Paperbook In Memory

Di sela-sela kesetresan marilah kita membuat postingan ngelantur.

Sepanjang kuliah di STAN dulu, selain dipanggil dengan nama “Sonora”, mbak-mbak kosku juga kadang memanggilku dengan nama “Sunako”. Sunako Nakahara sejatinya merupakan tokoh utama dalam manga Perfect Girl Evolution. Karakternya ANEH (pake kapital), suka menyendiri, sadis, freak, wajahnya jelek, penampilannya berantakan, dan sederet kejelekan lain. Tapi, di balik ketidakberuntungannya itu, terselip satu keberuntungan padanya; yaitu si Sunako ini selalu dikelilingi oleh 4 pemuda tampan. Namun berhubung karakternya yang kaya tadi, tentu saja para pemuda tampan ini mengelilingi Sunako bukan dalam rangka naksir. Hahaha *mirisΒ  Selengkapnya cari sendiri deh ceritanya.

Aku memang setuju akan penilaian mbak kosku akan karakterku yang lumayan mirip Sunako itu. Tapi diam-diam dalam hati aku juga menyetujui bahwa aku mewarisi pula sisi lain Sunako. Yaitu keberuntungannya dikelilingi cowok-cowok cakep. Eh, serius?! Iyaaa… serius! Sejujurnya selama hampir setahun aku ber-arubaito alias bekerja paruh waktu sebagai penjaga persewaan komik bernama Paperbook, aku lumayan dimanjakan dengan pemandangan cowok-cowok cakep baik personil Paperbook maupun para penghuni Saung Bandung, kosan cowok tempat Paperbook bernaung. Dan beginilah ceritanya:

1. Kisah Tono, Toni, dan Tino

Tiga serangkai Tono, Tino, dan Toni adalah cowok-cowok lulusan Aktuaria yang sama-sama pinter, cakep, putih, tinggi, dan berbadan bagus ala pemain basket. Tono adalah direktur Paperbook, atau dengan kata lain he was my boss. Beberapa pelanggan Paperbook yang perempuan mengaku tertarik pada mas Tono. Syukurlah, aku tidak sampai jatuh hati karena sudah sifatku dari dulu untuk tidak bisa naksir ke laki-laki yang terlalu ganteng *opo-sih Mas Tono di otakku selain identik dengan “tajir” *eaaaa πŸ˜€ juga identik dengan wangi. Iya, wangi! Even habis pulang kerja pun (yang mana tampilan awut-awutannya tetap menggoda) wangi parfumnya masih bisa tercium olehku dari jarak 2 meter *lebay

Yang kedua adalah Toni, penghuni Saung Bandung. Mas Toni ini cowok Lampung, jadi wajar lah ya kalo putih. Sempet punya kisah (to the point aja: naksir) ke mbak kosku yang menjadi manajer Paperbook. Masih teringat di otakku bagaimana mbak kosku ini di hari ultahnya sampe banjir buket bunga. Huaaa… ngiri! Satu buket dari pacar resminya, dan buket lain dari penggemarnya. Ah, itulah keberuntungan wanita cantik. Hehehe. Aku masih ingat bunga-bunga putih itu memenuhi kamar. Keren banget! Juga masih ingat bagaimana mbak kosku ini diajak kondangan ke kawinan saudara mas Toni, yang mengakibatkan mbak kosku yang lain ikutan heboh mendandani mbak kosku ini. Ah, masa lalu πŸ˜€ Oiya, yang identik dari mas Toni adalah penampilannya yang selalu rapi.

Yang terakhir adalah mas Tino. Dibandingkan dengan kedua temennya, mas Tino ini adalah yang paling sederhana. Makanya aku sebenarnya tertarik tapi ga berani ngaku karena salah satu mbak kosku ternyata juga naksir dia. Hihihi. Kadang kalo lagi ngomongin mas Tino, kami berandai-andai (eh, apa aku aja ya?!) andai mas Tino dipakein bajunya mas Toni dan dikasih parfumnya mas Tono. Hemm, pasti jadinya perfect. Wkwkwkw…

