Sekedar Merenung: Arti Ngeblog

Entahlah, kok tiba-tiba merasa galau. Sebenarnya ngeblog itu buat apa sih?!

Dokumentasi?

Share pengalaman?

Menjalin pertemanan sesama blogger?

Beberapa hari kemarin aku terjangkit virus iri. Iri melihat seseorang ternyata sudah sukses di suatu hal yang sangat kuinginkan. Lah, dia kan cuma cerita di blog pribadi? Bukan berkoar kemana-mana. Lalu kenapa aku harus iri?!

Namun aku jadi teringat dengan blog-ku sendiri. Apa yang kutulis di sini rata-rata hal yang indah-indah saja. Walaupun memang sengaja biar aku ga nginget-nginget hal yang sedih-sedih, tapi bagaimanakah perasaan orang lain yang membacanya? Potret kehidupan keluarga yang bahagia, rumah yang tampak rapih, acara masak-memasak yang seolah-olah selalu sukses. Semacam penipuan publikkah ini?

Padahal aku kadang masih suka menggosongkan makanan. Aku juga masih sering bertengkar dengan mz nug. Rumah sering tampak seperti kapal pecah. Dan nindy pun sesekali mengalami masa yang bikin frustasi.

Aku bukan orang sempurna. Keluargaku bukan keluarga sempurna. Lalu kenapa aku menampilkan seolah-olah semua hal di diriku adalah sempurna?!

Aku memang ingin mendokumentasikan perkembangan nindy. Tapi bagaimanakah perasaan orang di luar sana yang sedang trying to conceive?! Karena itu aku mulai menghilangkan postingan-postingan khusus tentang nindy. Beberapa perkembangan terbarunya lebih suka kutulis di diary pribadi.

Jika dirunut ke awal, tujuan semulaku ngeblog adalah berbagi ilmu soal kesehatan dan segala hal yang kutahu. Apa mungkin ini semua karena aku sudah melenceng jauh dari tujuan awal itu?

Entahlah. Rasanya memang membingungkan.

*galau

*labil

Kimochiii…

Wah, sebenarnya agak lupa apakah kata-katanya benar seperti itu. Sudah lama ga nonton dorama nih… (timpukin kiki yang ngeracunin dengan korea-koreaan) Intinya sih bahagia yang menyenangkan gitu… (senyum dengan kedua tangan di pipi ala JKT48) :mrgreen:

#1 yorokobi: Nindy anteng pas sholat Ied

Kalo dulu sempat gagal sholat Ied gara-gara nindy yang tiba-tiba merajuk ga mau dilepas, kali ini Alhamdulillah bisa ikutan sholat. Dia cuma ngabur meluk kakiku pas orang-orang serempak bilang “amiinn…” di rokaat pertama. Rokaat selanjutnya lancar jaya. Faktor usia yang makin gede dan banyaknya kenalan di tempat sholat (sebelah kiriku mbak prih, sebelah kananku kak Agni, di pojok belakang ada mama Adit dan mama Agni)

Nindy dipangku kak Agni

#2 yorokobi: Kue buatan abi

Enaaak… Hari Sabtu mz nug tiba-tiba iseng bikin kue. Dari nimbang-nimbang bahan, ngocok pake mixer, sampe nyiapin panci kukusan (tutupnya harus dilapis serbet bersih) semua dilakukan sendiri. Aku cuma sumbang saran tips umum bikin roti kukus dan mengecek kematangan kuenya. Kata mz nug nama kuenya tiwul ayu, tapi tiwul yang ini dibuat dari terigu bukan singkong. Rasanya enaaak banget apalagi kalau pas masih anget. Makannya sambil dicocol ke parutan kelapa muda yang ditaburin sedikit garam. *ngeces

Bahkan aku ga tahu resep kue ini

#3 yorokobi: Denting furin di teras

Kalo suka jejepangan pasti tahu kliningan yang sering muncul dalam adegan musim panas. Lonceng angin aka furin ini kubeli jaman masih gadis dulu (belum punya calon suami pula) di The Daiso Artha Gading dengan tekad: dia hanya akan dipasang ketika aku sudah punya rumah sendiri. Alhamdulillah, akhirnya bertengger juga tuh furin di rumah gang kelinci kami.

