah Roso

Akibat terlalu senang menemukan emulsifier yang halal, hari Senin lalu aku langsung praktek bikin bolu kukus.

Sebenarnya yang kubuat adalah resep bolu zebra, yang mana dia biasanya dicetak di loyang. Karena pake santan dan bukannya soda, roti bolu ini “seharusnya” hanya mengembang dan bukannya “mekar”. Tapi entah karena kucetak di cetakan bolu kukus biasa, atau karena aku terlalu lebay mengaduk santan sampai adonannya berbuih, bolu zebra yang kubuat kemarin malah mekar cantik seperti bolu kukus.

Ketika kuceritain keanehan itu via SMS, ibuk langsung telpon balik, curiga aku memasukkan bahan-bahan tambahan yang terlarang 😀

Jadilah kunamai bolu itu “roti salah roso”. Bentuknya bolu kukus tapi rasa bolu zebra (gurih karena memakai santan). 🙂

La La Land

Uahhh…welcome in la la land…

*nyebur *oh, yes, i’m happy *sugesti diri

1. Perkenalkan pengganti Budhe Miyem: Mbak Prih. Lengkapnya Suprihatin. Dari Purwosari, desa sebelah Jenar. Bapak mertua yang nyari setelah Ayah nyari sampe pucuk Gunung Wilis di Kediri sana ga nemu juga (catet: nyari PRT di Jateng lebih mudah daripada nyari di Jatim, saingan ma pabrik). Luar biasa rajin. Tak pernah rumah jadi sebersih ini. Aku pensiun menyetrika. Mz nug pensiun nyuci. Aku balik lagi ke dapur ngurusin makanan karena Mbak Prih ga pedhe kalo diminta masak. Gapapa. Kalo gini kan jadi dipaksa belajar. Seneng banget. Stres lumayan hilang kalo lantai bersih (dasar orang aneh). Semoga bisa tahan lama. At least sampe lebaran tahun depan.

2. Musuhan sama orang. Dua sekaligus, di tempat yang berbeda. Yang satu langsung maki-maki aku. Yang satunya fitnah aku di belakang. Hei, saya sudah kenyang pengalaman di-bullying sepanjang SD. Jadi, kalo mau musuhan, ayuk ajah!

3. Pusing dengan urusan tiiit dan tiiit. Semoga dimudahkan. Semoga segera diberi yang terbaik.

4. Entah kecapekan habis bolak-balik kantor dan daycare, entah memang ketularan dari aku, nindy sakit pilek plus sedikit batuk. Karena sampai sekarang belum pernah sakit, aku kasihan banget lihat nindy sentrap-sentrup hidung penuh ingus seperti itu. Boboknya jadi gelisah (ya iya wong susah nafas). Sudah 2x kucoba terapi uap. Semoga lekas baikan.

5. Desember!! Waaa…udah Desember aja. Persiapan LAKIP masih nol gede. Ayo ah, nur, semangat! Tahun ini harus lebih baik.

Nindy 4 Bulan

(postingan yang dibuat ketika sedang galau)

Alhamdulillah, sudah 4 bulan usianya (lewat 6 hari, hehehe). Sudah bisa tengkurap sendiri walau belum lancar. Mbalik dari tengkurap lebih lancar lagi. Sangat suka dipangku posisi duduk, tapi ga berani lama-lama takut belum kuat. Suka gendong posisi ngadep dada juga. Sekali-kali kugendong posisi ngadep depan. Hobi baru: tidur miring. Lebih enak mungkin karena punggung jadi ga gerah. (iya ga sih, nduk?!)

