Tentang Penyair Hujan

Sekitar seminggu lalu aku menangis sendirian di depan kompie. Siang-siang. Di kantor pula. Si kiki yang sudah ngerti akan kebiasaan anehku cuma mahfum saja dan membiarkanku dalam ke-geje-an. Yah, mau ngapain sih diributin kalo nangisnya cuma gara-gara puisinya Eyang Sapardi Djoko Damono?! (selanjutnya disingkat SDD)

Adalah ketika aku menonton Minggu Pagi di Victoria Park, ada satu lagu backsound yang langsung nemplok di otakku. Usut punya usut, lagu tersebut ternyata merupakan hasil salah satu proyek Musikalisasi Puisi SDD. Seingatku, temenku yang menggilai SDD ya antara Shepty atau Mice. Maka dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, aku segera menghubungi Mice untuk meminta file dimaksud yang baru dikabulkan setelah dia kembali dari cuti lamarannya. #selamat ya kakaaak…

Lagu tersebut judulnya “Sajak Kecil untuk Cinta”. Berikut liriknya.

mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaimu harus menjadi aku

Ternyata proyek musikalisasi puisi SDD ini sudah ada sejak lama. Yang menggarap (kalo ga salah) namanya mas Ari dan mbak Reda. Sebelumnya aku pernah mendengar musiknya mengalun di video buatan Mice. Satu puisi yang sudah lama sekali kukenal: Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Kembali ke adegan siang itu, aku sebenarnya sedang mencari lirik atas lagu-lagu lain yang terkumpul dalam album Gadis Kecil. Terdamparlah aku ke blog mbak Astri ini, dan nemu puisi pertama yang bikin aku nangis: Selamat Pagi, Indonesia

selamat pagi, Indonesia,
seekor burung mungil mengangguk
dan menyanyi kecil buatmu.
aku pun sudah selesai, tinggal mengenakan sepatu,
dan kemudian pergi untuk mewujudkan setiaku padamu
dalam kerja yang sederhana;
bibirku tak biasa mengucapkan kata-kata yang sukar
dan
tanganku terlalu kurus untuk mengacu terkepal.
selalu kujumpai kau di wajah anak-anak sekolah,
di mata para perempuan yang sabar,
di telapak tangan yang membatu para pekerja jalanan;
kami telah bersahabat dengan kenyataan
untuk diam-diam mencintaimu.
pada suatu hari tentu kukerjakan sesuatu
agar tak sia-sia kau melahirkanku.
seekor ayam jantan menegak,
dan menjeritkan salam padamu,
kubayangkan sehelai bendera berkibar di sayapnya.
aku pun pergi bekerja, menaklukkan kejemuan,
merubuhkan kesangsian,
dan menyusun batu-demi batu ketabahan,
benteng kemerdekaanmu pada setiap matahari terbit,
o anak jaman yang megah,
biarkan aku memandang ke Timur untuk mengenangmu
wajah-wajah yang penuh anak-anak sekolah berkilat,
para perempuan menyalakan api,
dan di telapak tangan para lelaki yang tabah
telah hancur kristal-kristal dusta, khianat dan pura-pura.

Selamat pagi, Indonesia, seekor burung kecil
memberi salam kepada si anak kecil;
terasa benar : aku tak lain milikmu

(teringat jutaan detik yang tersia di kantor)

Kemudian nemu lirik lagu kedua yang nampol di otak: Buat Ning

pasti datangkah semua yang ditunggu
detik-detik berjajar pada mistar yang panjang
(barangkali tanpa salam terlebih dahulu)

januari mengeras di tembok itu juga
lalu desember…
musim pun masak sebelum menyala cakrawala
tiba-tiba kita bergegas pada jemputan itu

Awalnya aku menafsirkan puisi ini dengan dangkal-dangkal saja. Namun setelah tahu maknanya: bahwa ini adalah tentang dua orang yang telah menghabiskan waktu bersama-sama selama bertahun-tahun (kalender yang telah berganti-ganti dari Januari lalu Desember lalu Januari lagi) hingga tibalah masa menghadapi kenyataan bahwa salah seorang dari mereka harus “dijemput” duluan. Perpisahan yang pasti ada dalam setiap pertemuan. Tangisku makin menggugu. Teringat tahun-tahun yang kuhabiskan dengan ibuk, ayah, dan aziz, juga mz nug. Aku langsung meng-gtalk mz nug: adek sayang mz nug. Menulis SMS ke ibuk: Diyah sayang ibuk. Menulis SMS ke ayah: Diyah sayang ayah. Dan mengirim SMS menanyakan kabar kepada adikku Aziz (kalo kutulis “sayang” juga bisa dicurigai sama pacarnya). Jawabannya beda-beda. Mz nug cuma mbales “iya”. Ibuk langsung telpon aku. Sedang ayah malah SMS kejam: “opo karepmu” *gubrak

Rasanya sedih banget membayangkan kenyataan yang harus dihadapi itu. Siapakah di antara kami nanti yang akan duluan naik “jemputan”?! *mewek lagi

Ah, sudahlah. Balik lagi ke SDD. Di antara lagu-lagu di sana, lagu berikutnya yang kusukai adalah Dalam Bis

langit di kaca jendela bergoyang
terarah ke mana wajah di kaca jendela
yang dahulu juga
mengecil dalam pesona

sebermula adalah kata
baru perjalanan dari kota ke kota
demikian cepat
kita pun terperanjat
waktu henti ia tiada…

Musiknya enak. Nadanya romantis. Dan dari dulu aku suka sekali dengan perjalanan.

Kemudian ada Gadis Kecil

Ada gadis kecil diseberangkan gerimis
di tangan kanannya bergoyang payung
tangan kirinya mengibaskan tangis
di pinggir padang, ada pohon
dan seekor burung…

Untuk puisi ini, aku mengartikan ngawur sebagai: Kesedihan ribuan anak-anak Indonesia yang masih hidup dalam kekurangan, sulit mendapat pendidikan, bahkan sulit makan. Hidup mereka senantiasa diliputi gerimis. Sedang sebagian besar orang hanya berdiri diam (di pinggir padang ada pohon) dan kadang malah komentar ga penting (seekor burung) tanpa ada niatan membantu. Entahlah, aku tak pandai dalam puisi.

Yang terakhir, hatiku melayang oleh puisi Ketika Jari-Jari Bunga Terbuka

Ketika Jari-jari bunga terluka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata

suatu pagi, di sayap kupu-kupu
disayap warna, suara burung
di ranting-ranting cuaca
bulu-bulu cahaya
betapa parah cinta kita
mabuk berjalan diantara
jerit bunga-bunga rekah…

Rasanya kok syahdu bener. Dan diksinya itu lho: betapa parah cinta kita. Karena cinta itu ga cuma manis. Dia juga bikin sakit. Seperti tangisku yang turun ketika mengenang keluarga. Rasanya begitu perih. Tapi sisi lain puisi ini penuh dengan kata-kata menakjubkan indera: kabut cahaya, ranting cuaca, sayap warna. Dan entah kenapa, yang terlintas di otakku adalah art work-nya anime-anime keluaran Ghibli.

My Neighbor Totoro

Sejujurnya, sebelumnya aku tak terlalu mengenal Eyang SDD yang dikenal luas sebagai Penyair Hujan ini. Pengetahuanku hingga seminggu lalu baru sebatas Hujan Bulan Juni dan puisi Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Namun, sejak ini, aku jadi semakin kagum dengan eyang. Maaf bila postingan ini terasa sangat dangkal. Hanya tulisan orang yang ga ngerti puisi dan ingin mengabadikan tulisan-tulisan SDD yang luar biasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s