Note: Tentu saja kehidupan tak melulu berisi hal menyenangkan. Tapi cukuplah hanya mengingat yang menyenangkan saja, sehingga hati kita menjadi tentram.

Black Period: Antara Pelit dan Belajar Sabar

Sejujurnya walau SEPERTINYA aku lumayan ketat soal urusan uang, SEBENARNYA hal itu hanya kulakukan saat aku sempat bikin catatan pengeluaran. Kalo lagi ga bikin, ya loss loss aja.

Seperti bulan ini karena aku mulai mencoba lagi cara baru mencatat pengeluaran yang lebih enak buatku (ganti-ganti metode terus nih *labil) aku jadi tahu bahwa alokasi dana buat transport sudah over budget sejak akhir minggu lalu. Ini gara-gara aku yang seharusnya hanya menggunakan KRL/bajaj/ojek/metromini, sok-sokan pulang naik taksi selama 2 hari dengan alasan ketinggalan kereta terakhir (kereta terakhir sudah lewat tapi kan ada busway nur… *pemalas -eh tapi kan demi keamanan, lagian nindy sakit jadi harus buru-buru nyampe rumah- *ngeles). Jadinya kemarin ketika aku ngabur ke itc siang-siang, walau sudah kepepet waktu tetap saja aku naik metromini. Pun karena tahu alokasi dana untuk pengeluaran tak terduga sudah lewat pagu (nah lho, jadi apa sih yang ga lewat pagu?!), terpaksalah diriku membeli sepatu yang seharga Rp35.000 saja (mbalik jaman kuliah nih).

Apakah aku stres dengan hal ini?! Sepertinya tidak. Aku malah senang karena dapat melihat semuanya dengan jelas. Catatan itu lumayan membantuku menetapkan kebijakan-kebijakan, semacam bahwa memang tidak seharusnya aku belanja daging tiap minggu (tanpa melupakan kebutuhan nutrisi nindy). Juga bahwa aku ga punya dana buat beli TV walau sudah berbulan-bulan TV di rumah ga mengeluarkan suara sama sekali (belajar baca gerak bibir). Bahkan aku minta nindy bersabar walau aku tahu dia sudah mupeng setiap kali melihat Irsyad jalan-jalan dengan sepeda baru (insyaallah, bulan depan ya nduk… doakan honor tim segera cair)

Selama ini setiap kali loss dengan pengeluaran, aku justru sering merasa bersalah. Iki dana darurat kok ga mbalik-mbalik iki piye?! (habis terkuras pasca operasi). Mungkin memang pada dasarnya aku pelit. Tapi kali ini aku menyadari sesuatu. Jika dilihat lagi ini bukan pelit kok. Kebutuhan dasar masih terpenuhi, bahkan masih juga beli baju dan sepatu nindy, juga jas hujan axio untukku yang lumayan mahal itu (135ribu). Ini adalah tentang bersabar. Bersabar dengan menunda apa yang kita inginkan. Tidak semua yang kita inginkan bisa langsung kita dapatkan bukan?!

Dengan bersabar, kita jadi lebih menghargai apa yang kita beli. Aku bersyukur “rasa” itu mulai kembali padaku. Rasa ketika semua hal didapat dengan susah payah. Sama seperti jaman kuliah atau awal-awal masuk kerja.

Seperti kemarin, aku sudah mutung dan berkata: tidak mungkin kita bisa kurban tahun ini. Dananya ga ada. Eh, tiba-tiba hari Senin honor DL Surabaya cair (padahal biasanya cairnya lama). Besarnya persis sama dengan harga seekor kambing. Namun setelah berdiskusi dan rupanya mz nug lebih sreg kalo kurban di kampung saja, jadinya harus nambah 300ribu lagi karena harga kambing yang layak di Malang ternyata lumayan mahal. Alhamdulillah, mz nug punya uang untuk menutup kekurangannya. *nyengirlebar Bahkan kemudian aku juga dapat honor lain dengan nilai persis sama: 300ribu *umpetindarisuami :mrgreen:

Sebentar nur, suamimu kan di pajak? Fungsional lagi! Kok masih pusing masalah uang?

