Kehamilan di Luar Kandungan (3)

Lanjutan bagian 2

Dokter beranjak ke mejanya dan mengangkat telepon. Rupanya beliau memanggil seorang perawat. Beliau berkata sambil terus membuat catatan, bahwa mulai sekarang aku ga boleh jalan sendiri. Tak seberapa lama, seorang perawat datang dengan mendorong kursi roda. Aku dibantu turun dari tempat tidur. Sepertinya alasan aku tidak boleh banyak bergerak adalah untuk mengurangi pendarahan yang terjadi di dalam. Aku sempat bertanya kenapa ini bisa terjadi. Dokter menjawab singkat bahwa ada infeksi di rahimku. Aku teringat dokter umum tadi siang sempat bilang mungkin spiralku sudah menguasai rahimku, sehingga janinku tidak mau masuk ke rahim.

Tiba-tiba dokter bertanya kenapa tadi ga langsung ke sini. Aku bilang bahwa aku disuruh mengantri. Dokter memanggil perawat yang ada di ruang tunggu dan memarahinya. “KET kok disuruh antri?”

Si perawat bilang bahwa tadi aku minta ijin pulang dulu. Dokter tambah marah dan bilang aku pulang gara-gara perawat itu menyuruhku mengantri. Dalam hati aku bersorak. Aku jahat ya?! Tapi mengingat rasa sakit yang harus kutanggung berjam-jam selama menunggu antrian, sepertinya itu cukup setimpal.

Sesudahnya aku didorong ke kamar persiapan. Mz nug masih tinggal di ruang dokter (beberapa hari kemudian baru mz nug cerita bahwa ketika keluar dari ruang dokter, ibu-ibu cerewet di ruang tunggu sempat bertanya kemana istri mz nug dibawa, kok keluarnya sendirian aja). Di ruang persiapan aku harus berganti baju operasi dan melepas semua perhiasan. Perawat lain memasang infus dan kateter. Salah seorang perawat bertanya apakah aku alergi sesuatu, aku jawab aku alergi pinisilin. Petugas lab datang untuk mengambil sampel darah. Aku mengisi satu formulir persetujuan operasi. Kubaca di sana: laparotomy. Setengah jam kemudian mz nug datang membawakan tasku. Aku menyerahkan perhiasanku untuk disimpan baik-baik. Mz nug menyodorkan hape agar aku bisa menelepon rumah. Saat mendengar suara ibuk, pecahlah tangisku. Aku teringat bagaimana sore tadi aku telah meminta untuk diperpanjang nyawa namun aku tidak yakin dengan kemakbulan doaku, karena itu aku berkata kepada ibuk untuk memaafkan segala kesalahanku. Aku juga bilang kepada ayah untuk mendoakan keselamatanku tapi juga mengikhlaskan bila sesuatu yang buruk yang terjadi. Ayah dan ibuk bilang bahwa aku akan baik-baik saja. Aku menangis tanpa suara.

Hasil lab datang. HB-ku masih 10, aman untuk operasi. Alhamdulillah, aku bersyukur dan sempat berpikir mungkin ini gara-gara susu yang kuminum magrib tadi. Aku didorong ke ruang operasi sambil berlari dengan mz nug berlari di sisi ranjangku. Aku mulai panik dan berbicara cepat takut waktuku tak cukup: Tolong pamitin ke nindy, maaf adek ga sempat pamit. Tolong turunin susu 5 botol buat besok pagi. Tolong mbak prih ga usah masak dulu, beli lauk aja kalo repot. Mohon maaf jadi tambah repot karena masakin nindy. Tolong simpan baju adek yang ketinggalan di ruang persiapan tadi. Sendal adek masih ketinggalan di ruang dokter. Aku terus bicara ini itu tanpa menyadari seberapa jauh aku dibawa, hingga tiba-tiba aku sudah berada di depan pintu ruang operasi. Sekilas aku  ingat bahwa aku belum bicara tentang “kami”. Aku belum pamitan ke mz nug dan belum minta doanya. Jadi sebelum pintu menutup aku cuma sempat berkata, “Maafin adek mas!”. Sayang aku tidak sempat mendengar jawabannya (sekarang aku baru sadar, kenapa aku ga bilang “adek sayang mz” aja ya? hehehe)

Di ruang persiapan operasi, ada bapak yang sedang menunggu tindakan juga. Istrinya berada di sebelahnya. Aku heran kenapa kerabat boleh masuk tapi tak bertanya begitu melihat betapa orang-orang rumah sakit menyapa ibu itu dengan ramah. Hem, sepertinya memang salah satu petinggi rumah sakit, simpulku dalam hati. Karena bosan, aku menyapa ibu itu dan bertanya keadaan bapak. Kata beliau suaminya hendak operasi gigi. Wow, ternyata operasi gigi harus bius total dan benar-benar dilakukan di ruang operasi.

