Jakarta Oh Jakarta

Sudah lama sekali aku ingin mengeluh soal kota ini.

Tadi pagi ketika berbelok ke arah pasar baru, aku melihat di kejauhan kabut kelabu tebal menggantung. Dengan cuaca sepanas itu, aku mula-mula berpikir: kebakaran?! Tapi asap kebakaran umumnya hanya membubung ke atas, bukan meluas ke samping. Atau di sana sudah hujan?! Tapi melihat bahwa matahari bersinar terik rasanya hal itu juga mustahil.

Setelah motor berbelok lagi aku melihat bahwa langit di bagian selatan juga berkabut kelabu. Apa-apaan ini?! Aku pun mendongak ke atas kemudian dengan sedih menyadari: kabut juga menggantung di atasku. Aku pun menggumamkan satu lirik:

Langit biru! Hari ini aku mencoba mencari

Langit biru! Ku tak yakin akan dapat menemukannya.

Ost Patlabor, dengan perubahan lirik

Sebentar, ini serius ngeluh ga sih?!

OK, point sebenarnya adalah cuaca panas yang melanda Jakarta akhir-akhir ini. Sudah berhari-hari hujan tidak turun. Aku merasa asap sudah memenuhi kota, menimbulkan efek rumah kaca. Gerah sejadi-jadinya. Hampir tiap hari aku datang ke kantor dengan baju basah kuyup oleh keringat, begitu juga saat pulang. Akhirnya karena takut jatuh sakit, mulai hari ini aku nyetok hair dryer di kantor. Lumayan buat ngeringin baju. Kan ga enak kalo terus-terusan minjem hair dryer teman. Dan akhirnya aku punya ritual baru di kamar mandi. Kalo orang lain ritual paginya adalah nongkrong aka pupup atau touch up make up, aku malah ritualnya ngeringin baju. -__-!

Sejujurnya, hidup di Jakarta bukan pilihanku. Sedari tingkat 1 kuliah, begitu tahu bahwa lulusan kebendaharaan akan PASTI ditempatkan di luar Jawa, aku sudah minta ke ibuk untuk ikhlas aku pergi ke luar Jawa. Walau sebenarnya hati kecil ini keder juga. Lalu ibuk menjawab: ibuk ga ikhlas. Ibuk pingin aku di Jakarta dengan alasan keluarga besar kami tidak ada yang tinggal di sini. Sementara umumnya orang-orang pasti memiliki satu anggota keluarga yang tinggal di Jakarta. Kalo aku tinggal di Jakarta, ibuk nanti akan punya alasan untuk main ke Jakarta nengokin aku. Jangan mencemooh ya! Karena aku sendiri tahu dengan jelas alasan “rahasia” kenapa ibuk punya keinginan kaya gitu. (Setelah menulis ini aku jadi kepikiran kalo semua orang punya pemikiran kaya ibuk, mau jadi sepenuh apa kota Jakarta?! Setiap keluarga punya wakilnya di sini. Hehehe)

Fakta kemudian menunjukkan, doa ibu lebih kuat dari apa pun. Tradisi penempatan luar jawa terpatahkan tepat di angkatanku. Maka terdamparlah aku di ibu kota negara ini.

Namun setelah aku benar-benar menetap di Jakarta, bahkan alhamdulillah punya rumah di Jakarta, ibuk malah pingin aku pulang ke Malang. Alasannya: nengokinnya jauh. Ya maklum, perjalanan 18 jam tentu sangat melelahkan.

Sedang aku sendiri?! Dari awal kota ini bukan pilihanku. Dari lingkungannya -udara, air, tanah- semua terasa beracun. Orang-orangnya pun tak terlalu “mengena” di hati. Belum jalanannya yang macet, makanan-makanan yang dijual entah dibikin dari bahan apa. Sulit bertemu langit biru bersih, sulit melihat bintang-bintang. Aku heran kenapa orang senang sekali hidup di sini. Sedang bagiku, aku merasa apa yang kulakukan dan kujalani lebih ke arah “bertahan hidup”.

Memang sih, di kota ini aku bertemu jodohku. Di kota ini pula anak keduaku insyaallah akan lahir. Tapi aku tetap pada tekad yang kucanangkan sejak membeli rumah itu. Bahwa 10 tahun lagi, aku harus bisa keluar dari kota ini. Entah bagaimana caranya.

