Tanya-Pobhia

Ditulis dari pusdiklat KU – BPPK

Omong-omong, ini keikutsertaanku yang pertama dalam diklat setelah nikah lho.. #penting Soale selama nikah dan punya anak, males banget ninggalin kerjaan rutin, DL, dan semacamnya.

Diklat yang kuikuti kali ini alhamdulillah dilatari dengan tujuan mulia: untuk menambah ilmu. Sepanjang kerja, aku baru dua kali ikut diklat (prajab mah ga usah dihitung ya…) Diklat yang pertama beneran karena pingin ngabur dari kerjaan dan pingin hore-hore. Jadi kalo ditanya hasilnya apa, apa saja yang dipelajari, ya sudah lupa semua. Padahal waktu itu keluar sebagai ranking dua. Huahahaha #sombong

Mungkin karena tujuannya mulia itu, so far aku enjoy banget dengan diklat ini. Banyak pengetahuan baru, ketemu orang-orang baru…

Sek sek, kok jadi mbahas diklat mulu sih?!

Back to “judul”

Jadi aku tuh dari dulu kan pemalu ya… (serius lho… sila tanya temen-temen SD :p ) trus aslinya introvert… jadi yang namanya berdiri di depan forum itu ampuunnn…. ga berani deh! Bersuara di forum?! Hiii…. Kondisi akutnya, aku pun mengalami yang namanya “tanya-pobhia” alias malu bertanya kalo lagi berada di dalam suatu forum. Tanya-pobhia ini ga main-main, karena setiap kali mau bertanya, jantungku deg-degan ga karuan, lidah kelu, dan perasaan gelisah tak menentu (kok terdengar dangdut sekali sih?!)

Mosok sih nur? Lebay ih…

Mungkin terdengar mengada-ada. Tapi buat aku yang ngalamin sendiri, perasaan deg-degan parah itu sungguh-sungguh menyiksa. Padahal pas sekolah atau kuliah gitu kan “bertanya” masuk nilai aktivitas ya?! Untungnya nilaiku masih baik-baik saja walau aku selalu mendapat nilai minimal untuk nilai aktivitas ini. :p

Makanya dulu aku sempat ingin masuk D4 itu salah satu alasannya adalah ingin meningkatkan kemampuan public speaking-ku. Namun kemudian aku berpikir, kalo soal keberanian berbicara di forum (untuk “bicara di depan umum” belakangan aja deh) “barangkali” bisa dilatih di kantor saja.

Hmm… sudah berhasilkah?!

Sejauh ini, memang belum berhasil 100% sih. Adakalanya dalam satu rapat, nyaliku surut lagi, tetiba menjadi orang bego. Makanya aku cukup gembira karena di diklat ini aku merasa cukup aktif di kelas.

Analisaku, aku bisa menekan tanya-pobhia kalo:

  1. Berada di lingkungan orang-orang yang kukenal. Di diklat ini, 3 dari 5 pengajarnya aku kenal #KKN dan pesertanya juga rekan satu instansi
  2. Materi yang dibahas adalah sesuatu yang sudah cukup familiar. Materi di diklat ini berkaitan dengan pekerjaannku 4 tahun terakhir.

Aku berharap semoga penyakit satu ini semakin berkurang. Dan untuk lebihnya, bolehkah aku berharap untuk naik level menjadi “berani bicara di depan umum”, just like my father?!

6 thoughts on “Tanya-Pobhia

  1. Karena kurang pede, atau karena takut salah. Biasanya sih begitu yak. Tipikal orang kita banget. Melawannya gimana? Ya belajar pede. Tanamkan dalam diri kalau bertanya itu bagian dari pembelajaran, bagian dari proses mendapatkan ilmu. Salah sekarang gakpapa, demi benar di masa yang akan datang. Halah. Lagaknya kek gak punya tanya-phobia aja. Haha.😀

    • entahlah takut apa… deg2annya itu ga enak bener…

      kurang menguasai materi juga bisa. mau nanya apa wong ga ngerti blas. istilahe otaknya masih loading gitu. begitu kelar malah kepikiran pertanyaan…😦

  2. Ping-balik: The Secret | Hikari no Monogatari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s