Rumah

Sekedar meracau tentang rumah.

Rumah Gang Kelinci

Barangkali hanya aku satu-satunya orang yang mencari rumah dengan kriteria: dekat dengan jalur rel kereta ke Jawa. Ya, kuakui pertimbanganku dalam memilih rumah yang sekarang ini lebih banyak berdasarkan trauma.

1. Harus dekat dengan rel kereta ke Jawa

Alasannya?! Karena aku yakin keluarga kami akan lebih sering pulang kampung dengan naik kereta. Begitu pun keluarga dari Jawa yang datang ke sini. Pesawat mahal je! Dan untungnya rumah yang sekarang juga lumayan dekat dengan pintu masuk tol (kali-kali nanti mampu beli mobil -amiinnn…-). Trauma pertamaku: aku kapok jaman masih tinggal di Bintaro dulu, harus berangkat 3 jam sebelum jadwal kereta. Jadi kalo Matar berangkat jam 2, aku harus sudah berada di dalam angkot minimal jam 11. Nanti sampe Senen jam 1, sholat bentar, langsung naik ke kereta yang sudah menunggu. Begitu pula kalo ibuk ke sini. Masih 2-3 jam perjalanan lagi baru bisa istirahat di rumah. Capek… Sekarang sih gara-gara keberangkatan Jatinegara ditiadakan, ya tetep sih berangkat minimal 1,5 jam sebelumnya. Tapi kalo lancar lumayan bisa leha-leha di stasiun. Sedang kalo dari arah Jawa, bisa turun Jatinegara dan perjalanan ke rumah 30 menit saja. Me-nye-nang-kan. Lainnya, karena sering main ke taman dekat rel, nindy jadi sering lihat kereta dan ikut-ikutan menjadi railfan kaya diriku. Hehehe.

2. Harus jauh dari jalan besar

Trauma ini kudapat dari kontrakan. Kontrakan di Pisangan dulu berada tepat di pinggir jalan kampung. Sebenarnya ga terlalu berisik karena bukan jalan utama. Tapi kalo jalan utama ditutup karena ada hajatan, maka angkot-angkot dibelokkan lewat jalan depan kontrakan. Walhasil: bising, panas, dan debu beterbangan. Pokoknya tersiksa banget. Belum kalo tetangga lagi manasin mobil. Asapnya pasti masuk ke dalam rumah. Kasihan nindy yang masih kecil. Nah, kalo dalam gang, unsur-unsur “asap” tadi insyaallah akan bisa dihindari. Lagipula tahu sendiri kadar polusi di Jakarta. Dengan ngumpet di dalam gang, ditambah gangnya berada di bagian belakang kompleks, aku merasa sedikit berkurang rasa bersalahku karena menempatkan anak-anak hidup di kota beracun ini.

3. Tangganya harus kokoh

Kok tangga?! Iya, soalnya kalo cuma satu lantai pasti sempit banget. Aku tahu kemampuan kami dalam membeli rumah. Dengan kemampuan finansial yang ada, ga mungkin kami bisa membeli tanah seluas 200m di Jakarta. Pun di kontrakan dulu, aku merasa ruangan yang berada di bawah dak umumnya lebih adem. Jadi lantai 2 merupakan keharusan bagiku. Rumah itu juga harus punya balkon yang terbuka sehingga bisa menjadi ajang pelarian dan tempat menikmati langit biru tanpa harus ribet pake jilbab. Untuk mendukung semua itu, tangga menuju lantai atas harus kokoh dan bisa dipasangi pintu. Takut kalo nindy seenaknya naik. Pengalaman tangga di kontrakan, ada pintunya sih, tapi tangganya begitu sempit dan terbuat dari kayu. Kalo kepeleset bisa masuk ke lubang di sela-sela anak tangga. Ngeri! Btw, tangga juga bagus buat latihan motorik anak. Dengan catatan harus selalu didampingi orang yang lebih tua.

4. Dapurnya lega

Nah, ini turunan sih. Jaman tinggal di Saptorenggo dulu, dapur rumah kami hanya 2,5×1 meter. Begitu pindah ke Ngadirejo, Ibuk memuaskan keinginnya membuat dapur yang lega. Jadi kami punya 2 ruang dapur. Satu dapur bersih tempat kompor gas dan kompor minyak, dan satunya lagi dapur kotor tempat tungku kayu. Sehari-hari kegiatan kami lebih banyak berada di dapur, ngobrol ngalor ngidul sambil masak atau makan. Bahkan saudara yang jauh pun begitu sampe rumah langsung ngendon di dapur. Jadi buatku dapur adalah tempat bersosialisasi. Di kontrakan, dapur kami juga cuma 2×1 meter. Kalo aku dan mbak prih di dapur, kami suka senggolan pantat. Sempit banget. Makanya begitu melihat calon rumah gang kelinci ini, langsung jatuh cinta sama dapurnya. Lega dan bersih.