Btw, berarti sekarang kurang 9 tahun lagi. Ah, cepatnya waktu berlalu…

Nindy: Baju Basah

Adegan I

Nindy minum sendiri pakai gelas. Kebablasen, tumpah ke bajunya. Mz nug mengganti baju nindy. Baju yang basah ditaruh di meja kecil di ruang tv.

Adegan II

Nindy minta pipis. Kubawalah dia ke kamar mandi. Setelah pipis sempat main air, jadi bajunya basah. Aku melepas baju nindy dan kutinggalkan di kamar mandi. Kupakaikan lagi celananya yang tadi dilepas sebelum pipis. Dengan hanya memakai celana pendek, nindy kugiring ke kamar untuk berganti baju.

Adegan III

Di kamar. Aku memakaikan baju nindy. Setelah terpakai baru aku menyadari kalo celana nindy juga agak basah. Aku pun melepas celananya dan memakaikan celana yang kering. Celana yang basah aku berikan kepada nindy sambil berkata: Tolong ditaruh di ember ya…

FYI, letak ember tempat cucian kotor berada di dapur. Untuk pergi ke sana dari kamar nindy yang terletak di depan, harus melewati ruang tv berjarak sekitar 1 kamar belakang (kurleb 3 meter). Setelah menerima celana yang basah itu, nindy pun uthuk-uthuk ngeloyor ke belakang.

Begitu nindy keluar kamar, aku segera ingat akan baju basah nindy yang tadi diletakkan mz nug di atas meja. Aku bergegas mengejar nindy. Niatnya, biar nindy sekalian memasukkan baju basah itu ke ember.

Begitu keluar kamar, aku lihat nindy sudah hampir sampai dapur. Aku tidak melihat baju di atas meja. Kulihat lagi nindy dan akhirnya menyadari bahwa kedua tangannya sudah penuh, satu membawa baju basah satunya lagi membawa celana basah.

Kesimpulan: tanpa kusuruh, nindy berinisitif memasukkan baju yang tergeletak di meja ke dalam ember tempat cucian. Dia tahu bahwa baju itu kotor. Padahal untuk mengambilnya, dia harus berjinjit karena meja yang kumaksud tingginya 80cm, hampir setinggi tubuhnya. Kok bisa-bisanya ngeh dengan baju di atas meja itu?!

Salah satu sifat nindy yang sangat kusukai: PEDULI LINGKUNGAN. Dia akan protes bila melihat makanan tumpah, kursi kotor, atau lantai basah. Dia dengan segera mengambilkan barang yang jatuh. Mbak saroh cerita kalo hari jumat kemarin nindy sampai hampir setengah jam ngotot nyariin aku karena hendak memberikan tali rambut yang terjatuh di lantai, padahal aku sudah berangkat ke kantor. Ah, anak ini. Semoga sifat ini terus melekat selamanya. Amin…

Cerita si Kembar: Trimester Pertama

Bismillahirohmanirohim.

Alhamdulillah, sudah lewat trimester pertama. Ya, insyaallah adek nindy akan langsung 2 orang karena janin dalam kandunganku insyaallah kembar.

Kok bisa?!

Ini adalah pertanyaan yang paling sering aku dengar. Sayangnya, aku sendiri tidak tahu jawabannya. Tidak ada riwayat kembar dalam keluargaku. Pun dalam keluarga suami. Setelah diberitahu bahwa janin yang kukandung positif kembar, aku mencari info bahwa kehamilan kembar sekarang tidak melulu karena faktor genetis. Makanan, seringnya kehamilan (aku baru hamil 2 kali sih, yang kedua terpaksa digugurkan karena berada di luar kandungan), bahkan usia (jeh, setua itukah diriku?!) bisa menjadi pemicu kehamilan kembar.

Awal

Berbeda dengan saat hamil nindy, kali ini aku tidak terlalu berfirasat. Aku masih riweuh dengan kerjaan kantor, membantu mengajar di pusdiklat, bahkan sempat mengalami insiden jatuh di kubangan air saat banjir besar melanda Jakarta kemarin yang berujung pada kaki keseleo dan beberapa luka di bagian tubuh. Satu-satunya firasat aneh adalah kesadaran timbulnya “pribadi lain” di dalam diriku. Kepribadian yang lebih tenang, kalem, dan sangat plegmatis, mirip dengan sifat-sifat mz nug. Firasat ini diperkuat dengan telatnya si tamu bulanan. Sempat ragu karena setelah kupakai nggowes ke Kelurahan, aku sempat mengalami flek. Kupikir, oh, akhirnya dapet juga. Tapi setelah ditunggu semalaman tidak juga berlanjut, aku iseng mengetesnya dengan menggunakan test pack dan memperoleh hasil dua strip langsung. Subhanallah.

