Bye Bye Kemayoran

Suatu hari di penghujung Desember 2012. Aku turun dari boncengan motor mz nug, lalu memandang sekeliling. Ke gedung KPP Pratama Kemayoran, ke masjid Angkasa Pura, ke gedung RMCI, ke pohon-pohon akasia dan si daun kupu-kupu yang mengapit jalan ber-paving block itu di kanan-kiri. Akankah tahun depan aku masih bisa melihat pemandangan ini setiap pagi?!

Dan ternyata firasatku benar. Tahun ini gelombang mutasi kembali melanda Kemayoran. Salah satu teman mz nug ke Sampit, mas Wida ke Batu Licin, dan mz nug sendiri ke Samarinda.

Bagiku, Kemayoran adalah salah satu tempat yang “masuk ke hati”. Bermula dari sebuah novel Nh. Dini, nama Kemayoran menyelinap ke dalam hatiku. Lalu aku penempatan Jakarta, daerah Senen tepatnya. Maka aku pun mencari kos di daerah yang masih dekat dari kantor. Cempaka Sari, sekitar 15 menit perjalanan dari kantor, disanalah aku tinggal selama 3 tahun pertama. Ternyata daerah ini masih masuk kecamatan Kemayoran. Panas, sumpek, airnya asin, gotnya bau, dan banyak nyamuk. Itulah kesan selama tinggal di Kemayoran.

Suatu waktu gelombang pengangkatan plus mutasi melanda teman-teman sekelasku di STEI. Aku yang saat itu belum dekat dengan mz nug, spontan berbisik “yokatta ne, sempai!” begitu tahu dia diangkat di Kemayoran. Sebegitu saja menyeletuk saat metromini yang aku tumpangi sedang berhenti di salah satu perempatan merah di jalan Bungur.

Kemudian aku menikah dengan mz nug, dan jalurku setiap pagi selama 2,5 tahun adalah Rawamangun-Cempaka Putih-Kemayoran-Senen. Sekarang bertambah Klender sejak kami pindah ke gang kelinci ini. Mengunjungi Kemayoran adalah seperti bermeditasi di tengah heningnya gedung-gedung tinggi. Jalan yang lebar. Gedung-gedung yang sepi. Ah, aku benar-benar akan merindukan bola berputar di atas gedung BMG itu. Juga megahnya warna biru gedung RMCI, walau aku tidak mengerti tulisan latin yang tertera di sana “sola gratia sola fide”?! Entahlah, aku bukan penganut agama itu. 🙂 Juga jalan berkelok yang kukatakan bagian dari Jakarta yang paling menawan. Deretan pohon daun kupu-kupu… Aku akan merindukan bunga-bungamu yang cantik. Pohon akasia di depan Kejaksaan, semoga kamu bisa menang melawan benalu itu. Abang tukang bubur yang buburnya enak banget. Para penjual lain yang aku tidak kenal. Ternyata kenanganku hanya sampai segini saja. Bye Kemayoran… :’)

NB: Terimakasih untuk semua anggota kelompok II. Khususon bapak ketua tim yang baik hati. Teman-teman fungsional semua. Seluruh keluarga besar Kemayoran. Ibu yang menyapaku walau aku ga pernah hapal (maaf ya bu…). Terimakasih semuanya…

Iklan

5 thoughts on “Bye Bye Kemayoran

  1. Ping-balik: Renungan Akhir Tahun 2013 | Hikari no Monogatari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s