5. Dekat dengan tetangga

Entah kenapa, jaman masih ngontrak dulu, aku merasa agak jauh dengan tetangga. Lha gimana, tetangganya pada kaya-kaya dengan rumah tertutup pagar tinggi. Kami jadinya nge-geng sesama para pengontrak saja. Sedang kalo di gang, rasanya akan susah ga sapa-sapaan dengan tetangga secara kalo sama-sama berdiri di depan pagar jaraknya cuma semeter. 😀 Resikonya sih bakal ada kress kalo lagi apes. Yah, namanya juga hidup berdekatan.

6. Bekas punya orang muslim

Hehehe, pribadi banget ya. Tapi aku lebih merasa adem tinggal di rumah yang sudah sering dipake sholat dan ngaji.

7. Dekat dengan pasar

Tentu saja biar mudah belanjanya. Secara selisih harga antara pasar dan tukang sayur itu lumayan banget. Adanya pasar juga jadi jaminan kalo lagi males masak atau ada saudara datang bakal mudah beli makanan atau jajan. ^-^v

8. Dekat dengan masjid

Ini syarat gak wajib dari ayah. Tapi aku juga lebih sreg dengan kriteria ini sih.

9. Harganya masih terjangkau dan surat-suratnya bener

Ya iyalah. Walau sreg tapi ga bisa dibeli lalu buat apa?!

Alhamdulillah, rumah gang kelinci ini memenuhi semua kriteriaku. Pertama kali melihatnya, aku langsung jatuh hati pada dapur dan tangganya. Ketika ibuk berkunjung untuk pertama kali, beliau berkomentar bahwa lubang angin di atas pintu dan jendela polanya sama persis dengan pola di rumah almarhum nenek. Wah, pantas saja aku merasa familiar. Merasa berjodoh dari pertama kali jumpa. Semoga rumah ini membawa keberkahan.

Rumah Impian

Kriteria-kriteria rumah di atas hanya berlaku untuk membeli rumah bekas di Jakarta. Sedang kalo ditanya bagaimana rumah impianku, berikut gambaran yang terlintas:

1. Semua ruangan di rumah itu memiliki jendela yang bisa dibuka

Kecuali kamar mandi ya! Aku paling benci dengan rumah sumpek. Aku suka rumah-rumah jaman Belanda dulu yang sangat bersahabat dengan iklim tropis. Langit-langit tinggi, jendela besar-besar. Makanya harapanku rumah impian nanti berada di tanah yang cukup lapang. Bisa nyisain tanah di kanan kiri sehingga ada space buat membuka jendela.

2. Halaman luas

Jaman tinggal di Saptorenggo, aku punya halaman seluas 20×10 meter. Ya iya wong halaman sekolah. Hahaha. Berlanjut di Ngadirejo, halaman rumah almarhum nenek juga luas, khas rumah orang-orang jaman dahulu. Halaman yang luas juga lumayan berperan untuk menyaring suara berisik kendaraan yang lewat di jalan. Aku ga berharap punya halaman seluas 20×10 meter sih (emang rumahnya di Ostrali?!). Paling enggak cukup lah buat nanem-namem pohon mangga sama rambutan. 😀

3. Dapur lega

Idem dengan alasan di atas.

4. Punya bukaan tempat menikmati pemandangan yang terhindar dari pandangan orang

Kok kayane aku terbelenggu banget dengan jilbabku ya?! Tapi buatku menikmati semilir angin meniup rambutku adalah harta yang tak ternilai. Kayane enak gitu kalo bisa menikmati taman atau pemandangan tanpa harus ribet pake jilbab. Inspirasiku adalah taman di bukaan tengah rumah seperti rumah-rumah orang jaman dahulu.

5. Punya mushola pribadi

Saat ini belum terwujud gara-gara tempat yang sempit. Tapi kalo punya tempat lega, yang ini harus diwujudkan.

6. Dekat dengan fasilitas umum

Paling enggak fasilitas-fasilitas umum mudah terjangkau. Kalo dekat masjid/mushola sih tetep harus.

7. Bukan di Jakarta

Hihihi, tetep ya… pingin hengkang dari kota ini.

Err, segitu saja dulu deh. Mohon aminnya yang kenceng. Amiiin…

Iklan

3 thoughts on “Rumah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s