Dua Hari Bersama Abi

Dulu kupikir, orang paling plegmatis sedunia cuma salah satu anggota Panjen CS: Bayu a.k.a Mitha a.k.a Baim. Tak kusangka, bertahun kemudian aku bertemu dengan orang super plegmatis lainnya dan justru menikah dengannya. -__-!

Ya, aku menyebut mz nug itu tipe orang plegmatis walau dia ga suka digolongkan demikian. Orang seperti mz nug kalaupun ada gempa bumi kayane ga bakalan lari deh. Selama masih bisa jalan kenapa harus panik? Begitulah. Aku sering gemes dan menganggap hal itu sebagai lelet. Tapi mau bagaimana lagi? Karena justru sifat anti stres itulah yang mengimbangi sifat mudah stresku. Kan katanya suami istri sebaiknya saling melengkapi. :p

Dalam hal membesarkan anak pun, mz nug tergolong ayah yang santai cenderung terkesan cuek. Dari bayi sampai nindy umur setahun, mana pernah dia memandikan nindy. Menyuapi makan juga enggak. Aku bahkan lama-lama ragu apakah mz nug tahu mengenai manajemen ASIP, walaupun aku sudah sering cerita ini itu sepanjang hamil dulu. Makanya aku ketawa ngakak waktu neng lita cerita tentang suaminya yang SEPERTINYA bukan tipe ayah ASI. Karena dalam ingatanku, mz nug juga begitu. Dari awal-awal nindy lahir, saat aku, ibuk, dan Aziz begadang malam-malam dan diceramahi Bidan karena aku hampir mutung dalam perjuangan memberi ASI eksklusif, eh mz nug molor aja donk di tempat tidur sebelah. Di saat aku bangun tiap 2 jam karena nindy kedinginan melawan hawa musim kemarau di Malang, mz nug meringkuk dengan asyiknya di bawah selimut.

E tapi, sama seperti suami neng lita, BUKAN BERARTI MZ NUG GA PERHATIAN SAMA ANAK. Lihat deh, betapa banyak foto keseharian mz nug bersama nindy di blog ini (lha umminya malah jarang foto). Karena tiap kali aku repot, pasti mz nug yang kusodorin untuk pegang nindy. Walau kalah soal memandikan dan memberi makan, tapi mz nug mau lho nyebokin nindy bahkan pas habis pup sekalipun.

Kemarin selama lebaran, mbak prih minta cuti 2 minggu. Karena kasihan kalo nindy dibawa ke kantor sementara dia mau menempuh perjalanan jauh road show Jateng-Jatim, akhirnya kami memutuskan untuk bergantian cuti untuk menjaga nindy. Tanggal 13-16 aku cuti, selanjutnya tanggal 23-24 giliran mz nug yang cuti. Awalnya aku sempat ragu, apa bisa mz nug mengasuh nindy seharian sendirian?! Tapi aku membulatkan tekad dan memilih untuk percaya. Hei, nindy bukan bersama orang asing. Dia kan bersama abinya.

Dan ternyata, nindy memang baik-baik saja. Tetap mandi, makan, minum ASI, tidur, dan bermain. Padahal nindy lagi mengalami fase susah makan. Mungkin badannya ga enak karena kecapekan. Mz nug dengan telaten melayani nindy, membuatkan agar-agar, dan menyuapi nindy agar-agar hingga habis satu wadah. Yang kurang paling ngeramasin nindy, secara aku sendiri saja rada susah melakukannya. Jadinya hari jumat malam rambut nindy lepek bukan main.

Intinya sih, walau “agak lama”, tapi orang plegmatis tetap bisa melakukan semuanya dengan baik. Soal ayah ASI, mz nug lah yang capek-capek ke ITC nyari vulva waktu vulva medela harmonyku robek. Mz nug juga yang mindahin ASIP dari cooler bag ke kulkas kalo aku ketiduran dan lupa mindahin ASIP-ASIP itu. Mz nug juga ngebolehin aku mengup-grade kulkas untuk mencari freezer yang lebih gede. Bahkan saat makanan tinggal sedikit, mz nug rela ga makan atau makan mie instan demi menjaga agar aku tidak kelaparan yang bisa menurunkan produksi ASI.

Yes, I love him. And I proud of him.

Kutipan #1

Hari ini, ketika tradisi keilmuan berganti dengan tradisi nonton televisi, Muhammadiyah kehilangan ulama, sementara ulama NU banyak yang kehilangan integritas. Sebaliknya orang-orang yang tidak mempunyai kelayakan sebagai ulama, telah menisbahkan diri sebagai ulama. (Mohammad Fauzil Adhim)

Dilema Busui

Panik!

