Jak-Japan Festival dan Me Time Yang Gagal

Sebenarnya kejadian ini sudah lama sekali. Basi banget lah buat diceritain. Tapi berhubung (lagi-lagi) sedang ga ada bos, jadi mari kita manfaatkan waktu luang emas ini untuk menulis post. :mrgreen:

Jaman masih bujang dulu, aku pernah punya semacam “tekad”: bahwa dengan siapapun aku akan menikah nanti, entah dia sealiran denganku sama-sama menyukai Jepang atau nggak, aku harus berkesempatan barang satuuu kali aja, pergi berdua dengannya ke sebuah matsuri (perayaan). Ini tekad ga main-main. Waktu itu aku ga tahu apakah di Indonesia ini bakal ada matsuri kaya di Jepang sana. Lama-lama aku dengar kalo di UI Depok “sepertinya” rutin digelar festival Jepang setiap tahunnya. Bahkan setelah bekerja di Jakarta, akhirnya Jakarta juga secara rutin menggelar Jak-Japan Matsuri. Nah, matsurinya sudah ada. Tinggal orang yang mau diajak nih yang belum ada. Sementara untuk pergi sendirian aku ga minat. Pergi dengan teman juga ga ada feeling.

Eh, sebenarnya mau ngapain sih di matsuri?!

Yah, bayanganku sebenarnya sesimpel: maen game-game yang ada, berjalan-jalan sambil bergelayut di lengannya di tengah keramaian orang, makan takoyaki or okonomiyaki, dan ditutup dengan nonton hanabi (kembang api). >.<

Akhirnya aku bertemu mz nug. Tentu saja keinginan untuk pergi ke matsuri belumlah kandas. Namun nyatanya sampai hampir dua tahun pernikahan, keinginan itu belum terwujud juga. Sebentar tak nginget-nginget. Di masa menunggu pernikahan sepertinya sempat ada digelar festival Jepang di Depok. Tapi kan belum muhrim… Lalu setelah nikah ada juga Jak-Japan festival digelar di Jakarta. Tapi aku punya bayi kecil yang ga enak ditinggalin. Gemes gemes gemes! Pingin mesra-mesraan dikit aja kok susah sih? Kami kan belum pernah sama sekali bulan maduuu… (hubungannya nur?! -__-)

Makanya waktu mz nug memberitahu bakal ada Jak-Japan Festival tahun ini, aku jadi semangat sekali. Sudah jauh hari ngetekin tanggal 30 September itu HARUS PERGI ke closing ceremony-nya di Monas. Sedikit menurunkan standar, aku cuma ingin hadir walau sebentar. Ga muluk-muluk lihat hanabi karena pasti diadakannya pas penutupan jam 10-an. Ga tega ninggalin nindy buat ngluyur malam-malam.

Hari-H. Hampir ga jadi berangkat karena mendung. Juga karena aku keburu mutung. Biasa, kalo terlalu deg-degan aku malah cenderung membatalkan saja. Mz nug gemes. Katanya pingin?! Akhirnya berangkat ketika jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Hati udah mulai ga enak. Aku menguatkan diri: ini me time yang aku inginkan. Sampe Senen sekitar pukul 3. Niat awal mau parkir di St. Gambir. Ternyata jalanan penuh karena ada aksi (semoga ga salah) mendukung Palestina. Ga enak hati pertama: mz nug dulu ikut aksi-aksi semacam ini, setelah menikah malah kubawa ke festival. Surgawi VS duniawi sekali! 😦

Masuk area Monas bingung letak acaranya. Ternyata jauh juga dari parkiran stasiun. Jalan kaki panas-panasan gempor. Ga enak hati kedua: aku merasa bodoh di depan mz nug karena aku yang ngajakin tapi malah ga tau tempatnya.

Untuk masuk ke area matsuri seingetku karcisnya 25rb. Dapat kipas dengan logo matsuri di satu sisi dan sponsor di sisi lainnya. Begitu masuk baru tahu kalo ternyata keadaan sangat ruwet. Penuh orang, debu beterbangan, dan udara sangat panas karena matahari bersinar terang. Ga nyaman pertama: aku mulai biduran. Ga nyaman kedua: mz nug ga mau kugelayutin. Padahal kan impianku jalan pelan-pelan sambil menikmati suasana. Tapi ya memang ga mungkin sih mau peluk-pelukan di panas terik kaya gitu.

Aku mencoba mengacuhkan segala ketidak-nyamanan dan memutuskan untuk mulai menyusuri stand-stand. Stand pertama yang kukunjungi adalah stand origami. Ada berbagai stand di sana dari stand berfoto dengan memakai yukata, stand yang menjual pernik-pernik anime, stand permainan-permainan ketangkasan, stand makanan-makanan khas matsuri, bahkan stand maskapai-maskapai penerbangan yang melayani rute perjalanan ke Jepang. Aku asal lewat karena tidak ada yang menarik hatiku. Baru setengah lingkaran, aku mendengar suara riuh di belakang. Oh, ternyata rombongan pembawa omikoshi! Padahal aku udah hopeless mengira ga bakalan nemu apa-apa.

omikoshi anakIni rombongan anak-anak

omikoshi remaja putriRombongan ibu-ibu remaja putri

Omikoshi dan monasOmikoshi di depan Monas

Selain muas-muasin nonton omikoshi dari dekat, aku juga sempat nonton sebentar satu tarian massal gitu, cuma ga tahu namanya. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sementara mz nug belum sholat ashar (aku lagi ga sholat). Jadi muternya dipercepat. Aku masih sempat nyamber souvenir paling murah dan beli makanan sekedarnya buat oleh-oleh pulang (sekedarnya tapi yang dibeli okonomiyaki, takoyaki, dan dorayaki :p) Yang paling menyedihkan itu adalah ketika mau cabut, di panggung kecil di bagian tengah area lagi ada 2 orang yang perform maen gitar covering lagu-lagunya Depapepe. Oh, aku pingin menikmati lebih lama lagiii… T-T

Mz nug akhirnya sholat di mushola di St. Gambir. Kami pun pulang sesudah itu. Sampe rumah hampir magrib. Kurang puas sih, tapi mau gimana lagi. Makanya aku ga terlalu pingin sok ber-“me time” ria. Me time itu kan intinya timbulnya kebahagiaan dan semangat baru. Kalo kaya gini, udah badan capek, hati ga lega. Nginget-nginget jadi sedih ih… 😦

Oiya, ini setelah sampai rumah:

bengongBengong sambil bawa kipas yang lebih gede dari diameter kepalanya

nampangSejak kapan jadi banci tampil kaya gini, sih?!

oleh-olehOleh-oleh 15 rebu-an

Lain kali kalo mau me time mending yang ga sengaja kaya kemaren, ah.

Iklan

2 thoughts on “Jak-Japan Festival dan Me Time Yang Gagal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s