Sumaran de Misuteri

Baru balik. Ga ada bos, masih males kerja, jadi mari kita cerita-cerita dulu… 😀

Tiga hari kemarin aku mendapat tugas dinas luar ke Semarang. Kami berombongan, bertiga dengan bos kecil dan bos besar. Berangkat dari Jakarta sekitar pukul setengah 2. Begitu sampe kami langsung meluncur ke hotel. Yang kebagian nyari hotel itu saya. Dan berhubung saya “buta” dengan Semarang, maka nyari hotelnya asal saja yang penting masuk rate (maklum jalan-jalannya kan pake uang kantor). Begitu ketemu hotelnya, baru tahu kalo gedungnya bekas asrama haji (ayo ayo yang cah Semarang, silakan tebak!).

HOTERU

Aku mendapat kamar di lantai 2, mojok dekat dengan tangga. Begitu masuk aku mencium bau tidak sedap semacam campuran bau kamar mandi mampet dan bau kamar yang apek. Ah, mungkin lama-lama bakal terbiasa, pikirku.

Masih pukul setengah 4. Masih banyak waktu untuk istirahat sebelum nanti malam keluar makan bareng-bareng. Kesempatan itu kugunakan untuk sholat ashar dan “mengerjakan PR” tilawah harian. Aku merasa bacaanku sering sekali salah. Tapi aku berpikir mungkin karena aku baru selesai mens jadi lama ga baca dan aku sudah terlanjur terbiasa pake quran gede jadi kesusahan baca quran kecil.

Maghrib datang. Setelah sholat, sambil menunggu “panggilan” dari para bos, aku nonton tv sambil baca-baca al ma’tsurat. Males-malesan sih bacanya, ga niat gitu. Sekitar pukul 7 kami pun pergi makan malam di Soto Bangkong (tidak terlalu enak menurutku) dan baru balik sekitar pukul 9.

Sampai kamar, bersih-bersih muka, sholat isya’, nonton tv bentar. Sekitar pukul 11 aku sudah bersiap tidur. Sebelum tidur aku memasang alarm hape ke pukul 05.00 (lupa kalo Semarang itu lebih timur jadi harusnya Subuhnya lebih awal). Hape kutaruh di meja kecil di sebelah kanan kasur. Seperti kebiasaanku kalau tidur di hotel, semua lampu kumatikan kecuali lampu kamar mandi dan lampu depan pintu. Kemudian aku pun tidur tanpa perasaan apa-apa.

Entah pukul berapa, aku terbangun oleh bel pintu. Bel kamar itu kalo dipencet sekali, dia akan berbunyi “ting tunggggg…. ting tungggg…” jadi ada sedikit jeda dan gaung yang cukup lama. Aku terbangun di ting tung pertama. Yang pertama terpikir adalah petugas hotel yang biasanya pagi-pagi menanyakan laundry. Aku turun dari kasur ketika gema ting tung kedua belum menghilang. Sekilas menoleh ke arah pintu yang diterangi lampu, aku tidak melihat bayangan hitam di celah bawah pintu seperti yang biasanya tampak jika ada orang berdiri di depannya. Reflek, bukannya beranjak ke kiri ke arah pintu tersebut, aku malah berjalan ke kanan ke arah meja tempat hapeku berada. Ketika menemukannya, aku pun tersirap. Pukul 02.33. Siapa yang memencet bel di dini hari begini?!

Hatiku mulai ga enak. Apalagi selama itu aku tidak mendengar langkah kaki menjauh. Dengan mengucap bismillah dalam hati, aku memberanikan diri mengintip melalui lubang di pintu. Tidak ada siapa-siapa.

Dengan lemas aku duduk di kursi. Kubaca ayat kursi sekali, lalu kembali naik ke kasur. Di tengah rasa takut yang mulai melanda, aku tergoda untuk menelpon mz nug. Ah, tapi masak mau jadi secengeng itu, nur?! Niat itu pun kuurungkan. Aku mulai membaca salah satu dzikir di al ma’tsurat yang isinya meminta perlindungan dari makhluk-makhluk Allah, dilanjutkan dengan membaca surat An-nas. Sesudah itu aku menarik selimut dan bersiap untuk tidur kembali. Tapi perasaan masih ga enak. Akhirnya aku bilang, “Jangan ganggu lagi ya…” kemudian aku pun tidur sampai pagi. :p

SEN NO TO

Paginya saat sarapan aku membicarakan kejadian itu dengan bos kecil. Beliau orangnya sangat rasional, jadi kesimpulan beliau: itu mungkin hanya pikiran mbak nur saja. Pagi sampai siang kami pun sibuk dengan kegiatan kantor. Alhamdulillah bisa selesai dengan cepat. Sekitar pukul 2 kami sudah cabut. Iseng aku nyeletuk ke bos besar yang asli orang Semarang: pak, saya belum pernah ke Lawang Sewu.

Hyaaa… dengan pengalaman semalam masih belum kapok juga! Bos besar tentu dengan senang hati membelokkan mobil ke arah sana. Masuk ke area Lawang Sewu masing-masing orang dikenai biaya 10 ribu (kami tentu dibayari bos besar 😀). Dan inilah pemandangan yang pertama kali kulihat:

dekat pintu masukDari dekat pintu masuk

Lawang Sewu di siang hari. Dengan sebagian bangunan yang sudah direnov. Menurutku sama sekali tidak terasa aura seramnya. Kami pun masuk ke satu bangunan yang belum direnov. Di situ dipajang foto-foto dokumentasi PT KAI.

bos kecil dan bos besarMana yang bos kecil mana yang bos besar hayoo??