Sangat suka mainan gantungnya. Ditarik-tarik, ditendang tiangnya sampai hampir lepas (woi, kamu ini cewek nduk :p) Beberapa waktu lalu dikasih boneka gajah sama bulik Mitha (makasih Yu!) yang kalo ditarik ekornya bisa nyanyi. Telinganya kalo dipegang juga bunyi kresek-kresek. Mula-mula Nindy takut. Tapi lama-lama ditariknya itu gajah, diremes telinganya, dan dimakan belalainya -_-! Kalo lagi bagus moodnya, ngocehnya bisa kenceng sekali. Terakhir kemarin pas ngrengek, bunyinya “mbum mbuum mbumm…” sambil nyembur-nyembur ludah.

Sudah imunisasi DPT II dan polio 3. Agak lewat jadwal karena nyesuain jadwal emaknya (maaf ya nak). Imunisasi hari Sabtu sore, sampe Senin pagi masih demam. Hiks. Padahal biasanya Minggu sore udah baikan. Tapi emang demamnya naik turun, ga terus menerus. Entah apa turunan almarhum mbahyutnya, Nindy ga suka minum obat! Hampir semua parasetamol itu dikeluarkannya kembali. Makanya demamnya ga turun-turun. Hayah. Yo wes lah, obatnya ASI aja.

Jakarta akhir-akhir ini dingin, ya! Suasananya kaya di Malang. Jadi entah karena dingin atau karena ada ummi di rumah, kemarin siang dia minta bubuk sambil dipangku.

Tetap sehat ya nduk… Kimi wo hontoni aishite…

Update: BB 7,1 kg. Cuma naik 0,5 kg dari bulan kemarin. Tapi gapapa karena justru nindy jadi tidak overweight. Mungkin karena udah banyak kegiatannya: tengkurap, duduk, jadi banyak energi yang keluar. Panjang badan dan lingkar kepala ga diukur. (Gini deh kalo cuma ke bidan :p) Insyaallah normal lah…

Drama itu…

Drama itu adalah ketika Budhe Miyem tiba-tiba minta pulang. Mendadak banget. Yang dari indikasinya tidak akan kembali. Tidak ada masalah denganku. Hanya semata problem pribadi dengan keluarganya di rumah. Maka Nindy pun jadi korban.

Drama itu adalah ketika belum ada pengganti Budhe, tiba jadwal imunisasi DPT II Nindy. Menghadapi demam Nindy seorang diri. Dan ndilalah berlangsung sampai 2 hari (biasanya Minggu sore udah reda). Terpaksa ambil ijin 1 hari. Sudah tidak peduli dengan hasil penilaian kinerja nanti.

Drama itu adalah harus puter-puter jalan kaki nyari tempat penitipan tapi ditolak karena penuh, tidak layak tempatnya, atau tidak memenuhi aturan. Akhirnya menghiba-hiba memohon via telpon di Senin pagi kepada salah satu daycare yang lumayan layak. Alhamdulillah, dikabulkan walau biayanya cukup menguras keuangan.

Drama itu adalah menggendong Nindy naik motor pagi-pagi. Ke kantor abi, ke kantor ummi, untuk absen, baru ke daycare. Melihatnya merengek ketika kutinggal. Mungkin karena udara yang terlalu dingin. Ah, anak itu selalu minta peluk ketika butuh kehangatan.

Drama itu adalah ketika tiba-tiba jadwal psikotes turun. Entah tes untuk apa. Memakan waktu setengah hariku di hari Sabtu. Sehingga terpaksa akan meninggalkan Nindy hanya berdua dengan abi.

Di atas semua itu, ini adalah satu kisah dalam perjalananmu, nak! Kita semua sedang berjuang. Tetaplah tegar, nak! Ummi percaya, kita dapat melewatinya…

Cinta Yanti

Namanya Yanti. Baru lulus SMA. Cantik. Kulit putih. Wajah menarik. Ketika teman-teman seusianya sedang sibuk dengan mata kuliah apa hari ini, si Yanti sibuk mencuci di pantry. Ketika teman-teman seusianya kelayapan di mall dengan dandanan menor, si Yanti lagi kelayapan mencari makanan yang diinginkan para pegawai di kantor.

