Saathiya

Kali ini mau bernostalgia sejenak.

Waktu itu sekitar kelas 2 SMA. Entah darimana asalnya, aku nonton sebuah film india berjudul Saathiya. Sekali nonton saja, aku langsung tergila-gila: baik ceritanya, settingnya, pemeran laki-lakinya, lagu-lagunya, semuanya aku suka. (Ini tentu tanpa mengecilkan keberadaan Kenshin, Long Vacation, dan Hum Dil De Chuke Sanam ^-^)

Saathiya beralur maju mundur. Dimulai dari adegan seorang laki-laki yang kelimpungan mencari istrinya yang hilang/tak pulang-pulang. Alur mundur ke masa awal-awal pertemuan mereka, balik lagi ke kepanikan saat ini, mundur lagi ke masa perkenalan, pernikahan yang ditentang orang tua, kenekatan untuk kawin lari, hingga pertengkaran-pertengkaran di awal nikah. Kacau. Tapi tidak memusingkan untuk ditonton.

saathiya

Yang aku suka dari Saathiya adalah ceritanya yang berkisar pada kehidupan anak muda. Suhani seorang mahasiswi kedokteran. Sedang Aditya bersama teman-temannya mempunyai usaha design production gitu (kalo ga salah). Kehidupan mereka biasa-biasa saja. Ga mewah bangeeet (ingat Kabhi Kushi Kabhi Gam), juga ga miskin banget (jadi ingat Slumdog Milionare). Hal ini membuat cerita terasa dekat dengan keseharian. Cara dan tempat mereka berkenalan, kehidupan yang selalu dikelilingi teman-teman (di usia 20-an teman seringkali lebih dekat daripada keluarga, terlebih bila kamu tinggal sendirian), masa awal-awal pernikahan yang “membara”, juga pertengkaran-pertengkaran di awal pernikahan gara-gara hal yang remeh-remeh. Benar-benar terasa real. Aku juga suka settingnya yang biasa-biasa saja itu, dengan banyak warna-warna senja. Apalagi musik-musiknya juga T.O.P B.G.T. Ga heran kalo film ini mendapat banyak penghargaan di bidang musik. Ssst, aku juga suka banget sama Vivek Oberoy. Aku suka lehernya yang kelihatan kuat. Aku suka wajahnya yang berbayang bekas cukuran. Ah, segitunya ya fantasi ABG-ku. Hihihihi. *tutupin-muka

Buatku banyak adegan-adegan yang memorable dari film ini:

  1. Adegan saat Aditya dengan wajah gembira naik motor gede sambil mendengarkan lagu dari headseatnya, lalu dengan cueknya melewati kerumunan orang yang sedang merubung sebuah kecelakaan, tanpa menyadari bahwa yang tergeletak di jalan itu adalah istrinya sendiri. Lagu saat itu: Humdum Suniyo Re. Iramanya sedikit hip-hop. Sangat “anak muda”. Ditunjang dengan wajah tampan Vivek Oberoy, aku klepek-klepek pada pandangan pertama. Hahaha
  2. Adegan Aditya dan Suhani papasan di kereta ekonomi yang berlainan. Dua-duanya sama-sama sedang berdiri di pintu (tahu kan kereta diesel a.k.a odong-odong kalo penuh itu kaya apa). Kereta Aditya ke kanan dan kereta Suhani ke kiri. Dua-duanya saling mengenali akan pertemuan pertama mereka di pernikahan teman mereka dulu. Duuh, ketemu gebetan di kereta ekonomi or whatever you called public transportation. Fakta: banyak orang yang ngalamin tapi sedikit banget yang menuangkan dalam cerita.
  3. Adegan saat Aditya keliling India (lebay!) buat nyari tempat Suhani koas gara-gara tidak mendapat info satu pun dari keluarga Suhani. Ah, mau donk dikejar-kejar sampai segitunya. (Setelah bekerja aku mendapat cerita serupa tentang salah satu atasan yang dulu juga pernah mengejar calon istrinya yang sedang koas sampai ke pedalaman Kalimantan.)
  4. Adegan saat mereka baru menikah diam-diam. Tentu mereka belum bisa tinggal bersama, jadi Aditya menelpon Suhani lewat telepon di warung. Kalo ga salah percakapannya seperti “Bagaimana kamu ini?! Seharusnya kamu di sini menghangatkanku. Masak seorang laki-laki yang sudah menikah hanya dapat memandang bulan ditemani surat nikahnya?!”. Hihihi, salah sendiri kawin lari mas…
  5. Adegan awal-awal pernikahan, setelah mereka diusir dari rumah dan akhirnya mengontrak sebuah apartemen sederhana. Lagu saat itu: Aye Udi Udi. Sumpah jaman itu klip lagu ini buatku terasa provokatif banget. Hot dengan caranya sendiri tanpa perlu buka-bukaan. Yah, namanya juga penganten baru. Adegan nyuci baju bareng pun jadi kliatan mesra. Aku lebih merinding ndengerin Aye Udi Udi daripada Chori Pe Chori yang dinyanyikan dengan tarian vulgar oleh Vivek dan Tabu. Yang terlalu vulgar malah terasa datar ga sih?!
  6. Adegan saat ayah Suhani sakit keras dan Aditya dengan sangat menyesal melarang Suhani menengok ayahnya, mengingat sumpah ayah Suhani yang tidak ingin melihat Aditya lagi. Jadi inget hadist (eh, hadist ya?) soal mematuhi kata-kata suami dan dilarang bepergian tanpa seijinnya. Dilema banget buat  Suhani. Tapi pada akhirnya Aditya luluh juga.
  7. Adegan Aditya yang panik mencari istrinya. Aku sungguh ga tega melihat wajah nelangsanya saat itu. Ah, laki-laki ini benar-benar mencintai istrinya.

