Rindu

Adalah dirimu, yang selalu menggelitikku untuk merindu
Tawa lebar diapit dua lesung pipit
Pipi tembam kemerahan
Paha bulat menggemaskan
Senyummu setiap menyambut hadirku

Adalah dirimu, yang selalu aku kangeni
Tak pernah puas rasanya menciumimu seribu kali
Memandang wajah damaimu yang terlelap di sampingku
Seluruh duniaku ada padamu:

 Nindy Kirani Tsabita Nugroho

 

NB: happy long weekend everyone…

Orang Rumahan

Gara-gara reni bilang kalo dirinya orang rumahan, aku jadi inget nindy. Hehehe.

Kata orang, anak itu nurun sifat orang tuanya. Kalo ortunya suka jalan, pasti anaknya suka jalan. Ya gimana kalo sedari bayi tiap weekend diajak ke mall?! Aku bilang gini soalnya ada 2 orang temen kantor yang kaya gitu dan cerita ke aku. Mereka suami istri ga bisa kalo weekend disuruh tinggal diem di rumah. Akhirnya anaknya pun ketika sudah bisa ngomong, liat logo carefour aja langsung tunjuk-tunjuk, “kerpur! kerpur!” ngajakin ke sana.

Lha aku ma suami kebetulan memang tipe yang males jalan. Libur 2 hari ga kemana-mana sudah biasa. Paling mentok belanja, itu pun rata-rata makan waktu hanya 1 jam. Aku lebih suka diajak ke taman pagi-pagi, trus sarapan di angkringan pinggir jalan daripada puter-puter di mall. Seneng sih sebenernya puter-puter di mall, cuma males inget gempor sesudahnya dan tokh aku yang irit ini ga bisa boros-boros belanja macem-macem. Masih suka makan ati kalo sadar udah ngabisin banyak uang untuk hal yang ga berguna. Hehehehe.

Nah, aku rasa, sifat males jalan ini juga nurun ke nindy. Sebagai ibu, tentu aku ingin anaknya ga sampe anti sosial. Tiap sore pasti nindy diajak keluar rumah, makan sambil liat kakak-kakak lagi maen. Tiap belanja ke pasar juga aku berusaha mengajaknya. Memang kalo liat anak kecil maen, dia lumayan senang. Namun kalo aku perhatiin, tiap kali ke pasar yang jaraknya cuma jalan kaki sekitar 500m dari rumah itu, nindy pastiiii cemberut! Nah lho?!

Kemarin Sabtu, untuk melatih nindy hidup di keramaian, kuajaklah dia ke karpur terdekat. Bertiga ma mbak prih naik bajaj. Seperti biasa, di bajaj dia diem dan mulai cemberut. Masuk gerbang mall buaran, lihat ada anak kecil pake seragam sekolah, sepertinya mulai rileks. Memang jam setengah 10 pagi itu belum ada banyak orang. Kemudian kami turun ke karpur. Kulepas dia dari gendongan dan kuletakkan di trolley yang punya tempat khusus untuk bayi. Kuiketlah dia di sana (pasang sabuk pengaman maksudnya). Dan hasilnya…

Nindy tegang banget!! Tangannya kaku. Mukanya kaku. Badannya membeku kaya boneka. Mungkin dia takut, tapi ga nangis. Aku sudah mencoba menghiburnya, tapi apapun yang kulakukan tidak berhasil membuatnya tersenyum. Mbak prih sampe bilang, “Untung ini nindy belum bisa ngomong. Kalo udah bisa ngomong pasti udah teriak-teriak minta pulang”. Nyeeee… :p

Sepanjang waktu lebih dari setengah jam di karpur, aku ngerasa kaya lagi bawa boneka. (Woi, lik Aziz, iki lho nindy tenanan koyo susan :p). Nindy baru “bergerak” pas ngantri di kasir dan kukasih maenan sebungkus wafer (bungkusnya doank, isinya belum boleh). Ini ekspresi nindy yang udah agak rileks:

