Hidup Komik Indonesia!

Sekitar tiga minggu lalu aku kena racun. Berawal dari baca postingan Lilis di sini, aku masuk ke satu link yang tercantum di sana dan… inilah dia racun yang membuatku lupa waktu selama beberapa saat: MAKKO. Dunia perkomikan Indonesia. Maka selamat tinggal tumpukan kerjaan… (kemudian panik karena jadwal penilai belum pada fixed)

Kesanku: Subhanallah! Keren-keren banget!! Rasanya sudah lama sekali aku tidak membaca komik. Err.. komiknya Beni Mice dan komik-komik dari novel (5 cm, kambing jantan) tidak termasuk ya. Maksudku komik yang beneran punya cerita sendiri dan beralur cukup panjang. Hampir 4 tahun tidak membaca komik semacam itu. Luar biasa mengingat dulu aku sempat bela-belain jadi penjaga persewaan komik demi tujuan tidak mulia semacam “dapat membaca komik-komik baru secara gratis”. 🙂

Dalam tulisannya Lilis cerita bahwa di pameran tersebut dia sempat membeli Mantra karya Azisa Noor. Di Makko juga ada Mantra. Tapi sekilas baca kok aku pusing dengan model gambarnya. Akhirnya kuputuskan untuk membaca “Kentang” terlebih dahulu.

Komik yang ceria. Ga nyangka kehidupan SMK bisa tampil begitu menarik. Andai Diknas tahu, mungkin komik ini bisa dijadikan salah satu media promosi SMK (kan lagi gencar tuh). Dengan gaya penceritaan yang ringan, terus terang komik ini sangat mengingatkanku pada Miiko. Miiko yang sedikit gendut tapi ceria dan baik hati. Tokoh Pandu pun mirip dengan Teppei: pendiam dan diam-diam tertarik pada si Kentang. Hubungan mereka pun mirip dengan jalan cerita Miiko. Pertemuan-pertemuan tidak terduga. Kebersamaa-kebersamaan tidak terduga. Walaupun masih belum lepas dari bayang-bayang manga, aku suka banget cara komikusnya menempatkan panel-panel. Bersih dan sekali lagi: menarik. 🙂

Satu yang sedikit menggangguku adalah pemilihan nama Kentang. Aneeehh… Kalo di Jepang sih nama dari buah atau sayur mungkin biasa kali ya.. Mikan (jeruk), Ichigo (strawberry), Kakaroto (wortel, nama lain Sungoku). Tapi Kentang?! Hmm…

Setelah ketawa-ketiwi dengan Kentang, aku meneruskan membaca komik selanjutnya yang kupikir adalah komik pertarungan seserius Samurai Deeper Kyo: Raibarong.

Dan aku salah! Raibarong lebih mengingatkanku pada Flame of Recca. Dengan senjata api yang keluar dari tangan, bola-bola api yang bisa ditembakkan, juga seringai mirip Kurei. Memang sih sekilas tokoh antagonisnya mengingatkanku pada si cakep Yukimura Sanada, sama-sama hobi flirting juga. Tapi yang membuatku menobatkan komik ini sebagai komik terfavorit diantara komik-komik Makko lainnya adalah: gaya ceritanya lucu banget! Awalnya sih aku merasa guyonannya garing. Tapi kok kesini-sini aku malah jadi ngefans sama Alex Irzaqi. Ayo mas… teruslah berkarya! *kibarinpom-pom

Lanjut ke komik berikutnya. Masa-masa di STAN selera komikku bergerak ke arah komik-komik dengan genre dewasa. Bukan karena pornografi, tapi karena untuk mengerti ceritanya butuh mikir. Komik-komik semacam Say Hello to Black Jack dan 20th Century Boys selalu kutunggu-tunggu terbitnya. Nah, “5 Menit Sebelum Tayang” ini menyuguhkan alur cerita seperti Black Jack: kisah seorang yang biasa saja, bukan pahlawan, dengan kesehariannya yang juga biasa saja. Konflik berputar di sekitar pemikiran sang tokoh, juga ketegangan-ketegangan kecil di sekelilingnya. Aku suka…

Setelah bersenang-senang dan merefresh ingatan dengan komik-komik yang masih berciri manga, mari memberanikan diri membaca komik yang seperti lukisan ini: Mantra.

Entah apa yang membuatku merasa pusing membaca Mantra. Mungkin karena teknik pewarnaannya yang seperti memakai cat air. Ceritanya juga kurasa “nanggung”. Tapi komik ini tetap patut diacungi jempol mengingat gaya-nya yang hampir bebas dari ciri manga.

Berlanjut ke “serial cantik”: Hearts. Komik ini kuat di gambar (tekniknya bagus, goresannya halus dan rapi) tapi tidak di alur cerita. Padahal sebenarnya ide ceritanya cukup unik dan mencoba memberikan pandangan baru bahwa “jadi girlband itu susah lho!”. Tapi ya gitu, intriknya terasa biasa saja, alurnya kurang greget, dan endingnya walau sudah mencoba menghadirkan kejutan, ternyata malah membuatku menepuk jidat. Ah, gapapa deh. Paling nggak sudah puas mantengin cewek-cewek cakep di tiap covernya. :p

Komik terakhir yang kubaca: Knight of Apocalypse. Aku cukup kagum dengan imajinasinya akan masa depan, walau sebenarnya sudah cukup banyak ya komik/cerita tentang masa seperti itu.

Ada juga komik lepas berjudul “Barong dan Putri Bunga” yang membuatku ingat komik-komik tentang hewan peliharaan. Lucu banget melihat detail gerakan si barong. Komik lepas lainnya berjudul “Komik Spesial” merupakan satu episode tentang perayaan 1 tahun Makko. Ditulis oleh semua penulis komik yang mengisi Makko dan menghadirkan semua tokoh yang ada, tetaaapp yaaa… favoritku ya si Raibarong. Ihh… kamu kok nggemesin banget seh…

*pukul pake palu

*gapapa kan dia boneka, kuat lagi

*dibakar pake Kresna

*udah ah, balik kerja sono!

Iklan

4 thoughts on “Hidup Komik Indonesia!

  1. Temen SMAku juga ada yang bikin komik di Makko, tapi judul komiknya ga ditulis di sini. Judulnya Wanara. Dulu aku pernah baca-baca, tapi karena ga gitu tertarik sama komik, yaa akhirnya ga pernah ngikutin lagi deh.. Hehehe..

    • waaahhh… salah satu komikus makko teman SMA-mu? keren euy…

      Iya, list di atas subyektif cuma komik2 yg sudah kubaca. Aku juga sudah baca wanara sekilas, cuma agak pusing ngliat gambarnya jadi sampai sekarang belum kelar baca.

  2. Ping-balik: Tahniah! | Hikari no Monogatari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s