About This Black Kepepet Period

Jadi sebelum menulis hal ini (itu sekitar akhir November kan ya?!), aku masih sempat berfoya-foya dengan membeli smartphone untuk menggantikan dua hapeku yang hilang karena kecopetan di Kopaja P20 (nulisnya lengkap banget). Sesudah melakukan pengeluaran besar itu (hapenya harga 2 juta men! dua kali lipat harga hape misua. Ish, tak tahu malu kau nur!), aku baru mindah-mindahin tabungan seperti yang kuceritakan di tulisan tersebut sehingga menemukan fakta bahwa kami sedang bokek tingkat akut. Jadi kayanya pengeluaran berfoya-foya itu akan menjadi pengeluaran foya-foya terakhirku. Apa pasal?!

Nah, kan kemarin aku menulis sudah give up sama file excelku. Tapi nyatanya di awal Desember aku masih ngulik rekapan untuk bikin anggarannya. ANGGARAN lho ya… jadi bukan nyatet-nyatet pengeluaran. Kalo soal nyatet pengeluaran aku sudah beneran putus asa dan patah hati. Sekarang sudah resmi pake sistem amplop sih. Nah, pas nyusun anggaran itulah aku menemukan fakta MENGERIKAN kedua yaitu bahwa untuk bulan Desember ini, besarnya pengeluaran yang kutanggung (iya, ini di luar pengeluaran yang dilakukan mz nug, yang itu tutup mata aja dah) adalah dua kali lipat pemasukanku!

Apa-apaan ini?!

Reaksi pertamaku saat menemukan angka itu adalah termenung.

Lalu nge- whats app abi.

Lalu ketawa miris + nyengir-nyengir sendiri.

Secara angka di atas kertas, kalo kami keukeuh dengan apa yang ada dan tanpa mencolek-colek tabungan (yang sudah dipisahkan itu) maka seharusnya bulan Desember ini kami ga bisa makan!

Tapi namanya Alloh pasti punya perhitungan sendiri ya… Tiba-tiba ada honor cair… Tiba-tiba ada IPK… Dari yang semula pengeluaran 2x lipat pemasukan, sekarang alhamdulillah sudah bisa bayar aqiqoh (walau baru satu-satu per anak -doain ya nak, biar tahun depan bisa lunas aqiqoh kalian-) malah KAYANYA bakal ada sisa buat tabungan persiapan lebaran. Alhamdulillaaaahhh…

Namun tetap sih, mesti hati-hati. Dan sekarang aku beneran EKSTRA hati-hati. Selisih seribu dua ribu aja kuperhitungkan banget. Jalan kaki demi menghemat 2 ribu selisih bayar bajaj. Bawa bekal untuk full sarapan dan makan siang (dulu cuma buat sarapan dengan alasan berat bawanya, sekarang mah hayoo aja secara di sini beli maksi mahal bener). Belanja mingguan di pasar (alhamdulillah sekarang udah kuat sepedaan lagi, soale pas awal-awal sesar pasti bleeding deh). Beli pampers nindy di supermarket dekat kantor yang lebih murah harganya. Beli barang-barang juga perhitungan banget mana yang lebih murah di alf* atau ind*mar*t. Membujuk nindy agar bisa ngurangi konsumsi susunya. Nge-switch susu menyusui dari Pr*n*g*n ke susu instan biasa. Beliin nindy baju diskonan. Bahkan kekurangan botol ASIP aku minta-mintain saja ke teman-teman (ugh, terimakasih mbak ephie, neny, rita, mama faradina, ana) dan bahkan ke kantin di kompleks kantor (iya, segitu ga tau malunya ya…)

Yah, ternyata “the power of kepepet” tidak saja berlaku kalo mau ujian atau didesak deadline kerjaan… Kepepet macam ini pun memaksa kita untuk lebih pintar, lebih sabar, lebih nerimo, dan lebih positive thinking terhadap ketentuan Alloh.

Karena sejatinya Alloh itu sayang bener sama kita. *ngomongmakaca

6 thoughts on “About This Black Kepepet Period

  1. Ping-balik: Renungan Akhir Tahun 2013 | Hikari no Monogatari

  2. Ping-balik: Tentang Kesederhanaan | Hikari no Monogatari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s