Kehamilan di Luar Kandungan (1)

Jumat malam tanggal 25 Mei 2012 pukul 11, aku terbangun gara-gara rasa sakit di perut. Awalnya aku berpikir itu sakit perut biasa walau aku ingat pencernaanku dalam beberapa hari terakhir sepertinya normal-normal saja. Aku sempat ke belakang dan BAB tanpa keluhan tapi rasa sakit itu terus ada. Aku mengeluh pada mz nug bahwa aku tidak bisa ngelonin nindy dan meminta ijin untuk tidur sendirian. Sekitar pukul 1 dini hari aku mendengar tangisan nindy. Aku tergerak untuk segera memberinya ASI. Namun ketika bangkit dari tempat tidur, aku menjerit.

Sakit! Sakit sekali! Setiap kali tubuhku bergerak, perutku dihantam rasa sakit yang luar biasa.

Aku meracau dari kamar depan bahwa sepertinya aku tidak sanggup bergerak. Namun rupanya mz nug di kamar belakang tidak mendengar. Sementara itu nindy terus menangis. Tidak tega, aku memaksakan diri untuk bangkit dan merangkak ke kamar belakang. Sesudah kususui, nindy bukannya tidur malah mengajak bermain. Karena aku terus menerus mengeluh sakit, akhirnya nindy dibawa mz nug ke atas untuk dikelonin mbak prih. Aku yang masih tergolek di kamar bawah mendengar nindy malah merengek di sana, lagi-lagi tidak tega dan akhirnya ikut-ikutan nyusul ke atas. Masih tidak kuat berdiri, aku merangkak (or merayap?) sepanjang tangga. Setelah beberapa saat, nindy akhirnya tenang dan mau tidur lagi. Aku minta maaf ke mbak prih sudah mengganggu tidurnya dan aku mohon mbak prih ngelonin nindy. Sesudahnya aku turun dan tidur lagi sampai pagi.

Pagi itu rasa sakit di perutku sudah agak mendingan. Aku bercanda ke mbak prih bahwa rasanya seperti lagi bukaan 4 atau 5. Kalau semalam itu sudah seperti bukaan 9. Aku berjalan dengan sangat lambat karena menahan sakit. Kuputuskan untuk pergi ke RSI dan mengantri ke dokter umum karena aku tidak ada pikiran sama sekali bahwa yang kuhadapi adalah masalah dengan organ reproduksi.

Pukul setengah 9 aku dan mz nug berangkat. Antri dan mendapat nomor 12. Aku sempat browsing-browsing dan tidak menemukan satu pun clue atas penyakitku. Usus buntu, aku tidak demam. Maag akut, aku masih doyan makan. Kanker usus besar, aku masih bisa ke belakang dengan lancar. Pukul setengah 11 aku masuk ke ruang periksa. Dokternya perempuan dan sangat komunikatif. Perutku ditekan-tekan sebentar. Aku ditanya bagian mana yang sakit tapi aku tidak bisa menentukan sebelah mana. Tiba-tiba dokter berkata, “Jangan-jangan ibu hamil”

Aku membantah karena bulan Mei ini aku masih haid dari tanggal 7 sampai 15. Dokter menyuruh periksa lab untuk tes darah, urine, dan tes kehamilan! Dalam hati aku sempat suudzon, jangan-jangan ini hanya akal-akalan agar pasien menghabiskan uang. Tapi aku menurut.

Hasil tes keluar paling cepat 1 jam lagi. Masih pukul setengah 12. Aku mengusulkan ke mz nug agar kami pulang dulu untuk makan dan sholat serta mampir ke bidan. Barangkali memang masalah dengan kontrasepsi IUD yang kupakai. Ketika pulang setiap kali motor yang dikemudikan mz nug melewati polisi tidur, aku menjerit kesakitan.

Pukul 12 di bidan kuceritakan keluhanku, dan memohon apakah bidan bisa melihat posisi spiralku? Aku menjelaskan bahwa memang sudah 2 bulan terakhir ini aku keputihan disertai keluar darah, tapi pemeriksaan terakhir di Obgyn sebelum peristiwa keputihan itu menunjukkan bahwa spiralku baik-baik saja. Bidan yang mendengar keluhan dan ceritaku tidak berani mengambil tindakan dan menyuruhku pergi ke dokter kandungan untuk USG. Harus USG. Bahkan aku diberi surat pengantar. Karena tidak tega melihat aku yang meringis-ringis kesakitan, bidan memberiku sebutir pil penahan rasa sakit.

Mungkin efek dari pil itu, sepulang dari sana memang aku merasa sedikit lebih kuat. Aku sholat dan makan siang serta bercanda dengan nindy. Pukul 1 kurang kami kembali ke rumah sakit. Sementara mz nug memarkir motor, aku pergi ke lab sendirian untuk mengambil hasil. Deg-degan kubuka amplop itu dan kubaca hasil pregnancy test: positive!

Aku mencelos. Aku ingat nindy yang usianya belum 10 bulan. Ya Allah, apakah aku bisa mengurus 2 anak sekaligus? Bagaimana dengan ASI-nya?

Aku duduk termangu di ruang tunggu dokter umum. Telpon ibuk, bilang aku hamil dan bagaimana aku khawatir. Ibuk bilang senang dan meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja. Mz nug datang. Aku menyodorkan hasil tes itu. Mz nug bilang tidak apa-apa. Aku akhirnya bisa tersenyum. Ya, tidak apa-apa. Kami bahkan bercanda mengenai kapan kemungkinan itu terjadi dan aku mengira-ngira bahwa anak ini pasti laki-laki.

Kembali aku masuk ruang dokter umum, kali ini dengan wajah penuh harapan. Namun berbeda dengan reaksi kami, reaksi dokter justru sebaliknya. Beliau khawatir melihat HB-ku yang hanya 11. Aku bilang selama ini HB-ku memang rendah. Dokter menyebut-nyebut tentang KET yang aku tidak mengerti apa.

“Kalau benar, HB ibu lama-lama akan semakin turun. Saya buatkan surat rujukan ke dokter kandungan. Kalau ibu merasa tidak kuat, langsung saja pergi ke UGD.”

UGD? Seumur hidup aku belum pernah masuk ruang UGD. Aku masih bisa jalan kenapa aku harus ke UGD? Kenapa dengan HB-ku? Apakah memang sebegitu mengkhawatirkan?

Bersambung ke bagian 2

Iklan

One thought on “Kehamilan di Luar Kandungan (1)

  1. Ping-balik: Kehamilan di Luar Kandungan (2) | Cahaya Rembulan Usai Hari Hujan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s