Lebaran 1433H: Random Memories

Ini adalah random memories. Karena itu bahasanya kacau dan tidak mudah dibaca. :mrgreen:

Masa libur lebaran kumulai seminggu lebih awal karena mbak prih pulang dari tanggal 11. Aku ambil cuti 4 hari, sehingga lebih dari seminggu aku menjadi SAHM. Rasanya? Capek banget!! Soalnya belum terbiasa, lagi puasa, dan ada anak batita yang selalu full charge dan selalu harus diawasin. Saking capeknya, aku sempat beberapa kali berpikir untuk ngebatalin puasa, tapi urung terus setelah kupake tadarus. Aku berusaha mempertahankan rumah tetap perfect seperti ketika mbak prih ada, tapi tentu saja gagal total. Padahal nyuci baju dan nyapu ngepel lantai atas udah dibantuin mz nug. Setrikaan masih keteteran. Masakan masih banyak yang instan. Tapi kalo ngelupain capeknya itu, seneng juga stay di rumah kaya gitu. Ngurusin anak. Ngurusin tanaman. Jauh dari stres jalanan.

Nglihat senyumnya, menyegarkan. Nglirik tumpukan baju belum disetrika di sebelahnya, langsung muram.

*

Aku gagal memenuhi point ketiga resolusi Ramadhanku: khatam Quran. Waktu mulai cuti, aku baru sampai juz 14. Pontang-panting aku mengejar ketertinggalan hingga bisa dapat 2 juz tiap hari (padahal harus masak dan menjaga nindy). Keren banget nindy tetep anteng walau kutinggal baca Quran. Tapi walau dibantu nindy, target tetap tidak terkejar. Yang harus jadi perhatian:

  1. Aku lupa memperhitungkan waktu haidku yang hampir selalu bermasa 6-7 hari. Jadi kesempatanku mengkhatamkan Quran sebenarnya cuma 3 minggu.
  2. Aku lupa memperhitungkan load kerjaan kantor (sebenarnya ini tidak bisa jadi alasan sih)
  3. Aku lupa memperhitungkan waktu seminggu tanpa mbak prih itu. Capek banget pontang-panting ngejar target tadarus sementara harus mengerjakan pekerjaan rumah juga.

Jadi ya memang harus dikebut di awal. Ga boleh terlena kaya kemarin. Kalo ternyata khatam sebelum 10 hari terakhir? Ya kan berarti ibadah malamnya bisa diganti wirid atau apa, atau baca lagi surat-surat yang disukai sekaligus artinya. Sejujurnya selama ini aku memang belum pernah khatam Quran selama Ramadhan, kecuali ketika libur Ramadhan era Gus Dur dulu. Karena itu aku ingin sekali mengulanginya. Semoga aku masih berkesempatan bertemu Ramadhan tahun depan. Baru kali ini aku merasa begitu sedih ditinggalkannya (dari hati terdalam, bukan sekedar abang-abang lambe).

*

Ada insiden di hari terakhir mbak prih di rumah (11/08/2012). Pagi ketika mau mandi, mbak prih sedang menyiapkan air mandi sedang nindy ikut aku ke kamar mbak prih. Kutaruh ia di belakangku sementara aku menata baju ganti. Aku sadar dia berjalan ke luar kamar, tapi kupikir hal yang membahayakan paling cuma tangga yang kuperkirakan dengan kecepatan langkahnya, masih jauh lah dia dari tangga tersebut. Setelah kukira-kira dia sudah setengah jalan, aku keluar kamar untuk menutup pintu tangga. Saat itulah kulihat nindy ternyata bukan berjalan ke arah tangga, melainkan belok ke teko air panas yang rupanya ditaruh mbak prih di atas lantai! Terlambat! Nindy sudah menyentuh teko itu dan tersiramlah air panas ke kakinya.