Masih cemberut

Sorenya kuceritakan hal nindy itu ke mz nug dengan embel-embel: ini ga boleh dibiarin! Maka besok paginya aku, mz nug, dan nindy ke pasar dengan naik motor (biasanya jalan kaki). Rupanya awalnya mz nug mau ngajakin ke BKT, tapi aku protes karena outfit nindy pagi itu bukan untuk jalan jauh. Sepanjang jalan naek motor, nindy seneng banget, merhatiin apa-apa yang menarik menurutnya. Tapi begitu nyampe deket pasar, liat dagangan yang digelar di pinggir jalan (iya, kalo pagi memang pasarnya tumpah ke jalan), langsung deh: cemberut lagi 😦 Dan kali ini ga cuma cemberut. Baru dapet setengah belanjaan, nindy udah lonjak-lonjak di gendongan minta turun (atau minta pulang?!). Mukanya itu yang bosen dan bete berat. Eh, begitu nyampe rumah, langsung seger merangkak ke sana kemari sambil teriak-teriak heboh. Kayane kok lega banget udah ada di rumah. :p

Sorenya, lagi-lagi dalam misi membawa nindy ke keramaian, kuajaklah dia ke arisan RT. Awalnya membik-membik mau nangis, takut ngeliat banyak ibu-ibu ga dikenal (yang dia kenal cuma bu arya ma mamanya adit). Setelah mojok dan ada kak nana, kukasih nindy plastik bungkus sedotan aqua, baru deh agak mau ketawa (sebelumnya kukasih pisang tetep ga mempan). Habis mainin plastik, 10 menit kemudian, tidur deh dia di pangkuan :p

So, kayane masih PR besar buat kami agar nindy ga takut di keramaian. Hm.. weekend ini maen ke ramayana po ya?!

Uangku Uangku, Uangmu Uang Kita

Wiii… melihat judulnya pasti deh langsung berpikiran miring:

Ih, nur, ga nyangka kamu sematre itu!

Tenang sobaaatt… di sini aku akan menceritakan kronologisnya.

Jadi pada suatu masa, seorang gadis yang baru lulus sekolah ikatan dinas, bekerja pada departemen yang kata banyak orang sebagai tempat basah. Setelah 3 tahun kenyang hidup pas-pasan (di pinggiran Jakarta) dengan uang kiriman 300rb per bulan, uang 850rb honor-pertama-yang-masih-jauh-di-bawah-UMR-Jakarta baginya merupakan anugrah tak terhingga. Apalagi setelah genap statusnya sebagai PNS. Terima gaji 100% plus tunjangan. Semua terasa berlebih sekali buat gadis yang biasa hidup sederhana ini. Namun dengan semua itu, tak terlalu banyak yang berubah dari kehidupannya. Dia masih berpikir berulang kali untuk membeli lauk ayam/daging di warteg. Masih berpikir banyak bagaimana caranya supaya bisa ngirit. Masih jarang beli baju dan terus mengandalkan lungsuran. Kebiasaan  yang sudah bertahun-tahun melekat tentu saja susah dihilangkan.

Dengan semua habit itu, yang berubah cuma satu: nilai tabungannya. Tak tanggung-tanggung, dari lima digit menjadi delapan digit. Si gadis yang merupakan anak pertama ini memang tidak dibebani tanggungan keluarga. Hanya sesekali dia membelikan barang yang lumayan mahal untuk adiknya atau mengirim untuk orang tua. Selebihnya, orang tuanya ngotot bahwa mereka masih bisa menanggung sendiri biaya sekolah anak kedua. Maka si gadis memutuskan, tabungannya yang lumayan itu akan dia pergunakan saja untuk biaya nikahnya nanti.

Sampailah satu ketika dimana si gadis bertemu pemuda yang mau menikahinya. Mereka sepakat, sang pemuda akan menanggung 70% biaya resepsi dan si gadis sisanya. Tabungan pemuda memang hanya cukup untuk itu. Tidak masalah, kata si gadis. Karena walau menanggung 30% biaya resepsi, sisa tabungannya masih cukup untuk membayar kontrakan rumah. Di titik ini, si gadis merasa senang karena langkah pengiritan yang dia lakukan sudah benar. Tabungannya ternyata sangat berguna.

Beberapa bulan sebelum menikah, si gadis bersama atasan dan temannya harus melakukan dinas ke luar kota. Di dalam mobil yang menuju kantor daerah, atasan si gadis menyinggung kebiasaan irit si gadis. Ibu atasan ini mengkritik sifat irit si gadis yang menurut beliau agak keterlaluan. Beliau menceritakan kisah teman seangkatannya yang sudah lebih dulu pensiun.

