Jakarta Oh Jakarta

Sudah lama sekali aku ingin mengeluh soal kota ini.

Tadi pagi ketika berbelok ke arah pasar baru, aku melihat di kejauhan kabut kelabu tebal menggantung. Dengan cuaca sepanas itu, aku mula-mula berpikir: kebakaran?! Tapi asap kebakaran umumnya hanya membubung ke atas, bukan meluas ke samping. Atau di sana sudah hujan?! Tapi melihat bahwa matahari bersinar terik rasanya hal itu juga mustahil.

Setelah motor berbelok lagi aku melihat bahwa langit di bagian selatan juga berkabut kelabu. Apa-apaan ini?! Aku pun mendongak ke atas kemudian dengan sedih menyadari: kabut juga menggantung di atasku. Aku pun menggumamkan satu lirik:

Langit biru! Hari ini aku mencoba mencari

Langit biru! Ku tak yakin akan dapat menemukannya.

Ost Patlabor, dengan perubahan lirik

Sebentar, ini serius ngeluh ga sih?!

OK, point sebenarnya adalah cuaca panas yang melanda Jakarta akhir-akhir ini. Sudah berhari-hari hujan tidak turun. Aku merasa asap sudah memenuhi kota, menimbulkan efek rumah kaca. Gerah sejadi-jadinya. Hampir tiap hari aku datang ke kantor dengan baju basah kuyup oleh keringat, begitu juga saat pulang. Akhirnya karena takut jatuh sakit, mulai hari ini aku nyetok hair dryer di kantor. Lumayan buat ngeringin baju. Kan ga enak kalo terus-terusan minjem hair dryer teman. Dan akhirnya aku punya ritual baru di kamar mandi. Kalo orang lain ritual paginya adalah nongkrong aka pupup atau touch up make up, aku malah ritualnya ngeringin baju. -__-!

Sejujurnya, hidup di Jakarta bukan pilihanku. Sedari tingkat 1 kuliah, begitu tahu bahwa lulusan kebendaharaan akan PASTI ditempatkan di luar Jawa, aku sudah minta ke ibuk untuk ikhlas aku pergi ke luar Jawa. Walau sebenarnya hati kecil ini keder juga. Lalu ibuk menjawab: ibuk ga ikhlas. Ibuk pingin aku di Jakarta dengan alasan keluarga besar kami tidak ada yang tinggal di sini. Sementara umumnya orang-orang pasti memiliki satu anggota keluarga yang tinggal di Jakarta. Kalo aku tinggal di Jakarta, ibuk nanti akan punya alasan untuk main ke Jakarta nengokin aku. Jangan mencemooh ya! Karena aku sendiri tahu dengan jelas alasan “rahasia” kenapa ibuk punya keinginan kaya gitu. (Setelah menulis ini aku jadi kepikiran kalo semua orang punya pemikiran kaya ibuk, mau jadi sepenuh apa kota Jakarta?! Setiap keluarga punya wakilnya di sini. Hehehe)

Fakta kemudian menunjukkan, doa ibu lebih kuat dari apa pun. Tradisi penempatan luar jawa terpatahkan tepat di angkatanku. Maka terdamparlah aku di ibu kota negara ini.

Namun setelah aku benar-benar menetap di Jakarta, bahkan alhamdulillah punya rumah di Jakarta, ibuk malah pingin aku pulang ke Malang. Alasannya: nengokinnya jauh. Ya maklum, perjalanan 18 jam tentu sangat melelahkan.

Sedang aku sendiri?! Dari awal kota ini bukan pilihanku. Dari lingkungannya -udara, air, tanah- semua terasa beracun. Orang-orangnya pun tak terlalu “mengena” di hati. Belum jalanannya yang macet, makanan-makanan yang dijual entah dibikin dari bahan apa. Sulit bertemu langit biru bersih, sulit melihat bintang-bintang. Aku heran kenapa orang senang sekali hidup di sini. Sedang bagiku, aku merasa apa yang kulakukan dan kujalani lebih ke arah “bertahan hidup”.

Memang sih, di kota ini aku bertemu jodohku. Di kota ini pula anak keduaku insyaallah akan lahir. Tapi aku tetap pada tekad yang kucanangkan sejak membeli rumah itu. Bahwa 10 tahun lagi, aku harus bisa keluar dari kota ini. Entah bagaimana caranya.

Btw, berarti sekarang kurang 9 tahun lagi. Ah, cepatnya waktu berlalu…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s