Madre dan Komik 5 cm

Lama-lama kok jadi suka nulis buku apa yang sudah dibaca. Habisnya dua yang ini cukup berkesan sih :p

Judul: Madre (Kumpulan Cerita)

Penulis: Dee

Penerbit: Bentang, Cetakan kedua Agustus 2011

Tebal: 160 halaman

Kalo kemarin Filosofi Kopi gagal menawanku, kali ini Madre berhasil membuatku lupa diri sehingga tak menyadari sudah berada di nursery room selama hampir 1 jam (yah, cerita madre sendiri panjangnya hampir setengah buku). Aku suka semua isi buku ini. Manis, gurih. Menawan, indah. Walau lagi-lagi ada sedikit yang mengganjalku, tapi aku memilih untuk tidak mengindahkannya (Aku merasa gaya bahasa Tansen dalam blog enggak banget untuk ukuran laki-laki. Mungkin karena memang aku jarang membaca blog laki-laki yang isinya curhatan) Terseru: Madre. Paling menyentuh jiwa: Perempuan dan Rahasia.

Judul: (komik) 5 cm

Penulis: Is Yuniarto, Donny Dirgantoro

Penerbit: Grasindo (PT Gramedia Widiasarana Indonesia) Cetakan kedua Oktober 2011

Tebal: ga tau (hampir sama dengan tebal Madre)

Pernah baca novel 5 cm? Pernah. Isinya apa? Lupa! Aku baca 5 cm sebelum buku ini booming dibicarakan orang. Aku suka, tapi ga fanatik. Makanya ceritanya berlalu begitu saja dari ingatan. Dengar-dengar 5 cm akan difilmkan dalam waktu dekat. Oleh karena itu waktu nemu komik ini di perpus, aku langsung pinjem. Lumayan menyegarkan ingatan akan alur cerita 5 cm karena ternyata aku beneran salah inget semua alurnya. Lagipula 5 cm bukan buku yang bagus diinget alurnya, tapi lebih penting dipahami isinya. Banyak quote super. Banyak hal yang menggugah kesadaran. Itulah kekuatan 5 cm. Tentang komik ini, aku suka tipe gambarnya. Bersih. Dan tiap tokohnya digambar dengan karakter yang spesifik. Namun memang aku setuju bahwa untuk ukuran komik, ceritanya terlalu datar. Yah, susah lah menerjemahkan buku penuh makna ke dalam komik. Komik butuh alur yang seru dan itu memang tidak ada di novel 5 cm.

Iklan

2 thoughts on “Madre dan Komik 5 cm

  1. Aku suka Madre, tapi kayaknya ga seterpukau Nur, deh. Pas selesai baca, aku merasa seperti abis baca Filosofi Kopi. Ini ngomongin yang cerpennya itu sendiri (atau novelet?).

    Tapi sebagai penyuka karya Dee, baca berulang kali pun tetep suka. 😀

    • Mungkin lagi dapet momennya kali ya?! seperti yg kutulis, sebenarnya (seperti biasa kalo aku baca Dee) aku merasa ada yg sedikit mengganjal yg aku ga setuju or ga terlalu suka, tapi aku lebih memilih untuk tidak mengindahkannya :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s