Ngluyur (part 6): nyasar

Sudah lama tidak nyasar *eh?

Dan sudah lama saya ga mengalami kejadian ngluyur yang mendebarkan.

Sebenarnya petualangan tadi siang tidak tepat disebut ngluyur. Wong tujuannya sudah jelas kok! Jadi karena misua hari ini mau ke kanpus, pulang malem, sehingga ga bisa nengokin progress renovasi rumah, aku menawarkan diri menengoknya sendirian. Dasarnya deg-degan penasaran sih, tinggal 4 hari lagi pindahan tapi belum tahu perkembangannya kaya apa.

Dengan alasan pengiritan, maka perjalananku ke Klender kali ini mau oper-oper pake angkutan umum yang merakyat saja (asline yo ga kuat mbayar nek numpak taksi)

Dari kantor, aku berangkat jam 11 ke Stasiun Juanda, naik bajaj Rp6.000,-. Di st. Juanda ternyata aku telat sekitar 5 menit. Commuter Line (CL) jurusan Bekasi baru saja berangkat. Baiklah, gapapa. Tokh aku punya teman yaitu buku Poconggg Juga Pocong yang kupinjam dari kiki. CL berikutnya datang pukul 11.40, harga tiket Rp6.500,-. Naiklah aku ke dalamnya. Btw, CL itu nyaman ya (ya iya wong bukan jam sibuk). Mengingatkanku pada Kereta Ciujung jaman masih PKL dulu (Ciujung itu emang cikal bakalnya CL ga sih?!). Aku turun di Stasiun Klender Baru. Sesuai dengan petunjuk teman sekantor, aku nyebrang jalan dan naik angkot nomor 20. Super pede naiknya ga pake nanya-nanya, pun ga pake liat tulisan tu angkot jurusannya kemana.

Angkot jalan, melewati RSI Pondok Kopi. Kata temenku nanti aku harus turun di pertigaan sebelum pasar. Kupikir ya Pasar Perumnas Klender deket rumah. Lepas BKT (Banjir Kanal Timur), angkot melewati perempatan di daerah yang mirip pasar. Tapi kok bukan Pasar Perumnas? Trus kok perempatan, bukan pertigaan? Setelah agak jauh aku tanya ke sopir, “Pak, ini lewat Pasar Perumnas ga sih? Yang tadi itu ya?”

Pak Sopir: Iya, yang tadi itu neng
Aku: Yah, kelewatan donk pak..
Pak Sopir: Gapapa, ntar juga puter balik
Aku: Puternya jauh pak? Lama ga?
Pak Sopir: Nggak kok. Bentar lagi. Deket lagi.

Posisiku saat itu di belakang sopir. Selain aku, ada 3 penumpang lain berseragam SMA. Aku diem mulai pucet liat tulisan di toko-toko, menyebut alamat Bintara, Bekasi Barat. Kok sampe Bekasi, batinku. Jalanan juga makin sepi, dengan aspal yang tidak terlalu mulus. Aku yang muka komikal kalo kata mbak vyow, ga bisa menyembunyikan kekhawatiranku. Teringat berita-berita santer tentang perkosaan atau pembunuhan di angkot. Mana dari belakang itu aku lihat pak sopir sering banget lihat spion tengah. Terlalu sering untuk ukuran orang menyetir. Akunya pura-pura ga lihat, tapi tetep ga bisa nyembunyiin wajah takut. Yah, bukan GR gimana gitu sih. Mukaku ga ada cantik-cantiknya. Tapi kalo orang ngebet kan bisa aja ga peduli wajah korbannya kaya gimana. Atau kalo ga gitu dirampok? Astaghfirullah. Akhirnya pas salah seorang penumpang turun, aku bilang ke sopir, “Pak, saya turun sini aja.”

Segera aku lari nyebrang jalan, naik angkot yang sama arah yang sebaliknya. Kali ini aku sendirian, berdua saja dengan sopir. Tapi auranya tidak semencekam di angkot sebelumnya. Nyampe di perempatan yang tadi, aku turun. Telpon mz nug dengan kaki masih gemeteran. Sumpah, mata pak sopir tadi masih terbayang-bayang. Dimarahi sih, kenapa ga hati-hati. Lah, namanya nasip. :p Setelah curhat (iya, kalo lagi panik kalo ga curhat ga selesai panikku), aku mulai tenang. Nyebrang jalan trus nanya ke mbak-mbak penjual sendal angkot yang arah ke Perumnas Klender.  Ternyata 03. Dan ternyata pula 03 ini balik ke jalur 20 yang tadi, trus belok kiri sampai berhenti di terminal Perumnas Klender. Sampai situ aku nyambung bajaj, Rp5000,- sampai depan gang (sebenarnya dari pasar bisa jalan kaki, tapi males ah siang panas gitu).

Apa kabar rumah? Masih berantakan >.< Tapi untung banget aku nengokin karena ada sesuatu yang mesti dilaporin tukang ke kami.

Di rumah bentar aja, karena mau ngejar CL yang jam 13.45. Pulang, mampir ke masjid, nebeng sholat. Balik ke jalan besar, naik bajaj yang lewat. Ternyata sopirnya adalah sopir yang sama pas aku nawar-nawar bajaj di pasar tadi, tapi orang ini kasih harga terlalu tinggi jadi aku ga milih dia. Kali ini terpaksa naik karena males nungguin bajaj berikutnya. Rp10.000 ke Stasiun Buaran. Padahal deket lho. Cih!

Begitu turun, karena kelaparan, yang kulakukan adalah mencegat tukang sio may yang lewat. Aku beli sio may Rp5.000 dengan menyodorkan uang Rp20.000. Si mas penjualnya minta aku kasih uang pas aja karena dia baru aja keluar, belum ada uang kembalian. Sementara mau tukar di situ jarang ada orang jualan. Mengorek-orek isi dompet, cuma nemu uang recehan 100-500an. Kuitung nyampe 5 ribu, begitu diitung masnya ternyata cuma Rp4.500. Kata masnya, gapapa mbak. Tapi kan maluuu… Untungnya pas mau pergi iseng buka tas nemu uang Rp2.000. Ah…syukurlah. Sudah itu masnya tetep bilang gapapa kurang 500, tapi ya aku paksa aja daripada malu (pas aku cerita ini ke temen kantor, bapake bilang “kok ga dikasih aja nur 20 rebu”… hiks, pelit sekali ya saya ternyata)

Pulang ke Senen naik CL turun Gambir. Aku inget temenku yang orang Bekasi pernah bilang ada metromini yang sekali jalan dari Gambir ke kantor. Begitu lihat metromini mendekat, aku cuma nanya, “Ke Senen, pak?” Dijawab iya. Mungkin karena capek plus laper, naiklah aku lagi-lagi tanpa membaca jurusannya kemana. Lepas Pertamina, ndilalah bukannya ambil kanan, dia malah belok kiri. Oalaaah… Senennya lewat Pasar Baru tokh?! Ck, sedeket ini masih juga nyasar.

Nyampe kantor pukul setengah 3. Belum maksi belum pumping, malah nulis postingan ga jelas ini. *siul

Iklan

2 thoughts on “Ngluyur (part 6): nyasar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s