Yanti gadis remaja yang sederhana. Di tengah arus ke-alay-an yang merajalela, kadang dirinya masih suka menyanyikan Salah Alamat keras-keras. Lain waktu hapenya memutar musik India entah dari film mana. Tapi nanti pukul 9 ketika pekerjaan kelar, diambilnya air wudhu, dan segeralah ia sholat dhuha. Ya, dialah Yanti yang selalu berwiridan panjang di setiap akhir sholat fardhunya.

Dan pagi ini, berlatar musik pop-melayu sok religius yang di kupingku terdengar munafik banget (maaf, tapi aku merasa lagu-lagu itu banyak yang terdengar asal bikin dan enggak tulus) si Yanti nyeletuk, “Berasa lagi puasa ya, Mbak…”

“Iya…” jawabku ngasal.

“Enak ya kalo puasa… Rasanya adem. Lagu-lagu juga pada ngajakin tobat, kedengarannya ademmm bener. Kalo puasa dosa-dosa kita diampuni kan, ya Mbak… Dosa-dosa setahun diampuni kan Mbak?”

“Iya, insyaallah…” mau manjangin tapi males.

“Seneng ya… kalo diampuni. Yanti banyak banget dosanya. Kapan sih puasa lagi?!”

Masyaallah, Yanti. Ucapan sederhanamu menusukku. Aku saja sering lupa akan dosa-dosaku. Tapi dirimu yang masih begitu muda, jauh lebih muda dari adikku, sudah menyadari kekuranganmu dan punya rasa cinta yang begitu besar pada bulan Romadhon.

Ah, Yanti… Semoga di akhirat nanti kau bertemu Romadhon yang kau cintai. Semoga pintu puasa memanggilmu.

NB: Sungguh kepada band-band alay di luar sana, terimakasih atas lagu-lagu rohanimu yang TERNYATA bisa menyentuh hati anak muda.

Anak Kedua

Eits, bukaaann!! Aku belum hamil lagi kok! 😀

Jadi seperti yang pernah aku ceritain di sini, alhamdulillah ya Allah, ASI Perahan-ku produksinya cukup berlimpah. Namun sayang karena keterbatasan dana, sampai sekarang aku tidak belum bisa mengup-grade tempat penyimpanannya agar lebih layak sesuai panduan AIMI. Maka dengan mengucap istighfar, kubuang-buanglah ASIP yang sudah lewat masa karena di freezer yang menyatu dengan kulkas 1 pintu, daya tahan ASIP beku hanya 2-3 minggu di dalam penyimpanan.

Sudah dari dulu ibuk menasehati untuk menyumbangkan ASIP-ASIP itu. Tapi ke siapa?! Aku pernah searching bagaimana menjadi donor resmi ASI, dan ealaah…syarat-syaratnya ternyata bejibun. Dari yang harus terbebas penyakit ini itu, ga boleh minum jamu (dari dulu aku suka minum jamu, kadang malah bikin jamu rebusan sendiri), sampai ASIP yang harus disimpan di kulkas 2 pintu. Aduh bu…itu yang saya ga punya!

Ndilalah kemaren waktu turun ke lantai 16 menjenguk teman yang baru lairan, dia cerita kalau gara-gara prajab, produksi ASI-nya turun drastis sehingga terpaksa ditambal dengan sufor. Pucuk dicinta solusi pun tiba. Kebetulan anaknya juga perempuan, seagama denganku, dan usianya cuma selisih 1,5 bulan dengan Nindy. Tadi pagi aku coba bicara via g-talk dengannya, menjajaki kemungkinan apakah aku bisa mendonorkan ASI-ku untuk anaknya. Dan ternyata gayung bersambut.

Alhamdulillah, dikasih kesempatan untuk menjadi ibu susu. Semoga ke depan semua berjalan lancar. Oiya, anak keduaku namanya Maritza. Semoga Nindy dan Maritza menjadi gadis-gadis yang sholehah. Amin.. 🙂