Lama-lama, aku mulai merasa gatal. Aku mulai menggaruk tubuh dan rambutku sambil berpikir, bukankah baru kemarin aku mencuci rambut? Bapak sebelahku mendapat tindakan lebih dulu, meninggalkan aku menunggu sendirian. Aku menghabiskan waktu dengan berdzikir sebisaku. Sempat terpikir bahwa semua akan baik-baik saja karena aku belum sempat “pamit” ke mz nug. Sekitar setengah jam kemudian seorang perawat datang dan mengatakan bahwa ruang operasi sudah siap. Ketika didorong menuju ruangan aku sempat melirik ke ruang operasi lain dan melihat sepertinya operasi bapak tadi sudah selesai.

Baru kali itu aku berada di ruang operasi dengan lampu terang berada di atas kepalaku. Dokter anestesi datang dan menyuntikkan cairan bius ke tulang belakang. Rupanya aku cukup dibius setengah badan seperti tindakan c-sect. Perawat bertanya apakah aku kedinginan dan aku segera ingat sesuatu.

“Oiya bu, saya juga alergi dingin.” Perawat melihat badanku dan memutuskan untuk mematikan salah satu AC. Ketika dokter datang, perawat tadi meminta maaf ke dokter karena AC-nya cuma satu yang menyala. “Kasihan badannya sudah merah-merah,” katanya. Ah, ternyata memang sudah parah. Sebenarnya selain alergi pinisilin, aku alergi perubahan suhu. Suhu yang mendadak berubah ekstrim dingin/panas. Dan biasanya alergi ini tidak akan kambuh kalau aku tidak sedang stres. (gimana ga stres ngalamin kejadian kaya gini?! :p)

Bagian bawah tubuhku sudah mati rasa. Aku tidak bisa melihat ke sana karena terhalang kain. Aku merasa kulit perutku dibersihkan, digarisi, dan ditarik-tarik (hem, aku tidak merasa sakit tapi karena tubuh bagian atasku bergoyang kesana-kemari jadi aku merasa ditarik-tarik). Aku mendengar dokter berkata, “Wah, salurannya sudah pecah” namun aku tidak berani bertanya. Aku juga mendengar suara seperti selang sedang menyedot sesuatu dan membayangkan mungkin darah di rahimku sedang disedot. Ketika membaui bau aneh baru aku nyeletuk ke perawat, “Bau apa ya bu? Kok kaya bau sangit…” yang menghasilkan tawa tim dokter dan dibalas “Ada deh!”

Setelah dijahit maka seluruh operasi selesai. Sejujurnya aku tidak terlalu ingat detail pasca operasi itu. Aku didorong ke ruang lain dan bertemu dengan bapak yang habis operasi gigi tadi. Tubuhku mulai menggigil hebat. Perawat menambahkan selimut dan berkata bahwa itu tandanya efek biusnya mulai menghilang. Karena masih kedinginan, perawat memasang selang besar di bawah selimutku. Selang itu mengeluarkan udara hangat. Lumayan enak rasanya, walau aku masih juga kedinginan.

Bapak tadi akhirnya keluar, berganti ibu yang baru saja mendapat tindakan c-sect. Selangku berpindah ke ibu itu. Padahal aku masih kedinginan. Aku teringat tentang hypnobirthing, dan berpikir mungkin hipnotis bisa dilakukan untuk banyak keperluan medis. Aku mulai memikirkan hari minggu yang panas dan aku sedang berada di lantai atas rumah. Hari minggu yang panas dan aku menyusui nindy di kamar mbak prih sambil memandangi langit biru bersih di luar balkon. Hari minggu yang panas dimana aku kegerahan namun bahagia karena bisa tidur siang bersama nindy. Ajaib, lama-lama aku merasa tubuhku menghangat seperti yang kupikirkan. Aku tersenyum senang karena hipnotisku berhasil (dan sedikit menyesal kenapa ketika kontraksi dulu aku tidak bisa melakukan sebaik itu).

