Arok Dedes

Aaaaah, aku terhura… eh, terharu…

Bercampur baur perasaan yang kurasakan saat ini. Sebuah buku luar biasa berhasil kubaca. Sebuah buku yang membuatku terlena dari deadline kerjaan, tak bisa berhenti membacanya selama 2 hari terakhir. Gaya bercerita yang menawan, konflik yang pelik, kata-kata yang walaupun terdengar asing di telinga dan sulit dilafalkan namun terasa indah, perang besar (ya, saya selalu suka dengan film kolosal dan peperangan besar), cerita yang rumit namun lebih masuk logika. Ah, Arok Dedes memiliki segala-galanya.

Aku lupa kenapa aku tiba-tiba tertarik dengan buku ini. Pertama menemukannya di perpustakaan, aku ingat kalo Feris pernah membacanya. Di bab awal-awal memang aku agak malas-malasan membacanya. Terlalu lambat. Namun begitu tengah buku terlewat, begitulah, aku melupakan bahwa ini masih jam kantor. Hehehe

Seperti biasa, tak usahlah aku menuliskan ceritanya di sini ya. Ada umi habibah yang sudah menceritakan dengan baik dan lengkap. Aku hanya ingin menuliskan kesan-kesanku saja.

  1. Buku ini membuatku terkenang ketika usiaku masih 13 tahun dan pertama kali menamatkan Ramayana dan Mahabarata. Saat itu setiap waktu istirahat kuhabiskan di perpus tenggelam di buku-buku ini. Sebenarnya waktu itu otak kecilku tak terlalu mampu mencerna kata-kata sulit dan cerita penuh intrik dengan didukung tokoh yang berjibun seperti itu. Tapi perasaanku jelas: aku terkagum-kagum. Dan perasaan yang sama seperti saat membaca Ramayana dan Mahabarata kembali muncul saat membaca Arok. Terlebih saat percakapan di sidang brahmana, dimana setiap orang mengungkapkan pendapatnya. Aku sukaaa… Kalo Ramayana Mahabarat kan wajar soalnya yang nulis memang hidup di jaman yang tidak terpaut jauh. Lha Arok Dedes ini?! Kok bisa ya manusia modern merekayasa adegan-adegan yang terjadi ratusan tahun lampau dengan begitu detail dan seolah nyata?!
  2. Buku ini terus terang membuatku membandingkannya dengan Taiko-nya Yoshikawa Eiji. Sama-sama berlatar sejarah, sama-sama nyerempet tokoh-tokoh nyata, sama-sama bisa membuat orang yang membacanya meyakini bahwa memang itulah yang benar-benar terjadi.
  3. Aku suka dengan Arok versi yang rasional ini. Apalagi sebagai orang asli Malang-Kediri. Dari dulu aku bertanya-tanya apakah bisa sebuah kerajaan besar bisa didirikan dan langgeng di bawah kekuasaan seseorang yang hanya “berandalan dan beringasan”?! Kupikir pastinya tidak akan semudah itu. Aku lebih bisa menerima bahwa pastilah Arok memiliki “sesuatu”, entah apakah itu. Mungkin memang tidak sehebat Arok di buku ini, tapi aku yakin Sri Rajasa bukanlah orang biasa.
  4. Selain Arok, aku juga suka Umang dan Dedes versi ini. Umang: tegas, tabah, pejuang. Dedes: cantik, pintar, ambisius. Dua-duanya perempuan yang kuat dengan sifatnya masing-masing. Sudah selayaknya bila keduanya sama-sama menjadi paramesywari.
  5. Kata-kata. Ah, kata-kata. Darimana sih Mbah Pram ini mendapatkan kata-kata jadul yang bertebaran di buku ini?!

Yang mungkin agak tidak bisa kubayangkan adalah setting tempat-tempat kejadian. Apalagi pas adegan Gunung Kelud meletus. Aku susah payah menghadirkan peta Malang dalam ingatanku dan tetap gagal untuk mengerti kenapa adegannya seperti itu. Dan terlepas dari nyata-tidaknya tokoh Arok Dedes serta berbagai keraguan akan keaslian kitab Pararaton, buatku setiap kisah masa lalu adalah pelajaran bagi masa kini yang bermanfaat untuk dipelajari.

Ngayal: Andai buku ini difilmkan (asal bikinnya sepenuh hati), pasti adegan-adegannya bakalan bagus banget. Heroik!

Iklan

7 thoughts on “Arok Dedes

  1. Ah, kalau aku mah lebih mengandaikan Nagabumi yang difilmkan, Mbak. Dan beneran, serius, sungguh, kemarin itu aku nge-draft postingan dengan judul “Seandainya…”. Nah, salah satu seandainya itu ya mengandaikan Nagabumi difilmkan, Mbak. Kok beneran ngepas gini. Dan masih nunggu-nunggu Nagabumi 3 keluar nih.

    Aku suka versi Arok di buku ini, Mbak. Begitu kuat karakternya. Ah, pengen deh baca buku-buku dengan nuansa jaman-jaman kerajaan Jawa semacam ini, baik ada kaitannya dengan sejarah maupun murni fiksi macam Nagabumi, yang kata-katanya gak murahan, gitu loh. Ada lagi gak yak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s