Tutup Buku 2012 dan Wish List 2013

Berhubung besok saya mulai cuti, maka mari kita buat rekap-nya hari ini.

Banyak kejadian luar biasa di sepanjang tahun 2012. Dari yang mendebarkan saat aku hampir mati, momen bahagia karena akhirnya kami dapat mewujudkan impian memiliki hunian pribadi, juga peristiwa-peristiwa kecil lain yang membuat hidup jadi lebih berwarna. Sayang sekali bahwa akhir tahun ini kututup dengan drama ART. Ya, mbak prih tidak kembali. Tanpa pesan sebelumnya. Dengan lemari baju yang masih penuh dengan pakaiannya. Di musim penghujan lagi! Dimana opsi membawa nindy ke kantor adalah opsi yang buruk mengingat jalanan yang tidak pernah bersahabat selama musim penghujan. Tapi sudahlah. Tak perlu mengeluh panjang lebar. Saat aku mengetik ini alhamdulillah aku sudah melihat secercah harapan. HOPE! Sekecil apapun itu aku tetap akan menggenggamnya. Karena dalam setiap kesusahan pastilah akan ada kemudahan.

Jadi mari kita menengok kembali impian-impian yang kubuat pada awal tahun:

  • Punya rumah. Target: sekitar bulan April-Juni 2012. (Semoga babah haji ngijinin kita manjangin kontrakan barang setengah tahun)

Kenyataan: Alhamdulillah, setelah perjuangan sejak bulan November 2011, akhirnya dapet rumah sekitar akhir Februari 2012. Akad jual beli pada awal Maret. Masa renov kurang lebih selama 2 bulan. Kami pindah ketika kontrakan habis di bulan April. Saat itu renov belum selesai. Tapi kami nekat saja. Nindy sempat sakit gara-gara debunya. Untunglah dia cepat sembuh begitu renov selesai. Benar-benar perjuangan!

  • Punya mobil. Beli dari uang sisa DP rumah. Target: akhir tahun 2012. (Semoga ada mobil yang murah dan lumayan layak)

Kenyataan: Tidak ada uang sama sekali. Sisa uang setelah beli rumah dan renov habis untuk biaya operasiku. Saat ini sedang merangkak untuk mengisi pundi dana darurat. Ikhlas kok! Masih hidup saja sudah bersyukur banget.

  • Hamil lagi (?!) Target: start di ujung 2012 atau awal 2013. (Iya, kejar target sebelum umur 30 paling ga udah punya 2 anak. Katanya kalo jaraknya 3 tahunan nanti berat pas biaya sekolahnya, jadi ya 2 tahun lebih dikit lah. *terdengar maksa sekali)

Kenyataan: SEBENARNYA sudah hamil cuma ga nyadar. Dan berakhir dengan pengguguran. Masih optimis untuk punya anak lagi, namun JUJUR, drama ART itu selalu membuatku keder untuk menambah tanggungan. 😦

  • Mbak Prih bisa bertahan at least sampe lebaran Agustus nanti. Dan sangat berharap setelah lebaran masih mau ikut kami. (amin… Udah beneran cocok je)

Kenyataan: Hihihi, iya sih, bertahan sampai habis lebaran. Namun ternyata tidak bertahan sampai habis tahun. Nindy kelihatan sedih sekali ketika dipamitin, sedang aku sama sekali ga sadar kalo itu pamit untuk tidak kembali. Ah, kasihan kamu, nduk…

  • Mz nug ga dipindah kerja. Kalo pun pindah, jangan jauh dari Jakarta. (SANGAT-TIDAK-SIAP-UNTUK-LDR)

Kenyataan: ALHAMDULILLAH. Sujud syukur. Mz nug beneran lolos dari jerat mutasi tahun ini. Tapi feeling-ku mengatakan tidak untuk tahun depan.

  • Tidak ada kejadian buruk sepanjang 2012 (saya tidak percaya ramalan kiamat tapi saya memang takut bila ada bencana alam atau bencana yang dibuat manusia)

Kenyataan: Sampai detik ini alhamdulillah tidak ada bencana alam maupun bencana manusia. Penyerangan terhadap Palestina malah berakhir dengan kemenangan Palestina.

  • Nindy sehat, tumbuh dan berkembang dengan baik.

Kenyataan: Alhamdulillah, tepat sesuai harapan. Sekarang nindy sudah bisa jalan, lari, coret-coret tembok, makin cerewet, dan makin aktif saja.

  • Aku dan mz nug jauh dari penyakit.

Kenyataan: Alhamdulillah, mz nug benar jarang sakit. Sedang aku hampir setiap 2 bulan pergi ke medis dengan alasan macam-macam. Syukurlah kecuali KET, lainnya tidak ada yang serius. Semoga setiap sakitku menjadi penggugur dosa bagiku. Amin…

  • Ayah dan Ibuk tetep sehat. Ayah bisa lebih tarak terhadap makanan.