Yah, seperti yang kubilang di sini, tanggungan setiap orang berbeda-beda. Jujur kuakui kadang aku masih suka hilang kendali, marah-marah ga jelas di diary atau curhat habis-habisan ke ibuk. Tapi omongan mbak prih menyadarkanku: Jarang sekali ada anak pertama yang begitu bertanggungjawab seperti mz nug.

Aku juga tersindir ucapan Nabi Ismail: Lakukanlah Ayah. Sesungguhnya Kau akan menemukanku termasuk golongan orang-orang yang sabar.

Aih, jleb banget! Masak iya punya suami yang berbuat baik malah ga didukung?! Aku jadi ingat ketika nindy keracunan dan aku masih di Surabaya, mz nug ga punya uang untuk bawa nindy ke rumah sakit. Lah?! Padahal kan tiap bulan, cicilan utang dan bagianku cuma setengah lebih dikit dari penghasilannya. Aku sampai marah-marah dan menyuruhnya untuk lebih memikirkan diri sendiri. Padahal memang begitulah mz nug, orang yang selalu lebih memikirkan orang lain *nulissambilmewek

Jadi terserah lah apakah aku memang termasuk orang yang pelit. Sedang insyaf nih! Sedang semangat jungkir balik mikir keuangan keluarga dan mengikhlaskan mz nug berbuat kebaikan. Semoga setiap kebaikan kita dicatat oleh-Nya. Amin.

 

BTW, saya lupa kalau kemarin saya milad (lupa ga puasa juga deh). Met milad buat diri saya sendiri. Semoga lebih istiqomah di jalan-Nya. Amin…

Habibie & Ainun

Saya BARU mengagumi Pak Habibie setelah membaca buku ini.

Lah?! Pak Habibie kan idola anak-anak nur?! Masak kamu ga kagum sama orang yang bisa bikin pesawat?!

Yah, jawabannya sesederhana saya dulu tidak tertarik dengan iptek. Saya lebih kagum dengan orang-orang yang bergerak di bidang kemanusiaan semacam Mahatma Gandhi, Helen Keller, Bundha Theresa, dll. Lagipula cita-cita saya bukan jadi pilot/astronot. Dulu cita-cita saya jadi PNS (dan sekarang terkabul) :mrgreen:

Baru setelah membaca buku ini saya sadar: Pak Habibie juga manusia (emangnya dulu apaan?!) Bahwa beliau pernah terpuruk, takut, kecewa, marah, sama seperti kita. Kalo dulu kan kesannya beliau orang pinter. Titik. Padahal kalau mau membaca kisah hidupnya, banyak hal menakjubkan di sana.

Lahir dari keluarga terpelajar (hmm, menarik bahwa beliau ternyata bukan anak orang miskin trus naik jadi orang kaya -nyindir buku orang lain- -ntar deh cerita-), perjuangannya untuk meraih apa-apa yang kita lihat sekarang, cintanya pada istrinya yang beliau sebut dengan “cinta yang murni, suci, sejati, sempurna, dan abadi” (rangkaian kata ini muncul lebih dari 10 kali -sempet bosen tapi ya kan perasaan Pak Habibie kayak gitu-), pemikirannya terhadap berbagai hal, harapan-harapannya, cita-citanya. Saya menyebut buku ini “PENUH”. Banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dan hal-hal yang bisa kita renungkan.

(ini maunya bikin resensi atau apa sih, kok ga jelas gini)

Baiklah karena terbatasnya waktu (oh, ayo cepat selesaikan sebelum ditagih laporan) saya hanya mau mengutip beberapa hal yang menarik sebelum buku yang luar biasa ini saya kembalikan ke perpustakaan (sudah ditagih je). Maaf juga kalo nyupliknya dari belakang. Yang bagian depan isinya perjuangan keluarga selama di Jerman. Menarik juga, dan ada yang terus saya ingat, tapi mau nulis takut ga sempat.