Aku tidak mengira bahwa luka nindy akan parah karena saat itu aku tidak melihat bekas lukanya. Aku menolak keras saran mz nug untuk memberi odol dan menolak saran mbak prih untuk memberinya cuka. Aku hanya menyiram air dingin ke kakinya. Lagipula nindy juga sebentar saja rewelnya. Jadi kupikir tidak ada yang serius. Aku baru tahu sekitar pukul 10 pagi, ternyata luka bakar nindy memanjang di sepanjang betis kiri. Sudah melepuh dan berair pula! Sepertinya tadi dia sempat tersenggol tekonya juga. Langsung siang itu aku bawa nindy ke rumah sakit. Sayangnya DSA-nya tidak pro RUM. Aku tidak akan ke sana lagi. Dari 3 resep yang dituliskan, aku nekat tidak menebus puyernya. Sedang vitaminnya akibat keteledoranku lolos kutebus juga. Padahal harga vitamin itu lebih mahal dari harga salep bioplacenton yang merupakan obat luka bakar yang sesungguhnya. Huh! Tapi sudahlah. Pelajaran: harus lebih hati-hati dengan resep. Juga harus lebih hati-hati menaruh barang-barang. Tidak biasanya lho teko itu ditaruh di bawah. Kasihan nindy. Tapi alhamdulillah lukanya sekarang (23/08/2012) sudah mulai baikan.

*

Hari terakhir di rumah (17/08/2012). Packing dari pagi, sore baru kelar. Sudah siap berangkat, mz nug mencabut selang gas dengan maksud mengamankannya selama ditinggal. Ternyata karet di tabungnya rusak dan bocorlah gas itu. Ya Allah! Mana Jakarta lagi marak kebakaran. Tak terbayang kalo sampai kamilah yang menjadi penyebab kebakaran kompleks kami. Aku sudah gemeteran tapi setelah mengira-ngira bahwa bocornya itu sedikit-sedikit saja, aku menyuruh mz nug memindahkan tabung yang bocor itu ke ruang tamu. Perkiraanku di sana sirkulasi udaranya lebih bagus jadi kalopun gas-nya bocor sedikit demi sedikit, gas tersebut akan cepat ke luar rumah (saat mengetik ini aku baru sadar kenapa aku tidak menyuruh mz nug menaruh tabung itu di balkon atas saja yang udaranya lebih lega). Saat kami pulang (22/08/2012) kami menemukan tabung itu sudah kosong. Jadi benar gasnya telah bocor dan keluar sedikit demi sedikit ke luar rumah. Aku bersyukur tidak ada anak yang iseng melempar petasan ke teras karena bila masih ada gas pasti akan menimbulkan api. Sungguh, memang hanya Allah yang mampu melindungi. Aku menitipkan rumahku dan Dia telah menjaganya. Alhamdulillah.

*

Kami berencana mudik naik kereta bisnis Sawunggalih dari St. Pasar Senen. Kalo kita memegang tiket kereta api jarak jauh, kita bisa naik KRL/Commuter Line (CL) menuju ke stasiun pemberangkatan secara gratis. Jadi setelah naik bajaj ke St. Buaran, kami naik CL ke St. Jatinegara untuk transit CL ke St. Senen (sistem looping ini melelahkan ya). Di St. Jatinegara kami santai menunggu CL ke Senen sambil nyuapin nindy makan sore. Tapi sampai hampir magrib, kok ga ada CL yang singgah di Senen ya? Semua dibilang berjalan langsung. Akhirnya kami sadar bahwa mungkin selama lebaran tidak ada KRL/CL yang berhenti di Senen (dan aku baru baca pengumumannya di St. Juanda tadi pagi! :p yah, kan emang aku udah cuti di awal jadi ga tahu). Akhirnya kami terburu-buru naik CL jurusan Kampung Bandan, berhenti di St. Kemayoran, lanjut naik bajaj ke St. Senen. Sampai sana sudah hampir setengah tujuh malam sementara Sawunggalih dijadwalkan berangkat pukul 19.10. Ngos-ngosan banget malam itu. Belum sempat buka puasa. Lari-lari sambil nggendong bayi! T-T

Kereta terlambat berangkat setengah jam namun kami sampai di Kutoarjo pukul 05.00. Naik kereta ke Jawa Tengah selalu ajaib buatku yang biasa mudik ke Jatim dan biasa sampai di tempat tujuan siang-siang πŸ˜€ Sampai di Kutoarjo nyarter mobil sampe ke Njenar. Males naik Prameks sambil nyeret-nyeret koper. Hari pertama di Njenar, nindy cukup kooperatif walau hanya bisa dekat dengan Simbah Putri, Bulik Uut, dan Om Fuad. Tidak mau ndeketin yang lain dan malah nangis tiap dideketin Simbah Kakung. Efek jarang ketemu orang ya gini ini. Tapi kata Aziz malah bagus karena nindy jadi anak yang cukup selektif dan ga akan gampang diajak orang asing.

