Kehamilan di Luar Kandungan (2)

Lanjutan bagian 1

Aku pergi ke tempat administrasi dan mendaftar untuk dokter kandungan. Hanya ada 1 dokter yang sedang praktek dan dia laki-laki. Aku menatap mz nug dan mz nug bilang tidak apa-apa. Ini darurat. OK. Di depan ruang dokter, aku disuruh menulis nama di atas kertas antrian. Ternyata aku urutan nomor 26. Aku bertanya kepada suster (or bidan?) yang berjaga nomor berapakah yang sedang diperiksa sekarang. Kata dia baru nomor 1. Aku sempat bilang bahwa aku ini pasien rujukan dari dokter umum. Dia malah curiga. Dokter umum mana? tanyanya. Aku mengatakan dokter rumah sakit ini juga. “Ya sudah antri saja,” katanya tak peduli.

Aku menurut walau penasaran dengan keadaanku. Sambil menunggu, aku browsing-browsing dan menemukan bahwa KET adalah kehamilan ektopik terganggu. Ada banyak penjelasan di sana yang menggambarkan bahayanya “kelainan” ini. Namun karena browsing dan membaca cepat, informasiku hanya sepotong-sepotong. Aku justru khawatir dengan kemungkinan dikuret dan sempat bertanya kepada beberapa teman via hape, berapa biaya untuk tindakan kuretase. Maklum, keuangan keluarga sedang kritis pasca pembelian dan renovasi rumah.

Ketika dipanggil untuk ditensi dan timbang badan, aku menyodorkan surat rujukan dokter umum tersebut. Sambil lalu (dengan berharap dapat segera diperiksa dan mendapat prioritas) aku berkata bahwa tadi dokter umum bilang aku kemungkinan hamil di luar kandungan. Aku pun bertanya apakah kehamilan di luar kandungan akan berakhir dengan kuretase? Suster (or bidan?) itu malah balik bertanya darimana aku bisa berpikir seperti itu? Dia menambahkan bahwa keadaanku akan baik-baik saja dan janinku akan bisa diselamatkan. Dia menggabungkan surat rujukan yang kubawa dengan catatan medis. Melihat reaksinya yang menganggap enteng kondisiku, pupus harapanku untuk diberi prioritas. Maka aku bertanya kapan kira-kira aku bisa diperiksa. Dia bilang mungkin habis magrib. Akupun minta ijin untuk pulang dulu daripada menunggu di rumah sakit. Dia membolehkan.

Pulang dari rumah sakit, sudah masuk waktu ashar. Aku nenin nindy sebentar kemudian sholat ashar. Sesudahnya karena merasa lemas, aku tertidur di kamar depan.

Ketika bangun, rumah terasa sepi. Sepertinya nindy sedang di atas bersama mbak prih dan mz nug sedang keluar entah kemana. Aku mencoba bangkit tapi tubuhku limbung. Pandanganku terasa gelap dan aku merasa tak punya tenaga. Aku kaget. Seumur hidup aku belum pernah pingsan. Terhuyung-huyung aku pergi ke kamar belakang dimana terletak cermin besar di pintu lemari pakaian. Aku melihat kelopak bawah mataku yang memucat tanpa aliran darah. Ya Allah!

Aku terduduk lemas di depan tv. Menoleh kanan kiri dan menyadari tidak ada siapa-siapa. Sebuah kesadaran menyelinap dan membuat hatiku kelu. “Ya Allah, aku tidak mau mati sekarang!” jeritku dalam hati. Detik itu feelingku mengatakan maut begitu dekat denganku. Tapi aku tidak mau! Aku belum rela untuk mati! Aku berbisik aku tidak bisa meninggalkan nindy yang masih kecil. Aku belum bisa meninggalkan mz nug tanpa pendamping. “Keluarga ini masih membutuhkan aku ya Allah…” ratapku masih dalam hati.