Pernah ada satu kejadian lucu. Waktu itu aku lagi sendirian menjaga Paperbook yang lagi sepi. Aku duduk di lantai menghadap ke pintu terbuka yang menghubungkan Paperbook dengan Saung Bandung. Rupanya waktu itu mas Tino lagi mandi dan ada anak kosan yang menyalakan alat elektronik entah apa yang intinya menyebabkan listrik di kosan njeglek (Halah, bahasane. Apa sih?! Maksudnya meterannya turun). Aku mendengar mas Tino mengomel jadi aku mendongak dan paaass: melihat mas Tino melintas di depan pintu dengan hanya memakai celana boxer (panjang selutut woy! jangan ngeres dulu). Yang lucu adalah reaksi mas Tino yang tampak kaget sekali begitu melihatku dan langsung balik lagi ke belakang. Selanjutnya dia kembali melintas dengan kaos di badan menuju ke meteran listrik di depan dan menaikkan saklar. Aku tentu saja waktu kejadian tadi juga malu banget dan langsung nunduk (sumpaaahh, ga sengaja mas!) tapi gimana ya…. disuguhi pemandangan indah cowok t*pless dengan rambut basah… *kemudian-mimisan

2. Mas Eko dan Mas Eka

Udah ah, seriusan! Ga boleh cerita jorok lagi!

Mas Eko dan mas Eka adalah salah satu penyumbang buku-buku di Paperbook. Mereka jauh-jauh lebih senior di atasku. Kebanyakan buku yang disumbang mas Eko adalah buku-buku serius. Pintu kamar mas Eko berhadapan dengan pintu penghubung Paperbook ke Saung Bandung, jadi kalo kedua pintu itu sedang terbuka, aku bisa melihat sebagian isi kamar mas Eko yang menurutku cukup rapi untuk ukuran cowok. Aku ga pernah ngobrol dengan mas Eko karena orangnya serius dan pendiam, yang selalu membuatku sungkan kalo ketemu. Setelah bekerja, aku bertemu mas Eko ketika sedang monev ke kantor sebelah. Tak kusangka, beliau sudah menjadi Eselon IV di kantornya. Wew! Emang orangnya pintar sih… Yang jelas agaknya beliau sudah ga ingat dengan wajahku.

Sedang mas Eka hanya pernah kubaca namanya di buku-buku keagamaan yang ada di Paperbook, tanpa sekali pun pernah bertemu. Dan kemudian siapa sangka, takdir mempertemukan dan menyatukan kami. Ya, disinilah kami berada. Di unit Eselon II yang sama. Benar-benar ya, dunia hanya selebar daun kelor. Saat ini beliau sudah memiliki 5 orang anak :p

3. Para yunior: Soni, Sunu, Sani

Soni adalah yunior yang paling menyenangkan. Dia benar-benar serupa adik bagiku. Tingkahnya yang slengekan semakin membuatku gemas-gemas sebal. Di antara semua kamar di Saung Bandung, hanya ke kamar Soni lah aku pernah masuk sendirian, tentu saja pas lagi ga ada orang, semata-mata untuk mengambil buku-buku Paperbook yang selalu saja lupa dia kembalikan ke raknya. Benar-benar penjaga paling ceroboh! Tapi paling aku sayang. Hehehe. (note: sayang sebagai adik lho ya!)

Sunu berasal dari Bali. Para penghuni kosan cewek di depan Paperbook (kalo ga salah) banyak yang meleleh oleh ketampanan wajahnya, sehingga aku kebagian tugas menyampaikan salam-salam itu. Si Sunu ini (mungkin karena beda budaya) suka membuatku jengah dan malu kalo dia ke Paperbook dengan hanya bercelana pendek sehingga ketika dia duduk celana itu akan naik ke atas dan menampakkan sebagian pahanya. Aurat ihhh… Sunu adalah tamu pria pertama dalam hidupku (aku saat itu belum pernah berbincang berdua saja dengan laki-laki) saat dia ke kosanku untuk mengambil sesuatu dan akhirnya ga bisa pulang karena terjebak hujan. Eh, aku udah nawarin untuk minjemin payung lho! Tapi mungkin dia lagi butuh teman ngobrol saja. Dialah yang mengajariku cara menikmati hujan berpetir. Satu-satunya memori paling menyenangkan darinya.

Sani adalah penjaga Paperbook yang kariernya paling singkat. Orangnya hitam manis dengan perwakan tinggi besar. Keberadaan Sani semakin menegaskan betapa di Paperbook aku dikelilingi banyak laki-laki tampan dan wanita cantik sedang aku menjadi satu-satunya itik buruk rupa. Tak perlulah dijelaskan lagi soal banyaknya cewek yang naksir dia, tapi yang jelas kisahnya berakhir manis karena sekarang dia menikah dengan temanku dan kini mereka sedang menanti kelahiran anak kedua. πŸ™‚