Kenyataan: Alhamdulillah, sama sepertiku, bisa dibilang tidak ada penyakit yang membahayakan. Diabetes ayah masih ada, tapi saat ini beliau sudah mulai menjaga makanan. Ibuk kadang-kadang kambuh darah tingginya kalau kecapekan, jadi aku berharap semoga tahun-tahun berikutnya beban ibuk akan semakin berkurang.

  • Aziz lancar kuliahnya (ojo pacaran dhisik le!) dan lancar usaha bisnisnya

Kenyataan: Insyaallah tahun depan dia selesai kuliah. Bisnisnya sepertinya tidak berjalan lancar tapi aku tidak terlalu mempermasalahkan. Anggap saja pengalaman buatnya. Pacaran? Kayanya iya dan nampaknya dia setia pada gadis yang itu saja. Aku ga tau masalah nikah atau tidak. Kurasa Aziz sudah cukup dewasa untuk memikirkan sendiri hal-hal semacam itu.

  • Keluarga ini tetap adem ayem tentrem. Amin…

Kenyataan: Alhamdulillah. Semua aman terkendali.

Selain hal-hal di atas, sepanjang 2012 ini aku juga banyak belajar. Cukup banyak resep-resep baru yang kucoba. Aku belajar photoscape. Bahkan aku sempat belajar merenda secara otodidak namun gagal karena kurang sabar. Aku mulai hobi memelihara tanaman, sesuatu yang dulu sepertinya sangat mustahil. Aku juga kembali pada hobi lamaku membaca dan aku bisa mengikuti film-film dan drama-drama menarik seperti jaman bujangan dulu. Ah, menjadi ibu memang tidak akan menjadi belenggu kalo kita enjoy menjalaninya. Terus terang aku memang mulai lebih plegmatis. Menerima saja bahwa nindy gagal ASIX 2 tahun. Dia sudah mulai minum UHT sejak usia 14-15 bulan karena ASI-ku tidak cukup. Awal-awal memang stres dan merasa bersalah. Namun lama-lama aku menerima setelah menyadari bahwa aku sudah berjuang sekuat tenaga.

OK, baiklah. Berikut adalah harapan-harapanku untuk tahun 2013. Semoga bisa menjadi penyemangat dalam meraihnya. Dan semoga harapan-harapan ini didengar dan dikabulkan oleh-Nya. Amin… Bismillah.

  1. Semua orang di keluarga ini (keluarga kecil kami, keluarga Malang, keluarga Purworejo) sehat, jauh dari penyakit. -Mulai sadar bahwa kesehatan adalah nikmat terbesar-. Nindy tumbuh dengan baik, staminaku dan mz nug selalu terjaga, Ayah dan Ibuk selalu sehat, mbah putri Pangen dan mbah Nggunung sembuh.
  2. Mz nug mutasi di tempat yang lebih baik, tetap dapat pulang ke rumah gang kelinci kami setiap hari. Lebih syukur lagi kalo yang tempatnya melawan arah sehingga tidak terjebak kemacetan dan tidak capek di jalan. Tentu saja akan sangat bersyukur kalo tetap searah denganku sehingga kami tetap dapat pulang pergi bersama setiap hari seperti sekarang. Amin.
  3. Pengganti mbak prih, siapapun itu, adalah orang yang baik, sayang pada nindy, taat beragama, dan rajin bekerja. Dan jika orangnya baik, maka panjangkanlah jodoh kami dengannya, ya Allah…
  4. Hamil di waktu yang tepat. Pingin punya anak laki-laki yang sholeh. Amin…
  5. Mobil pribadi?! Pingin juga sih. Tapi kok rasanya lebih bersyukur kalo bisa bebas dari hutang ya… (takut membebani keturunan dan ditagih di akhirat)
  6. Keinginan pribadi: belajar naik motor dan belajar nyetir mobil.
  7. Ketrampilan yang ingin dikuasai: menjahit. Syukur-syukur kalo beneran bisa merenda juga.
  8. Buka 2 toko online dan lancar dalam menjalankannya.
  9. Aziz lancar kuliah, cepat lulus, dan cepat dapat kerja. Fuad cepat dapat kerja dan bisa mulai membantu keluarga. Uut segera bertemu jodohnya dan segera menikah. Adik-adik lancar sekolahnya. Teman-teman yang ingin hamil segera hamil. Teman-teman yang belum menikah semoga segera menikah.
  10. Konser ditiadakan, frekuensi DL berkurang drastis. Apapun deh yang penting selalu bisa pulang tepat waktu (ga pulang malem dan ga ninggalin keluarga berhari-hari) -pindah biro, po?!-
  11. Keluarga ini tetap adem ayem tentrem. Amin…

Kue Lapis

Gara-gara salah beli kelapa parut (rencananya mau buat sayur labu siem, tapi mbak prih protes katanya baru kemarin makan lauk bersantan, jadi labunya ditumis saja) dan dalam rangka usaha menghabiskan pewarna makanan sisa rainbow cake yang entah kapan tahun bakalan habis kalo setiap kali pakai cuma butuh 3 tetes, maka hasilnya adalah seperti ini:

kue lapis tradisional

Resep diambil dari web ncc. Monggo disambangi langsung saja kesana. Kalo ncc sih, udah pasti enak yaa…

NB: aku ga pake daun jeruk, tapi diganti vanili

Si Putih Oh Si Putih…

Sejak masih gadis, aku termasuk orang yang cukup sering mengalami keputihan. Untungnya keputihanku jenis yang tidak terlalu mengkhawatirkan: tidak gatal dan tidak berbau. Walaupun begitu, yang namanya keputihan tentu saja membuat tidak nyaman.