Saya menyampaikan kepada mereka: “Anda sudah operasi istri saya 12 kali dalam 4 minggu dan hasilnya makin memprihatinkan. Apakah jikalau isteri saya dioperasi lagi anda dapat menggaransi keadaan Ainun lebih baik? Jikalau Anda memberi garansi membaik maka saya dapat menyetujui isteri saya dioperasi lagi untuk ke 13 kalinya.”

Jawaban mereka : “Kami tidak dapat memberi garansi.” “Kalau demikian apa gunanya Anda mengoperasi isteri saya lagi? Saya tidak dapat menyetujui anda operasi isteri saya lagi. Saya serahkan kepada Tuhan YME. Saya hanya memohon kepada anda semua untuk tidak memberi rasa sakit kepada isteri saya. Demikian putusan saya.”

(disini saya mewek)

Tiba-tiba sekitar pukul 13.00 wajah Ainun muncul di sudut mata saya dan perasaan gelisah dan keprihatinan saya meningkat. Saya segera menghentikan diskusi dan minta maaf, karena saya harus berkonsentrasi memanjatkan doa untuk Ainun yang sedang dioperasi…

Kemudian Prof.Dr.Burges menjelaskan. “Sekitar pukul 13.00 kami mendapat masalah, keadaan menjadi kritis karena terjadi pendarahan besar pada saat pembersihan tumor…”

“Untung ada Tuhan. Untung saya percaya dan yakin ada Allah SWT. Untung saya mampu memanjatkan doa dengan bahasa getaran nurani penuh dengan keyakinan akan didengar oleh Allah SWT. Untung ada agama. Untung saya dan Ainun sangat religius. Kalau tidak mungkin susah kami atasi ini semua.”

(betapa kuatnya iman Pak Habibie dan betapa kuat sambungan batinnya dengan istrinya)

Saya bertanya: “Bagaimana Anda peroleh tiket ini jikalau sebelumnya semua sudah dijual?” Jawaban kepala perwakilan Lufthansa singkat: “Setelah saya sampaikan keadaan ibu Ainun dan masalah yang dihadapi, maka secara spontan enam penumpang mengundurkan diri. Mereka semua bukan warga negara Indonesia.”

(bahwa kemanusiaan tidak mengenal SARA, ini tentang hati nurani)

Lalu saya bertanya: “Mengapa warna putihnya tidak merata?… Mengapa begini?” Dr. Pulunggono menjawab dengan sangat berhati-hati: “Saya bukan ahlinya Prof. Saya hanya ahli MRI.” Lalu saya berkata: “Menurut textbook anda kalau ada gambaran seperti ini, artinya apa?” Dr. Pulunggono menjawab dengan nada amat hati-hati dan sopan: “Kanker ovarium stadium 3 atau 4, Prof.”

(ini kalo di film pasti jadi adegan klimaksnya)

Darah daging saya memang engineer. Saya meng-engineering politik, ekonomi, dan sebagainya sehingga dapat diselesaikan sesuai jadwal yang telah saya tentukan.

(Jadi bukan hanya Gus Dur yang katanya terlalu canggih untuk Indonesia. Cara pemikiran Pak Habibie pun kurang bisa dimengerti oleh orang awam. Tapi saya kagum. Kalau jaman dulu orang bisa rangkap-rangkap ilmunya: ahli matematika, filsuf, astronomi, dst. So, ga masalah donk kalo Pak Habibie melihat ekonomi dan politik berdasar ilmu yang beliau kuasai. Kalopun ternyata salah, seenggaknya beliau sudah berusaha)

Berulang kembali pertanyaan pada diri saya lagi, mengapa untuk kepentingan pengamanan, seluruh keluarga saya harus berkumpul di satu tempat? Apakah tidak lebih aman jikalau keluarga saya masih tetap berada di satu tempat? … Saya mulai berfantasi, saya ingat nasib keluarga Tsar Romanov dari Rusia yang semuanya dibunuh di satu tempat dalam revolusi kaum Bolshevik.

