Mimpi Buruk itu Bernama “Sibling Rivalry”

Tak pernah terbayangkan di benakku penolakan dari nindy akan adiknya. Yah, sebenarnya sempat terlintas sih, karena hingga detik-detik terakhir mau lahiran pun jawaban nindy tetap “ga mau punya adek”.

Memang ini salahku, memaksakan kehendak tanpa berpikir akibat di belakangnya. Dulu kupikir jarak terlalu jauh itu bikin mubazir, karena kurikulum cepat sekali berganti. Seperti aku dan adikku yang berjarak 5 tahun. Buku-buku yang kupakai, nyaris tidak ada lagi yang masih bisa dipakai adikku. Sementara jarak 3 tahun akan terasa berat ketika keduanya sama-sama masuk sekolah. Biayanya tentu besar. Jarak 1 tahun pastinya juga terlalu dekat. Kasihan, bagaimana nanti ASI-nya?! Makanya aku berpikir bahwa jarak 2 tahun adalah yang ideal.

Ternyata aku salah. Salah besar! Dua tahun adalah usia yang masih patut untuk bermanja. Nindy masih butuh pelukan. Butuh gendongan. Dan tiba-tiba saja semua privilege itu hilang darinya. Mungkin tidak akan seberat ini bila abi masih di sini, masih ada orang lain untuk bermanja. Tapi tentu saja tidak boleh menyalahkan takdir kan?! Lagipula setelah bertanya-tanya kesana-kemari, jawabannya adalah sama: hampir semua anak yang punya adik di usia 2 tahun selalu memberontak.

Ya, selisih 2 tahun ternyata adalah yang terburuk! Karena di usia 1 tahun mereka belum mengerti, di usia 3 tahun mereka sudah beraktivitas di luar rumah sehingga tidak terlalu tergantung pada orangtua. Belum lagi soal kebutuhan ASI. Nindy akhirnya gagal S3 ASIX karena self weaning saat usia 18 bulan. Tidak! Ini bukan masalah “memperkenalkan” dan “menyiapkan datangnya adik” karena dari hamil pun aku sudah memperkenalkan. Nindy suka mengelus perutku, mengerti bahwa ada adik di sana. Aku percaya, ini hanya soal kebutuhan kasih sayang di usia golden age 1-3 tahun.

Masih ingat bagaimana awal-awal si kembar hadir dulu. Nindy hampir tidak terurus! Aku masih lemah karena bekas jahitan sesar. Tidak ada ART. Hanya ada adikku laki-laki di rumah. Saat harusnya nindy sarapan, aku sibuk mandiin si kembar. Saat dia ingin jalan-jalan, aku terus saja sibuk dengan si kembar yang menyusu hampir tiap jam. Aku menyusui sambil membacakan buku, sambil menyuapi dan makan untuk diri sendiri. Sedih sekali. Si kembar kurang ASI karena aku stres, capek, kelelahan, dan juga kelaparan. Nindy uring-uringan. Ngompol. Ga mau makan. Tiap malam dia tidur sambil mengigau, sambil menangis. Aku pun hampir tiap hari menangis. Ah… maafkan ummi nak… Itu adalah masa-masa terburuk buat kita semua… *meweklagi

Alhamdulillah sekarang masa itu sudah lewat. Nindy sudah mulai masuk PAUD, jadi mulai ada kegiatan. Aku sudah ada yang membantu, jadi tidak kecapekan. Si kembar mulai montok karena aku tidak lagi stres/kelaparan. Walau kadang masih ada masa saat menyusui tandem dan nindy nangis-nangis sendirian, tapi semuanya jauuuhh lebih baik daripada dulu.

Yah, terbukti benar apa kata Bayu (teman senasip yang juga mengalami sibling rivalry -1,5y-) : Badai pasti berlalu!

NB: Kamu mengalami juga mimpi buruk ini?! Kuncinya memang cuma sabar… sabar… dan sabar. Coba beri si sulung kegiatan di luar biar perhatiannya teralihkan. Terima saja seluruh kemarahan (dan mungkin kebandelan) yang muncul. Kamu stres?! Si sulung itu jauh lebih stres dari pada kita! Dan memang kok, kalo anak masih kecil-kecil itu wajar kalo capeknya dobel-dobel, ribetnya dobel-dobel. Bersabarlah, badai pasti berlalu! Aku sendiri sampai sekarang juga masih sering kelepasan, marah-marah, ngomel-ngomel, nangis-nangis. Tapi sungguh, dari ini semua baru aku mengerti arti kata sabar. Setiap peristiwa pasti ada hikmahnya.