Habibie & Ainun

Saya BARU mengagumi Pak Habibie setelah membaca buku ini.

Lah?! Pak Habibie kan idola anak-anak nur?! Masak kamu ga kagum sama orang yang bisa bikin pesawat?!

Yah, jawabannya sesederhana saya dulu tidak tertarik dengan iptek. Saya lebih kagum dengan orang-orang yang bergerak di bidang kemanusiaan semacam Mahatma Gandhi, Helen Keller, Bundha Theresa, dll. Lagipula cita-cita saya bukan jadi pilot/astronot. Dulu cita-cita saya jadi PNS (dan sekarang terkabul) :mrgreen:

Baru setelah membaca buku ini saya sadar: Pak Habibie juga manusia (emangnya dulu apaan?!) Bahwa beliau pernah terpuruk, takut, kecewa, marah, sama seperti kita. Kalo dulu kan kesannya beliau orang pinter. Titik. Padahal kalau mau membaca kisah hidupnya, banyak hal menakjubkan di sana.

Lahir dari keluarga terpelajar (hmm, menarik bahwa beliau ternyata bukan anak orang miskin trus naik jadi orang kaya -nyindir buku orang lain- -ntar deh cerita-), perjuangannya untuk meraih apa-apa yang kita lihat sekarang, cintanya pada istrinya yang beliau sebut dengan “cinta yang murni, suci, sejati, sempurna, dan abadi” (rangkaian kata ini muncul lebih dari 10 kali -sempet bosen tapi ya kan perasaan Pak Habibie kayak gitu-), pemikirannya terhadap berbagai hal, harapan-harapannya, cita-citanya. Saya menyebut buku ini “PENUH”. Banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dan hal-hal yang bisa kita renungkan.

(ini maunya bikin resensi atau apa sih, kok ga jelas gini)

Baiklah karena terbatasnya waktu (oh, ayo cepat selesaikan sebelum ditagih laporan) saya hanya mau mengutip beberapa hal yang menarik sebelum buku yang luar biasa ini saya kembalikan ke perpustakaan (sudah ditagih je). Maaf juga kalo nyupliknya dari belakang. Yang bagian depan isinya perjuangan keluarga selama di Jerman. Menarik juga, dan ada yang terus saya ingat, tapi mau nulis takut ga sempat.

Saya menyampaikan kepada mereka: “Anda sudah operasi istri saya 12 kali dalam 4 minggu dan hasilnya makin memprihatinkan. Apakah jikalau isteri saya dioperasi lagi anda dapat menggaransi keadaan Ainun lebih baik? Jikalau Anda memberi garansi membaik maka saya dapat menyetujui isteri saya dioperasi lagi untuk ke 13 kalinya.”

Jawaban mereka : “Kami tidak dapat memberi garansi.” “Kalau demikian apa gunanya Anda mengoperasi isteri saya lagi? Saya tidak dapat menyetujui anda operasi isteri saya lagi. Saya serahkan kepada Tuhan YME. Saya hanya memohon kepada anda semua untuk tidak memberi rasa sakit kepada isteri saya. Demikian putusan saya.”

(disini saya mewek)

Tiba-tiba sekitar pukul 13.00 wajah Ainun muncul di sudut mata saya dan perasaan gelisah dan keprihatinan saya meningkat. Saya segera menghentikan diskusi dan minta maaf, karena saya harus berkonsentrasi memanjatkan doa untuk Ainun yang sedang dioperasi…

Kemudian Prof.Dr.Burges menjelaskan. “Sekitar pukul 13.00 kami mendapat masalah, keadaan menjadi kritis karena terjadi pendarahan besar pada saat pembersihan tumor…”

“Untung ada Tuhan. Untung saya percaya dan yakin ada Allah SWT. Untung saya mampu memanjatkan doa dengan bahasa getaran nurani penuh dengan keyakinan akan didengar oleh Allah SWT. Untung ada agama. Untung saya dan Ainun sangat religius. Kalau tidak mungkin susah kami atasi ini semua.”

(betapa kuatnya iman Pak Habibie dan betapa kuat sambungan batinnya dengan istrinya)

Saya bertanya: “Bagaimana Anda peroleh tiket ini jikalau sebelumnya semua sudah dijual?” Jawaban kepala perwakilan Lufthansa singkat: “Setelah saya sampaikan keadaan ibu Ainun dan masalah yang dihadapi, maka secara spontan enam penumpang mengundurkan diri. Mereka semua bukan warga negara Indonesia.”

(bahwa kemanusiaan tidak mengenal SARA, ini tentang hati nurani)

Lalu saya bertanya: “Mengapa warna putihnya tidak merata?… Mengapa begini?” Dr. Pulunggono menjawab dengan sangat berhati-hati: “Saya bukan ahlinya Prof. Saya hanya ahli MRI.” Lalu saya berkata: “Menurut textbook anda kalau ada gambaran seperti ini, artinya apa?” Dr. Pulunggono menjawab dengan nada amat hati-hati dan sopan: “Kanker ovarium stadium 3 atau 4, Prof.”