Hari kedua di Njenar, sholat ke masjid dekat SD mz nug dulu. Waktu mz nug memarkir motornya di halaman sebuah rumah, mas-mas yang sepertinya anak pemilik rumah tersebut mengajak mz nug salaman. Aku lihat wajahnya seumuran mz nug dan aku merasa cukup familiar dengannya. Waktu mz nug mendekat aku bertanya, apakah itu teman sekelas mz nug? “Lah, itu kan Tata, pemilik paper book dulu!” jawab mz nug. Ooww… aku lupa dengan atasan yang pernah menggajiku. Ya ampuunnn… (Dunia sempit sekali sih?)

Ini pertama kali nindy diajak sholat di luar. Jadi dia nervous dan sama sekali tidak mau lepas dariku. Walhasil daripada bikin ribut jamaah, aku merelakan diri tidak sholat ied. :p

*

Seusai sholat, kami bersiap pergi ke Mbah Nggunung di puncak Gunung Butak. Beliau Bapak dari Bapak (aku menyebut Bapak untuk bapak mz nug, dan menyebut Ayah untuk ayahku sendiri). Ketika pertama kali bertemu dulu aku kagum dengan ketampanannya (pasti mudanya cakep banget, hidungnya bagus). Kasihan beliau sekarang sudah tidak bisa turun dari kasur sementara simbah putri sudah lama meninggal. Kami berombongan 5 orang. Aku dan nindy dibonceng mz nug sementara Kati dibonceng Uut. Ternyata mz nug memilih jalur yang sama yang kami lewati jaman baru habis nikah dulu. Jalur penuh kelokan, turunan, dan tanjakan tajam. Di salah satu tanjakan tajam aku bahkan harus turun dari boncengan dan berjalan kaki sambil menggendong nindy.

Sampai di tempat Mbah Yut, nindy nangis kejer tiap didekatin ke Mbah Yutnya. Kasihan Mbah Yut. Padahal nindy kan buyut pertama. Akhirnya jalan-jalan di sekitar rumah. Nindy girang banget ketemu kambing, ayam, dan hewan-hewan lain.

Nindy di depan kandang kambing. Kambingnya gede banget sampe kupikir mereka bisa diperah susunya.

Lebih girang lagi pas ketemu pakliknya yang masih seumuran. Anak-anak bulik di sini memang masih kecil-kecil.

Ngikut kemana saja Lik Wan pergi

Saking antusiasnya, selama ditinggal abinya nyekar ke makam mbah putri, nindy benar-benar ga mau diam. Aku sudah khawatir dan ternyata benar: nindy kecapekan! Malemnya dia rewel sampe bingung mau diapain. Padahal malam itu kami harus melanjutkan perjalanan ke Malang. Oiya, sorenya di Njenar dikunjungi Mbah Yut Pangen. Tapi nindy mogok ga mau ketemu orang.

*

KA Malabar gerbong bisnis. Berangkat dari Kutoarjo sekitar pukul 11 malam. Di Kertosono dia ngetem selama 1 jam. Sekitar pukul setengah 5 pagi Nindy akhirnya bangun karena kegerahan dan tidak mau tidur lagi hingga kereta sampai di St. Kepanjen pukul 08.00! Sudah bisa ditebak, selama di Malang nindy benar-benar rewel dan benar-benar tidak mau lepas dariku. Walau lama-lama mau juga digendong Mbah Uti atau Lik Aziz, tapi begitu melihatku dia pasti menjerit-jerit minta gendong aku saja. Begitu pula ketika digendong abinya. 😦

Nindy baru bisa asyik main di malam terakhir ketika semua orang di rumah pergi menjenguk Pakdhe Nur di rumah sakit. Di Malang ga sempat pergi kemana-mana, hanya bersilaturahmi ke tetangga kanan-kiri karena takut nindy tambah kecapekan. Selama di Malang, nindy suka banget ketemu minthi (anak enthok/soang) dan bermain dengan Mas Nando (anak Mbak Erna, sepupuku).

*

Sriwijaya Air take off 09.00, landing 10.15. Di Soetta sempat ketemu Uut yang lagi transit mau ke Bengkulu. Bus Damri sampe Rawamangun 12.00, sampe rumah 13.00. Tepar!!

*

Sepertinya lain kali kami akan memilih mudik ke salah satu kota saja, entah Malang atau Purworejo. Gantian biar anak (-anak) ga kecapekan.

Iklan

5 thoughts on “Lebaran 1433H: Random Memories

  1. Ping-balik: Dua Hari Bersama Abi | Hujan Cahaya Bulan

  2. Ping-balik: Nindy 13 Bulan | Hujan Cahaya Bulan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s