Kubenci dan Kucinta: Nh. Dini

Sekitar kelas 4 SD, aku mulai iseng menyingkat namaku dengan NH. Fauziah. Nama itu resmi kugunakan untuk menamai buku maupun lembaran-lembaran kertas ujian. Beruntung saat itu aku bersekolah dimana ayahku menjadi salah satu pengajarnya, sehingga kebiasaanku menyingkat nama dan hanya menampilkan nama belakang tidak menjadi masalah. Semua guru kenal aku sehingga tahu pasti lembaran ujian itu milikku walau hanya tertera nama belakang di sana.

Namun kebiasaan ini harus kuhilangkan ketika aku masuk SMP. Di negeri ini, orang lebih familiar dengan nama depan. Sekeras apapun aku menyukai nama belakangku, aku harus menerima bahwa semua orang lebih mengenal nama depanku.

Sekitar kelas 2 SMP, aku menemukan sebuah buku karya seseorang yang bernama “hampir” sama denganku: Nh. Dini. Ya, awal mula aku tertarik padanya adalah karena kemiripan nama kami. Buku pertama yang kubaca saat itu berjudul Sekayu. Sejak Sekayu, aku langsung jatuh hati pada gaya penceritaannya yang amat deskriptif. Padahal saat itu aku sudah lebih dulu jatuh cinta pada gaya Budi Darma. Namun ternyata penceritaan gaya deskriptif tidak membosankan juga untuk diikuti. Entahlah, mungkin memang aku saja yang terlalu kepo dengan kehidupan orang lain. Klop dengan isi buku-buku Nh. Dini, khususnya serial kenangan, yang bercerita secara mendetail tentang kehidupan pribadinya. Mungkin di jaman sekarang buku-buku Nh. Dini akan mirip dengan isi sebuah blog. 🙂

Berawal dari Sekayu, berlanjut ke Sebuah Lorong di Kotaku, Padang Ilalang di Belakang Rumah, seterusnya hingga sekarang aku sudah menamatkan sekitar 12 buku karya Nh. Dini. Dengan pengalaman sebanyak itu, wajarlah bila Nh.Dini berpengaruh besar dalam gaya penceritaanku. Walau sebenarnya bila ditanya lagi apa isi buku-buku yang kubaca itu, aku dengan malu akan menjawab: sudah lupaaaa. :mrgreen:

starry-night2

Lalu, dengan semua kecintaanku pada Nh. Dini, kenapa aku harus membencinya?!

Yaaahhh…agak terlalu kasar sih memang kalau disebut membenci.

Aku sedikit ingat catatan yang kutulis di diary-ku, entah umur berapa, saat aku sedang kesal-kesalnya karena hingga “berumur” pun tidak pernah ada laki-laki yang menyukaiku (awww… awww… *krisiskepercayaan). Aku ingat menulis demikian:

Nh. Dini hanya menyuguhkan impian semu. Seorang wanita muda yang cantik dan serba bisa, dikelilingi dan dipuja oleh banyak lelaki.

Segitunyaaa…. Karena pada dasarnya yang kutangkap dari banyak cerita Nh. Dini adalah tentang perempuan dan laki-laki di sekitarnya. Walau sebenarnya Dini tak melulu bercerita soal asmara, tapi tentu saja yang demikian itu lebih melekat di ingatan. Dan itu membuatku kadang jatuh ke kerendah-dirian.

Racun lain dari buku Nh. Dini adalah seks. Sebenarnya tidak melulu Nh. Dini yang kusalahkan. Banyak karya sastra lain yang jauh lebih parah dalam penggambarannya. Nh. Dini menggambarkannya dengan sangat halus malah. Cuma mungkin karena aku masih masa puber, jadi pikiran ini mudah sekali digiring ke arah sana. (ciyus nur? bukannya sekarang masih suka ngeres?!)

Aku ingat, berkat Tirai Menurun, aku menjadi tahu tentang ciuman dengan lidah sebelum aku akhirnya mengerti bahwa itu yang disebut sebagai french kiss. Ketika membaca Pada Sebuah Kapal baru-baru ini, ingatanku melayang pada buku lain yang aku lupa judulnya. Samar aku ingat bagaimana dia menyerahkan keperawanannya pada Yves, dengan adegan yang hampir sama dengan adegan Sri dan Saputro di buku ini. Ingatan-ingatan tentang hal seperti ini akan sulit dihapus dari otak, hampir sama kalau kita melihat adegan tersebut secara langsung via video/gambar bokep. Aku tidak tahu bagaimana pikiran anak-anak lain yang malah diwajibkan membaca buku ini saat SMP atau SMA.

Hal lain yang menggangguku: dahulu, “sedikit” terpengaruh buku-buku Nh. Dini, aku pernah memiliki pandangan bahwa seks bebas itu tidak masalah selama tidak ada pihak yang dirugikan, selama bukan terjadi di dekatku, selama bukan aku yang melakukannya. Sebuah pandangan yang sangat sempit. Sekarang setelah bisa melihat kerusakan apa yang mungkin ditimbulkan, aku jadi merasa bersalah pernah memiliki pandangan seperti itu.

Ah, Nh. Dini yang kubenci dan kucinta. Apapun itu aku tetaplah pengagumnya.

Kesimpulan: Buku-buku Nh. Dini seharusnya dilabeli “khusus dewasa”, begitu pula dengan buku-buku sastra lain. Berlebihankah?!

Iklan

5 thoughts on “Kubenci dan Kucinta: Nh. Dini

  1. saya juga suka nh dini dan mulai suka dari sekayu juga 😀 hum sy belum membaca serial lain kecuali bbrp dari serial kenangan jadi belum tau ternyata ada sedikit tulisanberbau dewasa di novel beliau

  2. saya kenalan sama karya nh dini itu waktu smp, yg judulnya itu sebuah lorong di kotaku. kemudian nemu lagi buku nh dini lainnya di perpustakaan smp saya yaitu pada sebuah kapal. dan saya setuju, buku kayak pada sebuah kapal gak layak masuk perpustakaan smp, karena isinya dewasa banget, hehe

    walaupun demikian, saya tetap cinta karya2 beliau 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s