Pukul setengah satu, ranjangku didorong ke luar ruang operasi. Di depan pintu mz nug menunggu dengan wajah lelahnya. Lega sekali melihatnya ada di sana. 🙂

—————————————————————————————————————————-

OK, aku ga pingin memanjangkan cerita dengan drama yang menye-menye (3 hari di rumah sakit tentu saja banyak dramanya :D). Berikut adalah fakta seputar kejadian kemarin:

  • Kenapa terjadi?

Seperti yang dikatakan dokter, terjadi infeksi di rahimku. Kenapa? Walau obgyn yang mengoperasiku tidak menjelaskan banyak hal, aku menyimpulkan bahwa ini semua karena spiral (IUD). Entah benar atau ga, karena bahkan sesaat sebelum operasi itu, posisi spiralku di-USG terlihat baik-baik saja. Sebelum kejadian ini, aku mengalami keputihan bening bercampur sedikit darah, terus menerus selama hampir 2 bulan. Bahkan 2 minggu sebelum haid bulan Mei itu, aku merasa gatal di daerah vagina, yang hanya kuobati dengan membilasnya dengan albothyl (jangan ditiru!). Seharusnya ketika gatal menyerang, aku segera awas karena hal itu menandakan terjadi infeksi di sana. Namun aku confuse dengan penyakit jamur kulit yang pernah menyerangku (hmm, total semenjak kecil 3 kali kejadian dengan jamur yang berbeda). Padahal rasa gatalnya tentu saja berbeda. Gatal jamur hanya di permukaan kulit, sedang gatal infeksi err… aku juga bingung dia gatalnya dimana. 😆

Jadi karena ada infeksi di rahim, telur yang terbuahi tidak mau turun ke sana. Akhirnya dia berkembang di saluran telur. Karena saluran telur tidak didesain untuk berkembang, maka pecahlah dia. Pendarahan dalam. Kejadiannya disebut KET alias Kehamilan Ektopik terganggu. Monggo dicari sendiri sumber yang enak dibaca dengan tag kehamilan ektopik (sumber yang ada bahasanya njlimet-njlimet).

  • Kenapa harus operasi besar?

Nah, ini yang aku masih ga ngerti, karena beberapa sumber mengatakan bahwa kehamilan di luar kandungan bisa ditangani dengan laparoskopi. Entah apa karena mau menjahitnya atau karena keterbatasan peralatan sehingga yang kujalani adalah laparotomy, aku benar-benar ga ngerti. Oiya, beda laparotomy vs laparoscopy bisa dilihat di sini.

  • Jadi saluran telurmu gimana nur?

Memang kebanyakan sumber mengatakan bahwa pecahnya saluran telur akan berakhir dengan pemotongan atau pengangkatan. Tapi alhamdulillah pada kasusku, saluran telurku masih bisa dijahit. Setelah masuk kantor aku bertemu dengan teman biro lain yang juga mengalami KET (indung telur dia yang satu diangkat), katanya memang kalau kehamilannya di bawah 5 minggu biasanya masih bisa dijahit (waktu kejadian dia hamil 7 minggu dan masuk RS sudah dalam keadaan pingsan). Obgyn di RSIA Hermina Jatinegara juga mengatakan bahwa kalau memang belum hancur (wew, durung ajur rek!) ada kemungkinan cukup dengan tindakan penjahitan. Oiya, yang kena saluran telur sebelah kanan.

  • Terus habis ini bagaimana?

Alhamdulillah, masih besar kemungkinan untuk punya anak lagi dengan cara normal (*koprol, trauma operasi!) Boleh hamil lagi setelah 6 bulan. Untuk sekarang masih masa penyembuhan, jadi masih suka nyeri gitu kalau kecapekan. Tapi so far jahitan luar udah kliatan mengering dengan sempurna.

  • Terus spiralnya?

