Analisa

Apabila seorang ibu-ibu beranak satu berumur kepala dua hampir tiga yang sedang berdiri di depan kantor suaminya untuk menunggu suaminya yang sedang absen, tiba-tiba disapa oleh seorang bapak tak dikenal dengan ucapan semacam, “Dek, PKL di sini ya?!” padahal si ibu sedang memakai seragam yang sama dengan pegawai kantor tersebut, maka kemungkinannya ada 2:

  1. Ibu itu memang masih layak berwajah anak SMA.
  2. Anak-anak SMA jaman sekarang umumnya berwajah lebih tua daripada seharusnya sehingga para gadis tampak terlihat seperti ibu-ibu.

Sekian analisa sederhana saya.

 

Saathiya

Kali ini mau bernostalgia sejenak.

Waktu itu sekitar kelas 2 SMA. Entah darimana asalnya, aku nonton sebuah film india berjudul Saathiya. Sekali nonton saja, aku langsung tergila-gila: baik ceritanya, settingnya, pemeran laki-lakinya, lagu-lagunya, semuanya aku suka. (Ini tentu tanpa mengecilkan keberadaan Kenshin, Long Vacation, dan Hum Dil De Chuke Sanam ^-^)

Saathiya beralur maju mundur. Dimulai dari adegan seorang laki-laki yang kelimpungan mencari istrinya yang hilang/tak pulang-pulang. Alur mundur ke masa awal-awal pertemuan mereka, balik lagi ke kepanikan saat ini, mundur lagi ke masa perkenalan, pernikahan yang ditentang orang tua, kenekatan untuk kawin lari, hingga pertengkaran-pertengkaran di awal nikah. Kacau. Tapi tidak memusingkan untuk ditonton.

saathiya

Yang aku suka dari Saathiya adalah ceritanya yang berkisar pada kehidupan anak muda. Suhani seorang mahasiswi kedokteran. Sedang Aditya bersama teman-temannya mempunyai usaha design production gitu (kalo ga salah). Kehidupan mereka biasa-biasa saja. Ga mewah bangeeet (ingat Kabhi Kushi Kabhi Gam), juga ga miskin banget (jadi ingat Slumdog Milionare). Hal ini membuat cerita terasa dekat dengan keseharian. Cara dan tempat mereka berkenalan, kehidupan yang selalu dikelilingi teman-teman (di usia 20-an teman seringkali lebih dekat daripada keluarga, terlebih bila kamu tinggal sendirian), masa awal-awal pernikahan yang “membara”, juga pertengkaran-pertengkaran di awal pernikahan gara-gara hal yang remeh-remeh. Benar-benar terasa real. Aku juga suka settingnya yang biasa-biasa saja itu, dengan banyak warna-warna senja. Apalagi musik-musiknya juga T.O.P B.G.T. Ga heran kalo film ini mendapat banyak penghargaan di bidang musik. Ssst, aku juga suka banget sama Vivek Oberoy. Aku suka lehernya yang kelihatan kuat. Aku suka wajahnya yang berbayang bekas cukuran. Ah, segitunya ya fantasi ABG-ku. Hihihihi. *tutupin-muka

Buatku banyak adegan-adegan yang memorable dari film ini:

  1. Adegan saat Aditya dengan wajah gembira naik motor gede sambil mendengarkan lagu dari headseatnya, lalu dengan cueknya melewati kerumunan orang yang sedang merubung sebuah kecelakaan, tanpa menyadari bahwa yang tergeletak di jalan itu adalah istrinya sendiri. Lagu saat itu: Humdum Suniyo Re. Iramanya sedikit hip-hop. Sangat “anak muda”. Ditunjang dengan wajah tampan Vivek Oberoy, aku klepek-klepek pada pandangan pertama. Hahaha
  2. Adegan Aditya dan Suhani papasan di kereta ekonomi yang berlainan. Dua-duanya sama-sama sedang berdiri di pintu (tahu kan kereta diesel a.k.a odong-odong kalo penuh itu kaya apa). Kereta Aditya ke kanan dan kereta Suhani ke kiri. Dua-duanya saling mengenali akan pertemuan pertama mereka di pernikahan teman mereka dulu. Duuh, ketemu gebetan di kereta ekonomi or whatever you called public transportation. Fakta: banyak orang yang ngalamin tapi sedikit banget yang menuangkan dalam cerita.
  3. Adegan saat Aditya keliling India (lebay!) buat nyari tempat Suhani koas gara-gara tidak mendapat info satu pun dari keluarga Suhani. Ah, mau donk dikejar-kejar sampai segitunya. (Setelah bekerja aku mendapat cerita serupa tentang salah satu atasan yang dulu juga pernah mengejar calon istrinya yang sedang koas sampai ke pedalaman Kalimantan.)
  4. Adegan saat mereka baru menikah diam-diam. Tentu mereka belum bisa tinggal bersama, jadi Aditya menelpon Suhani lewat telepon di warung. Kalo ga salah percakapannya seperti “Bagaimana kamu ini?! Seharusnya kamu di sini menghangatkanku. Masak seorang laki-laki yang sudah menikah hanya dapat memandang bulan ditemani surat nikahnya?!”. Hihihi, salah sendiri kawin lari mas…
  5. Adegan awal-awal pernikahan, setelah mereka diusir dari rumah dan akhirnya mengontrak sebuah apartemen sederhana. Lagu saat itu: Aye Udi Udi. Sumpah jaman itu klip lagu ini buatku terasa provokatif banget. Hot dengan caranya sendiri tanpa perlu buka-bukaan. Yah, namanya juga penganten baru. Adegan nyuci baju bareng pun jadi kliatan mesra. Aku lebih merinding ndengerin Aye Udi Udi daripada Chori Pe Chori yang dinyanyikan dengan tarian vulgar oleh Vivek dan Tabu. Yang terlalu vulgar malah terasa datar ga sih?!
  6. Adegan saat ayah Suhani sakit keras dan Aditya dengan sangat menyesal melarang Suhani menengok ayahnya, mengingat sumpah ayah Suhani yang tidak ingin melihat Aditya lagi. Jadi inget hadist (eh, hadist ya?) soal mematuhi kata-kata suami dan dilarang bepergian tanpa seijinnya. Dilema banget buat  Suhani. Tapi pada akhirnya Aditya luluh juga.
  7. Adegan Aditya yang panik mencari istrinya. Aku sungguh ga tega melihat wajah nelangsanya saat itu. Ah, laki-laki ini benar-benar mencintai istrinya.

Seterusnya aku datar-datar saja dengan endingnya. Kehadiran Sakhrun Khan dan Tabu tak terlalu kuperhatikan. Juga adegan penutup dimana akhirnya Suhani sadar dari koma juga buatku biasa saja. Saathiya buatku adalah tentang kisah anak muda. Keberanian mereka memilih jalan hidup, perjuangan mereka untuk mendapatkan nafkah, persahabatan yang setia. Semua itu menjadi kenangan tak terlupakan yang terus membekas di ingatan.

Btw, kata “saathiya” ternyata artinya “jodoh”.

28 Januari 2008 – 28 Januari 2013

Sebuah postingan telat.

Beberapa hari lalu aku mendapat notifikasi dari wordpress yang memberiku selamat atas kebersamaan kami selama 5 tahun. Tak kusangka, sudah 5 tahun berselang sejak aku pertama kali membuat akun wordpress. Sebenarnya aku ingin membuat hari ultah untuk blog ini adalah tanggal 9 April, dimana pada tanggal 9 April 2008-lah pertama kalinya aku mempublish sebuah tulisan. Tapi dengan fasilitas baru wordpress yaitu notifikasi di pojokan atas kanan ini, aku jadi lebih suka “memindahkan” hari ultah blog ini ke tanggal 28 Januari saja. Alasannya sederhana: aku suka lupa dengan tanggal ultah. Kalo ada yang ngingetin gini kan jadi lebih enak. (Diingetin saja bikin perayaannya masih nelat, apalagi ga diingetin đŸ˜€)

Err, maafkan kalo tulisan peringatan 5 tahun ini akan sangat random dan ga jelas pokok pikirannya.