Dulu, bu nana (sebut saja demikian) itu suaminya kerja jadi pemahat es buat hotel-hotel. Keluarga mereka lumayan berkecukupan, bisa beli rumah mewah di tahun-tahun dimana pegawai departemen kami (yang saat itu cuma menerima gaji tanpa tunjangan) kalo hidup lurus-lurus saja bakal sering kekurangan. Singkat cerita, bu nana ini adalah orang yang sangaaatt irit. Saking iritnya, semua tambahan penghasilan dia simpen dalam bentuk emas, emas, dan emas. Pokoknya beliau ini suka sekali investasi emas. Pernah bu nana dan bu atasan semasa muda sama-sama diklat. Sepulang diklat, mereka mendapat uang transport yang cukup banyak. Bu atasan menghabiskan uang itu buat beli baju suami dan anak-anaknya, juga kosmetik buat dia. Sementara bu nana membelanjakan semua uang transportnya buat beli emas. Sifat irit ini membuat bu nana suka lupa dengan penampilan. Beli baju yang murah-murah. Makan yang murah-murah. Karena suaminya bosan diajak ngirit terus (penghasilan gede tapi kehidupan kaya orang susah), maka si suami ini lari dengan perempuan lain. Tinggallah bu nana dengan harta peninggalan suaminya, tanpa suami di sisinya.

Intinya, bu atasan menasehatiku untuk tidak terlalu irit. Secukupnya, asal tidak dihambur-hamburkan. Bersenang-senang untuk diri sendiri itu perlu. Kalo nasehat yang sering beliau katakan sih, “Perempuan itu ga boleh kurang sajen”. Tentu bukan sajen pake susuk biar suami tetap lengket, tapi perhatikan penampilan jangan sampai suami bosan.

Semenjak itu dan setelah membaca banyak artikel keuangan dan artikel keluarga, aku akhirnya tahu: pos entertainment dan me time itu sama sekali ga haram!

Jadilah aku yang dulu kekeuh ngekepin duit, sekarang ga terlalu khawatir udah ngabisin dana cadangan buat bayar DP rumah (tapi tetep dalam tahap ngumpulin lagi sih). Beda banget ma diriku yang dulu yang takut banget kalo sampai uang habis. Rela beli baju buat suami dan anak yang agak mahalan (tapi kalo buat diri sendiri masih belum bisa, hehehe). Makan juga hampir selalu ada protein hewani sekali dalam menu seminggunya. Memang kalo untuk urusan penampilan seperti yang dibilang atasanku tadi aku masih belum mampu (sisa kebiasaan tentu masih ada). Tapi aku sekarang sedang mencoba untuk lebih menikmati hidupku tanpa perlu sepanjang waktu mikirin keuangan.

Btw, setelah mendapat teguran dari temanku di sini, aku jadi galau dan membahas komennya dengan beberapa orang yang sudah mengenalku dari lama. Dari mbak rosa (kasubbag), menurut beliau, beliau senang melihat keadaanku sekarang yang sepertinya lebih enjoy menikmati hidup. Sedangkan Ncep sepertinya tergolong aliran konservatif walau memaklumi keputusanku dengan mempertimbangkan kemajuan jaman sekarang. Mbak prih (walau ga kutanya) ternyata juga termasuk aliran konservatif. Inti golongan ini adalah, aneh aja seorang ibu setelah punya anak masih kepikiran mentingin diri senang-senang  sendiri. Karena pusing, puyeng dan mulai goyah dengan prinsipku semula, kuadukanlah hal ini pada suami. Dan inilah pendapat suami:

Iya, di Islam itu sebenarnya kewajiban istri adalah berbakti pada suami. Thok! Ga pake yang lain-lain. Suami berkewajiban untuk memberikan nafkah, makanan, tempat tinggal yang nyaman untuk istri membesarkan anak, juga pembantu untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Jika istri bekerja, uang itu adalah uangnya. Merupakan ibadah baginya bila ia ikhlas memberikan uang itu untuk kebutuhan keluarga. Sedangkan uang suami adalah uang keluarga, karena laki-laki diberi kelebihan kekuatan untuk bekerja dibanding wanita.

Hm…senada ma tulisan ini dan ini deh… 🙂

Jadi?! Ya begitu. Suami aja bilang gitu. Makin jelas deh. Uangku uangku, uangmu uang kita. Walau end up-nya simpenan yang ngotot disimpen ini pastinya akan balik ke keluarga. Tapi kan enak gitu kalo ngerasa masih punya uang pribadi yang bebas untuk suka-suka. 😀

Tambahan: Yang kumaksud “uangku” di sini adalah uang tambahan seperti uang makan, honor tim, dsb. Sementara gaji dan tunjangan seluruhnya memang ditujukan untuk keluarga. Ini sudah kesepakatan antara aku dan suami, bahwa tambahan penghasilan di luar gaji merupakan hak masing-masing. Terserah apakah akhirnya akan diberikan untuk keperluan keluarga atau dipakai untuk keperluan pribadi.