(Tuh kan, Pak Habibie juga manusia. Bisa takut, parno, bahkan ngayal yang enggak-enggak)

Tetapi Pak Harto berpikir, ketika bangsa Indonesia tinggal landas untuk memasuki abad yang akan datang, itu berarti membutuhkan waktu 25 tahun. … Jadi kalau dia memberikan kepercayaan kepada seseorang yang berumur bukan 37 tahun tetapi 47 tahun, maka dapat dibayangkan 25 tahun kemudian usia orang tersebut mencapai 70 tahun. Jadi, perhitungan Pak Harto tersebut sangat masuk akal…

(Pak Habibie ketika ditunjuk untuk memimpin pengembangan SDM dan iptek di Indonesia, merasa kurang pede karena menurut beliau ada beberapa orang yang lebih lebih berpengalaman -namun ternyata lebih sepuh-. Ah, saya LAGI-LAGI kangen Pak Harto)

Tanggal 23 Januari 1993, saya selaku Ketua Badan Pembina Yayasan Abdi Bangsa dari ICMI, menerbitkan dan meluncurkan Harian Umum Republika… Harian Umum Republika juga berhasil mengeluarkan lembaga mobilisasi dana “Dompet Dhuafa”… ICMI juga mendirikan Bank Muamalat Indonesia… demikian pula Asuransi Takaful…

(wow, semua wajah Islam modern lahir dari peran serta Pak Habibie?! *menjura)

Organisasi multirateral seperti Bank Dunia dan IMF didirikan untuk membantu terciptanya dunia yang tentram. Namun sangat disayangi kebijakan yang diambil memanfaatkan “standar ganda” yang disalah artikan oleh politik sesaat kelompok kecil saja antar negara yang tidak menguntungkan sesama manusia yang semakin erat ketergantungannya.

(oh well, saya tahu IMF busuk tapi ga nyangka kalo sebusuk ini… ah, ga tega nyeritainnya. Baca sendiri deh! *menangisi-nasip-Indonesia)

Pada IAS’96, N-2130 akan diperkenalkan sebagai pesawat 130 penumpang berkecepatan tinggi di daerah transonic, yang digerakkan oleh dua mesin jet dan akan terbang perdana pada bulan Agustus 2002 sebagai tanda Indonesia tinggal landas memasuki era globalisasi. Karena itu perkenalan N-2130 pada IAS’96 di Cengkareng Jakarta, ditanggapi oleh dunia industri dirgantara sangat serius.

(Indonesia pernah berjaya! Indonesia pernah hampir jaya! Tapi itu duluuu… -nangis lagi-) note: IAS-Indonesia Airshow

Eh, udah jam 11 aja. Udah dulu deh. Keburu ditelpon lagi sama perpusnya. Komen sebagai penggila buku:

  1. Pak Habibie sukses deh bikin novel. Walau agak lambat dan penuh pemikiran di awal, begitu hampir selesai alurnya kebut-kebutan. Klimaksnya cakep banget. Bikin pembaca deg-degan lho pak…
  2. Eh, ini ada editornya ga sih?! Saya agak susah payah baca tanda-tanda baca yang ga lazim. 😦

Oiya, saya sengaja ga terlalu nyorotin kisah cintanya. Bukan ga menarik, tapi pasti bakal diungkapkan habis-habisan di film. Sedangkan pemikiran-pemikiran yang “penuh” itu saya yakin tidak akan mampu terungkap dengan baik di filmnya (saya nulis plek-plekan saja tidak mampu menyampaikan kembali dengan baik, hiks). Jadi buat yang penasaran dengan kisah cintanya, silahkan nonton filmnya saja. 😀

Beberapa Status

Beberapa pemikiran yang ingin banget ditulis di status fesbuk, tapi tak bisa/tak sempat terpublish:

Alih-alih memberikan uang yang nanti jatuh ke bosnya, mending berikan susu UHT kepada para pengemis cilik (gerakan moove it!). Barusan lihat seorang tukang bajaj memberikan aqua gelas ke pengemis cilik, langsung diminum. Yang demikian lebih bermanfaat. Apalagi jika itu sekotak susu. 🙂

Sering banget ketemu beberapa anak muda sore-sore gini main bola di pelataran monumen perjuangan perempatan stasiun Senen. Entah mereka terpelajar atau tidak, tapi melihat mereka jauh lebih menentramkan daripada melihat pelajar tawuran. :p