Dokter Kandungan

Begitu tahu hamil, suami mengajak periksa ke Hermina Jatinegara. Nama rumah sakit itu sebenarnya di otakku identik dengan kata mahal. Tapi karena di RSI dekat rumah jadwal dokter kandungan perempuan benar-benar tidak mengenakkan, juga adanya testimoni negatif tentang dokter kandungan wanita di sana, maka aku pun nurut saja. Kami periksa ke dr Sawitri, yang sempat kupikir adalah dr Lucky Savitry, sehingga dalam bayanganku aku akan bertemu dengan seorang dokter perempuan berjilbab seperti dr Oni dulu. Ternyata aku salah. Dokter Sawitri memang sudah berumur, tapi tampilannya terawat sekali. Aku kecele kedua kalinya karena ternyata dokter ini cukup ramah dan sabar, beda dengan wajah beliau yang tampak judes. 😀 Bahagiaku berikutnya, adalah bahwa dr Sawitri termasuk dokter yang pelit ngasih resep. Aku cuma disyaratkan untuk minum susu tiap hari. Obat yang diresepkan pun menurutku cukup terjangkau. Daan, kami tidak “dipaksa” untuk mencetak hasil USG. Karena nyetak USG itu mahalnya minta ampun. Jadi kalo kami ga minta ya ga dicetakin. Jeleknya sih  kami jadi tidak punya rekam jejak perkembangan yang detail seperti nindy dulu. Tapi buatku ga masalah. Jadi tiap periksa kalo ga nge-print kami cukup bayar biaya konsultasi dokter, yang memang relatif lebih mahal daripada di tempat-tempat lain. Hihihi.

Perkembangan

Sejauh ini, aku baik-baik saja. Aku sudah paham dan memaklumi kalo kehamilan kembar membawa rasa mual yang berlipat. Aku ingat waktu hamil nindy aku cuma muntah 3x sepanjang 9 bulan. Yang ini?! Hampir tiap hari aku mabok. Untung saja walau pun muntah, aku tetap bersemangat makan. Yang kukeluhkan paling badan yang gemetaran dan jantungku yang berdebar kencang setiap kali aku kecapekan dan/atau telat makan dan/atau kehausan. Cepet laper sih. Hampir tiap 3 jam aku kelaparan.

Sedangkan dedek, Alhamdulillah perkembangannya bagus. Memang waktu usia 9 minggu, beda ukurannya cukup jauh, sehingga membuatku sangat khawatir. Tapi waktu USG terakhir (12w), selisih mereka hanya 1 mm saja. Dua-duanya aktif dan menggemaskan sekali.

Penerimaan

Waktu awal mengetahui ada 2 kantong kehamilan dalam rahimku, aku sempat takut. Sanggupkah kami menafkahi mereka nanti?! Lalu ibuku bercerita soal kehamilan Aziz dulu yang sempat dikira kembar oleh dukun bayi namun setelah berkembang ternyata jadinya cuma 1 saja. Aku kemudian lebih santai dan berdoa yang penting terbaik bagi kami. Ternyata saat usia 9w, dua-duanya tetap berkembang dan hidup. Sejak itu aku jadi bersemangat untuk mempertahankan dua-duanya. Konsekuensinya?! Nabung dari sekarang untuk persiapan lahiran karena biasanya kehamilan kembar berakhir dengan kelahiran prematur dan akhir-akhir ini kebanyakan kasusnya adalah caesar. Duh, gapapa deh lahir prematur kalo memang itu takdirnya tapi kalo bisa lahirnya normal (maunya)

– Temanku Ana yang memang lahir kembar menceritakan kalo dulu beratnya waktu lahir juga hanya sekitar 2,5kg, jadi aku pasrah banget soal lahir prematur itu –

