Semua Tak Sama

Mungkin ini postingan tandingan (salahmu nen, nggawe blog kok ga iso di-komen :D) atau memang kesadaran yang mulai tumbuh dan sudah saatnya dituliskan.

Ah, memang saya super labil. >.<

Kadang saya sangat bersemangat, kadang tiba-tiba down dengan sangat. 😦

Beberapa waktu lalu saya membaca ini. Lalu ini. Dan neni menyinggungnya kembali di sini.

Tertohok? Nggak sih. Cuma ngakak. Karena aku pun sebenarnya juga begitu.

Hari Minggu kemarin aku sedang menyuapi nindy di gang depan rumah ketika aku melihat Mama Nanda keluar rumah. Iya, Mama Nanda yang super itu. Mama Nanda sedang menyuapi Irsyad (10bln), anaknya yang paling bungsu. Maka adegan pun berlanjut seperti umumnya percakapan ibu-ibu di gang sempit.

MN: Nindy sarapan apa?

NH: Ini nih, sayur asem… (melongok ke makanan Iryad) Bubur bikin sendiri?

MN: Iya… kalo sempet bikiin… kalo ga sempet beli. Hidup cuma sekali kok dibikin susah.

Ahay… bahkan Mama Nanda yang sekarang jadi kepala PAUD Wijayakusuma itu juga nyantai banget menjalani hidupnya. Ga ngoyo. (Duh padahal umminya nindy ini lagi semangat masak khusus buat nindy)

Membaca kembali semangatku di postingan yang di link sama neni, aku merasa amat sangat malu. Sejujurnya dari semua rencanaku itu, baru berkebunlah yang bisa kuteruskan. Itu pun karena dibantu musim penghujan jadi sebenarnya tidak banyak yang kulakukan. Bahkan kalo dipikir lagi, saat aku mulai cuek, tanaman-tanaman itu malah tumbuh dengan cepat. Mungkin mereka merasa terlepas dari beban berat memenuhi harapanku yang tinggi itu. Eh, mungkin ga sih tanaman bisa stres?! :p

Soal menjadi kreatif?! Ga jalan blas. Aku sadar bakat itu perlu. Aku juga sadar diri, sedikit saja aku memforsir diriku, badanku bakal drop dan jadinya malah jatuh sakit. Malah keluar uang banyak buat berobat dan semua jadi tambah berantakan. Jadi sekarang aku suka-suka aja. Sempet nyoba resep baru ya dikerjain, tapi kalo ga ada waktu atau lagi males ya sudah. Nindy kalo ga mau makan ya makan kue aja or beli makanan di luar. Suka suka lah kan masih ASI ini (kata mbak apoteker K24 deket rumah, kalo masih ASI ga perlu tambahan vitamin walau nindy agak susah makan)

Semakin mengenal internet, semakin sering ketemu figur manusia yang bikin iri. Kok bisa sih tetap bekerja, ART less, 2 anak, masak, nyuci, nyetrika, beres-beres rumah, dan tiap hari PP Serpong-Banteng sekeluarga. Analisa iri saya: stamina mbak-e luar biasa, mbak-e di unit yang jarang DL dan konser, suaminya sangat-sangat mendukung, tidak ada kemungkinan mutasi, dsb. Sudahlah. Mereka ya mereka. Kamu ya kamu. Dia hebat dan kamu biasa saja?! Masih banyak kok temennya. :p

Iklan

4 thoughts on “Semua Tak Sama

  1. Kayaknya aku tahu deh yang PP Serpong-Banteng itu siapa. Emang udah rejeki si Mba itu dapet penempatan yang pas dan suami yang demikian ya. Pengen juga sih kantor suamiku bisa deketan sama aku. 😀

    Kalo lagi lihat figur manusia yang bikin iri, inget-inget juga sosok manusia yang di bawahmu, Nur. Aku contohnya, huehehe. Diriku ini kan kacau beliau. Rumah berantakan, skripsi jalan di tempat. Pengangguran tapi manajemen waktunya jeleeek banget. Suwer!
    (Jadi kapan kamu akan berubah, Ren? *toyor diri sendiri*)

    • hahaha… ini kok jadi rasan-rasan di blog. Ketahuan mbak-e aku bisa diapain ya? :mrgreen:

      belajar “nyantai” itu susah buat orang melankolis… tapi dilihat2 jadi ibu itu harus plegmatis biar ga sutris sendiri…

      inget pesen ibuk: dikerjain saja satu2 nanti juga selesai ren, hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s