(ini kalo di film pasti jadi adegan klimaksnya)

Darah daging saya memang engineer. Saya meng-engineering politik, ekonomi, dan sebagainya sehingga dapat diselesaikan sesuai jadwal yang telah saya tentukan.

(Jadi bukan hanya Gus Dur yang katanya terlalu canggih untuk Indonesia. Cara pemikiran Pak Habibie pun kurang bisa dimengerti oleh orang awam. Tapi saya kagum. Kalau jaman dulu orang bisa rangkap-rangkap ilmunya: ahli matematika, filsuf, astronomi, dst. So, ga masalah donk kalo Pak Habibie melihat ekonomi dan politik berdasar ilmu yang beliau kuasai. Kalopun ternyata salah, seenggaknya beliau sudah berusaha)

Berulang kembali pertanyaan pada diri saya lagi, mengapa untuk kepentingan pengamanan, seluruh keluarga saya harus berkumpul di satu tempat? Apakah tidak lebih aman jikalau keluarga saya masih tetap berada di satu tempat? … Saya mulai berfantasi, saya ingat nasib keluarga Tsar Romanov dari Rusia yang semuanya dibunuh di satu tempat dalam revolusi kaum Bolshevik.

(Tuh kan, Pak Habibie juga manusia. Bisa takut, parno, bahkan ngayal yang enggak-enggak)

Tetapi Pak Harto berpikir, ketika bangsa Indonesia tinggal landas untuk memasuki abad yang akan datang, itu berarti membutuhkan waktu 25 tahun. … Jadi kalau dia memberikan kepercayaan kepada seseorang yang berumur bukan 37 tahun tetapi 47 tahun, maka dapat dibayangkan 25 tahun kemudian usia orang tersebut mencapai 70 tahun. Jadi, perhitungan Pak Harto tersebut sangat masuk akal…

(Pak Habibie ketika ditunjuk untuk memimpin pengembangan SDM dan iptek di Indonesia, merasa kurang pede karena menurut beliau ada beberapa orang yang lebih lebih berpengalaman -namun ternyata lebih sepuh-. Ah, saya LAGI-LAGI kangen Pak Harto)

Tanggal 23 Januari 1993, saya selaku Ketua Badan Pembina Yayasan Abdi Bangsa dari ICMI, menerbitkan dan meluncurkan Harian Umum Republika… Harian Umum Republika juga berhasil mengeluarkan lembaga mobilisasi dana “Dompet Dhuafa”… ICMI juga mendirikan Bank Muamalat Indonesia… demikian pula Asuransi Takaful…

(wow, semua wajah Islam modern lahir dari peran serta Pak Habibie?! *menjura)

Organisasi multirateral seperti Bank Dunia dan IMF didirikan untuk membantu terciptanya dunia yang tentram. Namun sangat disayangi kebijakan yang diambil memanfaatkan “standar ganda” yang disalah artikan oleh politik sesaat kelompok kecil saja antar negara yang tidak menguntungkan sesama manusia yang semakin erat ketergantungannya.

(oh well, saya tahu IMF busuk tapi ga nyangka kalo sebusuk ini… ah, ga tega nyeritainnya. Baca sendiri deh! *menangisi-nasip-Indonesia)

Pada IAS’96, N-2130 akan diperkenalkan sebagai pesawat 130 penumpang berkecepatan tinggi di daerah transonic, yang digerakkan oleh dua mesin jet dan akan terbang perdana pada bulan Agustus 2002 sebagai tanda Indonesia tinggal landas memasuki era globalisasi. Karena itu perkenalan N-2130 pada IAS’96 di Cengkareng Jakarta, ditanggapi oleh dunia industri dirgantara sangat serius.

(Indonesia pernah berjaya! Indonesia pernah hampir jaya! Tapi itu duluuu… -nangis lagi-) note: IAS-Indonesia Airshow

Eh, udah jam 11 aja. Udah dulu deh. Keburu ditelpon lagi sama perpusnya. Komen sebagai penggila buku:

  1. Pak Habibie sukses deh bikin novel. Walau agak lambat dan penuh pemikiran di awal, begitu hampir selesai alurnya kebut-kebutan. Klimaksnya cakep banget. Bikin pembaca deg-degan lho pak…
  2. Eh, ini ada editornya ga sih?! Saya agak susah payah baca tanda-tanda baca yang ga lazim. 😦

Oiya, saya sengaja ga terlalu nyorotin kisah cintanya. Bukan ga menarik, tapi pasti bakal diungkapkan habis-habisan di film. Sedangkan pemikiran-pemikiran yang “penuh” itu saya yakin tidak akan mampu terungkap dengan baik di filmnya (saya nulis plek-plekan saja tidak mampu menyampaikan kembali dengan baik, hiks). Jadi buat yang penasaran dengan kisah cintanya, silahkan nonton filmnya saja. 😀

Iklan

2 thoughts on “Habibie & Ainun

  1. Di semester 7 kuliah kemarin, ada dosen yang seriing banget cerita tentang Pak Habibie. Itu bikin kami anak2 D4 jadi ngefans berat sama Pak Habibie. Nonton trailer filmnya kayaknya bagus dan bakal banyak nguras air mata. Tapi kurang suka pemeran Bu Ainunnya, kok BCL si.. :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s