Entahlah kenapa Allah memberiku kesempatan untuk menikmati anugerah ini. Apakah sebagai ganti kehamilan keduaku yang gagal kemarin?! Ataukah sebagai pengabulan atas harapanku yang ingin punya 3 anak sebelum berusia 30 tahun?! (3= batas maksimal PTKP :D) Wallahualam. Yang jelas aku minta doa teman semua agar semuanya berjalan lancar, sehat dan selamat. Amin…

Nindy 19 bulan (lebih seminggu)

Pukul 08.15 malam. Lampu kamar sudah dimatikan.

nindy: (ketap-ketip ga bisa tidur)

nur: (berbaring miring membelakangi nindy, pura-pura tidur)

nindy: (menggeser tubuh mendekati umminya, satu tangan menyentuh rambut umminya) Mii…

nur: Hhmmm… (menjawab tanpa menoleh, pura-pura ngantuk)

nindy: Abi… abi…

nur: (menoleh memandang nindy) Nindy mau bobo sama abi?!

nindy: He’em… (menjawab tegas sambil tetep ngemut jempol kanannya)

nur: Abi lagi keluar sebentar… sebentar lagi juga pulang… sementara nindy bobo sama ummi dulu ya… (lanjut puk-puk nindy biar cepet bobo)

Wah, anak kecilku sudah bisa diajak bercakap panjang… *terharu

Long Vacation

Kemarin, waktu libur Nyepi, aku ga sengaja nyetel Indosiar (sudah lama sekali ga nonton Indosiar sampe baru tahu kalo klip logonya berubah :p). Nyasar nonton episode pertama K-drama Rooftop Prince. Jadi hari ini karena penasaran dengan kelanjutan ceritanya, aku membaca habis recapsnya di Kutu Drama. Menarik. Walau tetap tak membuatku tertarik untuk nonton. Lalu terus apa hubungannya dengan Long Vacation?!

Ini karena ada salah satu adegan di K-drama itu yang mirip banget dengan salah satu adegan Long Vacation. Bahkan merupakan adegan Long Vacation paling memorable di kepalaku. Yaitu saat pangeran Yi Gak yang sudah yakin bahwa Park Ha telah meninggalkannya, membakar kembang api di atas atap untuk melampiaskan kesedihannya. Dan kemudian Park Ha muncul, bertanya kepada Yi Gak kenapa Yi Gak menghabiskan kembang api itu sendirian. Mereka kemudian menyadari perasaan masing-masing, lalu berciuman, berlatar lukisan besar bergambar pantai. See?! Maaf kemalasanku untuk mencantumkan link di episode berapa adegan itu terjadi, males ngubek-ngubek lagi. Tapi saat membaca adegan itu, aku tidak bisa melepaskan kenanganku dari adegan Minami yang datang terengah-engah, ekspresi kaget Sena saat melihat Minami, kembang api yang terbakar seperti air mancur, Sena dan Minami berciuman, serta billboard besar bertuliskan “Don’t Worry be Happy”. (nulis sambil berkaca-kaca ndengerin “missing you” dari MP3)

Sudah lama aku menyebut Long Vacation sebagai dorama terbaik sepanjang masa. Bukan saja karena ceritanya, atau lagu-lagunya yang menawan, tapi juga kenangan yang menyertaiku sepanjang dorama tersebut tayang. Perasaaan haru biru yang ditimbulkan Long Vacation belum pernah tergantikan oleh dorama lain.

Tak usahlah aku bercerita tentang isi dorama ini. Ini adalah kisah cinta Minami yang model “senior” dengan pianis muda bernama Sena yang berbeda usia 6 tahun dengannya. Long Vacation lebih menyenangkan untuk ditonton, karena beragam ekspresi tak terlukiskan para pemainnya (Minami yang suka menutupi kesedihannya dengan sikap kekanakan, senyum malu-malu Takuya Kimura yang khas banget -senyum sambil menelengkan sedikit kepalanya ke kanan- kyaaaaaa… *meleleh) juga musik-musik yang mengiringi tiap adegan itu tidak bisa diceritakan. Sama seperti Nodame yang lebih enak ditonton karena adegan komedi slapstick dan ekspresi konyol para pemainnya serta deretan lagu klasik itu tentunya. Long Vacation juga bukan tentang “akhirnya Minami jadian ma Sena”, tapi bagaimana para anak muda yang terjebak dalam kestagnanan hidup yang seolah tanpa harapan, berjuang mencari jalan keluar dengan cara mereka sendiri. Setiap karakter di sini berkembang dengan sangat menarik. Sederhana dan begitu real.