Dengan sisa tenaga aku pergi ke dapur dan menjerang air. Dengan air itu aku membuat segelas susu dan dengan cepat meminumnya. Mz nug pulang. Nindy turun dengan keadaan bersih sudah mandi. Melihat keluargaku, aku seolah mendapat tenaga lagi. Aku pergi ke kamar mandi dan mandi dengan tubuh gemetar menahan sakit. Sesudah sholat magrib dan makan setengah piring nasi campur mie (ternyata mz nug tadi pergi beli mie), kami berangkat kembali ke rumah sakit. “Nitip nindy ya mbak,” pamitku ke mbak prih.

Di RSI, antrian baru sampai nomor 17. Aku harus mengantri lagi. Untunglah aku duduk di sebelah mbak yang sedang TTC dan ibu yang cerewet, sehingga waktu menunggu tidak terlalu terasa. Aku masih sempat ngobrol ngalor-ngidul dan tertawa-tawa, sambil sekuat tenaga menahan kantuk (seharusnya aku sadar bahwa tak seharusnya aku mengantuk sementara aku baru saja bangun tidur)

Pukul setengah 9. Giliranku datang. Aku masuk ke ruang periksa dan menceritakan keluhanku. Dokter membaca surat rujukan dan terkejut kenapa aku baru datang sekarang. Beliau cepat-cepat menyuruhku naik ke tempat tidur untuk diperiksa. USG atas.

“Lihat! Udah penuh darah kaya gini. Ini ada kali seliter!” ucapnya gusar. Aku melihat gumpalan-gumpalan hitam memenuhi rahimku.

Dokter meraih tanganku dan membalikkan telapaknya. Aku baru sadar bahwa telapak tanganku sudah memutih seperti mayat. “Arrghh, ini sih HB-mu udah 8!” ujarnya seperti menahan gemas (or marah?).

“Trus gimana dok?” tanyaku lugu.

“Ya harus dioperasi sekarang!”

“Memang tidak bisa dikuret dok?” tanyaku tambah linglung.

“Dikuret apanya? Telat sedikit kamu bisa lewat!”

Aku bengong.

Bersambung ke bagian 3

Kehamilan di Luar Kandungan (1)

Jumat malam tanggal 25 Mei 2012 pukul 11, aku terbangun gara-gara rasa sakit di perut. Awalnya aku berpikir itu sakit perut biasa walau aku ingat pencernaanku dalam beberapa hari terakhir sepertinya normal-normal saja. Aku sempat ke belakang dan BAB tanpa keluhan tapi rasa sakit itu terus ada. Aku mengeluh pada mz nug bahwa aku tidak bisa ngelonin nindy dan meminta ijin untuk tidur sendirian. Sekitar pukul 1 dini hari aku mendengar tangisan nindy. Aku tergerak untuk segera memberinya ASI. Namun ketika bangkit dari tempat tidur, aku menjerit.

Sakit! Sakit sekali! Setiap kali tubuhku bergerak, perutku dihantam rasa sakit yang luar biasa.

Aku meracau dari kamar depan bahwa sepertinya aku tidak sanggup bergerak. Namun rupanya mz nug di kamar belakang tidak mendengar. Sementara itu nindy terus menangis. Tidak tega, aku memaksakan diri untuk bangkit dan merangkak ke kamar belakang. Sesudah kususui, nindy bukannya tidur malah mengajak bermain. Karena aku terus menerus mengeluh sakit, akhirnya nindy dibawa mz nug ke atas untuk dikelonin mbak prih. Aku yang masih tergolek di kamar bawah mendengar nindy malah merengek di sana, lagi-lagi tidak tega dan akhirnya ikut-ikutan nyusul ke atas. Masih tidak kuat berdiri, aku merangkak (or merayap?) sepanjang tangga. Setelah beberapa saat, nindy akhirnya tenang dan mau tidur lagi. Aku minta maaf ke mbak prih sudah mengganggu tidurnya dan aku mohon mbak prih ngelonin nindy. Sesudahnya aku turun dan tidur lagi sampai pagi.

Pagi itu rasa sakit di perutku sudah agak mendingan. Aku bercanda ke mbak prih bahwa rasanya seperti lagi bukaan 4 atau 5. Kalau semalam itu sudah seperti bukaan 9. Aku berjalan dengan sangat lambat karena menahan sakit. Kuputuskan untuk pergi ke RSI dan mengantri ke dokter umum karena aku tidak ada pikiran sama sekali bahwa yang kuhadapi adalah masalah dengan organ reproduksi.