Beberapa minggu sebelum ketahuan KET, aku merasakan gatal yang luar biasa di area miss V. Aku yang terlalu terbiasa dengan keputihan, menganggap hal itu disebabkan karena si putih yang kembali datang. Namun memang agak mencurigakan sih, karena berdasarkan riwayat, aku belum pernah mengalami keputihan sampai gatal begitu. Dan kemudian ternyata benar, keputihan plus gatal yang kuderita sebenarnya alarm tubuh bahwa telah terjadi infeksi di bawah sana.

Beberapa bulan sesudah operasi, aku lagi-lagi merasa gatal di area V. Panik donk! Tapi karena sudah punya pengalaman, aku jadi tahu bedanya bahwa keputihan kali ini “cukup gatal” saja, bukan sejenis gatal yang menyiksa seperti ketika infeksi dulu. Walaupun begitu, aku tetap ketakutan. Akhirnya dengan pertimbangan biaya (ihh, nur banget deh!), alih-alih ke dokter spesialis, aku pergi ke bidan dekat rumah.

Bidan yang masih muda itu tenang-tenang saja mendengarkan keluhanku. “Kita cek dalam saja ya, Bu!” katanya. Ternyata benar. Setelah di-cek dalam, ketahuan bahwa ada keputihan yang mampet di saluran vagina. Ga bisa keluar sehingga menimbulkan rasa gatal. Setelah dibersihkan dengan kapas dan entah cairan apa, aku pun merasa sedikit lega.

Dari bidan aku mendapat resep obat minum yang salah satunya antibiotik. Dari bidan pula aku mengenal satu obat yang menjadi andalanku sampai sekarang: lactacyd.

lactacyd

Sekarang, setiap keputihan menyerang, aku selalu membasuh miss V dengan lactacyd 2 kali sehari, setiap waktu mandi. Tentu saja dibarengi dengan disiplin menjaga kebersihan miss V dan rutin mengganti celdam (bisa tiap basah dikit aku ganti). Dalam beberapa hari keputihan insyaallah menghilang. Namun bila si putih masih bandel juga, aku menggunakan jurus tambahan: avail bio sanitary pad.

avail bio sanitary pad

Aku pake pantylinersnya, yang kotak warna ijo. Karena makenya jarang, si kotak ijo yang kubeli sekitar 3 bulan lalu itu masih tampak penuh juga. Namanya juga obat ya, tentu saja harus diingat aturan pakainya. Untuk lactacyd aku hanya pakai saat keputihan dan saat sedang mens (dengan alasan sesepele: biar miss V terasa segar :p). Bidan dulu juga berpesan untuk tidak memakainya setiap hari. Sedangkan untuk avail, aku pernah dengar dari temanku bahwa produk herbal ini kadang disalahgunakan untuk aborsi alami. Kebenaran ceritanya wallahu’alam. Yang jelas aku memang ga ingin berlebihan dalam sesuatu sehingga avail itu hanya akan kupakai bila benar-benar membutuhkannya saja.

Intinya, jangan pernah sepelekan si putih. Jangan sungkan untuk pergi ke bidan atau tenaga medis yang lain bila merasakan ada yang tidak wajar. Memang sih, untuk membersihkan keputihan yang pake acara cek dalam kaya aku kemarin, syaratnya harus wanita yang sudah menikah. Soale untuk membuka pake alat cocor bebek dan miss V harus dikorek-korek. Bahaya kan kalo masih perawan 😀 Namun kalo keputihannya parah: gatal banget atau berbau, menurutku sebaiknya langsung pergi ke dokter spesialis terkait. Siapa tahu masalahnya bukan sesepele itu. (NB: tidak hendak menakut-nakuti)

Jak-Japan Festival dan Me Time Yang Gagal

Sebenarnya kejadian ini sudah lama sekali. Basi banget lah buat diceritain. Tapi berhubung (lagi-lagi) sedang ga ada bos, jadi mari kita manfaatkan waktu luang emas ini untuk menulis post. :mrgreen:

Jaman masih bujang dulu, aku pernah punya semacam “tekad”: bahwa dengan siapapun aku akan menikah nanti, entah dia sealiran denganku sama-sama menyukai Jepang atau nggak, aku harus berkesempatan barang satuuu kali aja, pergi berdua dengannya ke sebuah matsuri (perayaan). Ini tekad ga main-main. Waktu itu aku ga tahu apakah di Indonesia ini bakal ada matsuri kaya di Jepang sana. Lama-lama aku dengar kalo di UI Depok “sepertinya” rutin digelar festival Jepang setiap tahunnya. Bahkan setelah bekerja di Jakarta, akhirnya Jakarta juga secara rutin menggelar Jak-Japan Matsuri. Nah, matsurinya sudah ada. Tinggal orang yang mau diajak nih yang belum ada. Sementara untuk pergi sendirian aku ga minat. Pergi dengan teman juga ga ada feeling.