long vacation

Ada satu kekesalan yang sudah lama terpendam namun entah kepada siapa akan kuceritakan terkait komentar atas dorama ini. Aku sering mendengar beberapa orang berkata, sayang ya kok akhirnya Sena sama Minami yang jelek, bagusan sama Ryoko. Ih, gemes banget deh. Emang kenapa kalo cewek ga-cantik dapet cowok tampan?! Emang kenapa sih kalo cewek berumur dapat cowok lebih muda?! Emang kenapa juga kalo cewek berantakan dapet pasangan yang kalem?! Aku sering membandingkan diriku yang hampir sama dengan Minami: ga-cantik, berantakan. Antara aku dan mz nug juga aku yang lebih berantakan suka naruh baju dan handuk basah sembarangan. Lalu mz nug akan menggerutu sambil menaruh handuk tersebut di rak. Bukankah yang seperti ini yang namanya saling melengkapi?! Apa iya semua cerita harus berjalan dengan dengan plot cowok cakep tajir tapi sengak berjodoh dengan cewek miskin imut yang bodoh tapi baik hati?! *nyinyir

Request

Yah, kalo hanya dengan lihat trailernya saja mataku sudah berkaca-kaca, artinya PENGEN BANGET NONTON. Adakah yang punya file Nodame Cantabile Movie (Final Score) 1&2?!

*menangis-menghiba

Menonton kembali Nodame, SP dan tv series-nya, aku akhirnya menyadari bahwa seperti pada Kenshin dan Laruku, aku tidak pernah akan bosan melihat Nodame dan Chiaki. Hubungan mereka yang unik dan bikin geregetan. Aku juga akhirnya menyadari bahwa bahkan, aku sangat menyukai suara Tamaki Hiroshi yang sering muncul sebagai narator. Setelah menonton ulang Nodame, aku kembali menonton ulang Proposal Daisakusen. Yamapi! Seseorang yang disanjung-sanjung akan menjadi pengganti the legend Kimura Takuya. Dan ternyata aku tidak bisa jatuh cinta padanya. Terlalu berisik. Aku suka Chiaki yang tenang, dewasa, suaranya bagus, badannya tinggi, sama seperti mz nug *eh?!

Setelah hanyut kembali dalam Nodame, aku pun mencari info terbarunya hingga menemukan fakta bahwa seluruh kisah Nodame berakhir di movie 1 dan 2. Hiks, dejavu dengan Kenshin yang seluruh kisahnya berakhir di OVA 2. Tentu saja yang ini juga HARUS nonton. Hiks. Bagaimana cara ndapetinnya ya?! T-T

Menahan Amarah

Mungkin postingan ini akan sangat “ga jelas”. Etapi bukankah postingan saya memang selalu ga jelas?! Maaf ya buat para pembaca blog yang sudah nyasar ke sini. Kali ini aku cuma lagi pingin curhat dan mendokumentasikan satu fragmen hidup. Kalo emang ga jelas kenapa kok ga diprivat?! Males aja sih alasannya. :p

Semenjak bersama “dua orang itu” aku memang merasa “menjadi aneh”. Lebih sabar, lebih plegmatis. Hampir jarang aku marah, panik, atau meledak-ledak ketika terhimpit satu masalah. Aneh?! Tentu saja. Karena sudah dari dulu aku sadar kalo “sumbu”-ku ini pendek. Gampang banget ngamuk.

Hingga akhirnya kontrol itu jebol akhir minggu kemarin. Berawal dari “keterpaksaan” pulang paling akhir di kantor, membawa memoriku ke “aku” yang dulu. Berlanjut Sabtu sore ketika aku sudah dari pagi merencanakan untuk membawa nindy ke pasar malam: ada saja kejadian yang tidak mengenakkan. Berangkat kemalaman. Begitu sudah siap semua ada panggilan untuk melayat. Mengabaikan panggilan itu dan tetap berangkat membuatku sangat sangat merasa bersalah, sama seperti ketika membawa mz nug ke matsuri dulu. Sampai di tempat ternyata bensinnya habis. Ngamuk pertama: kok ga disiapin sih?! Kan udah bilang dari awal kalo mau pergi.