Sebuah lorong di lawang sewuSebuah lorong di lawang sewu.

Bangunan tersebut sebenarnya terdiri dari dua lantai. Setelah puas berkeliling di lantai bawah, para bos pun merasa capek sehingga memilih istirahat di bawah pohon sambil minum minuman dingin yang dijajakan. Aku?! Ga puas donk kalo cuma segitu doank. *sombong Aku pun minta ijin untuk mencari tangga ke lantai atas. Ternyata itu memang tindakan yang bodoh.

Aku menemukan tangga di sisi bangunan sebelah kiri. Tangga ke atas dibagi menjadi 3 arah untuk membuat jeda agar tidak nampak terlalu tinggi. Tidak ada siapa-siapa di situ. Dan tiba-tiba aku merasakan sesak di dada. Begitu sesak sampai rasanya sulit untuk bernafas. Aku memandang ke atas. Ragu untuk meneruskan. Tapi kapan lagi ke Semarang?! Akhirnya dengan mengucap salam aku nekad naik ke atas. Ternyata untuk pergi ke balkon aku harus masuk ruangan dulu. Benar-benar tidak ada siapa-siapa di situ selain aku. Kembali dengan mengucap salam aku masuk. Begitu sampai balkon aku merasa sedikit lega. Di sini aku baru berani mengambil gambar lagi. 😀 *penakutyangsokpemberani

balkon atasBalkon atas.

Karena masih tidak ada orang selain aku, aku pun tidak berani untuk meneruskan petualangan hingga ke ujung bangunan. Namun begitu mau turun, ada dua orang laki-laki dan satu orang perempuan yang hendak naik. Merasa punya teman, aku pun bablas ke bangunan kecil di seberang yang terhubung dengan bangunan induk itu melalui sebuah jembatan kecil. Lagi-lagi kebodohan. Ternyata bangunan itu merupakan kamar kecil jaman Belanda. Sepertinya untuk laki-laki karena aku melihat tempat pipis dari porselen putih yang berdiri (tau kan?!) Di sini nafasku mulai sesak lagi. Tapi ketika turun tangga, rasa berat yang menghimpit tidak sekuat tadi.

Dari gedung tua aku beranjak ke gedung kecil yang sudah direnov. Di sini didisplay beberapa hal terkait lawang sewu. Ada film pendeknya juga. Oiya, ketika di gedung tua tadi, bos besar sempat nyeletuk: biasanya kalo orang habis dari sini langsung mandi. Sekeluarnya aku dari gedung kecil itu, aku melewati deretan toilet di sebelah mushola. Iseng aku mencuci tanganku di salah satu keran di situ. Dan boleh percaya atau tidak, rasa berat yang menggayuti dadaku semenjak di tangga tadi langsung lenyap. Setiba di hotel, aku memutuskan untuk tidak langsung mandi dan malah ngelayap ke daerah Pandanaran untuk membeli oleh-oleh. Entah darimana aku yakin, “penunggu” Lawang Sewu tidak akan mengikutiku.

Walau begitu, untuk jaga-jaga, sisa waktu di hotel kugunakan benar-benar untuk mengaji. Herannya, kali ini tilawahku lancar. Berdzikir pun kulakukan sepenuh hati. Tiap keluar dan masuk kamar aku selalu mengucapkan salam. Bukannya sirik, tapi aku hanya ingin menghormati siapapun yang menghuni kamar itu, karena dia yang lebih berhak atasnya. Sedangkan aku hanya numpang tidur 2 malam. Yang jelas, malam jumat itu aku tidur dengan tenang, bablas sampai pagi, tanpa ketukan dan bel di pintu, juga tanpa mimpi seram ketemu penunggu lawang sewu. 🙂

Sekilas kesan lawang sewu:

1. Bangunan yang direnov itu ditempeli dengan semacam keramik berwarna-warni. Buatku kok jadi tampak kekanakan ya?!
2. Aku belum ketemu basement-nya. Gedung kaya gitu harusnya ada basement-nya bukan sih?! Harusnya ngekor guide nih biar tambah jelas. Sayang waktunya ga cukup (ga enak sama bos)
3. Komposisi temboknya berbeda dengan tembok jaman ini. Bata merah:kapur:pasir=2:1,5:1. Makanya jadinya keras sekali. Hampir mirip gedung induk lah.
4. Di depan ada lokomotif uap yang jadi monumen. Ternyata di situ dulu bekas kuburan pahlawan (seingetku ada 5 orang) tapi kerangkanya sudah dipindahkan.
5. Mau ke sana lagi?! Kalo mau nyari yang seram-seram sih mungkin seiring dengan selesainya renovasi ga bakal nemu seramnya lagi. Yah, hampir mirip museum jayakarta lah…

Iklan

3 thoughts on “Sumaran de Misuteri

  1. Jadi inget kalau bentar lagi mesti balik kantor. Dan bakal males banget kalau disuruh DL… *anak rumahan, eh kantoran*

    Udah pernah ke basement gedung induk, Nur? Sekarang gedung itu udah dikosongin belum sih?

  2. Ping-balik: Rurouni Kenshin: Live Action | Hujan Cahaya Bulan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s