Eh, sebenarnya mau ngapain sih di matsuri?!

Yah, bayanganku sebenarnya sesimpel: maen game-game yang ada, berjalan-jalan sambil bergelayut di lengannya di tengah keramaian orang, makan takoyaki or okonomiyaki, dan ditutup dengan nonton hanabi (kembang api). >.<

Akhirnya aku bertemu mz nug. Tentu saja keinginan untuk pergi ke matsuri belumlah kandas. Namun nyatanya sampai hampir dua tahun pernikahan, keinginan itu belum terwujud juga. Sebentar tak nginget-nginget. Di masa menunggu pernikahan sepertinya sempat ada digelar festival Jepang di Depok. Tapi kan belum muhrim… Lalu setelah nikah ada juga Jak-Japan festival digelar di Jakarta. Tapi aku punya bayi kecil yang ga enak ditinggalin. Gemes gemes gemes! Pingin mesra-mesraan dikit aja kok susah sih? Kami kan belum pernah sama sekali bulan maduuu… (hubungannya nur?! -__-)

Makanya waktu mz nug memberitahu bakal ada Jak-Japan Festival tahun ini, aku jadi semangat sekali. Sudah jauh hari ngetekin tanggal 30 September itu HARUS PERGI ke closing ceremony-nya di Monas. Sedikit menurunkan standar, aku cuma ingin hadir walau sebentar. Ga muluk-muluk lihat hanabi karena pasti diadakannya pas penutupan jam 10-an. Ga tega ninggalin nindy buat ngluyur malam-malam.

Hari-H. Hampir ga jadi berangkat karena mendung. Juga karena aku keburu mutung. Biasa, kalo terlalu deg-degan aku malah cenderung membatalkan saja. Mz nug gemes. Katanya pingin?! Akhirnya berangkat ketika jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Hati udah mulai ga enak. Aku menguatkan diri: ini me time yang aku inginkan. Sampe Senen sekitar pukul 3. Niat awal mau parkir di St. Gambir. Ternyata jalanan penuh karena ada aksi (semoga ga salah) mendukung Palestina. Ga enak hati pertama: mz nug dulu ikut aksi-aksi semacam ini, setelah menikah malah kubawa ke festival. Surgawi VS duniawi sekali! 😦

Masuk area Monas bingung letak acaranya. Ternyata jauh juga dari parkiran stasiun. Jalan kaki panas-panasan gempor. Ga enak hati kedua: aku merasa bodoh di depan mz nug karena aku yang ngajakin tapi malah ga tau tempatnya.

Untuk masuk ke area matsuri seingetku karcisnya 25rb. Dapat kipas dengan logo matsuri di satu sisi dan sponsor di sisi lainnya. Begitu masuk baru tahu kalo ternyata keadaan sangat ruwet. Penuh orang, debu beterbangan, dan udara sangat panas karena matahari bersinar terang. Ga nyaman pertama: aku mulai biduran. Ga nyaman kedua: mz nug ga mau kugelayutin. Padahal kan impianku jalan pelan-pelan sambil menikmati suasana. Tapi ya memang ga mungkin sih mau peluk-pelukan di panas terik kaya gitu.

Aku mencoba mengacuhkan segala ketidak-nyamanan dan memutuskan untuk mulai menyusuri stand-stand. Stand pertama yang kukunjungi adalah stand origami. Ada berbagai stand di sana dari stand berfoto dengan memakai yukata, stand yang menjual pernik-pernik anime, stand permainan-permainan ketangkasan, stand makanan-makanan khas matsuri, bahkan stand maskapai-maskapai penerbangan yang melayani rute perjalanan ke Jepang. Aku asal lewat karena tidak ada yang menarik hatiku. Baru setengah lingkaran, aku mendengar suara riuh di belakang. Oh, ternyata rombongan pembawa omikoshi! Padahal aku udah hopeless mengira ga bakalan nemu apa-apa.

omikoshi anakIni rombongan anak-anak

omikoshi remaja putriRombongan ibu-ibu remaja putri

Omikoshi dan monasOmikoshi di depan Monas

Selain muas-muasin nonton omikoshi dari dekat, aku juga sempat nonton sebentar satu tarian massal gitu, cuma ga tahu namanya. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sementara mz nug belum sholat ashar (aku lagi ga sholat). Jadi muternya dipercepat. Aku masih sempat nyamber souvenir paling murah dan beli makanan sekedarnya buat oleh-oleh pulang (sekedarnya tapi yang dibeli okonomiyaki, takoyaki, dan dorayaki :p) Yang paling menyedihkan itu adalah ketika mau cabut, di panggung kecil di bagian tengah area lagi ada 2 orang yang perform maen gitar covering lagu-lagunya Depapepe. Oh, aku pingin menikmati lebih lama lagiii… T-T