Pukul setengah 9 aku dan mz nug berangkat. Antri dan mendapat nomor 12. Aku sempat browsing-browsing dan tidak menemukan satu pun clue atas penyakitku. Usus buntu, aku tidak demam. Maag akut, aku masih doyan makan. Kanker usus besar, aku masih bisa ke belakang dengan lancar. Pukul setengah 11 aku masuk ke ruang periksa. Dokternya perempuan dan sangat komunikatif. Perutku ditekan-tekan sebentar. Aku ditanya bagian mana yang sakit tapi aku tidak bisa menentukan sebelah mana. Tiba-tiba dokter berkata, “Jangan-jangan ibu hamil”

Aku membantah karena bulan Mei ini aku masih haid dari tanggal 7 sampai 15. Dokter menyuruh periksa lab untuk tes darah, urine, dan tes kehamilan! Dalam hati aku sempat suudzon, jangan-jangan ini hanya akal-akalan agar pasien menghabiskan uang. Tapi aku menurut.

Hasil tes keluar paling cepat 1 jam lagi. Masih pukul setengah 12. Aku mengusulkan ke mz nug agar kami pulang dulu untuk makan dan sholat serta mampir ke bidan. Barangkali memang masalah dengan kontrasepsi IUD yang kupakai. Ketika pulang setiap kali motor yang dikemudikan mz nug melewati polisi tidur, aku menjerit kesakitan.

Pukul 12 di bidan kuceritakan keluhanku, dan memohon apakah bidan bisa melihat posisi spiralku? Aku menjelaskan bahwa memang sudah 2 bulan terakhir ini aku keputihan disertai keluar darah, tapi pemeriksaan terakhir di Obgyn sebelum peristiwa keputihan itu menunjukkan bahwa spiralku baik-baik saja. Bidan yang mendengar keluhan dan ceritaku tidak berani mengambil tindakan dan menyuruhku pergi ke dokter kandungan untuk USG. Harus USG. Bahkan aku diberi surat pengantar. Karena tidak tega melihat aku yang meringis-ringis kesakitan, bidan memberiku sebutir pil penahan rasa sakit.

Mungkin efek dari pil itu, sepulang dari sana memang aku merasa sedikit lebih kuat. Aku sholat dan makan siang serta bercanda dengan nindy. Pukul 1 kurang kami kembali ke rumah sakit. Sementara mz nug memarkir motor, aku pergi ke lab sendirian untuk mengambil hasil. Deg-degan kubuka amplop itu dan kubaca hasil pregnancy test: positive!

Aku mencelos. Aku ingat nindy yang usianya belum 10 bulan. Ya Allah, apakah aku bisa mengurus 2 anak sekaligus? Bagaimana dengan ASI-nya?

Aku duduk termangu di ruang tunggu dokter umum. Telpon ibuk, bilang aku hamil dan bagaimana aku khawatir. Ibuk bilang senang dan meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja. Mz nug datang. Aku menyodorkan hasil tes itu. Mz nug bilang tidak apa-apa. Aku akhirnya bisa tersenyum. Ya, tidak apa-apa. Kami bahkan bercanda mengenai kapan kemungkinan itu terjadi dan aku mengira-ngira bahwa anak ini pasti laki-laki.

Kembali aku masuk ruang dokter umum, kali ini dengan wajah penuh harapan. Namun berbeda dengan reaksi kami, reaksi dokter justru sebaliknya. Beliau khawatir melihat HB-ku yang hanya 11. Aku bilang selama ini HB-ku memang rendah. Dokter menyebut-nyebut tentang KET yang aku tidak mengerti apa.

“Kalau benar, HB ibu lama-lama akan semakin turun. Saya buatkan surat rujukan ke dokter kandungan. Kalau ibu merasa tidak kuat, langsung saja pergi ke UGD.”

UGD? Seumur hidup aku belum pernah masuk ruang UGD. Aku masih bisa jalan kenapa aku harus ke UGD? Kenapa dengan HB-ku? Apakah memang sebegitu mengkhawatirkan?

Bersambung ke bagian 2