Black Period: Antara Pelit dan Belajar Sabar

Sejujurnya walau SEPERTINYA aku lumayan ketat soal urusan uang, SEBENARNYA hal itu hanya kulakukan saat aku sempat bikin catatan pengeluaran. Kalo lagi ga bikin, ya loss loss aja.

Seperti bulan ini karena aku mulai mencoba lagi cara baru mencatat pengeluaran yang lebih enak buatku (ganti-ganti metode terus nih *labil) aku jadi tahu bahwa alokasi dana buat transport sudah over budget sejak akhir minggu lalu. Ini gara-gara aku yang seharusnya hanya menggunakan KRL/bajaj/ojek/metromini, sok-sokan pulang naik taksi selama 2 hari dengan alasan ketinggalan kereta terakhir (kereta terakhir sudah lewat tapi kan ada busway nur… *pemalas -eh tapi kan demi keamanan, lagian nindy sakit jadi harus buru-buru nyampe rumah- *ngeles). Jadinya kemarin ketika aku ngabur ke itc siang-siang, walau sudah kepepet waktu tetap saja aku naik metromini. Pun karena tahu alokasi dana untuk pengeluaran tak terduga sudah lewat pagu (nah lho, jadi apa sih yang ga lewat pagu?!), terpaksalah diriku membeli sepatu yang seharga Rp35.000 saja (mbalik jaman kuliah nih).

Apakah aku stres dengan hal ini?! Sepertinya tidak. Aku malah senang karena dapat melihat semuanya dengan jelas. Catatan itu lumayan membantuku menetapkan kebijakan-kebijakan, semacam bahwa memang tidak seharusnya aku belanja daging tiap minggu (tanpa melupakan kebutuhan nutrisi nindy). Juga bahwa aku ga punya dana buat beli TV walau sudah berbulan-bulan TV di rumah ga mengeluarkan suara sama sekali (belajar baca gerak bibir). Bahkan aku minta nindy bersabar walau aku tahu dia sudah mupeng setiap kali melihat Irsyad jalan-jalan dengan sepeda baru (insyaallah, bulan depan ya nduk… doakan honor tim segera cair)

Selama ini setiap kali loss dengan pengeluaran, aku justru sering merasa bersalah. Iki dana darurat kok ga mbalik-mbalik iki piye?! (habis terkuras pasca operasi). Mungkin memang pada dasarnya aku pelit. Tapi kali ini aku menyadari sesuatu. Jika dilihat lagi ini bukan pelit kok. Kebutuhan dasar masih terpenuhi, bahkan masih juga beli baju dan sepatu nindy, juga jas hujan axio untukku yang lumayan mahal itu (135ribu). Ini adalah tentang bersabar. Bersabar dengan menunda apa yang kita inginkan. Tidak semua yang kita inginkan bisa langsung kita dapatkan bukan?!

Dengan bersabar, kita jadi lebih menghargai apa yang kita beli. Aku bersyukur “rasa” itu mulai kembali padaku. Rasa ketika semua hal didapat dengan susah payah. Sama seperti jaman kuliah atau awal-awal masuk kerja.

Seperti kemarin, aku sudah mutung dan berkata: tidak mungkin kita bisa kurban tahun ini. Dananya ga ada. Eh, tiba-tiba hari Senin honor DL Surabaya cair (padahal biasanya cairnya lama). Besarnya persis sama dengan harga seekor kambing. Namun setelah berdiskusi dan rupanya mz nug lebih sreg kalo kurban di kampung saja, jadinya harus nambah 300ribu lagi karena harga kambing yang layak di Malang ternyata lumayan mahal. Alhamdulillah, mz nug punya uang untuk menutup kekurangannya. *nyengirlebar Bahkan kemudian aku juga dapat honor lain dengan nilai persis sama: 300ribu *umpetindarisuami :mrgreen:

Sebentar nur, suamimu kan di pajak? Fungsional lagi! Kok masih pusing masalah uang?

Yah, seperti yang kubilang di sini, tanggungan setiap orang berbeda-beda. Jujur kuakui kadang aku masih suka hilang kendali, marah-marah ga jelas di diary atau curhat habis-habisan ke ibuk. Tapi omongan mbak prih menyadarkanku: Jarang sekali ada anak pertama yang begitu bertanggungjawab seperti mz nug.

Aku juga tersindir ucapan Nabi Ismail: Lakukanlah Ayah. Sesungguhnya Kau akan menemukanku termasuk golongan orang-orang yang sabar.

Aih, jleb banget! Masak iya punya suami yang berbuat baik malah ga didukung?! Aku jadi ingat ketika nindy keracunan dan aku masih di Surabaya, mz nug ga punya uang untuk bawa nindy ke rumah sakit. Lah?! Padahal kan tiap bulan, cicilan utang dan bagianku cuma setengah lebih dikit dari penghasilannya. Aku sampai marah-marah dan menyuruhnya untuk lebih memikirkan diri sendiri. Padahal memang begitulah mz nug, orang yang selalu lebih memikirkan orang lain *nulissambilmewek

Jadi terserah lah apakah aku memang termasuk orang yang pelit. Sedang insyaf nih! Sedang semangat jungkir balik mikir keuangan keluarga dan mengikhlaskan mz nug berbuat kebaikan. Semoga setiap kebaikan kita dicatat oleh-Nya. Amin.

 

BTW, saya lupa kalau kemarin saya milad (lupa ga puasa juga deh). Met milad buat diri saya sendiri. Semoga lebih istiqomah di jalan-Nya. Amin…

Iklan

10 thoughts on “Black Period: Antara Pelit dan Belajar Sabar

  1. Mungkin kita kasusnya mirip-mirip, Nur.. Suamiku juga anak pertama, adiknya malah ada buanyaak. πŸ˜€

    Tapi kalo kata Mba Yayut dulu.. kalo kita pengen ngasih ya ngasih aja. Kalo bisa ngasih ya ngasih aja. Itu emang udah rejeki orang itu. Ga usah dipikirin terlalu dalam. Kalo rejeki kita ya rejeki kita, rejeki dia ya rejeki dia.

    Itu adalah pesan Mbaku yang disampaikannya pada saat tatap muka terakhir kami.. πŸ™‚

  2. met milad ya… semoga berkah di sisa usia.

    masalah penghasilan, saya jadi teringat kata-kata seorang kawan. penghasilan yang datang ke kita, bisa jadi bukan hanya hak kita, tapi ada hak orang lain disana πŸ™‚

  3. milad dlm kalender hijriah ya nur πŸ™‚ met milad, semoga sisa usianya berkah..

    aku aku aku… aku loss krn kelamaan g nyatet. post nur bikin aq niat #baruniatdoank nyatet lagi. Rizki itu datangnya tidak disangka-sangka koq nur, mungkin itu jg buah dari amal kalian berdua juga πŸ™‚

  4. Ping-balik: Welcome November | Hujan Cahaya Bulan

  5. Ping-balik: Semua Tak Sama | Hujan Cahaya Bulan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s