Kucabut! Hahaha. Karena obgyn yang mengoperasiku ga mau nyabut gara-gara (lagi-lagi) posisinya terlihat bagus, akhirnya aku cabut di obgyn di Hermina. Jadi sekarang ga KB? Nggak! Ntar aja deh dipikir gimana. Mungkin pakai pengaman atau suntik (kalau suntik kasihan nindy sih, takut hormonnya masuk ke ASI). Juga berdoa aja ma Yang Di Atas, biar dikasih skenario terbaik. Lha itu pake spiral aja masih kebobolan :p

Iklan

15 thoughts on “Kehamilan di Luar Kandungan (3)

    • selama di RS masih bisa pumping 2-3 kali sehari… dan alhamdulillah sujud syukur, selama ini punya stok lumayan di freezer (etapi sekarang jadi tambah menipis gara-gara mz nug diklat aku PP KRL nindy minum 5 aku pulang cuma bawa 4…huahuahua…)

  1. Baca yang ini lebih terharu, mungkin karena ada adegan pamit-pamitannya itu. 😀
    Dan itu pasti yang di bawah adalah pertanyaan-pertanyaan yang paling sering diajukan orang ya, Nur? Haha..

    • hehehe, entah pikiran songong itu menyelinap darimana, waktu itu sok yakin banget kalo belum pamit ya ga bakalan “dijemput sekarang” *malu

      hihihi, iya..lha kan sebenernya pingin share tentang penyakitnya kok malah crita dramanya, jadi disingkat di situ aja 😀

      • Sist.. Tlg ceritain 3 hari didokter n keluhan2 pasca operasi… Please… Aq baru slsai operasi.. Kok merasa (kadang”) a̲̅ϑa yg mengganjal wktu bernafas.. Kok gak tahan ac/kipas/dingin..gampang masuk angin..??

        • Eh, pasca operasi aku baik2 saja tuh mbak… Mb pernah operasi caesar?! Ya emang lukanya masih sakit, tapi harus segera dipake gerak biar cepet sembuh…

          Soal masuk angin aku lupa, tapi emang pasca operasi ada kasus dimana aku diare parah yang ternyata itu efek dari obat. Soal sesak nafas alhamdulillah aku ga ngalamin. Coba mb tanya ke dokter sambil nyeritain penyakit mb yang dulu2. Soale aku dulu diare gitu karena aku punya maag dan jadi kontra gitu sama obatnya.

          Semoga cepet sembuh ya… *hug

  2. Menurutku ya Nur, kalo di skenario kaya kamu tuh “maafkan aku mas…” itu lebih baik daripada “aku sayang kamu mas…”, karena toh si masnya tahu kalo kita sayang dia, hehehe….
    Terus, aku mau mengucapkan syukur, terlepas semua yang terjadi, sekarang Nur udah baik-baik saja ga kekurangan sesuatu apa pun…
    KB, no comment, belum pernah…
    Terakhir aku salut dan terima kasih sama Nur yang mau berbagi kisah di sini. Menulis kisah ini sangat membantu teman-teman yang lain, karena ini bisa jadi bahan pelajaran buat kami.

    • iya ya? habisnya kan lebih drama kalo pake lope-lopean… hihihi

      iya, alhamdulillah, semua sudah berlalu… apapun KB-nya yang penting kita HARUS lebih peduli terhadap kesehatan kita.

      sama2 mbak…kehamilan ektopik ini cukup banyak kasusnya. Aku berdoa semoga semua temanku tidak ada yg mengalaminya…

    • nah lho nah lho… haduh, aq ga lg kampanye anti IUD.. hiks hiks

      intinya tetap rajin kontrol wi.. (ni yg berat secara tau kan biaya kontrol ke obgyn) dan kalo ada keluhan jangan dibiarin…

      btw, emang IUD dan kondom (ni yg baca udah dewasa semua kan?!) itu yang paling aman buat ASI

  3. Ping-balik: Kehamilan di Luar Kandungan (2) | Cahaya Rembulan Usai Hari Hujan

  4. Ping-balik: K-Drama: Nonton atau Baca?! | Hujan Cahaya Bulan

  5. Ping-balik: Si Putih Oh Si Putih… | Hujan Cahaya Bulan

  6. Ping-balik: Dewamata, Nara-kun… | Hikari no Monogatari

  7. Ping-balik: Bukan Sok-sokan, Tapi Keterpaksaan | Hikari no Monogatari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s