Tentang Pilihan

“Bego banget sih, udah 12 tahun nunggu dan ga nonton?!”

Mungkin akan ada yang mengatakan hal itu kepadaku. Secara sekarang aja aku masih histeris dan nangis-nangis membaca komentar orang-orang yang nonton konser Laruku semalam.

Iya, 12 tahun itu bukan waktu yang singkat untuk menyebut sebuah penantian. Dari SMP aku sudah membayangkan bisa hadir di konsernya. Dan tentu bukan tanpa BANYAK alasan aku tidak menontonnya. Siapa sih yang ga pingin sing along bersama hyde dan ribuan cielers?! Siapa sih yang ga pingin ikutan nangis menyanyikan “anata” di bawah gerimis?! Siapa sih yang ga pingin ikutan merinding ndengerin “the 4th avenue cafe”?! Siapa sih yang ga pingin ketawa bareng ndenger banyolan ken?! Aku juga pingin dapet lolipop or bulu angsa dari tetsuya…

Tapi aku punya anak bayi yang sudah sering kutinggal. Tapi aku masih menyusui (gimana kabar PD nanti kalo ga disusukan berjam-jam?!). Tapi aku ga mau sendirian desek-desekan malam-malam tanpa muhrimku di sisiku. Tapi aku ga mau ujan-ujanan sampe sakit yang bisa menular ke anakku.

Hidup itu pilihan. Dan jujur, air mata yang tumpah saat ini adalah air mata bahagia. Aku bahagia mendengar cielers semua yang puas dengan konser semalam. Aku bahagia melihat Laruku yang terlihat enjoy konser di sini. Aku sudah mengambil pilihan, dan aku tentu saja akan menanggung semua konsekuensinya.

Apa yang kualami sekarang membuatku teringat masa 2 tahun lalu. Ketika aku mengundurkan diri dari percaturan kursi DIV. Temanku mencemooh aku di notesnya, menyebutku pengecut. Hei, aku bukan tanpa BANYAK alasan memutuskan itu. Kamu tidak tahu betapa banyak air mata tertumpah ketika memutuskannya.

Rasa-rasa dengan umur kepala 2 sekarang, tidak pada tempatnya mencemooh pilihan orang lain. Kita masing-masing sudah dewasa. Kita tentu sudah bisa mengetahui konsekuensinya.

NB: note to myself. Jangan pernah nyalahin pilihan orang lain!

Bonek VS Aremania

Sebenarnya aku cuma setengah berdarah Malang, soalnya setengahnya Kediri. Tapi karena lahir dan besar di Malang, boleh donk aku bilang: “Saya ini Arema” (arek Malang)

Omong-omong soal perseteruan bonek dengan aremania yang sudah mendarah daging itu, kalo ga salah inget adikku pernah cerita bahwa memang dulu (jaman tahun 80-an) aremania terkenal brutal. Orang isinya preman semua. Kebrutalan itulah yang membuat sering timbul perselisihan dengan bonek yang waktu itu masih lebih kalem dari aremania. Karena sering diusik, lama-lama bonek membalas dengan kebrutalan yang sama. Bahkan ketika sekarang aremania sudah tobat (kapok setelah berkali-kali kena sanksi mungkin ya?!), bonek masih tetap dengan kebrutalannya. (err…semoga cerita sejarah ini ga salah)

Bentar, sebenarnya ini mau mbahas apa sih nur?!

Err… entah apa hubungannya dengan permusuhan turun temurun itu, aku merasa susah akur sama orang Su**ba**. Yah, ada beberapa sih yang masih sapa-sapa’an, sekedar say hello. Tapi bukan yang bisa akrab. Malah ada satu yang sampai sekarang jadi musuh (gimana ga musuhan kalo aku dicaci langsung begitu, di umur yang sudah kepala 2 seperti ini…)

