Dunia Nindy

Dulu aku sempat khawatir dengan kepindahan tempat tinggal kami. Takut nindy ga punya teman-teman baik seperti pas di kontrakan dulu. Apalagi pemilik lama rumah kami bilang bahwa daerah itu daerah pensiunan. Wah, kalo pensiunan berarti udah ga punya anak kecil donk?! Ditambah setiap kali aku berkunjung untuk melihat progress renovasi, jaraaang banget kulihat anak kecil di situ. Aduh, kasihan kamu nak…

Tapi ternyata ketakutanku tidak terbukti. Alhamdulillah, di sini nindy mendapat banyak teman baru. Rupanya anak-anak di gang ini punya kebiasaan, hanya muncul ketika habis ashar. Kebiasaan yang menurutku baik karena aku ga suka anak kecil keluyuran malam-malam (di kontrakan dulu kadang malam hari anak-anak yang sudah agak besar bikin gaduh di jalan depan rumah, expecially pas liburan). Dan ini denah lokasi rumah teman-teman nindy:

Mulai dari kiri atas. Dua gadis kecil Raisya (3th) dan Fina (2th) yang suka manggil-manggil mz nug sebagai “papanya nindy”. Fina selalu mengekor apapun yang dikatakan kakaknya. Termasuk tidak percaya bahwa aku mamanya nindy. Hiks! Mereka pikir mamanya nindy ya mbak prih (efek jarang keluar rumah)

Arya jarang kutemui karena sudah duduk di sekolah dasar. Dia juga agak cuek dengan nindy. Raka (5th) adiknya masih TK, menurutku lebih cakep daripada kakaknya šŸ˜€ Raka juga sayang banget sama nindy. Suka manggil-manggil dan megang-megang. “Adek…”, katanya.

Adit (6th), si pemimpin gank. Lumayan cakep walau sering selebor nongkrong di pintu pagar cuma pake celana dalam šŸ˜€ Kalau maen suka menangan, ngatur temannya begini begitu. Aku ga tahu les apa yang harus dia jalani setiap sore hari.

Ucup alias Yusuf (4th), sebagai keturunan Sumatera tidak mau dipanggil Kak atau Mas. Harus Bang Ucup! Anaknya agak kasar walau sebenarnya hatinya baik. Contoh dialog di suatu sore:

Bu Arya: Kamu mau adek, Cup? (ngliatin Ucup yang pegang-pegang nindy)

Bang Ucup: Iya (sambil mengangguk)

Bu Arya: Ya sudah, minta ke mamamu sana!

Bang Ucup: Ga mau. Mau yang ini aja. *lempeng *nunjuknindy

Hehehe. Meski sayang ke nindy, aku agak takut kalo Ucup dekat-dekat. Takut ga sengaja dia nyakitin nindy (strollernya nindy pernah ditabrak pake sepeda T-T)

Raihan (5th), si pendiam yang cakep banget. Rumahnya Raihan ini lagi ditawarkan untuk dijual lho! Barangkali ada yang berminat :p

Agni, sudah SD. Sama seperti Arya, aku jarang berinteraksi dengannya (anak jaman sekarang ya, baru SD udah sibuk banget). Dino, adik Agni. Walau seumuran dengan Adit, orangnya ga suka ngatur. Tapi menurutku si Dino ini “laki banget”. Kecil-kecil udah kelihatan bakat gentleman-nya. Mungkin nurun sifat bapaknya yang TNI AD.

Asyar (or Ashar?!) sudah SMP. Jadi jarang banget ngliat. Nanda, sudah SD. Anaknya manis. Baik juga ke nindy. Irsyad (5bln), hmm… ya gitu deh. Baru bisa senyum-senyum doank. Hehehe.

Dari teman-teman, mari berpindah ke barang-barang favorit nindy:

Beruang pink bernama momo ini sebenarnya merupakan kado dari mz nug pas ultahku dulu. Kenapa momo? Karena momo-iro berarti pink :p Momo beruntung mendapat ciuman pertama nindy. Iya, nindy lebih gampang disuruh nyium momo dibanding disuruh nyium umminya šŸ˜¦

Aku menyebutnya ayam lompat, karena bisa melompat-lompat kalo tuasnya diputar. Ayam lompat ini hadiah dari temanku Nora saat masih kuliah dulu. Cukup ampuh buat memecah kebekuan nindy pas lagi tegang ketemu orang baru.

Dan the most favorite thing-nya adalah:

Nindy sukaaa sekali cerita “Tidurlah, Beruang”. Ampuh menenangkan dia kalo lagi susah tidur. Umminya juga suka sekali. Obsesi pribadi memiliki buku dongeng hard cover dengan gambar bagus dan cerita sederhana seperti ini. šŸ™‚

Iklan

3 thoughts on “Dunia Nindy

  1. Ping-balik: Curhat Perempuan Tak Berbakat | Cahaya Rembulan Usai Hari Hujan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s