4. Para ikhwan: Hasan, Husein, Akhmad

Hasan adalah salah satu ikhwan di Saung Bandung. Sebagai ikhwan, tentu saja aku ga banyak cakap dengannya. Memori pertamaku adalah saat aku terjebak oleh hujan dan ga bisa pulang, Hasan dan Mas Tino sama-sama menyodoriku payung. Tentu saja aku lebih memilih meminjam payung Hasan ketimbang menerima tawaran dari mas Tino. Lebih karena sama Hasan aku pasti ga ada apa-apa sih. Kalo minjem punya mas Tino kan nanti bisa-bisa kebawa mimpi. Hihihi. Memori keduaku adalah saat kami sama-sama mengikuti tes D4. Cuma pandang-pandangan dari jauh, sambil bilang dalam hati, “oh, dia ikutan juga to?!” Hasil akhirnya kami sama-sama keterima D4. Bedanya dia langsung masuk sedang aku setelah perjalanan panjang akhirnya ga jadi masuk D4. :p Memori terakhirku dengannya adalah saat psikotes untuk para pelaksana. Aku saat itu termasuk gelombang dua. Jadwal tes siang. Aku sampai di tempat tes dengan dianter mz nug. Saat itu aku sedang menyusui nindy, jadi bawaannya laper mulu. Karena kelaparan, aku pergi duluan meninggalkan mz nug yang sedang memarkir motor. Aku cuek makan bekal di pos satpam (kebetulan saat itu kosong) ketika rombongan gelombang pertama berhamburan keluar dari gedung tanda tes sudah selesai. Aku melihat dengan sudut mata segerombolan laki-laki berjalan ke arahku sambil membawa nasi kotakan hasil pembagian dari panitia. Seperti biasa, aku ga memandang wajah-wajah mereka. Begitu dekat, salah satunya berkata padaku, “Boleh duduk di sini, mbak?!” Aku bilang silakan tanpa memandang wajah si pembicara. Orang yang berbicara tadi akhirnya duduk paling dekat denganku, sementara teman-temannya duduk di sekeliling kami. Aku sebenarnya ga enak berada di tengah pria kaya gitu, apalagi dari perawakannya pastilah mereka dari salah satu unit di instansiku yang isinya cowok semua. Tapi mau pindah kok males. Kan aku yang duluan duduk. Lalu datanglah mz nug, yang spontan berseru menyapa laki-laki di sebelahku. Aku akhirnya mendongak memandang wajahnya. Ternyata Hasan! Dia juga kaget melihatku. Dia pun menyimpulkan dari keberadaan aku dan mz nug kalo kami sudah menikah. Dia bertanya untuk memastikan dan kami jawab iya. Kemudian dia langsung menggoda mz nug dengan mengatakan bahwa berarti sejak Paperbook dulu kami sudah saling naksir. Kami serentak menjawab enggak seperti itu ceritanya.

Husein adalah yunior. Beda dengan Hasan yang pendiam, Husein ini cerewet banget. Berhubung sudah sejak dulu aku males dengan cowok yang terlalu cerewet (kecuali adikku Aziz :D) maka aku pun paling males nanggepin adik yang satu ini. :p

Akhmad adalah ikhwan yang paling misterius. Sejujurnya, sepanjang berada di Paperbook, aku sama sekali tidak tahu nama ikhwan ini. Bahkan ga tau letak kamarnya yang mana. Dia sangat sangat super duper pendiam. Saat Saung Bandung rame di malam minggu pun karena semua anak kos yang ga ngapel pada nonton Liga Inggris, aku jarang banget melihat penampakan batang hidungnya. Kesempatan melihat dia nongol hanya saat adzan berkumandang, karena dia akan segera berangkat ke masjid terdekat. Satu-satunya informasi yang terekam di otakku adalah bahwa mas Akhmad ini seangkatan dengan mbak kosku, artinya hanya setingkat di atasku, berdasarkan kaos Dinamika yang dia kenakan. Selebihnya, aku ga tau apa-apa. Cuma memang, setiap kali melihat dia berkelebat, aku merasakan perasaan aneh. Jelas bukan perasaan naksir. Di kemudian hari, barulah aku mengerti perasaan itu. Ialah firasat akan takdir kami di masa depan. Karena ya, dengan akhmad inilah aku sekarang menikah. πŸ™‚

So Hasan, begitulah aku dan mz nug menikah. Tidak, tidak ada naksir-naksiran sepanjang masa Paperbook itu. Kenal nama aja tidak. Tapi memang begitulah Tuhan bermain-main dengan takdir. Kalo ga gini kan ceritanya ga bakalan menarik. πŸ™‚

Iklan

25 thoughts on “Paperbook In Memory

  1. Ping-balik: School Rumble | Hikari no Monogatari

  2. Ping-balik: Dibalik Angka Tiga | Hikari no Monogatari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s