Mz nug pun pergi membeli bensin. Terpaksa aku menggendong nindy masuk sendirian ke arena pasar malam. Keringat sudah bercucuran di badanku. Aku nekat tetap naik ke ke bianglala sambil membawa nindy. Ternyata bianglala-nya sama sekali ga asyik. Muternya cepet banget. Walhasil aku teriak-teriak sendiri, cuma berani memandang nindy untuk mengusir mual. Nindy-nya malah lempeng-lempeng saja.

Turun dari bianglala, aku menelpon mz nug. Begitu mz nug datang, aku segera menyerahkan nindy ke mz nug setelah menyadari bahwa badanku gemetar hebat dan jantungku berdetak kencang sekali. Aku hampir muntah di pinggir jalan. Aku pikir, emang mau pingsan ya?! Akhirnya memutuskan pulang. Aku sudah menyarankan untuk puter balik saja dan tetap lewat jalan I Gusti Ngurah Rai. Tapi mz nug tidak mendengarkanku dan malah lewat Duren Sawit. Ngamuk kedua: dengan kondisi badan lemas ga fit kami akhirnya kena macet dampak bubaran peringatan maulid dan konvoi sepanjang jalan. Aku meruntuk selama perjalanan pulang.

Hingga puncaknya di hari minggu. Mz nug yang kuminta beli obat untuk nindy, ketika pulang, ternyata membawa obat yang dibawa salah. Padahal aku sudah bilang untuk bertanya pada apotekernya karena ketika berangkat mz nug terlihat tidak tahu obat apa yang kumaksud. Lebih ngamuk lagi waktu lihat mz nug masih sempat belanja/membeli susu. Di saat nindy kesakitan sampai nangis-nangis, kok sempat-sempatnya mampir ke tempat lain?! Aku yang sedang memegang bantal kecil buat mengipasi badan nindy, reflek melempar bantal itu ke jendela, tepat di hadapan mbak saroh. Untung walau marah aku bukan tipe yang langsung teriak-teriak ga jelas gitu.

Mbak saroh pergi ke pasar. Nindy tidur kecapekan. Mz nug pergi lagi mencari obat setelah aku bilang dengan suara tertekan, “Kan adek udah bilang tadi, TANYA. Kalo ga ngerti itu TANYA!”. Begitu mz nug pergi, aku pergi ke kamar mandi dan mengguyuri kepalaku dengan air (sekalian keramas sih, hehe). Ubun-ubun rasanya sudah mendidih. Selama mandi berselang-seling seluruh makian protes tersusun untuk ditumpahkan ketika mz nug pulang nanti.

Namun setelah selesai mandi, ternyata mz nug belum pulang juga. Untunglah karena aku jadi tidak bisa langsung melampiaskan emosiku. Aku mulai browsing-browsing mencari info tentang sesuatu yang menggundahkan hatiku sejak hari Sabtu. Saat perhatianku teralihkan itulah, mz nug pulang. Membawa obat yang melebihi dugaan, hasil bertanya pada apoteker. Obat diberikan. Masalah nindy teratasi. Begitu bangun anak kecil itu sudah bisa jumpalitan lagi, bisa cengengesan lagi. Hatiku senang luar biasa.

Senin dini hari aku terbangun dan iseng mengecek inbox hape mz nug, juga sent itemnya. Satu percakapan mz nug dengan seseorang di sana, yang biasanya membuatku mengelus dada, kali ini membuatku tersenyum kecil. Jawaban yang bagus telah diberikan. Ternyata mz nug benar-benar memikirkan kami. Permintaan yang hanya berani kukatakan dengan sepintas lalu, ternyata benar-benar direalisasikan.

Untunglah, aku tidak jadi ngamuk hari itu. Untunglah semua protes yang terpikir itu kembali tenggelam dalam otakku. Karena kalau tidak aku akan sangat menyesalinya. Suami sebaik itu. Suami yang telah kukejar sendiri, kupilih sendiri. Berapa banyak suami di jaman sekarang yang sebenarnya mampu membayar pembantu dari gajinya, tapi tidak sungkan tetap mengosek WC, menyeboki anaknya yang belepotan tai, menemani istrinya muntah-muntah, bahkan membetulkan sendiri jahitan celananya yang rusak?! Sungguh, aku adalah perempuan yang beruntung memilikinya. 😥