KDRT

Saat melihat/mendengar/membaca tentang kasus KDRT melalu media, apa yang kamu pikirkan? Kasihan? Gemas dengan orang-orang sekitar yang tak mau menolong? Muak dengan masyarakat yang seolah acuh? Tapi percayalah kawan, saat KDRT itu benar-benar terjadi di lingkunganmu, dilemanya akan jauh mengalahi dilema kesembilan anggota cherrybelle.

Itulah yang terjadi padaku. Sekitar seminggu yang lalu, mbak prih cerita bahwa si A, anak kelas 6 SD yang tinggal bersama tantenya, sebut saja mbak F, sudah beberapa hari disuruh tidur di luar karena mbak F menuduh si A mencuri uangnya. Bahkan saat hujan badai melanda Klender malam-malam (lantai atas rumahku saja sampai bocor saking derasnya), si A ini tidur di teras tanpa alas apapun. Mbak F bahkan menyuruh si A untuk mandi dan buang hajat di kantor RW yang jaraknya selisih 1 gang dari gang kami. Makan dan baju akan disediakan dan ditaruh di luar. Pokoknya si A ini ga boleh masuk ke dalam sampai dia mau mengaku bahwa dia yang mengambil uang itu.

Masih kata mbak prih, si A ga mau mengaku karena dia memang ga ngambil. Si A malah menuduh anak bungsu tantenya itu yang mengambil. FYI, mbak F sudah punya 2 anak perempuan masing-masing berumur sekitar 4 dan 2 tahun. Si bungsu memang sering usil mengambil barang-barang kemudian dibuang ke got. Aku sih berpikir, ya memang mungkin saja anak kedua itulah yang sudah mengambil uang dan lalu tanpa sengaja membuangnya entah kemana.

Tentang si A, dia sebenarnya anak dari kakak laki-laki mbak F. Ibu A lari dari suaminya ketika A masih kecil. Saking bencinya pada suaminya, dia ga mau membawa A bersamanya. Bapak A kemudian menikah dengan perempuan lain dan menyerahkan A pada pengasuhan F. Jadi mbak F ini dikatakan sudah mengasuh A dari bayi. Aku sendiri heran kemana rasa sayangnya terhadap anak yang sudah seumur hidup dibesarkannya sendiri itu. Dari cerita yang aku dengar, A ini sudah lama sering dipukuli oleh F. F dan keluarganya baru 3 tahun menghuni rumah di gang kelinci kami. Waktu awal aku pindah ke sana sekitar bulan April kemarin, aku sudah “mengendus” ada hawa pertentangan antara Bibi Ita, tetanggaku pas, dengan mbak F. Awalnya aku ga ngerti ada apa sebenarnya walau kadang aku ga suka dengan beberapa kelakuan mbak F. Kemudian ada yang bilang ke mbak prih kalo mbak F ini kejam. Tapi mbak prih ga percaya hingga muncul kasus terakhir ini.

Si A sendiri ga mau disuruh balik ke Bapaknya karena menurut dia, bapaknya jauh lebih kejam daripada tantenya. Astaghfirullah…

Begitulah cerita terus berkembang dan aku mendapatkan laporan dari mbak prih setiap hari. Aku sendiri belum pernah melihat secara langsung bagaimana si A tidur di luar, tapi memang aku pernah sekali melihat bantal di teras ketika aku berangkat ke kantor. Lama-lama si A mulai dipukuli mbak F ketika mau berangkat sekolah. Jika mbak F mengetahui ada tetangga yang memberikan makan kepada si A, dia juga akan memukuli si A. Si A masih les bersama Arya, keponakan bibi Ita. Tempat les nya jauh. Si A tidak diberikan uang transport maupun sepeda. Dia disuruh jalan kaki. Arya yang ingin memboncengkan si A di sepedanya, tidak berani melakukannya karena ternyata mbak F bersama suami dan kedua anaknya menguntit si A diam-diam dari belakang.

Oiya, sebagai klimaks dari semua ini, suami mbak F yang tidak melarang istrinya melakukan semua itu, dan sekarang malah mulai membantu perbuatannya istrinya itu, adalah seorang yang sangat alim, tidak pernah telat sholat jamaah di masjid, dan selalu rajin puasa senin kamis! Sungguh hanya Allah yang mengetahui isi hati tiap orang…

Terus apa yang dilakukan para tetangga melihat semua ini?! Mbak prih bilang sudah ada yang melapor ke RT, tapi dari RT tidak ada tindakan. Ibu W, tetangga sebelah rumah mbak F yang sudah sepuh dan dituakan, mencoba menasehati mbak F namun malah dilarang ikut campur urusan orang. Ketika ditanya apa ga takut si A sakit? Mbak F malah menjawab malah enak kalo si A sakit, jadi dia punya alasan untuk mengembalikan si A ke bapaknya. Heemmm… Akhirnya yang bisa ibu-ibu lakukan hanya mengasingkan mbak F, mengacuhkan kehadirannya, atau tidak menyapanya. Tapi sepertinya hal itu tidak akan berpengaruh baginya karena dia lebih sering jalan-jalan bersama suami dan kedua anaknya.

Aku sendiri tidak bisa membantu apa-apa. Aku sudah mencoba membuka website komnas perlindungan anak, tapi keder begitu melihat form pengaduan yang harus diisi lengkap. Aku seorang pengecut. Aku tidak punya bukti dan tidak pernah melihat dengan mata kepala sendiri. Selama ini aku hanya mendengar dari cerita mbak prih dan juga perbincangan dengan bibi Ita. Aku tidak berani mengambil resiko sampai aku membuat laporan yang salah dan keluarga mbak F malah balik menuduhku mencemarkan nama baik. Aku masih punya anak kecil, kawan. Resiko hukum seperti itu tidak berani kuambil dengan pengetahuanku yang minim di bidang hukum dan rasa ketidakpercayaanku yang besar pada pengadilan di negeri ini. Apalagi si A tidak pernah menampakkan sedih atau depresi. Bisa saja di hadapan pihak-pihak berwenang nanti dia malah membantah kalo tantenya sudah menganiayanya. Habislah aku!

Setelah kegalauan yang melandaku berhari-hari, bahkan aku sampai menggelar forum di ruangan demi meminta pendapat rekan-rekan kerjaku yang bertitel SH, semalam alhamdulillah aku mendengar kabar baik bahwa si A sudah diperbolehkan masuk rumah setelah suami mbak F dinasehati oleh tetangga yang merupakan mantan gurunya.

Begitulah. Aku berharap semoga happy ending, walau aku ga yakin dengan harapanku. Kamu tahu? KDRT itu seperti lingkaran setan. Pelaku yang tidak pernah bisa berhenti, pelaku yang menularkan perilakunya kepada orang di sekelilingnya, dan korban yang nantinya akan menjadi pelaku berikutnya. Sudah terbukti, si A yang kupikir tidak pernah menunjukkan depresinya, ternyata di sekolah sering memukuli temannya sehingga mbak F sering dipanggil ke sekolah. Sampai kapan hal semacam ini akan berakhir?!

-dilema-

Iklan

3 thoughts on “KDRT

  1. serem membayangkannya. anak seusia itu, tanpa kasih sayang yang cukup dari lingkungan sekitarnya….

    hanya bisa berdoa semoga bisa memutus tali KDRT dan terganti dengan sambungan kasih sayang yang tulus

  2. Ping-balik: Beberapa Status | Hujan Cahaya Bulan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s