Sudah 5 tahun aku nge-blog dan total “baru” 302 tulisan yang ada di blog ini. “Baru” tentu saja, karena banyak sekali blogger lain yang jauh lebih produktif. Eh, hingga detik ini aku tidak berani menyebut diriku blogger dink. Karena blogger bukan saja orang yang memiliki blog, tapi juga aktif di blogosphere. Rajin blogwalking, rajin ninggalin komen, menjalin pertemanan luas, dan akhirnya kopdar. Aku tidak seperti. Aku cukup kepo mengikuti beberapa blog yang kusuka, tapi sangat pemalu untuk meninggalkan komentar di sana. Takut salah omong, takut salah komentar, takut terlalu berbeda dunia. Dus, jadi silent reader terus. Dan ini sampai sekarang tidak ada perkembangan. Memang sangat menyedihkan. Tapi dengan tidak terkenalnya blog ini dan diriku, aku juga jadi lebih aman dan nyaman untuk nyampah di blog sendiri.

Terus terang isi blog ini sangat labil. Yah, bayangkan dari seseorang yang baru masuk kerja, jombloer sejati, masih terkenang-kenang akan cinta lama, mudah sekali berpindah-pindah hati, lalu menjadi seorang istri, ibu, dst. Perubahan bahasa dari kata ganti saya, aku, nur, dst. Cukup memalukan. Akhir-akhir ini aku menyadari bahwa blog ini dengan tingkat kelabilannya tidak akan bisa menjadi blog emak-emak seperti yang dibuat emak-emak lain. ASIX, MPASI, perkembangan anak, tingkah laku suami, rumah, memasak, berkebun, dst. Selain jenuh dan ingin melindungi privasi keluarga, aku juga berpikir, “lha dulunya kaya gitu kok sekarang gini banget”. Sudahlah. Makanya aku mulai menulis lagi tentang diriku sendiri saja. Tentang buku-buku yang kusuka, tentang film yang kutonton. Karena sejatinya nur masihlah sama seperti dulu: kekanakan, cinta buku, suka film, suka ngluyur, gila Jepang. Namun tentu saja tak bisa dipungkiri bahwa status “emak-emak” akan membuat pilihan buku dan film menjadi bergeser. Juga dorongan untuk pamer hasil masakan. Ah, itu tak bisa dihindari. Pamer pamer pamer. Tulisan sampah dan tidak bermanfaat bagi orang lain. Sepertinya hal ini masih akan berlangsung terus. Duh, semoga dosaku diampuni.

Namun walaupun labil, tak berguna, dan bukan blogger, tapi aku selalu menerima komentar apapun yang masuk. Beberapa waktu lalu aku meninggalkan komentar di satu blog teman. Aku merasa bahasaku tidak kasar. Hanya mungkin komentarku akan merusak sedikit logika dari ceritanya. Ternyata komentarku tidak dimoderasi olehnya. Aku sedih. Aku tidak suka perbuatan memilih komentar yang baik-baik saja seperti itu, walaupun aku tidak akan membenci orangnya. Aku hanya tidak suka dengan perbuatannya. Di blog ini aku sudah pernah didebat orang, dimaki-maki dengan hinaan paling kasar khas Jawa Timur juga pernah. Tapi aku tidak pernah menghapus komentar semacam itu. Bagiku komentar negatif menjadi penyadaran bagiku untuk lebih berhati-hati dan tidak lagi menulis dengan emosi. Tulisan yang dibuat dengan pikiran kalut memang sering kali menyebabkan kekacauan sesudahnya.

Terakhir, lewat tulisan ga jelas ini aku ingin menyampaikan terima kasih kepada anggota trio F (nah lho, kapan resmi-resmiannya seenaknya aja langsung sebut) Farijs van Java dan Fairuzdarin. Berkat kalian aku masih setia ngeblog. Juga kepada mbak-mbak, adik kos, dan semua teman yang sudah mampir ke sini. Walaupun sebenarnya tulisan itu tidak butuh pembaca untuk ada, tapi seorang penulis sebenarnya butuh teman untuk bisa selalu menulis.

Dan kepada wordpress, semoga hubungan kita ini tetap langgeng. *peluk-huruf-W-besar