Jadi jadwalnya adalah seperti ini:

  • 7-8 Sept: Outbond, 2 hari 1 malam. Hari Jumat berangkat pukul 06.00 dari kantor, (insyaallah) nyampe rumah lagi sabtu sore.
  • 19-22 Sept: DL ke Surabaya, 4 hari 3 malam.

*

Kebutuhan ASIP selama outbond:

  • 7 Sept (sehari semalam): ± 8 botol
  • 8 Sept (sesiang): ± 4 botol

Total kebutuhan: 12 botol
ASIP segar hari Kamis: 4 botol
Kebutuhan ASIP beku: 8 botol

*

Kebutuhan ASIP selama DL:

  • 19-21 Sept (sehari semalam): ± 3×8 botol = 24 botol
  • 22 Sept (sesiang): ± 4 botol

Total kebutuhan: 28 botol
ASIP segar hari Selasa: 4 botol
Kebutuhan ASIP beku: 24 botol

*

Total kebutuhan ASIP beku: 32 botol
Total stok ASIP di freezer: 13 botol
Kekurangan: 19 botol

*

Yak, kalo jaman ASIP masih berlimpah sih ga pusing kaya sekarang. Sekarang dengan produksi yang sudah menurun, harus ngejar stok sebanyak itu… aaarrghhh!!

*

Atashi ga gambarimasu!

*

Doakan saya… 😦

Catatan Berkebun (2): Keranjingan dan Home Alone

Kalau sampe jam menunjukkan pukul 8 malam kamu masih belum mandi dan masih berkutat dengan hobimu, itu artinya kamu sudah kecanduan.

Itulah yang terjadi hari Minggu malam. Sudah hampir isya ketika aku mulai memindahkan benih-benih pohon tomat ke polybag, menanam bibit lidah mertua dan bibit melati yang dibawa mbak prih jauh-jauh dari rumahnya, serta mencoba memperbanyak pohon sirih gading yang sekarang sudah mengular. Pukul 8. Belum mandi. Tangan belepot tanah. Aku menyebutnya kecanduan berkebun. Ayahku pasti akan menyebutnya: keranjingan. :p

Benih tomat yang sudah tinggi itu kupindah dari pot persemaiannya. Sejatinya tomat ini merupakan tanaman milik mbak prih karena dia yang menyebar bijinya. Aku setuju menanam tomat karena tomat tanaman produktif dan sekarang mulai dilirik sebagai tanaman hias, semata karena daunnya yang indah dan buahnya sedap untuk dipandang. (Hai ren, buah kesayanganmu lagi dipuji nih)

Pot berisi lidah mertua itu dulunya berisi moonshine. Setelah lebih dari 2 bulan ditanam, aku curiga dia tidak berkembang karena tidak juga menumbuhkan tunas baru. Aku masih mempertahankannya karena sampai malam itu turgornya masih bagus. Namun karena kehabisan pot, aku bermaksud menyudahi saja nyawanya dan kuganti dengan lidah mertua. Tak dinyana, ketika kucabut, akar halusnya ternyata sudah penuh dan ada tunas muda kecil di sela ketiak daunnya. Owww… kamu udah mau tumbuh to nduk?! Jadilah dia kutanam lagi di polybag, masing-masing 1 pohon per kantung. Tetep hidup ya nak…

Di sebelahnya adalah bibit melati yang sudah aku request jauh-jauh hari. Obsesi pribadi untuk memiliki pohon melati di rumah.

Oiya, kenapa sih harus malem-malem? Karena setelah acara mandi kue, hari sudah sore sedangkan aku belum beli tanah dan polybag serta pergi ke bidan dan apotek. Sudah pukul setengah lima ketika aku pergi ke penjual tanaman dan sudah magrib ketika aku pulang dari apotek. Sementara bibit-bibit yang sudah menempuh perjalanan jauh dari Purworejo itu tentu saja tidak bisa menunggu. Benih tomat yang sudah tinggi itu juga kasihan kalo harus terus berdesakan di dalam pot sempit mereka dahulu.

Terus ada apa dengan home alone nur?

Jadi kalo punya hobi yang berhubungan dengan makhluk hidup itu, entah berkebun atau memelihara hewan, yang paling repot adalah saat harus pergi jauh. Rasanya kaya ninggalin anak sendirian di rumah. Yang paling ditakutkan tentu dua hal: tidak terurus dan tidak aman.

Seperti saat kutinggal mudik selama 5 hari kemarin, tanaman-tanamanku sempat jatuh ke kondisi mengenaskan. Rata-rata mengering karena tidak disiram. Apalagi si taiwan beauty. Rontok parah daunnya (tapi sesuai dengan sifatnya yang tahan banting, begitu sore kusirami, besok pagi dia sudah berbunga lagi 😀). Yang selamat cuma benih tomat dan cabe, dua-duanya karena kuberi infus dengan aqua gelas.

