Menahan Amarah

Mungkin postingan ini akan sangat “ga jelas”. Etapi bukankah postingan saya memang selalu ga jelas?! Maaf ya buat para pembaca blog yang sudah nyasar ke sini. Kali ini aku cuma lagi pingin curhat dan mendokumentasikan satu fragmen hidup. Kalo emang ga jelas kenapa kok ga diprivat?! Males aja sih alasannya. :p

Semenjak bersama “dua orang itu” aku memang merasa “menjadi aneh”. Lebih sabar, lebih plegmatis. Hampir jarang aku marah, panik, atau meledak-ledak ketika terhimpit satu masalah. Aneh?! Tentu saja. Karena sudah dari dulu aku sadar kalo “sumbu”-ku ini pendek. Gampang banget ngamuk.

Hingga akhirnya kontrol itu jebol akhir minggu kemarin. Berawal dari “keterpaksaan” pulang paling akhir di kantor, membawa memoriku ke “aku” yang dulu. Berlanjut Sabtu sore ketika aku sudah dari pagi merencanakan untuk membawa nindy ke pasar malam: ada saja kejadian yang tidak mengenakkan. Berangkat kemalaman. Begitu sudah siap semua ada panggilan untuk melayat. Mengabaikan panggilan itu dan tetap berangkat membuatku sangat sangat merasa bersalah, sama seperti ketika membawa mz nug ke matsuri dulu. Sampai di tempat ternyata bensinnya habis. Ngamuk pertama: kok ga disiapin sih?! Kan udah bilang dari awal kalo mau pergi.

Mz nug pun pergi membeli bensin. Terpaksa aku menggendong nindy masuk sendirian ke arena pasar malam. Keringat sudah bercucuran di badanku. Aku nekat tetap naik ke ke bianglala sambil membawa nindy. Ternyata bianglala-nya sama sekali ga asyik. Muternya cepet banget. Walhasil aku teriak-teriak sendiri, cuma berani memandang nindy untuk mengusir mual. Nindy-nya malah lempeng-lempeng saja.

Turun dari bianglala, aku menelpon mz nug. Begitu mz nug datang, aku segera menyerahkan nindy ke mz nug setelah menyadari bahwa badanku gemetar hebat dan jantungku berdetak kencang sekali. Aku hampir muntah di pinggir jalan. Aku pikir, emang mau pingsan ya?! Akhirnya memutuskan pulang. Aku sudah menyarankan untuk puter balik saja dan tetap lewat jalan I Gusti Ngurah Rai. Tapi mz nug tidak mendengarkanku dan malah lewat Duren Sawit. Ngamuk kedua: dengan kondisi badan lemas ga fit kami akhirnya kena macet dampak bubaran peringatan maulid dan konvoi sepanjang jalan. Aku meruntuk selama perjalanan pulang.

Hingga puncaknya di hari minggu. Mz nug yang kuminta beli obat untuk nindy, ketika pulang, ternyata membawa obat yang dibawa salah. Padahal aku sudah bilang untuk bertanya pada apotekernya karena ketika berangkat mz nug terlihat tidak tahu obat apa yang kumaksud. Lebih ngamuk lagi waktu lihat mz nug masih sempat belanja/membeli susu. Di saat nindy kesakitan sampai nangis-nangis, kok sempat-sempatnya mampir ke tempat lain?! Aku yang sedang memegang bantal kecil buat mengipasi badan nindy, reflek melempar bantal itu ke jendela, tepat di hadapan mbak saroh. Untung walau marah aku bukan tipe yang langsung teriak-teriak ga jelas gitu.

Mbak saroh pergi ke pasar. Nindy tidur kecapekan. Mz nug pergi lagi mencari obat setelah aku bilang dengan suara tertekan, “Kan adek udah bilang tadi, TANYA. Kalo ga ngerti itu TANYA!”. Begitu mz nug pergi, aku pergi ke kamar mandi dan mengguyuri kepalaku dengan air (sekalian keramas sih, hehe). Ubun-ubun rasanya sudah mendidih. Selama mandi berselang-seling seluruh makian protes tersusun untuk ditumpahkan ketika mz nug pulang nanti.

Namun setelah selesai mandi, ternyata mz nug belum pulang juga. Untunglah karena aku jadi tidak bisa langsung melampiaskan emosiku. Aku mulai browsing-browsing mencari info tentang sesuatu yang menggundahkan hatiku sejak hari Sabtu. Saat perhatianku teralihkan itulah, mz nug pulang. Membawa obat yang melebihi dugaan, hasil bertanya pada apoteker. Obat diberikan. Masalah nindy teratasi. Begitu bangun anak kecil itu sudah bisa jumpalitan lagi, bisa cengengesan lagi. Hatiku senang luar biasa.

Senin dini hari aku terbangun dan iseng mengecek inbox hape mz nug, juga sent itemnya. Satu percakapan mz nug dengan seseorang di sana, yang biasanya membuatku mengelus dada, kali ini membuatku tersenyum kecil. Jawaban yang bagus telah diberikan. Ternyata mz nug benar-benar memikirkan kami. Permintaan yang hanya berani kukatakan dengan sepintas lalu, ternyata benar-benar direalisasikan.

Untunglah, aku tidak jadi ngamuk hari itu. Untunglah semua protes yang terpikir itu kembali tenggelam dalam otakku. Karena kalau tidak aku akan sangat menyesalinya. Suami sebaik itu. Suami yang telah kukejar sendiri, kupilih sendiri. Berapa banyak suami di jaman sekarang yang sebenarnya mampu membayar pembantu dari gajinya, tapi tidak sungkan tetap mengosek WC, menyeboki anaknya yang belepotan tai, menemani istrinya muntah-muntah, bahkan membetulkan sendiri jahitan celananya yang rusak?! Sungguh, aku adalah perempuan yang beruntung memilikinya. πŸ˜₯

Iklan

4 thoughts on “Menahan Amarah

  1. thinking… then liat ke profil. cek ke fesbuk..

    oh, ini nur yg istrinya nugroho guntur?

    kalo benar, untunglah kalo nggak jadi ngamuk πŸ˜€
    gak bisa mbayangin pas diamuk istrinya, hehehe…pisss ^^x

  2. Ping-balik: Cerita si Kembar: Trimester Pertama | Hikari no Monogatari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s