Mz nug akhirnya sholat di mushola di St. Gambir. Kami pun pulang sesudah itu. Sampe rumah hampir magrib. Kurang puas sih, tapi mau gimana lagi. Makanya aku ga terlalu pingin sok ber-“me time” ria. Me time itu kan intinya timbulnya kebahagiaan dan semangat baru. Kalo kaya gini, udah badan capek, hati ga lega. Nginget-nginget jadi sedih ih… 😦

Oiya, ini setelah sampai rumah:

bengongBengong sambil bawa kipas yang lebih gede dari diameter kepalanya

nampangSejak kapan jadi banci tampil kaya gini, sih?!

oleh-olehOleh-oleh 15 rebu-an

Lain kali kalo mau me time mending yang ga sengaja kaya kemaren, ah.

Kubenci dan Kucinta: Nh. Dini

Sekitar kelas 4 SD, aku mulai iseng menyingkat namaku dengan NH. Fauziah. Nama itu resmi kugunakan untuk menamai buku maupun lembaran-lembaran kertas ujian. Beruntung saat itu aku bersekolah dimana ayahku menjadi salah satu pengajarnya, sehingga kebiasaanku menyingkat nama dan hanya menampilkan nama belakang tidak menjadi masalah. Semua guru kenal aku sehingga tahu pasti lembaran ujian itu milikku walau hanya tertera nama belakang di sana.

Namun kebiasaan ini harus kuhilangkan ketika aku masuk SMP. Di negeri ini, orang lebih familiar dengan nama depan. Sekeras apapun aku menyukai nama belakangku, aku harus menerima bahwa semua orang lebih mengenal nama depanku.

Sekitar kelas 2 SMP, aku menemukan sebuah buku karya seseorang yang bernama “hampir” sama denganku: Nh. Dini. Ya, awal mula aku tertarik padanya adalah karena kemiripan nama kami. Buku pertama yang kubaca saat itu berjudul Sekayu. Sejak Sekayu, aku langsung jatuh hati pada gaya penceritaannya yang amat deskriptif. Padahal saat itu aku sudah lebih dulu jatuh cinta pada gaya Budi Darma. Namun ternyata penceritaan gaya deskriptif tidak membosankan juga untuk diikuti. Entahlah, mungkin memang aku saja yang terlalu kepo dengan kehidupan orang lain. Klop dengan isi buku-buku Nh. Dini, khususnya serial kenangan, yang bercerita secara mendetail tentang kehidupan pribadinya. Mungkin di jaman sekarang buku-buku Nh. Dini akan mirip dengan isi sebuah blog. 🙂

Berawal dari Sekayu, berlanjut ke Sebuah Lorong di Kotaku, Padang Ilalang di Belakang Rumah, seterusnya hingga sekarang aku sudah menamatkan sekitar 12 buku karya Nh. Dini. Dengan pengalaman sebanyak itu, wajarlah bila Nh.Dini berpengaruh besar dalam gaya penceritaanku. Walau sebenarnya bila ditanya lagi apa isi buku-buku yang kubaca itu, aku dengan malu akan menjawab: sudah lupaaaa. :mrgreen:

starry-night2

Lalu, dengan semua kecintaanku pada Nh. Dini, kenapa aku harus membencinya?!

Yaaahhh…agak terlalu kasar sih memang kalau disebut membenci.

Aku sedikit ingat catatan yang kutulis di diary-ku, entah umur berapa, saat aku sedang kesal-kesalnya karena hingga “berumur” pun tidak pernah ada laki-laki yang menyukaiku (awww… awww… *krisiskepercayaan). Aku ingat menulis demikian:

Nh. Dini hanya menyuguhkan impian semu. Seorang wanita muda yang cantik dan serba bisa, dikelilingi dan dipuja oleh banyak lelaki.

Segitunyaaa…. Karena pada dasarnya yang kutangkap dari banyak cerita Nh. Dini adalah tentang perempuan dan laki-laki di sekitarnya. Walau sebenarnya Dini tak melulu bercerita soal asmara, tapi tentu saja yang demikian itu lebih melekat di ingatan. Dan itu membuatku kadang jatuh ke kerendah-dirian.

Racun lain dari buku Nh. Dini adalah seks. Sebenarnya tidak melulu Nh. Dini yang kusalahkan. Banyak karya sastra lain yang jauh lebih parah dalam penggambarannya. Nh. Dini menggambarkannya dengan sangat halus malah. Cuma mungkin karena aku masih masa puber, jadi pikiran ini mudah sekali digiring ke arah sana. (ciyus nur? bukannya sekarang masih suka ngeres?!)

Aku ingat, berkat Tirai Menurun, aku menjadi tahu tentang ciuman dengan lidah sebelum aku akhirnya mengerti bahwa itu yang disebut sebagai french kiss. Ketika membaca Pada Sebuah Kapal baru-baru ini, ingatanku melayang pada buku lain yang aku lupa judulnya. Samar aku ingat bagaimana dia menyerahkan keperawanannya pada Yves, dengan adegan yang hampir sama dengan adegan Sri dan Saputro di buku ini. Ingatan-ingatan tentang hal seperti ini akan sulit dihapus dari otak, hampir sama kalau kita melihat adegan tersebut secara langsung via video/gambar bokep. Aku tidak tahu bagaimana pikiran anak-anak lain yang malah diwajibkan membaca buku ini saat SMP atau SMA.

