Abadi

Siang tadi…

Nur: “Halo? Yah? Ibuk ada? Maaf tadi ga sempet angkat pas ibuk telpon…”

Ayah: “Oh, gapapa. Ga ada apa-apa. Bau sesuatu ga?”

Nur: “Ha? Bau? Bau apa?”

Ayah: “Bau bakso ga?”

Nur: “Ha? Bakso apa?”

Ayah: “Di sini lagi ada bakso.” (ketawa)

Senang rasanya bercanda dengan ayah. Tak pernah terbayang bakal ada percakapan seperti ini. Memang benar, tak ada yang abadi di dunia ini. Begitu pun dengan permusuhan. Aku dan ayah memang sama-sama keras kepala. Sering sama-sama ngotot ketika berbeda pendapat. Banyak trauma yang ditorehkannya di kenanganku. Membuatku ini itu. Menyebabkanku begini begitu. Tapi trauma juga tak abadi. Sedang hubungan darah akan abadi. Selamanya ayah adalah ayahku.