Seterusnya aku datar-datar saja dengan endingnya. Kehadiran Sakhrun Khan dan Tabu tak terlalu kuperhatikan. Juga adegan penutup dimana akhirnya Suhani sadar dari koma juga buatku biasa saja. Saathiya buatku adalah tentang kisah anak muda. Keberanian mereka memilih jalan hidup, perjuangan mereka untuk mendapatkan nafkah, persahabatan yang setia. Semua itu menjadi kenangan tak terlupakan yang terus membekas di ingatan.

Btw, kata “saathiya” ternyata artinya “jodoh”.

Iklan

13 thoughts on “Saathiya

    • Nah, sepertinya aku harus sedikit meluruskan. Aku jatuh cinta pada saat pertama kali nonton, tapi bukan berarti aku nonton cuma sekali 😀 Seingetku aku 2x nonton film ini di RCTI apa ya?! Lupa. Dan ketika kuliah, mbak kosku ternyata punya kaset (beneran kaset yg pake pita itu) kompilasi lagu2 yg menjadi soundtrack saathiya. Makanya aku jadi hapal bener ma lagu-lagunya, bahkan sempet iseng ngapalin liriknya. 🙂

      Iya, kayane cukup sering nemu kaya gitu, baik film ataupun mini seri yg tidak dieksekusi dg baik. Sayang. Padahal ceritanya udah bagus.

      Sekali-kali nonton india lah ris… jangan doraemon the movie terus :mrgreen:

      • Haha. Kebanyakan pilem India itu pilem mewek-mewek, jadinya rada males juga untuk bener-bener nguber. Kalo ada temen yang ngasih, barulah nonton. Terakhir itu nonton yang ceritanya ada tiga cowok sohiban, terus ada satu mo nikah. Nah, jadilah itu mereka liburan ke Spanyol, melakukan tiga kegiatan sport yang dipilih oleh masing-masing. Ya yang gitu-gitu deh.

  1. Bener, Nur keyeen bisa inget sampe sedetail gitu. 😀

    Aku juga pernah nonton. Lumayan suka. Ga inget banget sih jalan ceritanya. Tapi lumayan inget sisi “real”-nya film ini. Biasanya film India kan rada lebay gitu. Yang aku inget banget malah adegan slow motion si Suhani lagi berjalan, terus ada yang nyanyi, “Saathiyaa.. ha-a.. Saathiyaa ha-a.. Madam madam..”

    • “tere geeli hasi…”

      hahaha, kamu juga inget liriknya ya?! Aku suka banget ceritanya karena memotret golongan menengah, yg rasanya jarang nemu cerita kaya gini di film india. Seringnya ekstrim kaya banget or ekstrim miskin banget. Semalam aku nonton film-nya Rani yg lain, ga tau judulnya. Dia maen sama Said Ali Khan. Dan iya, lebaaayyyy. Jauh banget dibanding Saathiya.

      Omong2, itu percakapannya ngarang banget kok. Aku cuma ingat betapa Aditya sebel karena ga bisa berduaan dengan istrinya saat itu dan cuma ditemani surat nikah. Ngenes. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s