Hal lain yang menggangguku: dahulu, “sedikit” terpengaruh buku-buku Nh. Dini, aku pernah memiliki pandangan bahwa seks bebas itu tidak masalah selama tidak ada pihak yang dirugikan, selama bukan terjadi di dekatku, selama bukan aku yang melakukannya. Sebuah pandangan yang sangat sempit. Sekarang setelah bisa melihat kerusakan apa yang mungkin ditimbulkan, aku jadi merasa bersalah pernah memiliki pandangan seperti itu.

Ah, Nh. Dini yang kubenci dan kucinta. Apapun itu aku tetaplah pengagumnya.

Kesimpulan: Buku-buku Nh. Dini seharusnya dilabeli “khusus dewasa”, begitu pula dengan buku-buku sastra lain. Berlebihankah?!

Kecipir dan Pelangi

Apa hubungan kecipir dan pelangi?! Jawabannya: tidak ada. Tulisan ini hanya untuk memposting resep kue kering kecipir dan resep rainbow cake yang pernah kujanjikan dulu. 🙂

Kue Kecipir (resep dari ibuk)

Bahan:

Tepung beras ketan 500gr, mentega 250gr, gula pasir 250gr, telur 3 butir, wijen secukupnya/sesuai selera, minyak goreng secukupnya

Cara:

  1. Kocok telur dan gula hingga mengembang.
  2. Masukkan mentega. Aduk hingga rata. (Untuk memudahkan, mentega bisa dilelehkan dulu lalu didinginkan baru dicampur ke adonan. Tapi kemarin aku langsung hantam aja, kukocok pake mixer kecepatan rendah)
  3. Tambahkan tepung ketan dan wijen, uleni sampai kalis. Cetak dengan cetakan bunga mawar (yang bentuk corong itu) panjang-panjang sekitar 5cm
  4. Goreng di minyak dingin. Ini bagian paling tricky. Jadi minyaknya harus dingin atau anget pas nyemplungin adonannya. Persis kaya nggoreng krupuk udang.

kecipirMaaf ga punya fotonya. Gambar dari sini.

Rasanya?! Enakkk… Nindy suka. Aku suka. Abi suka. Ada sekantong kecil yang kubawa ke kantor buat kiki, sebagai kompensasi rasa bersalah karena selama ini cerita doank kalo habis bikin ini-itu tanpa ngasih icip ke dia. Kebetulan mbak dimi ikut ngicip kecipirnya. Katanya enak banget. Tapi mungkin agak keras karena kalo dilihat di resep lezat itu kan tepungnya 200gr doank. Buatku sih untuk percobaan kali ini cukup sukses.

Rainbow Cheese Cake (resep lupa dari mana)

Bahan basecake:

Tepung terigu 200gr, gula pasir 200gr, susu bubuk 20gr, SP 1sdm, telur 10 butir, mentega 150gr, margarin 50gr, pewarna secukupnya

Cara:

  1. Lelehkan mentega dan margarin (aku pake blueband yang plus butter), biarkan dingin
  2. Campur tepung dan susu bubuk
  3. Kocok telur, gula, dan SP hingga mengembang
  4. Tambahkan campuran terigu dan susu sedikit demi sedikit
  5. Tambahkan campuran mentega
  6. Bagi adonan menjadi 6 bagian. Aku beli pewarna cuma kuning, merah, dan biru. Warna lainnya diturunkan dari 3 warna primer  itu. #emakirit
  7. Panggang 20 menit di suhu 175 derajat. Kemarin aku praktek cuma setengah resep. Jadi masing-masing adonan aku panggang 180 derajat 5 menit api bawah dilanjut 5 menit api atas bawah

Bahan cream:

cream cheese 300gr, mentega putih 100gr, susu bubuk 1 sachet

Cara:

  1. Aduk semua bahan
  2. Tunggu kue dingin baru dicover.

Aku baru tahu ternyata kata “dingin” ini maksudnya masukkan kue ke lemari es terlebih dahulu. Mula-mula aku langsung cover aja pada suhu ruangan. Jadinya aseeeemmmm. Ga nyambung blas. Makanya sempat kukira gagal. Namun begitu masuk kulkas, rotinya jadi lembut bangettt… dan cream cheese-nya begitu yummy. Ga nyombong, samalah rasanya dengan rainbow cheese cake harvest. *mintadilemparsendal

Ok, mari kita tutup postingan ini dengan foto anak kecil lagi nguleni adonan:

lucuManisnyaaaa!!! >.<

Sumaran de Misuteri

Baru balik. Ga ada bos, masih males kerja, jadi mari kita cerita-cerita dulu… 😀

Tiga hari kemarin aku mendapat tugas dinas luar ke Semarang. Kami berombongan, bertiga dengan bos kecil dan bos besar. Berangkat dari Jakarta sekitar pukul setengah 2. Begitu sampe kami langsung meluncur ke hotel. Yang kebagian nyari hotel itu saya. Dan berhubung saya “buta” dengan Semarang, maka nyari hotelnya asal saja yang penting masuk rate (maklum jalan-jalannya kan pake uang kantor). Begitu ketemu hotelnya, baru tahu kalo gedungnya bekas asrama haji (ayo ayo yang cah Semarang, silakan tebak!).