Lihat sapi qurban-> ingat sapi gelondongan. Tega banget orang yang membunuh sapi dengan cara sadis seperti itu. Semoga mereka mendapat balasan serupa! Eh, tapi aku kan juga suka bergosip. Malah lebih sadis-> makan daging orang mati! Astaghfirullah…

Jakarta itu keras! Makanya seneng banget kalo ketemu orang sedaerah. Berasa menemukan oase di padang pasir (barusaja disapa pengemudi motor yang ga dikenal hanya gara-gara plat motor kami bernomor AA) :’)

Akrab dengan tetangga tentu saja ada ga enaknya. Ga semua orang itu baik/berprilaku normal. Tapi dibanding ga enaknya, kayane lebih banyak enaknya deh! (edisi njemur kasur di atap tetangga) 😀

K-Drama: Nonton atau Baca?!

Nur nonton K-drama? Sejak kapan jadi korean lover?

Belum lahh… aku masih setia mengklaim diri sebagai japanese lover. Ini gara-gara pas cuti pasca operasi dulu, di rumah jadi suka makan siang sambil nonton K-drama yang lagi tayang. Kebetulan dramanya memang bagus banget. Judulnya “The Moon that Embraces The Sun”.

Nah, berhubung masa cuti berakhir, aku tidak bisa lagi nonton kelanjutan drama ini. Penasaran dengan lanjutan ceritanya, isenglah aku mencari sinopsis drama tersebut. Aku pun nyasar ke blog mbak fanny, dan mulailah aku berkenalan dengan istilah baru dalam hidupku: recaps.

Bagiku, recaps bukan sekedar sinopsis. Hampir per adegan diterjemahkan, bahkan kalimat yang penting ditulis lengkap, disertai dengan foto-foto pula. Jadi berasa nonton langsung. Aku sangat kagum kepada para recap-ers ini, kok telaten bener ya… Dari semua recap-ers aku paling suka mbak fanny karena kadang menyelipkan penjelasan tentang budaya korea, sehingga aku yang buta ini menjadi lumayan ngerti.

Keuntungan lain dari membaca recaps adalah ga terlalu buang waktu. Bayangkan kalo mantengin drama aslinya. Waktu sejam terbuang. Sementara kalo baca paling 10 menit sudah kelar. Pun asyik banget menikmati komentar recap-er dan komentar para pengunjung blog. “Whoo… iya, aku juga setuju. Ah nggak deh, ga kaya gitu deh.” Jadi seru karena langsung terbentuk komunitas sendiri.

Seterusnya?! Aku ketagihan donk… Lanjut ke K-drama berikutnya: BIG

Dari BIG aku berkenalan dengan recap-er Miss Koala yang ampuuunn deh… kenapa sih susah banget ngerti english yang dia pakai?! Kadang aku  ngikutin blog orang asing tapi entah kenapa dengan miss koala aku selalu mengalami kegagapan bahasa. Padahal foto-fotonya keren, ceritanya akurat, dan up-date nya cepet banget. Walhasil biasanya kalo aku kesusahan, aku suka buka dulu blog clover blossom untuk lihat recaps singkatnya, baru konfirm isinya ke koala. Kok belibet banget?! Soalnya walau mbak hazuki juga cepet up-datenya, tapi untuk cerita kadang dia suka keteteran. (maaf ya eonni…)

Gara-gara BIG, akhirnya ada satu lagi om-om yang masuk ke list om-om favoritku (sejenak melupakan haido) 😀 Ah, Gong Yoo oppaaa…aku padamu…

Tsakeepp bengeuud dah… sluuurpp…

Saat ini aku lagi ngikutin ceritanya Nice Guy. Setiap episodenya seru dan bikin deg-degan. Sayang, wajah imut Soo Jong Ki tak bisa membuatku jatuh cinta *penggemar-om2-tingkat-akut :mrgreen:

Jadi, nonton atau baca?! Ya baca donk… secara kalo udah punya buntut gini enggak mungkin lagi hari minggu autis nonton drama. Ihiks!