Yang lebih mengenaskan daripada kekeringan adalah H-A-M-A. Ya, akhirnya aku mengerti kesedihan petani dan betapa bencinya mereka dengan satu kata itu.

Sirih gading yang masih bayi ini dari 6 lembar daunnya, 3 di antaranya kutemukan terpotong. Entah binatang apa yang memotongnya, kupikir mungkin semacam belalang. Sedih hiks… Soalnya perkembangan dia lumayan lambat je.

Yang paling menyedihkan tentu ini. Kulit pohon jeruk purutku ada yang mengerat! Huaaa… Selain karena bibitnya cukup mahal untuk ukuranku, jeruk purut merupakan salah satu tanaman yang diwajibkan oleh ibuku untuk memilikinya di rumah. Jadi kalaupun yang sekarang ini mati, aku harus beli lagi. T-T

Selain itu, salah satu pot berisi benih cabeku ternyata juga dihuni oleh semut merah. Ish! Dari dulu aku paling sebel kalo bermasalah dengan urusan semut ini. 😦

Tentang Sepotong Red Velvet Cake

Sejak kue yang bernama red velvet itu famous di kalangan ibu-ibu, sejak itulah aku penasaran. Apalagi sejak mbak Indah berbagi cerita bahwa red velvet harvest itu tanpa rhum dan insyaallah halal, aku jadi tambah mupeng sehingga tercetuslah permintaan ke pak suami: aku mau hadiah ultah 27 tahun nanti satu slice red velvet cake harvest.

Ternyata, tepat tanggal 24 Agustus, tercipta kondisi seperti ini: mbak prih belum balik dan giliran mz nug cuti buat menjaga nindy. So, ga bisa donk dia pergi ke Kelapa Gading buat beli hadiah “kecil” yang kumau. Maka mengharubirulah aku di hari ultahku. Hadiah “murah” yang kuharapkan, cuma IDR 25 ribu, gagal terkabulkan.

Hari Minggu (26/08/2012), sekitar pukul 9 mbak prih tiba di rumah (alhamdulillah, terimakasih ya Allah, mohon jagalah tali perjodohan kami ini). Karena sudah berjanji ke diri sendiri untuk menyelesaikan setrikaan agar mbak prih ga kecapekan, sepanjang pagi sampai siang aku berkutat dengan cucian dan setrikaan. Capek, sekitar pukul 2 siang aku minta mbak prih ngelonin nindy di kamar atas karena aku mau tidur siang sebentar. Sebelum tidur, aku lihat mz nug siap-siap pergi. Aku tanya mau kemana, mz nug menolak untuk menjawab. Aku pikir mungkin urusan-yang-biasanya yang aku tidak boleh perlu ikut campur. Tapi aku heran karena mz nug pakai jaket, tandanya mau pergi agak jauh. Sedangkan biasanya kalo untuk urusan-itu, karena perginya deket, mz nug cuma pake kaos tanpa jaket. Meskipun penasaran, aku tidak mau usil lebih jauh.

Pukul 3 tepat ketika aku bangun, mz nug masuk ke kamar dengan membawa tentengan. Plastik dari harvest! Dengan kotak ukuran sedang yang berisi 2 slice red velvet cake dan 2 slice rainbow cheese cake! Waaaaa…. Seneng banget. Melihatnya kaya lihat barang super mewah.

(Maaf ga ada photo, kuenya keburu dimakan :D)

Pendapat: Aku pikir red velvet cake itu pake cheese cream. Dan bayanganku cheese cream itu ya kaya cream di cake pada umumnya, lembek, surga lemak. Ternyata untuk RVC yang kumakan kemaren, cheese-nya mirip cheese cakenya breadtalk: padat dan keju banget (maafkeun referensi saya yang minim). Sedang bagian rotinya memang istimewa banget. Aku ga kebayang gimana bikinnya.

Lagi asyik-asyiknya menikmati RVC di kamar yang tertutup, tiba-tiba pintu kamar diketuk dan masuklah nindy dititah mbak prih. Hua… tahu aja kalo umminya lagi makan enak sendirian. Akhirnya kue-kue itu menjadi bancakan kami bertiga sehingga berakhir dengan kerusuhan seperti ini:

Nindy suka RVC! Like mother like daughter. Hahaha.

Walau aku agak takut dengan tingginya kadar gula RVC, aku harap khasiat murni buah bit dan kandungan kejunya cukup baik buat nindy. Lagian paling juga seumur hidup bakalan sekali ini doank makannya. Hehehe.

Oiya, sila cek web-nya harvest, dan mari ngiler sama-sama… :d