HOTERU

Aku mendapat kamar di lantai 2, mojok dekat dengan tangga. Begitu masuk aku mencium bau tidak sedap semacam campuran bau kamar mandi mampet dan bau kamar yang apek. Ah, mungkin lama-lama bakal terbiasa, pikirku.

Masih pukul setengah 4. Masih banyak waktu untuk istirahat sebelum nanti malam keluar makan bareng-bareng. Kesempatan itu kugunakan untuk sholat ashar dan “mengerjakan PR” tilawah harian. Aku merasa bacaanku sering sekali salah. Tapi aku berpikir mungkin karena aku baru selesai mens jadi lama ga baca dan aku sudah terlanjur terbiasa pake quran gede jadi kesusahan baca quran kecil.

Maghrib datang. Setelah sholat, sambil menunggu “panggilan” dari para bos, aku nonton tv sambil baca-baca al ma’tsurat. Males-malesan sih bacanya, ga niat gitu. Sekitar pukul 7 kami pun pergi makan malam di Soto Bangkong (tidak terlalu enak menurutku) dan baru balik sekitar pukul 9.

Sampai kamar, bersih-bersih muka, sholat isya’, nonton tv bentar. Sekitar pukul 11 aku sudah bersiap tidur. Sebelum tidur aku memasang alarm hape ke pukul 05.00 (lupa kalo Semarang itu lebih timur jadi harusnya Subuhnya lebih awal). Hape kutaruh di meja kecil di sebelah kanan kasur. Seperti kebiasaanku kalau tidur di hotel, semua lampu kumatikan kecuali lampu kamar mandi dan lampu depan pintu. Kemudian aku pun tidur tanpa perasaan apa-apa.

Entah pukul berapa, aku terbangun oleh bel pintu. Bel kamar itu kalo dipencet sekali, dia akan berbunyi “ting tunggggg…. ting tungggg…” jadi ada sedikit jeda dan gaung yang cukup lama. Aku terbangun di ting tung pertama. Yang pertama terpikir adalah petugas hotel yang biasanya pagi-pagi menanyakan laundry. Aku turun dari kasur ketika gema ting tung kedua belum menghilang. Sekilas menoleh ke arah pintu yang diterangi lampu, aku tidak melihat bayangan hitam di celah bawah pintu seperti yang biasanya tampak jika ada orang berdiri di depannya. Reflek, bukannya beranjak ke kiri ke arah pintu tersebut, aku malah berjalan ke kanan ke arah meja tempat hapeku berada. Ketika menemukannya, aku pun tersirap. Pukul 02.33. Siapa yang memencet bel di dini hari begini?!

Hatiku mulai ga enak. Apalagi selama itu aku tidak mendengar langkah kaki menjauh. Dengan mengucap bismillah dalam hati, aku memberanikan diri mengintip melalui lubang di pintu. Tidak ada siapa-siapa.

Dengan lemas aku duduk di kursi. Kubaca ayat kursi sekali, lalu kembali naik ke kasur. Di tengah rasa takut yang mulai melanda, aku tergoda untuk menelpon mz nug. Ah, tapi masak mau jadi secengeng itu, nur?! Niat itu pun kuurungkan. Aku mulai membaca salah satu dzikir di al ma’tsurat yang isinya meminta perlindungan dari makhluk-makhluk Allah, dilanjutkan dengan membaca surat An-nas. Sesudah itu aku menarik selimut dan bersiap untuk tidur kembali. Tapi perasaan masih ga enak. Akhirnya aku bilang, “Jangan ganggu lagi ya…” kemudian aku pun tidur sampai pagi. :p

SEN NO TO

Paginya saat sarapan aku membicarakan kejadian itu dengan bos kecil. Beliau orangnya sangat rasional, jadi kesimpulan beliau: itu mungkin hanya pikiran mbak nur saja. Pagi sampai siang kami pun sibuk dengan kegiatan kantor. Alhamdulillah bisa selesai dengan cepat. Sekitar pukul 2 kami sudah cabut. Iseng aku nyeletuk ke bos besar yang asli orang Semarang: pak, saya belum pernah ke Lawang Sewu.

Hyaaa… dengan pengalaman semalam masih belum kapok juga! Bos besar tentu dengan senang hati membelokkan mobil ke arah sana. Masuk ke area Lawang Sewu masing-masing orang dikenai biaya 10 ribu (kami tentu dibayari bos besar 😀). Dan inilah pemandangan yang pertama kali kulihat:

dekat pintu masukDari dekat pintu masuk

Lawang Sewu di siang hari. Dengan sebagian bangunan yang sudah direnov. Menurutku sama sekali tidak terasa aura seramnya. Kami pun masuk ke satu bangunan yang belum direnov. Di situ dipajang foto-foto dokumentasi PT KAI.

bos kecil dan bos besarMana yang bos kecil mana yang bos besar hayoo??