Mau cerita ah… Bukan yang aku musuhan itu sih. Yang itu dilupain aja ah. Daripada stres lagi. :p Jadi dulu aku pernah ikut diklat di kawasan puncak. Diklatnya memang sesuai dengan basic pendidikanku dulu. Jadi meski udah lewat waktu 3 tahun dari kelulusan, masih ingetlah materinya dikit-dikit. Nah, di situ aku kenalan dengan ibu-ibu dari satu unit dinas dari Su**ba** (beda Kementerian). Umurnya sekitar 44 tahun. Karena membayangkan diriku kalo udah umur 40-an tahun pasti susah buat mikir, aku jadi sering membantu ibu itu belajar materi diklat. Pun waktu ujian aku kasih contekan lumayan banyak. Pikir-pikir ga ada ruginya buatku. Kan kasihan kalo udah jauh-jauh ternyata ga lulus. Begitu pengumuman kelulusan di web sekitar 2 bulan kemudian, aku menemukan namanya di peringkat nomor 6. Seneng donk ya… berhasil bikin orang lulus dengan nilai bagus. Antusias aku SMS tuh ibu, bilang selamat lulus diklat. SMS sent. Lama kutunggu. Dan ga berbalas! Memang begitu diklat usai, ga pernah ada komunikasi lagi. Padahal pas diklat beliau sering banget SMS aku nanya ini itu.

Eh, bukan mengharap beliaunya bilang makasih gitu sih, tapi kok kayane “habis manis sepah dibuang” banget. Habis temenan langsung dilupakan. :p

Yah, mungkin memang hanya segelintir bonek yang kaya gitu. Tapi mengingat caci maki seorang warga Su**ba** kepadaku yang membuatku sampe stres dan menurunkan produksi ASI-ku itu (lho, jare ga usah diinget-inget nur?!), jadi pingin bilang:

BONEK, AREMANIA, END!

gambar dari sini

NB: Iya, warga Su**ba** itu barusan mampir sini. Liat wajahnya doank aku langsung emosi sendiri. Hehehehe…

Up Date Campur-campur

Walau sebenernya ga penting juga di up date. Tidak berguna apapun bagi pembaca… -_-!

1. 1 Mei

  • Nindy 9 bulan, siap-siap imunisasi campak.
  • Merangkak tambah cepet, rambatan, naik tangga.
  • Ternyata alergi telur (bruntusan pas tak kasih kuning telur)
  • Err… apa ya? Belum ada perkembangan lain yang perlu diceritakan (kemarin udah telat up datenya)

Abaikan wajah perempuan jelek di sebelahnya. Fokus sama anak yang imut itu aja 😀

2. 2 Mei

  • Milad mz nug yang ke… pokoknya sama dengan tahun lahirku lah…
  • Pingin ngajakin makan siang bareng, ternyata aku ada jadwal rapat
  • Pingin ngasih kado, ternyata gagal
  • Menangis ga bisa nonton Laruku (berharap bisa nonton cuplikan konser)

Suatu saat pasti kan bertemu (di akhirat maksudnyah?!)

3. Rumah sebulan

  • Tiap buka pintu pagar di penghujung senja, bawaannya lega. Sudah sampai rumah!
  • Suasananya tenang, kaya di kampung
  • Temen bagian sebelah yang sudah lebih dulu tinggal di kawasan itu selama 2 tahun juga bilang emang daerah itu lebih mirip kampung
  • Gang sempit (di kota Malang juga banyak gang sempit), anak-anak bermain di sore hari, anak-anak belajar ngaji di masjid seusai magrib, anak yang lebih gede belajar/les ke tempat gurunya -diantar orang tua-, dan para balita yang ngomong dalam bahasa balita (ampun deh mbayangin pas di Kemayoran dulu). Semoga benar-benar tempat yang baik untuk tumbuh kembang anak.
  • Angin di balkon. Langit. Jarang terdengar bising motor. Lambaian daun-daun lamtoro depan sekolah yang menyembul dari balik atap.
  • Rumah yang masih kosong dari perabot 😀

Diambil dari jarak jauh dengan hape kualitas rendah

4. Wajan Happy Call

  • Beli dengan mencicil 4 kali ke temen kantor. Baru bayar 1 kali cicil.
  • Di kaskus nemu barang yang sama, harganya lebih murah 50 ribu. Tapi pasti yang itu ga boleh dicicil 😀
  • Kata ibuk (penasehat keuangan pribadiku), gapapa kalo uang buat beli alat-alat dapur. Ga pernah ada ruginya. (yay, direstui!)
  • Percobaan pertama: martabak telur a.k.a. terang bulan. Walau kurang moist karena takaran santannya tak kurangi (takut keenceran) dan kurang berani ngasih menteganya (eh, kurang isian juga sih) hasilnya lebih memuaskan daripada pake wajan biasa.

Gambar happy call dari sini