Sebuah lorong di lawang sewuSebuah lorong di lawang sewu.

Bangunan tersebut sebenarnya terdiri dari dua lantai. Setelah puas berkeliling di lantai bawah, para bos pun merasa capek sehingga memilih istirahat di bawah pohon sambil minum minuman dingin yang dijajakan. Aku?! Ga puas donk kalo cuma segitu doank. *sombong Aku pun minta ijin untuk mencari tangga ke lantai atas. Ternyata itu memang tindakan yang bodoh.

Aku menemukan tangga di sisi bangunan sebelah kiri. Tangga ke atas dibagi menjadi 3 arah untuk membuat jeda agar tidak nampak terlalu tinggi. Tidak ada siapa-siapa di situ. Dan tiba-tiba aku merasakan sesak di dada. Begitu sesak sampai rasanya sulit untuk bernafas. Aku memandang ke atas. Ragu untuk meneruskan. Tapi kapan lagi ke Semarang?! Akhirnya dengan mengucap salam aku nekad naik ke atas. Ternyata untuk pergi ke balkon aku harus masuk ruangan dulu. Benar-benar tidak ada siapa-siapa di situ selain aku. Kembali dengan mengucap salam aku masuk. Begitu sampai balkon aku merasa sedikit lega. Di sini aku baru berani mengambil gambar lagi. 😀 *penakutyangsokpemberani

balkon atasBalkon atas.

Karena masih tidak ada orang selain aku, aku pun tidak berani untuk meneruskan petualangan hingga ke ujung bangunan. Namun begitu mau turun, ada dua orang laki-laki dan satu orang perempuan yang hendak naik. Merasa punya teman, aku pun bablas ke bangunan kecil di seberang yang terhubung dengan bangunan induk itu melalui sebuah jembatan kecil. Lagi-lagi kebodohan. Ternyata bangunan itu merupakan kamar kecil jaman Belanda. Sepertinya untuk laki-laki karena aku melihat tempat pipis dari porselen putih yang berdiri (tau kan?!) Di sini nafasku mulai sesak lagi. Tapi ketika turun tangga, rasa berat yang menghimpit tidak sekuat tadi.

Dari gedung tua aku beranjak ke gedung kecil yang sudah direnov. Di sini didisplay beberapa hal terkait lawang sewu. Ada film pendeknya juga. Oiya, ketika di gedung tua tadi, bos besar sempat nyeletuk: biasanya kalo orang habis dari sini langsung mandi. Sekeluarnya aku dari gedung kecil itu, aku melewati deretan toilet di sebelah mushola. Iseng aku mencuci tanganku di salah satu keran di situ. Dan boleh percaya atau tidak, rasa berat yang menggayuti dadaku semenjak di tangga tadi langsung lenyap. Setiba di hotel, aku memutuskan untuk tidak langsung mandi dan malah ngelayap ke daerah Pandanaran untuk membeli oleh-oleh. Entah darimana aku yakin, “penunggu” Lawang Sewu tidak akan mengikutiku.

Walau begitu, untuk jaga-jaga, sisa waktu di hotel kugunakan benar-benar untuk mengaji. Herannya, kali ini tilawahku lancar. Berdzikir pun kulakukan sepenuh hati. Tiap keluar dan masuk kamar aku selalu mengucapkan salam. Bukannya sirik, tapi aku hanya ingin menghormati siapapun yang menghuni kamar itu, karena dia yang lebih berhak atasnya. Sedangkan aku hanya numpang tidur 2 malam. Yang jelas, malam jumat itu aku tidur dengan tenang, bablas sampai pagi, tanpa ketukan dan bel di pintu, juga tanpa mimpi seram ketemu penunggu lawang sewu. 🙂

Sekilas kesan lawang sewu:

1. Bangunan yang direnov itu ditempeli dengan semacam keramik berwarna-warni. Buatku kok jadi tampak kekanakan ya?!
2. Aku belum ketemu basement-nya. Gedung kaya gitu harusnya ada basement-nya bukan sih?! Harusnya ngekor guide nih biar tambah jelas. Sayang waktunya ga cukup (ga enak sama bos)
3. Komposisi temboknya berbeda dengan tembok jaman ini. Bata merah:kapur:pasir=2:1,5:1. Makanya jadinya keras sekali. Hampir mirip gedung induk lah.
4. Di depan ada lokomotif uap yang jadi monumen. Ternyata di situ dulu bekas kuburan pahlawan (seingetku ada 5 orang) tapi kerangkanya sudah dipindahkan.
5. Mau ke sana lagi?! Kalo mau nyari yang seram-seram sih mungkin seiring dengan selesainya renovasi ga bakal nemu seramnya lagi. Yah, hampir mirip museum jayakarta lah…